Waktu saya ke sana tahun lalu, banyak juga kok yang back-packer, tapi ini hitungannya melalui jalur "gak wajar" kalau bukan bisa disebut ilegal. Masalahnya pemerintah Arab Saudi berusaha menyediakan segala macam manajemen dan sarana untuk para tamu Allah, tapi jelas tidak bisa mencakup para back-packer ini, mengingat mereka tidak tercatat dengan baik.
Buat saya sih, ibadah haji itu memiliki syarat kemampuan, yang seandainya terhambat oleh antrian atau kuota, bisa dianggap memang belum sampai "mampu"-nya.
Jalan-jalan alternatif bisa saja ditempuh, tapi kalau jadinya harus ilegal, kayaknya mending jangan deh. Harus saya akui saya salut sama backpacker yang ke mana-mana bawa senjata lengkap. Ada orang tua dari Pakistan yang jalan darat selama tiga bulan, lalu di sana hidup dari ngemis. Dia bawa troli yang isinya lengkap sampai ke kompor segala. Buat saya perilaku seperti itu sebenernya lebih banyak mudharatnya... tapi secara dia sudah sampai di situ, ya do'akan supaya dia bisa selamat pulang dan berhaji mabrur.
Yang menarik adalah saudara-saudara kita sebangsa. Mereka menjadi tukang bersih-bersih di Masjidil Haram, masuk ke perusahaan Bin Laden lewat agen di Indonesia. Lalu di sana kalau sedang off, bisa melaksanakan umroh, dan pas musim haji, ikutan haji. Di sana saya ngobrol sama petugas yang jebule orang Banten, Brebes, Kebumen, dan banyak lagi. Mereka miskin, sederhana, tapi khusuknya luar biasa...
pingin ke sana lagiiii....![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote