Masa Jaman Normal

Nama resminya yang diberikan oleh para penulis buku sejarah adalah jaman penjajahan Belanda. Sedangkan oleh kakek nenek yang berumur di atas 80 tahun, jaman itu disebut jaman normal, terutama pada periode sebelum tahun 1930an. Bisa dimengerti bahwa para penulis buku sejarah yang direstui oleh pemerintah memberi nama yang berkonotasi negatif, karena untuk mendiskreditkan pemerintahan yang lalu (Belanda). Dan Belanda yang tidak ikut menyusun buku sejarah Indonesia, tidak bisa membela diri. Seperti halnya dengan kata Orde Lama, bernada negatif karena nama itu adalah pemberian pemerintahan berikutnya (Orba) dan pada saat penulisan sejarah itu politikus Orla sudah disingkirkan habis-habisan pada saat pergantian rejim. Berbeda halnya dengan jaman Reformasi, walaupun ada pergantian rejim, nama Orba masih dipakai karena masih banyak anasir-anasir Orba yang bercokol di dalam Orde Reformasi. Jadi sulit nama Orba ditukar menjadi Orde Lepas Landas Nyungsep, atau nama yang konotasi negatif lainnya.

Jaman penjajahan Belanda walaupun nama resminya berkonotasi negatif, kakek nenek kita menyebutnya dengan nama yang megah yaitu Jaman Normal. Seakan-akan Jaman Revolusi, Jaman Sukarno atau Jaman Orba, tidak bisa dikategorikan sebagai jaman yang normal. Memang demikian. Ciri Jaman Normal menurut mereka ialah harga barang tidak beranjak kemana-mana alias tetap. Hanya bapak yang kerja dan bisa menghidupi anak sampai 12 dan istri. Cukup sandang dan pangan. Gaji 1 bulan bisa dipakai foya-foya 40 hari (artinya tanpa harus menghemat, mereka masih bisa menabung). Dibandingkan dengan kondisi sekarang, ibu dan bapak bekerja untuk membiayai rumah dengan anak 2 orang dan masih mengeluhkan gaji yang pas-pasan.

Merasa masih penasaran dengan tingkat kemakmuran masa itu, saya tanyakan kepada mertua, berapa harga rumah dan makan dengan lauk yang wajar. Harga rumah di Kali Urang 1000 Gulden. Makan nasi dengan lauk, sayur dan minum 0,5 sen. Dengan kata lain harga rumah dulu adalah setara dengan 200.000 porsi nasi rames. Kalau sekarang harga nasi rames Rp 10.000 dan dianggap bahwa harga rumah yang bagus di Kali Urang setara dengan 200.000 porsi nasi rames, maka harga sekarang adalah Rp 2 milyar. Kira-kira itulah harga rumah yang bagus di daerah itu. Jadi kalau rata-rata 1 keluarga terdiri dari 2 orang tua dan 10 orang anak dan bisa makan foya-foya selama 40 hari, pasti penghasilannya setara dengan 4,8 juta sampai 14,4 juta lebih, karena faktor foya-foya harus diperhitungkan. Ayah dari mertua saya adalah guru bantu. Gajinya 50 gulden per bulan atau setara dengan 10.000 porsi nasi rames. Jumlah ini mempunyai daya beli setara dengan Rp 100 juta per bulan uang 2007 (nasi rames Rp 10.000 per porsi). Dengan penghasilan seperti itu, istri tidak perlu kerja.

Gaji pembantu waktu itu 75 sen per bulan atau setara dengan 150 porsi nasi rames. Berarti berdaya beli setara dengan Rp 1,5 juta uang saat ini.

Kita bisa telusuri terus gaji-gaji berbagai profesi pada masa itu. Kesimpulannya bahwa daya beli waktu itu tinggi. Jadi tidak heran kalau jaman penjajahan dulu disebut jaman normal (artinya jaman lainnya tidak normal)....
Kalo setajam silet bukan cuma slogan milik suatu acara infotainment, maka tulisan ini jelas ada dalam kategori tersebut. Tulisan lama ini (termasuk bagian keduanya) ternyata sangat relevan sampai kini. Di antara optimisme yang digembar-gemborkan dunia tentang prospek situasi ekonomi negara ini, adalah aneh ketika kita melihat ke dalam dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa masih banyak orang di sekitar kita yang, kalo istilahnya para motivator adalah: bertanya besok saya makan atau tidak ya? - pemilik dari bentuk pertanyaan paling rendah tentang daya tahan hidup.

Jika pada zaman pendudukan Belanda masyarakat Indonesia memiliki daya beli yang lebih baik seperti dugaan penulis, apa yang terjadi selama kemerdekaan lebih dari 60 tahun ini? Kenapa setelah merdeka tingkat kemakmuran menurun? Jangan-jangan guyonan tentang kalimat di Pembukaan UUD 1945 itu sebetulnya benar, bahwa ...mengantarkan rakyat Indonesia di depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia ... berarti kita memang belum merdeka, baru sampai di depan gerbangnya saja hingga kini. Pilihan solusinya adalah Pembukaan diamandemen atau ...(males mikir).

Bagian dua tulisan ini berbicara tentang inflasi. Sedikit berbau konspirasi, tapi tidak berarti salah. Saya sama awamnya dengan orang -orang lain mengenai inflasi, sehingga tulisan ini memperkaya perspektif dalam bidang kebijakan ekonomi pemerintah.

Saya jadi ingat beberapa hal:

Pertama, sejarah sering dikatakan sebagai kisah dari versi yang menang. Maka itu saya suka sejarah, karena sifatnya dinamis, selalu menyimpan ruang untuk mempertanyakan segala sesuatu yang diklaim benar. Meskipun sudah lama saya tidak menyentuh buku sejarah dan lebih suka baca novel saja, beberapa tahun lalu saya masih menyempatkan diri baca novel The Historian, tuntas dalam seminggu. *bangga

Berkaitan dengan sejarah, agak mengejutkan juga bahwa konversi sederhana nilai emas dari tahun 1970 ke tahun 2000 hanya ada kenaikan 25 persen. I mean...WEW...kalau dirata-rata, berarti dalam 1 tahun pertumbuhan ekonomi kurang dari satu persen, dengan baseline tahun pertama yaitu 1970 (maafkan metode perhitungan saya yang kasar dan sederhana). Jadi economic boom yang dimulai tahun 1973 yang angka pertumbuhannya nyaris mencapai dua digit itu datang dari mana?

Kedua, dari ketiga jenis kebohongan menurut Mark Twain statistics berada pada level tertinggi. Statistics nya sendiri, tidak seperti dua kebohongan lainnya, sebetulnya hanya alat. Tergantung dia ada di tangan siapa. Oleh karena itu saya percaya masyarakat perlu mendapatkan pendidikan practical statistics supaya tidak gampang dibohongi oleh angka-angka yang dikeluarkan pemerintah. Jangankan pemerintah, mahasiswa yang kepepet dengan tugas akhir akan gampang tergoda untuk "membetulkan" data supaya hasilnya sesuai harapan. Sayangnya, sampai sekarang saya belum melihat adanya usaha terintegrasi untuk memahami bersama kenapa data pemerintah dengan keadaan yang kita rasakan kok enggak nyambung. Pasti ada yang salah, kalo nggak keadaan yang kita lihat ya datanya. Kalo saya punya akses ke datanya, bakal saya bagi-bagikan kepada yang berminat menganalisa. *Snowden mode: on

Ketiga, baru-baru ini seorang kenalan mencemaskan tingkat inflasi di Indonesia. Setelah baca tulisan di atas, saya sedikit bisa relate kenapa inflasi ini bagaikan hantu penghisap darah dan perlu dicemaskan. Tapi hantu ini resmi diciptakan pemerintah (baca: pemerintah mana saja, bukan cuma Indonesia) malahan diberi nama baru yaitu likuiditas supaya orang awam makin bingung.

Saya hanya bisa relate dengan yang saya tahu, bahwa ekonom lebih suka mekanisme pasar karena di sana tercipta efisiensi. Pemerintah bukan ekonom alias banyak kepentingan politik, maka intervensi pemerintah seperti operasi pasar dan lain-lain dilakukan atas nama kesejahteraan. Nyatanya, operasi pasar mana sih yang membuat rakyat sejahtera? Jadi mulai sekarang saya akan bersikap kritis terhadap segala bentuk intervensi pemerintah yang kurang masuk akal, berbelit-belit dan tidak jelas outputnya.

Keempat, justru yang paling kocak menurut saya adalah kisah tentang Cut Zahara Fonna. Sejarah memang cenderung punya bentuk circular.

Bentar lagi tujuh belasan euy...kapan kita merdeka beneran ya?