Fresh dari CNN.
Ternyata bukan cuma Malala saja yang terluka, tapi temannya juga. Sementara di belahan dunia lain orang sibuk memikirkan mau jadi apa setelah selesai sekolah, dua gadis muda ini mau sekolah saja sampe harus rela ditembak-tembak Thaliban. Eh...bentar, bukan ini topik yang mau dibahas.

Kebetulan minggu ini aku sedang ngintip sedikit tentang studi perbedaan gender, sehingga videonya jadi relevan sekali. Asia Selatan adalah wilayah terburuk buat wanita untuk belajar dan bekerja. Mungkin Thalibaners dan pendukung penindasan perempuan tidak sadar, tapi yang membuat wilayah di sana tertinggal dalam segala hal - hanya disaingi oleh negara-negara di Sub Saharan Africa - salah satunya adalah karena akses perempuan ke pendidikan dibatasi, dihalang-halangi bahkan dihabisi.

Syukurlah Indonesia punya ibu kita Kartini, Dewi Sartika dan satunya lagi entah siapa, yang sadar sejak awal bahwa wanita dijajah pria sejak dulu perlu memiliki peran yang sederajat dengan pria dan hal itu hanya dapat diraih dengan sekolah. Coba kalau tidak ada, apakah kopimaya ini misalnya akan punya cipkuk perempuan? Ngomong-ngomong soal Kartini, aku kasihan juga sih. Perempuan yang berpikiran melampaui zamannya, mau sekolah tinggi akhirnya malah jadi istri kedua. Eh...topiknya belok lagi.

Oke, jadi singkatnya perempuan yang tidak/kurang terdidik akan memiliki kesadaran dan akses yang rendah terhadap kesehatan dan pendidikan generasi selanjutnya yang mengurangi kualitas sumber daya manusia. Efek lainnya dikaitkan dengan meningkatnya populasi - yang berujung pada menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi - dan juga naiknya tingkat kematian. Yang lebih spekulatif adalah akumulasi perempuan terdidik meningkatkan daya saing internasional terutama pada bidang manufaktur berorientasi ekspor, serta perempuan yang bekerja katanya lebih tahan godaan nepotisme dan korupsi.

Nah, Asia Selatan ini memang paling parah soal mendzalimi perempuan. Selain soal sekolahan, ternyata jumlah "perempuan hilang" di wilayah ini juga salah satu yang terbanyak di dunia, selain di China. Sementara China bakal kesulitan di masa depan gara-gara kebijakan satu anak yang notabene akan memihak pada anak lelaki, Asia Selatan punya kerjaan dobel yaitu mengatasi urusan "perempuan hilang" sekaligus juga meningkatkan taraf pendidikan mereka. Teh question si, maukah mereka? Budaya patriarkinya itu kental sekali. Apakah mereka mau menukarnya dengan iming-iming kemajuan taraf hidup? Kalo orang rasional ditanya begini pasti gampang milihnya. Jadi kenapa Mala dan Shaiza ditembaki? Either mereka tidak tahu konsekuensi logisnya atau memang sudah hukum alam tak semua orang rasional.

Kembali ke soal Malala dan Shaiza yang kini dapat beasiswa ke Inggris, ini adalah contoh nyata dari bekerjanya sudut pandang yang berbeda. Malala hidup dalam krisis, dan dia tahu persis pergi ke arah mana dan berjuang di sana. Valedictorian di thread sebelah juga hidup dalam krisis (impian) - dan dia tidak tahu bagaimana menanganinya. Padahal presidennya yang flamboyan sudah lama mengenali sifat krisis dari filsafat huruf China:

HTML Code:
When written in Chinese, the word 'crisis' is composed of two characters. One represents danger and the other represents opportunity.

John F. Kennedy
Dengan kata lain, keterpurukan dapat dilihat sebagai keterpurukan semata, atau dapat juga dilihat sebagai kesempatan untuk berkembang. Dua gadis muda sudah membuktikannya.