Results 1 to 20 of 107

Thread: Today's pick

Threaded View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #33
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958


    Let's talk about MOOC!

    Sebagai pengguna sekali-sekali MOOC sejak dua tahun lalu, menarik bagi saya melihat bagaimana perkembangan MOOC dengan pro dan kontranya. Terutama sejak saya mendengar ucapan Claudia Bremer yang menyatakan bahwa platform MOOC yang berkembang di US saat ini - termasuk favorit saya Coursera - adalah predator. Customer mereka adalah orang-orang yang sudah terdidik dan Cousera dalam perkembangannya menyediakan servis akreditasi serta job matching untuk orang-orang di Amerika. Faktanya, mayoritas pengguna US based MOOC adalah kaum terdidik dengan level pendidikan minimal sarjana dan orang-orang ini adalah mereka yang menyadari pentingnya life long learning. Sedangkan Bremer meyakini bahwa MOOC harusnya dapat menjadi jembatan penghubung ilmu pengetahuan antara kelas elit akademis dengan penduduk di negara-negara miskin utamanya di Afrika, dengan tujuan akhir adalah pengentasan kemiskinan mereka. Tujuan yang sungguh mulia, jika bisa tercapai. Tapi apakah MOOC harus didesain dengan tujuan seperti itu?

    Saya ingat membaca komentar Andrew Ng di sebuah artikel setelah Coursera menerima penghargaan sebagai The Best Overall Startup versi Techcrunch 2012. Ide awalnya adalah untuk menyebarkan materi kuliah tentang komputer secara online agar mereka yang tidak punya kesempatan/uang untuk dapat masuk Stanford atau kampus elit lainnya punya akses untuk mulai belajar tentang pemrograman. Sederhana sekali, sesederhana platform yang mereka gunakan saat itu untuk mensirkulasikan materi kuliah. Saat kemudian format Coursera yang serba gratis dikembangkan dan mendapat antisipasi ribuan hingga ratusan ribu orang di seluruh dunia - tergantung kelas yang diusung - maka dimulailah kasak-kusuk yang dari orang-orang di luar tim Coursera mengenai bagaimana model bisnis yang sesuai jika ingin tetap survive. Bagaimanapun ini negara kapitalis. Segala sesuatu diukur dengan uang. Jauh dari tujuan mulia Bremer tentang pengentasan kemiskinan di Afrika.

    Andrew Ng dan Daphne Kohler hanyalah dua orang profesor Stanford yang ingin berbagi pada awalnya. Fasilitas di Stanford dan dedikasi tim serta kesediaan para Profesor yang diundang untuk memberi materi online sudah cukup bagi mereka untuk menjalankan Coursera, dengan tujuan utama berbagi pada siapa pun yang haus ilmu tetapi memiliki keterbatasan akses ke kampus-kampus elit dunia. Para Profesor itu sendiri bukannya tanpa motivasi menanggapi undangan dari Coursera. Tantangan mengelola kelas non tradisional, kesempatan mengajar ribuan orang dalam satu sesi yang lebih banyak dari total mahasiswa mereka di dunia nyata, mengubah hidup seseorang - seperti ucapan
    Spoiler for Prof. Devlin:
    I hardly ever have an opportunity to do that in a Stanford or a Princeton classroom. The most I can do there is polish a jewel. Maybe.
    , menjadi artis akademis #eh hingga mungkin suatu hari nanti bukan hanya jumlah citation dan published paper yang dapat menjadi daya tawar tenure track dan research grant tetapi berapa jumlah mahasiswa online adalah beberapa motivasi yang dapat saya pikirkan.

    Jika kemudian platform MOOC menawarkan servis tambahan berbiaya, itu menurut saya dinamika hidup. Semua hal harus berkembang pada akhirnya. Saya juga tidak yakin pemasukan mereka dari servis akreditasi bisa untuk balik modal jika semua fasilitas kampus, biaya tim dan Profesor dihitung. Mungkin pemasukan lebih banyak datang dari job matching. Namun akses online tanpa biaya ke kelas-kelas yang diminati, menurut saya bagaikan air di padang pasir bagi para customer. Bukan cuma soal biaya, tapi fleksibilitas yang ditawarkan untuk belajar sesuai pace masing-masing agak susah didapat dari kelas-kelas konvensional. Apalagi perusahaan sekarang lebih fokus merekrut orang-orang dengan skill yang sesuai dari pada menerima orang yang bagus secara general kemudian mentraining lagi. Ada kok yang dapat kerjaan karena punya sertifikat MOOC, yang kalau dipikir-pikir itu kan ecek-ecek cuma kelas online.

    Namun pada dasarnya, customer MOOC sendiri sudah elit. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akses internet. Sesuatu yang langka bagi kebanyakan penduduk Sub Saharan Afrika, atau pedalaman Indonesia. Untuk dapat menselaraskan kemajuan pendidikan di kantong-kantong kemiskinan dengan MOOC, fasilitas internetnya dulu yang dibenahi dan ini tidak dapat diintervensi kaum akademis melainkan urusan dan tanggung jawab negara yang bersangkutan. Lalu ada kendala bahasa, yang saat ini mulai bisa diatasi dengan subtitle. Perjalanan MOOC menjadi jembatan emas kemajuan di negara-negara ketiga masih agak jauh. Tapi bukannya tidak mungkin. Biarlah Coursera dan Audacity mengajari yang sudah pintar tetapi masih tidak puas dengan level pengetahuannya. Tugas Bremer dan kawan-kawan adalah membuka akses pendidikan universal ke kaum marjinal melalui MOOC, tanpa perlu menghakimi platform lain. Toh mereka bukan head-to-head competitor.

    Dunia akan lebih baik saat kita bisa berbagi sesuai porsi masing-masing.
    Last edited by tuscany; 28-09-2014 at 11:13 PM.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •