Desa Trunyan-nya gak masalah.
Guide yang membawa ke desa Trunyan-nya yang masalah.

Setiap orang hindu Bali, pasti punya semacam tempat sesajen kecil di sudut2 rumah.
Dan di kantornya pun pasti juga ada tempat sesajen kecil.

*dan bayangkan, nonton film kuntilanak, tanpa AC, dan ada bau dupa.. hihihihihi -- kisah nyata*
Sembahyangnya tiga kali sehari, pagi - siang sore. Ada canang2 yang di taruh di situ beserta hio.

Nah, untuk yang punya tanah sendiri, di tengah halaman biasanya ada pura kecil di atas tiang yang juga dibentuk seperti pura dan disitu juga bakal ditaruh canang.
Lalu ada Bale Bengong di mana janur-janur yang akan dibuat menjadi canang, penjor, dan semacamnya di letakkan di situ. Pokoknya peralatan upacara ditaruh di situ.

Rumah Bali yang asli, atapnya berupa ijuk yang mudah terbakar. Tetapi setelah budaya Tionghua masuk, mereka mulai menggunakan genteng. Di tengah/puncak-nya biasanya ada semacam mahkota. Di ujung/sudut-sudut atap, ada lidah api, sekilas seperti naga.

Oh iya,
di Bali tidak ada RT/RW tetapi ada Banjar. Banjar2 ini adalah pelindung tradisi. Kantornya biasanya sangat terbuka di lantai dasar dan dijadikan tempat latihan menari dan musik. Jadi coba saja kalau malam2, lewati kantor2 Banjar.