Saya menyadari ada yang harus berubah dari diri saya. Bapak saya, suka marah2 (screaming) kalau saya kena musibah atas kesalahan saya. Misal saya kepleset di depan kamar mandi dan akibatnya kuku jempol saya mengelupas, bapak bukannya nyari bantuan, tapi malah marah2.
Awalnya saya sedih, tapi kemudian saya tahu, itu karena bapak saya sangat khawatir pada saya, namun karena bapak gak bisa nolongin-bukan dokter-, bapak meluapkannya dengan teriakan2.
Dan.... Ternyata saya bercermin pada bapak. Saat aulia terjatuh atau terpeleset, saya jadi berteriak, nada suara meninggi, tapi refleks badan saya segera meraihnya.
Jadi, refleks dan vokal saya bertolak belakang.

Sepertinya, vokal saya membuatnya kaget dan agak ngeri kalau dia lagi jatuh dan ada saya. Keanya dia lebih nyaman ama uminya. Karena uminya lebih adem vokalnya.

Saya tidak ingin jadi ditakutin sama anak, padahal pasti dia butuh dekapan saya saat habis terjatuh misal.. Tapi dia mengurungkan niatnya karena vokal saya yang overload...

Tolong saran dan masukannya dear kopmay...