Norwegian woman: I was raped in Dubai, now I face prison sentence

Well...Dubai ternyata ada juga sisi nggak enaknya ya, terutama untuk kaum perempuan. Tapi aku tidak ingin memihak dulu untuk kasus ini, apalagi baru saja diblow up.

Sebagai awalan, di US sampe tahun 80an pemerkosaan yang dilakukan orang yang dikenal - apalagi pacar - relatif tidak diperlakukan sebagai bagian dari kejahatan serius. Biasanya hanya dianggap sebagai kisah "gadis yang menyesal keesokan harinya". Di Indonesia sendiri, baru-baru ini saja ada calon hakim agung yang keselo lidah dengan nada serupa, yang menunjukkan bahwa patriarchy masih jelas terasa. Untung juga dia keseleo lidah begitu, jadi bisa langsung didrop dari pencalonan. Sehubungan dengan kasus di Dubai, tidak adanya polisi perempuan yang ikut memeriksa menggaransi bias patriarchy ini.

Hukum di UEA ketat mengatur hubungan antara lelaki dan perempuan, juga konsumsi minuman beralkohol. Beberapa wanita asing yang melaporkan diri sebagai raped victim sayangnya mesti ada keterlibatan dengan konsumsi alkohol sebelumnya. Akibatnya mereka kena dobel charge. Terlepas dari apakah kejadian itu konsensus atau paksaan, alkohol melemahkan posisi mereka. Di sini aku melihat mereka para pendatang sepertinya kurang serius belajar dengan benar pepatah "lain lubuk lain ikannya", yang aku rasa ada padanannya dalam bahasa mereka. Alkohol memang dijual untuk konsumsi expat, tapi hukum di sana entah bagaimana melarang konsumsi alkohol juga. At it best, this is questionable. Anyway, kebiasaan minum dengan resiko mabuk, lalu minta diantar rekan pria hingga ke kamar...jujur saja bisa sangat mudah disalah artikan atau dimanipulasi. Terutama di negara yang sistem patriarki masih kental begini di mana keberpihakan kepada posisi perempuan sangat lemah. Akhirnya bukan dapat keadilan malah rugi besar.

On the other hand, karena kasusnya bukan dia seorang tapi sebelumnya juga sudah ada beberapa, ketidak adilan ini bisa jadi insentif bagi para pria untuk melakukan hal yang sama saat mereka berada di Dubai. Analoginya sama seperti hakim yang membebaskan pelaku dengan alasan lelaki tersebut kena sexomnia, creepy tapi diterima oleh sistem peradilan. Besok-besok bakal ada lagi yang ngaku begitu supaya bebas.



Bottom line: internasionalisasi Dubai kayaknya masih separo jalan.