Sebuah perjalanan maya iseng lagi, membawaku ke sebuah video yang...alamak panjangnya, sekitar satu setengah jam. Somehow I managed to watch the entire show karena tema yang sangat menarik, juga cara Yvonne Ridley membawakan kisahnya.
Some notes:
Menurut Ridley, Thaliban memperlakukannya dengan penuh sopan santun. Sesuatu yang tidak akan aku baca dan dengar dari media massa. Di wiki page Ridley misalnya, masih terasa nada tak percaya bahwa dia diperlakukan dengan baik, tanpa luka atau trauma.
Aku kadang sungguh bosan melihat wall FB penuh dengan tulisan protes tentang kenapa hijab wanita muslim dianggap sebagai dinding pemisah mereka dengan dunia luar. Dari kacamatanya aku baru sadar, aku tumbuh dan tinggal di tempat yang moderat dan tidak mempermasalahkan hal-hal semacam itu. Sedangkan dia berasal dari tempat yang mendukung kebebasan wanita termasuk dalam berpakaian, lalu terjerembab di dunia di mana semua wanita berpakaian tertutup, namun mereka tetap dapat melaksanakan tugas sehari-hari. Pakaian bukanlah penentu apakah seorang wanita bebas atau tidak, yang baru disadari Ridley saat itu. Ya paling tidak dia nyadar juga akhirnya.
Kisah mengenai sekolah kedokteran yang ditutup Thaliban. Kenapa kah? Bukankah ada banyak dokter justru bagus untuk menolong negara yang sedang dalam kondisi perang tersebut? So, Thaliban sepertinya bukan penggemar bidang pendidikan.
Kritik Ridley tentang larangan Thaliban terhadap para jurnalis untuk meliput masuk ke Afghanistan. Bagaikan pisau bermata dua sih. Benar bahwa tanpa wartawan, tidak akan ada yang tahu bahwa serangan Amerika dan Inggris waktu itu - dan di waktu-waktu yang lain - indiscriminant. Misil dan bom tidak pandai memilih korban. Kalau Ridley tidak menyaksikan sendiri saat itu, dia pasti lebih percaya omongan Tony Blair. Di pihak lain, mungkin sekali Thaliban menyadari bias bawaan dari awak media barat sehingga menolak kehadiran mereka.
Mau tidak mau kisah ini jadi meningatkanku pada mbak Meutia Hafidz yang tertangkap di Irak. Sesama wartawan, ditahan beberapa hari, sekarang aktif di parlemen. Bedanya mbak Meutia tidak convert, namun sempat dibekali selendang dan Al Qur'an. Lalu jadi ingat kisah undercover pembebasan mbak Meutia dari sudut pandang Deplu. Hmm...
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote