Why would a man in Morocco who doesn’t have enough to eat buy a television?
Why is it so hard for children in poor areas to learn even when they attend school?
Why do the poorest people in the Indian state of Maharashtra spend 7 percent of their food budget on sugar?
Does having lots of children actually make you poorer?
Aslinya, itu di sebuah pesta ketika saya iseng melihat buku ini lain sendiri dari seabrek buku fiksi di rak buku sebelah tempat duduk.
Kaget begitu melihat nama pengarangnya. Salah satu penulisnya adalah Esther Duflo, yang bahan mata kuliahnya tentang Pak Sohin saya tulis di sini beberapa waktu yang lalu. Saya buka-buka sekilas tanpa semangat (ya iyalah lagi pesta gitu loh) dan tidak kelihatan rumus-rumus. Saya dan teman di sebelah berpendapat mungkin buku ini ditujukan untuk khalayak luas, sehingga bahasanya mesti mudah dicerna. Lalu...sebuah halaman menarik minat saya begitu saja, karena ada grafik yang kelihatan rumit. Oow...khalayak luas mampukan menterjemahkannya?
Tentu saja mampu, karena teks setelahnya menerangkan dengan bahasa yang sangat precise apa yang terjadi pada Bu Tina (iya, Bu Tina ini masih sebangsa juga dengan Pak Sohin), sebelum dan setelah aset produksi miliknya dicuri. Sangking serunya membaca, sampai saya perlu diingatkan teman bahwa "Hello...kita lagi di pesta nih kayaknya"
Sebelum aset produksi miliknya dicuri, kondisi ekonomi Bu Tina sedang menuju ke titik yang disebut higher equilibria. Jika dia berhasil sampai di sana, maka kehidupannya akan stabil dan asetnya malah mungkin terus bertambah. Lalu suatu hari aset produksinya dicuri. Dengan kondisi demikian maka kehidupannya menjadi semakin sulit dan terus menuju ke lower equilibria, tempat di mana orang-orang miskin terjebak dalam kemiskinan dan tidak mampu bangkit sangking miskinnya.
Carter & Barrett adalah dua orang yang mengembangkan teori untuk menjawab pertanyaan kenapa orang yang sama-sama miskin ada yang berhasil keluar dari kemiskinan ada yang tidak. Mereka berargumen bahwa orang miskin yang tinggal di negara berkembang sulit mendapatkan kredit untuk mengakumulasi aset, dan aset yang ada memberikan imbal hasil yang terlalu kecil, sehingga mereka miskin selamanya. Inilah yang terjadi pada But Tina setelah pencurian. Mereka yang punya aset minimal untuk berkembang pada akhirnya akan mampu mengakumulasi aset terus menerus dan masuk ke dalam middle class. Ini Bu Tina sebelum kecurian. Karena saya bacanya langsung di tengah, saya tidak tahu jika sebelumnya sudah ada story background bagaimana Bu Tina bisa berproduksi dengan margin keuntungan yang cukup.
Aset minimal secara teori disebut critical treshold. Batas aset yang menentukan apakah seseorang bisa naik level ke middle class atau bounce back ke permanent poor. Pikiran saya langsung menuju ke Bantuan Langsung Tunai yang ditentukan jumlahnya lewat...lewat apa ya? Proses politik, maybe?
Jika duit sekian miliar itu, given this asset based poverty trap theory is somewhat valid, diberikan pada mereka yang membutuhkan dan cukup untuk mendorong sampai ke critical treshold, bukankah itu akan sangat efektif untuk mengurangi angka kemiskinan? Forget about moral hazard, karena itu akan selalu ada di mana-mana. Jika dikawal dengan aturan ketat, saya yakin bisa kok. Cuma jelas ada kerjaan tambahan seperti menghitung setiap keluarga miskin butuhnya berapa supaya sampe ke critical treshold sehingga mereka bisa mandiri. Ya...akhirnya kembali lagi ke political will, bener nggak sih ada untuk mengentaskan kemiskinan instead of sekedar jargon belaka.
Selanjutnya para penulis menghubungkan kemiskinan dengan kesehatan. Pak Sohin, misalnya, setiap hari dilanda kecemasan akan makan apa hari ini. Ilutrasi lain adalah tentang seorang tua di India yang kehilangan satu-satunya harta berharga miliknya yaitu seekor unta. Setiap hari dia menangis dan saat orang berusaha menghibur kesedihannya, dia menjawab bahwa apa lagi yang bisa dilakukannya. Dia merasa sangat berhak bersedih dan menangis.
Orang miskin lebih mudah depresi karena kehilangan harapan dan sulit bangkit kembali. Level stres ini bisa diukur lewat peningkatan hormon kortisol. Begitu menerima bantuan, ternyata level kortisol menurun (oke, setidaknya BLT ada gunanya sedikit). Tingginya level kortisol dikaitkan dengan menurunnya kemampuan kognitif dan pembuatan keputusan. Sampai di sini bacaan saya terhenti karena si teman.
Saya lalu menyadari bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang kompleks. Kemiskinan butuh intervensi menyeluruh untuk dienyahkan. Menyerangnya harus serentak dari berbagai arah dengan strategi yang tepat.
Ternyata, buku ini memenangkan award sebagai Financial Times and Goldman Sachs Business Book of the Year di tahun 2011. Saya hanya membaca dua halaman, namun berkatnya mulai sekarang cara saya melihat kemiskinan dan orang miskin tidak akan pernah sama lagi. Tak heran mereka menang ya.
Anyway, dalam party pun tetap ada sesuatu yang bisa dipelajari.
*Lagi mikir enaknya beli buku atau cari ebooknya ya?![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




.
Reply With Quote