Omeegooodd.....

Gw gak tahu kudu bilangnya gemana...

1. gw gak mau membatasi hak orang atau butuhan orang lain, apalagi kalau seumuran bapak gw. Monggo kalau mau merokok... Tapi dipake matanya, itu lagi dimana, gak keliatan apa kalau itu lagi di ruang kerja? Banyak kepala disitu? Gak liat ada ac menyala? Gak liat ada banyak ibu2 yang ogah/tidak mau menghirup asap yang bapak keluarkan?
Monggo merokok kalau gak keluar asap yang harus kami hirup atas keenakan yang bapak rasakan!
Monggo merokok di ruang perokok, kami gak keberatan menghirup asap rokok disitu, karena memang itu hak anda disitu. Tapi di ruang kerja? No way.

2. Beberapa hari belakangan, (karena meja gw deketan ama tuh bapak dan paling depan) gw sih "ngerasa", ni bapak kea "tersinggung" atas keberatan yang kami layangkan. Tentu saja soal rokoknya. Beberapa kali gw denger keluh kesahnya ama sekretaris kami, meski gak denger langsung, besok mau gw klarifikasi ama sekretaris gw, intinya dia curhat karena ada keluhan ibu ibu yang kalo ada bapak2 merokok di ruangan.

3. Terus, kejadian puncaknya tadi sore, belum juga jam 5 (waktu kami selesai kerja), belio udah menarik kereta malam (aka merokok), pada nyindir banter dunk ibu2... Eike cuma noleh..
"Biarin aja, ntar juga mati sendiri" celetuk salah satu ibu2 yang udah gregetan. Terus tuh ibu nyuruh gw bikin surat ke bos besar kami.

Belum kepikiran sih kea apa bentuk suratnya. Intinya, judul besarnya "kami merindukan hak kami : kenyamanan dalam bekerja"...

---------- Post Merged at 10:28 PM ----------

Menurut intuisi gw... Si bos besar udah nyampein keberatan kami ke bos ruangan ama pengawas2 kami. (Belio di atas adalah pengawas kami) sebut saja supervisor.
Makanya belio kea "ngambek" atau "ngelunjak" karena nesu dimarahin ama bos besar. Maybe ya...

Tengah bulan ini mau ada sarasehan seluruh karyawan, kalau habis itu masih gak berubah, gw bakal nekad aduin ke pusat jakarta kok...