Jakarta - Kebutuhan mencetak tak lagi sekadar di atas
kertas. Kemajuan teknologi dapat mewujudkan apa yang
ada di imajinasi Anda ke dalam bentuk yang lebih nyata
dan dapat dirasakan melalui sentuhan. Nah , tantangan
itu coba dijawab dengan kehadiran printer 3D.
Printer 3D adalah proses pembuatan benda padat tiga
dimensi dari sebuah desain secara digital menjadi
bentuk 3D yang tidak hanya dapat dilihat tapi juga
dipegang dan memiliki volume.
Printer 3D dicapai dengan menggunakan proses aditif,
dimana sebuah obyek dibuat dengan meletakkan lapisan
yang berurut dari bahan. Pencetakan 3D merupakan
proses yang berbeda dari teknik mesin tradisional
(proses subtraktif) yang sebagian besar bergantung
pada penghapusan materi oleh pengeboran, pemotongan
dan lain–lain.
Berbeda pada teknologi konvensional. Untuk membuat
suatu obyek, diperlukan proses yang rumit dan panjang
dengan membuat alat cetak terlebih dahulu (mold, die,
cast). Hal tersebut tentu saja membutuhkan investasi
cetakan yang kurang ekonomis jika hanya membuat
satu buah obyek.
Salah satu pemain di industri ini adalah 3D Systems
Corp, dimana untuk di Indonesia menggandeng PT
Datascrip melalui Divisi CAD & Survey System sebagai
distributor untuk produk-produk 3D Systems di
Indonesia.
Datascrip menilai, kebutuhan akan teknologi 3D di
Tanah Air cukup besar. Namun pola pengerjaannya
masih menggunakan pola manual yang membutuhkan
waktu pengerjaan lebih lama, tingkat presisi yang
kurang pas hingga warna yang didapat kurang
memuaskan.
Guna melengkapi jajaran 3D printer yang sudah ada,
Datascrip menghadirkan 3D printer terbaru dengan
material berbahan dasar non toxic wax, yakni Seri
ProJet 1500.
ProJet 1500 merupakan printer 3D yang diklaim memiliki
resolusi cetak tinggi dan berwarna sehingga printer ini
cocok digunakan untuk berbagai kebutuhan dari
beragam profesi, mulai dari desainer, enjiner, arsitek,
hingga pelajar.
Kecepatan mencetak perangkat dengan dimensi 555 x
914 x 724 mm ini lima kali lebih cepat dibandingkan
printer 3D sejenis di kelasnya. Hasil cetaknya berupa
plastik dengan tingkat ketahanan mumpuni sehingga
diumbar cocok untuk ujicoba secara fungsional. Printer
ini pun sudah mendukung pencetakan berwarna dengan
enam warna.
Printer 3D semakin banyak digunakan dalam manufaktur
perangkat medis. Mereka digunakan untuk membantu
keperluan pembedahan (rekonstruksi), membuat
peralatan medis yang disesuaikan dengan peralatan
medis yang sudah ada, meniru bentuk manusia.
Produk-produk yang dihasilkan bisa berupa alat bantu
pendengaran, ortopedi, implan gigi serta diterapkan
untuk penelitian di masa mendatang, seperti organ
cetakan 3D, hip dan pembuluh darah dimana ilmuwan
Jerman berhasil mereplika aliran darah manusia untuk
mempelajari efisiensi pengiriman obat tertentu ke salah
satu organ tubuh manusia.
"Dunia dirgantara termasuk yang membutuhkan
perangkat ini. Hal ini didorong oleh keinginan industri
pesawat terbang untuk terus–menerus mengurangi
bobot pesawat dengan alasan efisiensi bahan bakar,
sehingga turut mendorong permintaan di masa
mendatang untuk mencetak produk dummy
menggunakan 3D printer," kata Gatot Priyo Laksono,
CAD & Survey System Division Manager Datascrip.
"Teknologi ini juga ditemukan penggunaannya di bidang
perhiasan, sepatu, desain, industri arsitektur, teknik dan
konstruksi (maket), otomotif, pendidikan, sistem
informasi geografis, teknik sipil dan banyak lainnya,"
pungkasnya.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote



dan kupikir harga itu not bad at all, padahal dulu kan mahal banget kan.
saya cuman baca2 sekilas aja soalnya
:


