Page 1 of 4 123 ... LastLast
Results 1 to 20 of 61

Thread: Khilafah Islamiyah Hizbut Tahrir : Utopia ?

  1. #1

    Khilafah Islamiyah Hizbut Tahrir : Utopia ?

    Saya punya beberapa kawan orang HTI. Secara personal mereka baik-baik saja.
    Saya sudah lupa sejarah HTI. Yang jelas ada beberapa hal yang saya catat dari
    organisasi ini:

    1. Memperjuangkan Khilafah Islamiyah (dan tentu saja sistem Islam)
    2. Tidak percaya partai politik dan demokrasi a la barat dan tidak berjuang melalui parpol
    3. Organisasi yang legal dan berpusat di London
    4. Selalu menyebut Khilafah Ottoman yang berpusat di Turki contoh sukses sistem
    khilafah (entah ini memang dipercayai dalam organisasi ini atau sekadar kenangan
    kawan-kawan HTI saya)


    Secara pribadi saya berpendapat, Khilafah Islamiyah ini gagasan utopia serupa
    masyarakat tanpa kelas-nya Marx. Hanya ideal dalam gagasan. Khilafah Ottoman
    di Turki sejauh yang saya tahu juga tidak benar-benar sukses sebagai praksis
    politik ataupun secara moral Islami.


    Saya pikir HT telah berjuang selama bertahun-tahun, sejak lahirnya organisasi ini
    dan hingga kini belum mencapai sedikitpun cita-cita Khilafah Islam.


    Mereka sangat rajin berdemonstrasi dengan tertib dan seingat saya tidak pernah
    anarkis.

    Bagi saya HT ini sangat romantis terhadap masa lalu meski tidak salah.
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  2. #2
    HTI-Press. Segala pujian milik Allah. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasulullah saw.; kepada keluarga, para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti Beliau. Allah SWT berfirman:


    وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ
    هُمُ الْفَاسِقُونَ




    Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Siapa saja yang tetap kafir sesudah janji itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55).





    Rasulullah saw. pernah bersabda:



    «تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ
    خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ»




    “Di tengah-tengah kalian terdapat masa Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan yang zalim yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan diktator yang menyengsarakan, yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Selanjutnya akan muncul kembali masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian.” Setelah itu Beliau diam. (HR Ahmad).




    Sesungguhnya kami, di Hizbut Tahrir, senantiasa mengimani janji Allah SWT dan membenarkan kabar gembira yang disampaikan oleh Rasulullah saw. di atas. Kami selalu berjuang bersama-sama dengan umat Islam untuk wujudkan janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah saw. ini, yakni mewujudkan kembali Khilafah dalam wujud yang baru. Kami sangat meyakini terwujudnya kembali Khilafah itu seraya memohon kepada Allah SWT, semoga Dia memuliakan kami dengan tegaknya Khilafah; agar kami dapat menjadi tentaranya; agar kami mampu meninggikan râyah (bendera)-nya dengan baik dan di atas kebaikan; dan agar kami—dengan Khilafah itu—bisa beralih dari satu kemenangan ke kemenangan yang lain. Allah Mahakuasa atas semua itu.




    Kami sangat senang karena dalam buku ini kami bisa mengisinya dengan struktur pemerintahan dan administrasi di dalam Daulah Khilafah dengan pengungkapan yang jelas, mudah dipahami, dan bersifat praktis. Lebih dari itu, isi buku ini dihasilkan dari penggalian hukum (istinbâth) dan penelusuran dalil (istidlâl) yang sahih, yang mampu menenteramkan hati dan menyinari dada.


    Yang mendorong kami menyusun buku ini adalah adanya kenyataan bahwa berbagai sistem pemerintahan yang ada di dunia saat ini sangat jauh dari sistem pemerintahan Islam, baik dari segi bentuk maupun isinya. Dari segi isinya, hal itu sangat jelas bagi kaum Muslim, yakni bahwa semua sistem pemerintahan kontemporer saat ini tidak diambil dari al-Quran dan Sunnah Nabi-Nya serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya. Sistem-sistem yang ada saat ini bertentangan dengan sistem Islam. Kenyataan ini dapat diindera dan diraba oleh kaum Muslim; mereka tidak berbeda pendapat dalam hal ini.


    Akan tetapi, yang mungkin menimbulkan kebingungan dalam diri kaum Muslim adalah dugaan mereka, bahwa sistem pemerintahan dalam Islam dilihat dari segi strukturnya tidak berbeda dengan sistem-sistem pemerintahan kontemporer. Oleh karena itu, mereka tidak melihat adanya keberatan jika di dalam sistem Islam itu terdapat kabinet, para menteri, dan semisalnya, dengan realita dan wewenang sebagaimana yang ada dalam sistem pemerintahan yang ada saat ini. Oleh karena itu pula, dalam buku ini kami berketetapan hati untuk memfokuskan pembahasan pada struktur pemerintahan dalam Daulah Khilafah. Dengan begitu, bentuk struktur Daulah Khilafah itu dapat dipahami di dalam benak kaum Muslim, sebelum—dengan izin Allah—terwujud secara nyata di depan mata.


    Kami juga telah mencantumkan pembahasan mengenai Ar-Râyah (Panji) dan al-Liwâ’ (Bendera) Daulah Khilafah. Sebetulnya masih terdapat beberapa perkara penting lainnya yang tidak kami cantumkan di dalam buku ini, tetapi akan kami umumkan pada waktunya nanti, yakni pada saat kami nanti mengeluarkan undang-undang yang berkaitan dengan perkara-perkara tersebut dalam suplemen buku ini, atas izin Allah. Perkara-perkara tersebut adalah: tatacara pemilihan Khalifah, penentuan redaksi baiat, penentuan wewenang amir sementara dalam kondisi Khalifah berada dalam tawanan yang memiliki kemungkinan bebas atau dalam kondisi tidak ada kemungkinan bebas, pengorganisasian kepolisian wilayah (propinsi) dari segi implementasi dan administrasi, penentuan kepolisian wanita dalam direktorat keamanan dalam negeri, tatacara pemilihan Majelis Wilayah (Majelis Propinsi) dan Majelis Umat, serta penggunaan slogan resmi negara. Kami telah menunjukkan perkara-perkara tersebut di dalam buku ini.


    Kita memohon kepada Allah, semoga Dia segera menolong kita, melimpahkan karunia-Nya kepada kita, dan memuliakan kita dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Semoga dengan itu umat ini kembali menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia. Semoga dengan itu pula Daulah Islam kembali menjadi negara adidaya di dunia, yang menyebarkan kebaikan di segala penjurunya dan menebarkan keadilan di segala sisinya. Pada hari itu kaum Mukmin akan bergembira karena pertolongan Allah dan dengan semua itu Allah akan mengobati dada-dada kaum Mukmin.


    Seruan kami yang terakhir, segala pujian hanya milik Allah SWT, Tuhan alam semesta. []
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  3. #3
    Barista DH1M4Z's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    kutaradja
    Posts
    818
    Saya pernah baca buku tulisan mantan anggota Hizbut Tahrir, : The Islamist penulisnya Ed Hussein

    Sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul : Matinya Semangat Jihad

    Isinya sih perihal perjalanannya sebagai aktivis organisasi2 keagamaan termasuk Hizbut Tahrir, namun setelah sekian lama berada dalam organisasi dan melihat segala macam intrik dan persoalan intern akhirnya dia memutuskan keluar dari organisasi tersebut.

    Hizbut Tahrir sangat getol dalam meperjuangkan sistem Kekhalifahan namun mereka juga menaati ramburambu yang ada sehingga mereka secara organisasi bisa eksis di tiap negara karena terdaftar secara legal.
    Yah kita tunggu saja sampai sebatas mana kesabaran mereka dalam meperjuangkan sistem ini.
    Meski tlah jauh....

  4. #4
    kalau kelak Khilafah islamiyah itu terbentuk, siapa yg berhak menjadi khilafah-nya?

    dan apakah sistem pemerintahannya bakal menjadi monarki seperti daulah abasyah? mengingat, keempat khalifah utama saja, sistem pencalonannya berbeda: Abu Bakar secara aklamasi, Umar ditunjuk panitia, Utsman ditunjuk Umar, Ali diangkat dalam kemelut politik, dan sisanya, diangkat melalui sistem monarki.
    you can also find me here

  5. #5
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Saya pernah membaca sebuah dialog mengenai negara Islam, argumen seseorang mengatakan bahwa di Alquran tidak ada perintah atau ajaran mengenai pemerintahan, jadi cita2 negara Islam itu hanya ambisi pribadi beberapa orang yg membawa2 nama agama, bukan perintah agama itu sendiri.

  6. #6
    ^ persis, itulah yg menyebabkan kenapa Gusdur, Cak Nur, dll sbg penggagas islam plural lainnya dianggap kafir karena menolak kekhilafahan islamiyah
    you can also find me here

  7. #7
    Barista DH1M4Z's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    kutaradja
    Posts
    818
    sudah ada yang punya bukunya ?


    Review Sukron Kamil - Tidak Ada Negara Islam, Surat-Surat Politik Moh. Roem dengan Nurcholish Madjid

    RESENSI:

    Judul Buku : Tidak Ada Negara Islam, Surat-Surat Politik Moh. Roem Nurcholish Madj id

    Penyunting : Agus Edi Santoso

    Pengantar : Prof. Dr. Syafii Maarif dan Adi Sasono

    Penerbit : Djambatan,

    Tahun Terbit : 1997

    Jumlah Hlm. : XXVII +121 termasuk Indeks

    Buku yang isi pokoknya surat-surat politik Moh. Roem dan Nurcholish Madjid inii merupakan dialog dua generasi, yaitu generasi Jong Islamieten Bond (JIB) dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) amgkatan 1070-an. Keduanya sama-sama memiliki komitmen keislaman sekaligus keindonesiaan, tetapi dibesarkan dalam zaman yang berbeda, dimana keduanya mewakili zamannya masing-masing. Sebab itu., menarik untuk dibaca dan dirujuk. Bukan saja karena berisi tentang pemikiran Islam terkait dengan politik, melainkan juga sikap demokratis tokoh-tokoh dari partai terbesar Islam Indonesia, Masyumi, terutama Natsir. Selain itu, buku ini memuat pula pengakuan Cak Nur (panggilan akrab Nurcholish Madjid) tentang kesalahan metodologinya dalam penyampaian gagasan dan penjelasan latar belakang dirinya, sehingga dengan membaca buku ini akan memudahkan dalam memahami sosok almarhum tokoh intlektual Neo-modernis Indonesia tersebut.

    Terjadinya surat menyurat antara mereka sebenarnya dipicu oleh pemuatan hasil wawancara dengan Amien Rais dalam Panjimas No. 376/1982, serta tulisan Roem sendiri pada Pan.limas No.386/1983. Mereka sepakat bahwa Islamic State (negara Islam) dalam al-Quran dan Sunnah tidak ada. Yang ada hanyalah etos Islam, seperti keadilan dan egalitarianisme dalam menjalankan politik. Bagi mereka, apalah artinya suatu negara menggunakan nama Islam sebagai dasar negara, kalau ternyata hanya formalitas kosong (hlm. XXII-XXIII dan 2). Roem bahkan menambahkan bahwa pandangan demikian bukan saja benar, tetapi juga bijaksana, karena di Indonesia istilah itu lebih baik tidak dipakai, karena tidak sedikit orang yang tidak menyukainya, bahkan alergi mendengarnya. Dalam statuta Anggaran Dasar Masyumi sendiri, istilah negara Islam itu tidak ada (hlm 2). Lagi pula, andai bunga mawar yang harum semerbak, jelasnya, dinamakan bangkai, ia akan tetap harum (hlm. 3). Negara Islam, tegasnya, hanya ada dalam substance, tidak dalam nama. Ini sesuai dengan yang dilakukan Nabi Muhammad ketika masyarakat yang sudah dibangunnya dan di bawah kepemimpinannya berdiri dengan kuat sampai wafatnya, Nabi tidak memberi nama khusus (hlm. 7) .

    Nurcholish Mad.jid yang kala itu sedang bela.jar di Chicago, Amerika Serikat ---yang sebelumnnya ia tampak berpandangan sama melaui konsepnya Islam Yes Partai Islam No,--- dalam suratnya yang ia kirim kepada Roem menanggapi secara positif bahwa politik diliput Islam hanya secara garis besar, segi etisnya saja (hlm. 25). Karenanya, ia sepakat agar istilah kontroversial (negara Islam) tersebut tidak digunakan, mengingat sangat menganggu (hlm. 22). Politik, katanya lebih lan.jut, harus diletakan bukan bagian dari syari'ah yang sempit itu, tapi berdiri berdampingan. la lebih mendekati filsafat dalam dinamika dan wataknya (hlm. 26). Politik jangan dipahami secara ad hock, tanpa memperdulikan kekuatan organis ajaran-a.jaran Islam yang lebih mendasar (hlm. 30).

    Konsep Islam dalam politik berada di sekitar pertengahan antara dua pendapat ekstrim yang berlawanan. Ali ‘Abd ar-Raziq di satu pihak, dan Sayyid Qutub serta Maududi di pihak lain (hlm. 26). Sambil mengutip pendapat Natsir, menurutnya, sistem politik Islam lebih dekat dengan demokrasi,---sebagai suatu warisan kemanusiaan yang tiada ternilai harganya, yang meskipun banyak kekurangannya, tetapi sampai sekarang belum ditemukan alternatif yang unggul (hlm. 27). Sistem politik Islam bukanlah teokrasi seperti yang dipahami orang Barat. la setuju dengan konsep Civil Religion-nys Robert N. Bellah yang menjadikan AS. yang berdiri di atas etika WASP (White Anglo Saxon Protestan) sebagai model (hlm. 32). Atau, dalam bahasa lain, ia, kelihatarmya, sepakat dengan konsep Negara Madaniyah-nya Huwaidi, di rnana pemimpinya tidak rnaksum. Karena itu, pemimpin bisa diminta pertanggu.ngjawabannya oleh rakyat. Asumsi ini berdasarkan pendapat Ibnu Taimiyah yang ia kutip dalam suratnya tersebut. Menurut Ibn Taimiyah, Nabi maksum hanyalah dalam tugasnya menyampaikan wahyu saja. Sedang di luar itu, seperti terrekam dalam beberapa ayat al-Quran, Nabi adalah manusia biasa, meskipun istimewa, namun tetap bersalah (hlm. 28). Hanya saja Nabi kemudian langsung diluruskan Tuhan. Jadi, dalam soal kenegaraan, seorang pemimpin, Nabi sekalipun, tidaklah maksum. Islam tidak mengenal lembaga kependetaan yang memiliki kekuatan sakral sebagai wakil Tuhan. Oleh sebab itu, dalam rnenjalankan misi membangun dunia (semisal dalam politik), hak dan kewajiban masing-masing pribadi manusia adalah sama. Pengejawantahannya menuntut terbentuknya suatu tatanan demokratis, seperti yang dibuktikan dalam sejarah. Kaum Muslimin pun juga dibenarkan bekerja sama dengan golongan lain (hlm. 29).

    Dalam bagian lain, ia menerangkan pandangannya tersebut dalam kontek Indonesia, dengan mengutip pidato Natsir di Pakistan awal tahun lima puluhan. Republik Indonesia, menurut Natsir, disebabkan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila tidaklah kurang keislamannya dibanding dengan Republik Islam Pakistan (hlm. 32). Dalam penilainanya, sebagaimana yang bisa kita baca dalam beberapa bukunya yang lain, jika Pancasila dijalankan secara konsekwen, Indonesia sudah Islami dengan tidak harus menggunakan nama negara Islam. Hal ini karena kekuasaan politik Nabi di Madinah kaitan-nya dengan agama pun hanyalah bersifat subsider atau situasional saja sifatnva. la mengungkapkan hal itu dalam bahasa yang implisit pada halaman 106 dengan mengutip peringatan Imadudin kepadanya, bahwa untuk tujuan dakwah, soal politik bisa dikesampingkan, sebab logika dakwah ialah inklusivitas dan keterbukaan, dalam arti harus merangkul seluas mungkin kalangan.

    Kecuali pandangan politiknya di atas, Cak Nur juga menulis pengakuannya atas kesalahannya dalam metodologi penyampaian ide termasuk penggunaan nomenklatur kontroversial sebagai medium (hlm. 101), seperti istilah sekularisasi sebagai desakralisasi. Tambahan pula, dalam buku yang awalnya berbentuk surat ini, ia menulis latar belakang dirinya sebagai seorang dengan kultur NU (nahdhatul Ulama), meskipun bukan anggota NU. Hingga sekitar ia berumur 15 tahun, kegiatan utamanya ialah mempelajari kitab-kitab kuning (hlm. 38). Dengan diketahuinya latar belakang dirinya ini, memudahkan kita dalam memahami sosoknya sebagai intlektual neo-modernis yang menguasai khazanah klasik sekaligus modern.

    Hal lain yang diungkap dalam buku ini adalah mngenai para tokoh Masyurni sebagai yang terdepan dalam demokrasi, sehingga seorang Kasimo, salah satu tokoh Partai Katolik, umpamamnya. lebih senang bekerjasama dengan Masyumi daripada PNI (Partai Nasional Indonesia), walaupun secara idiologi berbeda (hlm. XIX). Tentang tokoh utamanya, Natsir, dalam buku ini di samping disebut Kahin telah berhasil mencegah PRRI men.jadi gerakan sparatis total (hlm. 34), juga djelaskan Syafii Maarif sebagai seorang yang bukan subordinat dari Syahrir. Natsir justru rnerniliki persamaan denga,n Sjahrir, yakni sama-sama sebagai orang yang berpatah arang dengan Sukarno. Mungkin perbedaan subkultur (dimana Natsir dan Sjahrir bersubkultur Sumatera, sementara Soekarno bersubkultur Jawa) salah satunya yang membuat mereka "berpi-sah" secara politik (hlm. XIV-XV). Namun, itu pulalah (subkultur budaya Jawa) yang menj adikan Soekarno unggul., karena dukungan m asyarakat Jawa sebagai masyarakat mayoritas di Indonesia.

    Karena itu, sayang, jika buku ini dilewatkan tidak dibaca. Dan dirujuk Wallah A'lam bi as-Shawab .

    Di-review oleh Sukron Kamil, Dosen Fakultas Adab

    dan Humaniora dan Peneliti CSRC UIN Jakarta
    Meski tlah jauh....

  8. #8
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Di Alquran tidak ada ajaran tentang bentuk pemerintahan tetapi ada kaidah-kaidah yang harus dilakukan seorang pemimpin yang mengaku Muslim di antaranya berbuat adil, tidak memaksakan agama, bergerak ketika ada permintaan tolong.

    Rumusan-rumusan negara Islam bukan hanya dilakukan oleh kelompok seperti Hizbut-Tahrir dan Ikhwanul Muslimin tetapi juga oleh golongan2 yang selama ini dijauhi seperti pemikir Islam sekuler atau seperti pemikiran kelompok-kelompok Quraniyyun.


    Di masa Rasulullah, setelah ditunjuk oleh kaum Anshar untuk menjadi pemimpin Madinah, beliau bertemu dengan pemimpin2 Yahudi dan keluarlah piagam Madinah. Menurut catatan gereja di Yerusalem, langkah yang sama juga dilakukan oleh Umar ibn Khattab ketika berhasil menguasai Yerusalem. Ia berunding dan bertanya apa saja adat-istiadat, kebiasaan, dan hukum yang ditaati orang-orang Kristen sebelum ia menerapkan peraturan. Bila sudah ada, ia akan menggunakan yang sudah berlaku, bila tidak, ia akan menerapkan hukum Islam.

    Ada kebijakan hukum yang berbeda dalam satu kekuasaan. Kebijakan ini tidak hanya eksklusif di antara kalangan Muslim. Kebijakan ini juga dilakukan oleh kaisar-kaisar Dinasti Tang dan bahkan dilakukan oleh Pemerintah VOC untuk mengendalikan pribumi, Tionghoa, dan tentu saja kalangan Eropa.

    Persoalannya, sekarang sudah tidak sesederhana dahulu. Kecenderungannya adalah satu hukum yang sama untuk setiap warga negara tak perduli agamanya.

  9. #9
    Khilafah itu berarti kepala negara, pemimpin umat Islam sedunia sekaligus pucuk
    dalam hirarki keagamaan semacam Paus?

    Dan jika terbentuk, dimanakah pusat khilafah itu berada ?

    Saya biasa mendengar kawan2 HTI berkata gara2 umat Muslim sedunia
    tidak memiliki khilafah dan karena menganut sistem yang tidak islami
    (demokrasi barat) maka nasibnya selalu terpecah-pecah, terjajah,
    tereksploitasi, saling berkelahi.

    Karena kebanyakan negara modern dewasa ini menganut sistem demokrasi
    dengan partai-partai sebagai saluran aspirasi, bagaimana HTI hendak
    memperjuangkan gagasannya? Maksud saya, bagaimana dia bisa mengubah
    sistem yang ada secara teknis ?

    Mimpi panjang ?
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  10. #10
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Dengan demonstrasi,
    dengan selebaran propaganda,
    dengan seminar berharap untuk menarik massa.

  11. #11
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Quote Originally Posted by keremus View Post
    Khilafah itu berarti kepala negara, pemimpin umat Islam sedunia sekaligus pucuk
    dalam hirarki keagamaan semacam Paus?

    Dan jika terbentuk, dimanakah pusat khilafah itu berada ?

    Saya biasa mendengar kawan2 HTI berkata gara2 umat Muslim sedunia
    tidak memiliki khilafah dan karena menganut sistem yang tidak islami
    (demokrasi barat) maka nasibnya selalu terpecah-pecah, terjajah,
    tereksploitasi, saling berkelahi.

    Karena kebanyakan negara modern dewasa ini menganut sistem demokrasi
    dengan partai-partai sebagai saluran aspirasi, bagaimana HTI hendak
    memperjuangkan gagasannya? Maksud saya, bagaimana dia bisa mengubah
    sistem yang ada secara teknis ?

    Mimpi panjang ?
    Ternyata punya Tuhan yg satu masih tidak cukup untuk menyatukan umat ya ?

    Apakah dengan adanya 1 pemimpin akan bisa menyatukan umat ?

    logikanya, Tuhan aja gak bisa menyatukan umat, apalagi manusia...

  12. #12
    pelanggan hayatzu's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    389
    ikutan nimbrung dikit sambil minum secangkir kopi ya...

    Quote Originally Posted by E = mc² View Post
    ^ persis, itulah yg menyebabkan kenapa Gusdur, Cak Nur, dll sbg penggagas islam plural lainnya dianggap kafir karena menolak kekhilafahan islamiyah
    imho, "pluralisme" dan "toleransi" itu adalah hal yang berbeda, bro...

    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Ternyata punya Tuhan yg satu masih tidak cukup untuk menyatukan umat ya ?

    Apakah dengan adanya 1 pemimpin akan bisa menyatukan umat ?

    logikanya, Tuhan aja gak bisa menyatukan umat, apalagi manusia...
    hmm, apakah kalau sudah membicarakan agama (apalagi Tuhan) masih perlu pakai logika?

  13. #13
    Barista DH1M4Z's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    kutaradja
    Posts
    818
    Ternyata punya Tuhan yg satu masih tidak cukup untuk menyatukan umat ya ?
    Kayaknya memang perlu 3 Tuhan yah Kop... ?



    Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum/bangsa sampai kaum/bangsa itu mempunyai keinginan dan berikikhtiar untuk mengubah nasib sendiri ...

    back to topic :

    Memang kalau dipikir cita-cita Hizbut Tahrir bersifat utopis..
    Kalau dilihat kondisi bangsa-bangsa sekarang, bukan masanya lagi untuk ekspansi / meluaskan wilayah (yah.. kalau mau diitung-itung tinggal 1 negara yang sangat ekspansif and u know what ). Jadi kalau menyatukan wilayah dengan cara ekspansi bisa dibilang mustahil. Tidak mungkin toh... sesama negara muslim (misalnya) saling menginvasi hanya untuk mendirikan 1 kekalifahan.

    Tapi kalau dilihat trend sekarang ini (seperti uni eropa) bisa saja semua negara muslim mengadakan suatu persekutuan . Entah bagaimana caranya persekutuan tersebut nantinya akan membentuk suatu negara idelogis (seperti hanya israel) . Tapi hal ini juga sangat susah diwujudkan, dibutuhkan pemimpin persekutuan yang karismatik yang sangat dihormati antar negara. Nah siapa tokoh ini? Imam Mahdi mungkin? atau Isa yang turun ke dunia lagi?
    Last edited by DH1M4Z; 19-04-2011 at 03:37 PM.
    Meski tlah jauh....

  14. #14
    Quote Originally Posted by DH1M4Z View Post
    Kayaknya memang perlu 3 Tuhan yah Kop... ?



    Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum/bangsa sampai kaum/bangsa itu mempunyai keinginan dan berikikhtiar untuk mengubah nasib sendiri ...

    back to topic :

    Memang kalau dipikir cita-cita Hizbut Tahrir bersifat utopis..
    Kalau dilihat kondisi bangsa-bangsa sekarang, bukan masanya lagi untuk ekspansi / meluaskan wilayah (yah.. kalau mau diitung-itung tinggal 1 negara yang sangat ekspansif and u know what ). Jadi kalau menyatukan wilayah dengan cara ekspansi bisa dibilang mustahil. Tidak mungkin toh... sesama negara muslim (misalnya) saling menginvasi hanya untuk mendirikan 1 kekalifahan.

    Tapi kalau dilihat trend sekarang ini (seperti uni eropa) bisa saja semua negara muslim mengadakan suatu persekutuan . Entah bagaimana caranya persekutuan tersebut nantinya akan membentuk suatu negara idelogis (seperti hanya israel) . Tapi hal ini juga sangat susah diwujudkan, dibutuhkan pemimpin persekutuan yang karismatik yang sangat dihormati antar negara. Nah siapa tokoh ini? Imam Mahdi mungkin? atau Isa yang turun ke dunia lagi?

    Membayangkan negara-negara Islam serupa Uni Eropa

    Ketika negara2 ini bergabung dalam -katakanlah- Uni Negara Islam,
    soal satu lagi : Negara Islam itu apa?

    Negara yang menerapkan sistem Islam atau Negara dengan umat Muslim mayoritas?

    Bayangkan yang sekarang dianggap Negara Islam bergabung menjadi satu?

    Wong semacam Arab Saudi condong ke AS? Mana bisa Arab Saudi bersatu
    dengan Iran ?

    Pekerjaan berat bagi HT
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  15. #15
    Barista DH1M4Z's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    kutaradja
    Posts
    818
    yups.... selama tiap negara islam masih punya kepentingan sendiri-sendiri
    sangat susah mendirikan suatu Uni Negara Islam.
    Dan Uni Negara Islam inilah yang sebenarnya sangat ditakuti oleh Barat.
    Sumberdaya alam melimpah, sumberdaya manusia apalagi.
    Meski tlah jauh....

  16. #16
    Quote Originally Posted by keremus View Post
    Membayangkan negara-negara Islam serupa Uni Eropa

    Ketika negara2 ini bergabung dalam -katakanlah- Uni Negara Islam,
    soal satu lagi : Negara Islam itu apa?

    Negara yang menerapkan sistem Islam atau Negara dengan umat Muslim mayoritas?

    Bayangkan yang sekarang dianggap Negara Islam bergabung menjadi satu?

    Wong semacam Arab Saudi condong ke AS? Mana bisa Arab Saudi bersatu
    dengan Iran ?

    Pekerjaan berat bagi HT
    dulu bukannya Mesir-Suriah pernah bikin Republik Persatuan Arab?
    you can also find me here

  17. #17
    yep
    RPA gagal
    krn ego masing2 maseh pengen menonjol (baca dominan)
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  18. #18
    Quote Originally Posted by E = mc² View Post
    dulu bukannya Mesir-Suriah pernah bikin Republik Persatuan Arab?
    Arab kan?
    Jadi bukan Islam.
    Pan Arabisme.

    Pernah ada Pan Islamisme dengan tujuan:

    1. Membangun Dunia Islam dalam satu pemerintahan
    2. Mengusir Kolonialisme barat
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  19. #19
    oyah, apakah sistem negara islam itu lebih mirip dg konsep imamiyah syiah-nya? kan keliatan bgt kalo org syiah lebih kuat konsep kenegaraannya...
    you can also find me here

  20. #20
    bukannya iran dah implementasikan sistem tsb? (konsep imamiyah)
    dan faktanya, sistem kyk di iran tuh gak disukai oleh tetangganya
    (baca negara2 teluk yng klaim negerinya sbg negara islam)
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

Page 1 of 4 123 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •