Results 1 to 6 of 6

Thread: Ibu Pertiwi

  1. #1
    pelanggan tetap RAP's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Location
    Jakarta
    Posts
    920

    Ibu Pertiwi

    Pas baca thread lily "...life is so unfair" kok aku jadi keinget isi lagu Ibu Pertiwi.
    Trus googling nyari liriknya... ternyata ada dua bait.

    dan aku baru tau setelah tua begini????

    Lirik lagu ini adalah sebagai berikut:


    IBU PERTIWI


    Bait Pertama:

    Kulihat ibu pertiwi
    Sedang bersusah hati
    Air matamu berlinang
    Mas intanmu terkenang
    Hutan gunung sawah lautan
    Simpanan kekayaan
    Kini ibu sedang susah
    Merintih dan berdoa

    Bait Kedua:

    Kulihat ibu pertiwi
    Kami datang berbakti
    Lihatlah putra-putrimu
    Menggembirakan ibu
    Ibu kami tetap cinta
    Putramu yang setia
    Menjaga harta pusaka
    Untuk nusa dan bangsa

    Kalau dipikir kondisi kita sekarang lagi di bait pertama.
    Kapan ya di bait kedua... kali2 dgn rajin nyanyi bait kedua ini lily bakal buat thread "...life is so fair"

    Tapi mungkin agak susah ya masalahnya lagu ini sdh jarang dinyanyiin (anakku aja ngak tau).

    Jadi penasaran.... Nih lagu agak misterius karena ngak tau siapa pengarangnya, tapi dapat menjelaskan dengan tepat kondisi bangsa kita saat ini, padahal sdh dikenal antara tahun 1950 - 1960.
    Ada yg punya info? Mohon petunjuknya ya

  2. #2
    pelanggan tetap jojox's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Jekardah
    Posts
    1,169
    kyaknya, kemaren Mother's day ya? somewhere? ...
    Any views or opinions presented above are solely those of the author. Thus the author may disclaim accuracy on warranties and liabilities they may cause including loss of intellectual properties, economical benefit, and coordinated mental responses.

  3. #3
    pelanggan setia aya_muaya's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Location
    semarang
    Posts
    5,884
    Kalau kata wikipedia, lagu ini malah mirip ama himne kristen what a friend we have in Jesus, bla bla bla...

    Tapi sering diakukan lagunya ismail marzuki...

    Wallahu alam...
    Percayai apa yang ingin kau percayai
    Dan hiduplah seperti apa yang kau inginkan….

  4. #4
    Iman Dwi Hartanto, penyiar Radio Suara
    Surabaya [SSFM], yang sangat dikenal warga
    Surabaya dan sekitarnya. Ini karena SSFM
    banyak didengar, sering menjadi rujukan
    informasi lalulintas, dan berita-berita mutakhir
    alias breaking news.
    Setiap Jumat malam, Iman memandu
    'Memorabilia', program lagu-lagu kenangan.
    Ada lagu Indonesia, Barat, jenisnya macam-
    macam. Ada lagu 1950-an, 1960-an, 1970-an.
    Penyanyinya macam-macam. Iman cakap bikin
    kategorisasi, ini didukung koleksi SSFM yang
    cukup, sehingga sajian 'Memorabilia' selalu
    menarik. Apalagi, kalau Ibu Tutik [lansia]
    gabung melalui telepon, wuih... ramai nian.
    Ada lagi yang menarik, sekaligus menjadi
    penanda berakhirnya 'Memorabilia'. Apa itu?
    Iman Dwi Hartanto selalu memutar nomor
    instrumental Kulihat Ibu Pertiwi. Anak-anak
    sekolah dasar dan lanjutan di Indonesia,
    khususnya Jawa, tahu benar syair dan melodi
    nyanyian ini.
    Kulihat ibu pertiwi
    Sedang bersusah hati
    Air matanya berlinang
    Suatu ketika ada pendengar bertanya, Kulihat
    Ibu Pertiwi itu ciptaan siapa? Kok enak sekali?
    Iman, saya tahu, berusaha menjawab dengan
    hati-hati. Sebab, bagaimanapun juga SARA
    [suku, agama, ras, antargolongan] sangat peka
    di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Salah
    jawab bisa gawat, Bung.
    Tapi Pak Markus Sajogo dalam sebuah
    percakapan dengan saya mengatakan, lagu
    Kulihat Ibu Pertiwi jelas-jelas lagu rohani
    kristiani atawa gospel song. Saya pun diminta
    mengecek KIDUNG JEMAAT, buku nyanyian
    umat Kristen Protestan di Indonesia. Karena
    itu, Pak Markus, pengacara dan tokoh
    masyarakat Surabaya, heran kok bisa lagu
    gospel direkayasa menjadi Kulihat Ibu Pertiwi.
    Saya pun cek KIDUNG JEMAAT. Benar! Lagu itu
    bertajuk Yesus Kawan yang Sejati, KIDUNG
    JEMAAT Nomor 453.
    Lagu tiga bait itu ditulis Charles Crozart
    Converse, 1868, komposer asal Amerika Serikat,
    1832-1918. Syair asli 'What a friend we have in
    Jesus', ditulis oleh Joseph Medlicott Scriven,
    1855. Yayasan Musik Gereja [Yamuger]
    kemudian menerjemahkannya dalam bahasa
    Indonesia pada 1975, dan kemudian menjadi
    lagu rohani kristen di Indonesia.
    Aransemen paduan suara [kor] standar diambil
    dari Hymns of the Christian Life, 1936. Lagu ini
    pendek, hanya 16 bar, 4/4, moderato [MM 80],
    F = do. Tata suara sederhana saja sehingga
    sangat mudah dinyanyikan. Dalam dunia
    paduan suara, masuk kategori A: sangat
    mudah, tidak perlu latihan lama-lama. Anak-
    anak sekolah dasar pun bisa.
    Lalu, bagaimana pula dengan lagu Kulihat Ibu
    Pertiwi yang sangat terkenal di Indonesia itu?
    Siapa yang menulis syair dan musiknya? Saya
    sudah memeriksa beberapa buku kumpulan
    lagu nasional, termasuk terbitan Musika,
    Jakarta. [Buku-buku nyanyian penerbit ini
    terbilang sangat bermutu dan laku keras.]
    Ada memang Kulihat Ibu Pertiwi. Tapi tidak ada
    informasi apa pun tentang nama penulis lagu
    dan lirik. Hanya ditulis N.N. = no name atawa
    anonim. Jangan heran, orang Indonesia
    [umumnya] tidak pernah tahu asal-muasal lagu
    tersebut. Dan memang sejak dulu orang
    Indonesia kurang memperhatikan 'hak cipta',
    tak begitu gubris nama pengarang lagu. Praktik
    bajak-membajak, jiplak-menjiplak, malah
    menjadi 'tradisi' di industri musik rekaman
    Indonesia.
    Berdasar data-data di KIDUNG JEMAAT, juga
    beberapa buku nyanyian gerejawi lainnya
    [terbitan Indonesia dan luar Indonesia], saya
    akhirnya menyimpulkan bahwa lagu Kulihat
    Ibu Pertiwi itu IDENTIK dengan What a Friend
    We Have in Jesus karya Charles Crozart
    Converse asal Amerika Serikat pada 1868.
    Melodinya 100 persen sama.
    Saya menduga, melodi khas nyanyian gerejawi
    internasional itu kemudian diadopsi oleh
    seorang komposer atau guru musik atau siapa
    saja yang punya hubungan dengan pendidikan
    musik di sekolah dasar atau sekolah menengah
    di Indonesia. Besar kemungkinan orang itu
    beragama Kristen, atau setidaknya akrab
    dengan melodi karya Charles Crozat Converse.
    Mungkin, karena terkesan dengan melodi nan
    indah, ia memasukkan kata-kata baru bertema
    kepedihan Ibu Pertiwi [alam Indonesia],
    dibukukan, diajarkan kepada anak-anak
    sekolah. Maka, orang Indonesia pun terbiasa
    dengan 'lagu nasional' Kulihat Ibu Pertiwi.
    Beberapa tahun lalu, Pak Markus Sajogo pernah
    mencoba mengusut siapa gerangan penulis lirik
    Kulihat Ibu Pertiwi, yang meminjam melodi
    karya Converse, 1868. Tapi hasilnya belum
    jelas.
    Sekali lagi, saya menduga-duga, orang yang
    kreatif itu niscaya komposer berlatar belakang
    Kristen Protestan karena buku-buku nyanyian
    Katolik [resmi] yang pernah beredar di
    Indonesia [ Jubilate, Kantar Serani, Syukur
    Kepada Bapa, Madah Bakti, Kidung Adi,
    Exultate, Kidung Syukur, Puji Syukur , dan
    beberapa lagi] tak pernah memuatnya.
    Sebaliknya, hampir semua buku nyanyian
    Protestan memuatnya.
    Sebagai catatan, lagu-lagu nasional atau lagu
    wajib atau apa pun namanya mengikuti pola
    strofik di kidung-kidung kristiani yang
    diwariskan misionaris Barat, entah itu Jerman,
    Belanda, Amerika Serikat, Swiss. Ini bisa
    dipahami karena pengarang lagu-lagu nasional
    kita banyak yang beragama nasrani, khususnya
    Protestan dari gereja-gereja arus utama.
    Sebut saja Liberti Manik, Binsar Sitompul,
    Cornel Simanjuntak, Subronto Kusumo Atmojo,
    F.X. Sutopo, Frans Haryadi, N. Simanungkalit,
    dan seabrek nama terkenal lainnya. Mereka ini
    berlatar belakang sekolah musik gerejawi,
    setidaknya berguru pada pemusik-pemusik
    klasik Barat. Dirasa Indonesia membutuhkan
    banyak lagu-lagu nasional, maka jalan
    termudah, ya, mengikuti pola nyanyian strofik
    gereja yang sudah ada.
    Bagi saya, 'pinjam-meminjam melodi' sudah
    lazim dalam dunia musik. Bukankah lagu-lagu
    gerejawi, khususnya pasca-Reformasi Martin
    Luther, menggunakan melodi lagu-lagu rakyat
    di Eropa? Setelah diberi syair baru, syair
    kristiani, jadilah lagu gerejawi, puji-pujian
    kepada Tuhan.
    Jangan lupa, Misa Dolo-Dolo yang sangat
    tekenal di Gereja Katolik Indonesia
    menggunakan melodi lagu rakyat Lamaholot di
    kampung saya, Flores Timur. Oleh Pak Mateus
    Wari Weruin, komponis musik liturgi, bahan
    dasar dari kampung ini diolah menjadi
    ordinarium misa bernuansa Flores Timur. Pola
    macam ini pun masih dilakukan Pusat Musik
    Liturgi, Jogjakarta, saat menggelar lokakarya
    musik liturgi di berbagai daerah di Indonesia.
    Kembali ke Kulihat Ibu Pertiwi. Lagu ini sudah
    telanjur terkenal di Indonesia, syairnya sangat
    menyentuh orang Indonesia, apa pun agama,
    etnis, suku, latar belakangnya. Bahwa dia
    meminjam melodi karya Charles Crozat
    Converse bukan masalah. Persoalannya, sejak
    dulu guru-guru musik serta penerbit buku
    nyanyian di Indonesia alpa mencantumkan
    nama penulis melodi dan penulis lirik/syair.hurek.blogspot.com/2007/08/tentang-lagu-kulihat-ibu-pertiwi.htm

    ---------- Post Merged at 10:00 PM ----------

    Iman Dwi Hartanto, penyiar Radio Suara
    Surabaya [SSFM], yang sangat dikenal warga
    Surabaya dan sekitarnya. Ini karena SSFM
    banyak didengar, sering menjadi rujukan
    informasi lalulintas, dan berita-berita mutakhir
    alias breaking news.
    Setiap Jumat malam, Iman memandu
    'Memorabilia', program lagu-lagu kenangan.
    Ada lagu Indonesia, Barat, jenisnya macam-
    macam. Ada lagu 1950-an, 1960-an, 1970-an.
    Penyanyinya macam-macam. Iman cakap bikin
    kategorisasi, ini didukung koleksi SSFM yang
    cukup, sehingga sajian 'Memorabilia' selalu
    menarik. Apalagi, kalau Ibu Tutik [lansia]
    gabung melalui telepon, wuih... ramai nian.
    Ada lagi yang menarik, sekaligus menjadi
    penanda berakhirnya 'Memorabilia'. Apa itu?
    Iman Dwi Hartanto selalu memutar nomor
    instrumental Kulihat Ibu Pertiwi. Anak-anak
    sekolah dasar dan lanjutan di Indonesia,
    khususnya Jawa, tahu benar syair dan melodi
    nyanyian ini.
    Kulihat ibu pertiwi
    Sedang bersusah hati
    Air matanya berlinang
    Suatu ketika ada pendengar bertanya, Kulihat
    Ibu Pertiwi itu ciptaan siapa? Kok enak sekali?
    Iman, saya tahu, berusaha menjawab dengan
    hati-hati. Sebab, bagaimanapun juga SARA
    [suku, agama, ras, antargolongan] sangat peka
    di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Salah
    jawab bisa gawat, Bung.
    Tapi Pak Markus Sajogo dalam sebuah
    percakapan dengan saya mengatakan, lagu
    Kulihat Ibu Pertiwi jelas-jelas lagu rohani
    kristiani atawa gospel song. Saya pun diminta
    mengecek KIDUNG JEMAAT, buku nyanyian
    umat Kristen Protestan di Indonesia. Karena
    itu, Pak Markus, pengacara dan tokoh
    masyarakat Surabaya, heran kok bisa lagu
    gospel direkayasa menjadi Kulihat Ibu Pertiwi.
    Saya pun cek KIDUNG JEMAAT. Benar! Lagu itu
    bertajuk Yesus Kawan yang Sejati, KIDUNG
    JEMAAT Nomor 453.
    Lagu tiga bait itu ditulis Charles Crozart
    Converse, 1868, komposer asal Amerika Serikat,
    1832-1918. Syair asli 'What a friend we have in
    Jesus', ditulis oleh Joseph Medlicott Scriven,
    1855. Yayasan Musik Gereja [Yamuger]
    kemudian menerjemahkannya dalam bahasa
    Indonesia pada 1975, dan kemudian menjadi
    lagu rohani kristen di Indonesia.
    Aransemen paduan suara [kor] standar diambil
    dari Hymns of the Christian Life, 1936. Lagu ini
    pendek, hanya 16 bar, 4/4, moderato [MM 80],
    F = do. Tata suara sederhana saja sehingga
    sangat mudah dinyanyikan. Dalam dunia
    paduan suara, masuk kategori A: sangat
    mudah, tidak perlu latihan lama-lama. Anak-
    anak sekolah dasar pun bisa.
    Lalu, bagaimana pula dengan lagu Kulihat Ibu
    Pertiwi yang sangat terkenal di Indonesia itu?
    Siapa yang menulis syair dan musiknya? Saya
    sudah memeriksa beberapa buku kumpulan
    lagu nasional, termasuk terbitan Musika,
    Jakarta. [Buku-buku nyanyian penerbit ini
    terbilang sangat bermutu dan laku keras.]
    Ada memang Kulihat Ibu Pertiwi. Tapi tidak ada
    informasi apa pun tentang nama penulis lagu
    dan lirik. Hanya ditulis N.N. = no name atawa
    anonim. Jangan heran, orang Indonesia
    [umumnya] tidak pernah tahu asal-muasal lagu
    tersebut. Dan memang sejak dulu orang
    Indonesia kurang memperhatikan 'hak cipta',
    tak begitu gubris nama pengarang lagu. Praktik
    bajak-membajak, jiplak-menjiplak, malah
    menjadi 'tradisi' di industri musik rekaman
    Indonesia.
    Berdasar data-data di KIDUNG JEMAAT, juga
    beberapa buku nyanyian gerejawi lainnya
    [terbitan Indonesia dan luar Indonesia], saya
    akhirnya menyimpulkan bahwa lagu Kulihat
    Ibu Pertiwi itu IDENTIK dengan What a Friend
    We Have in Jesus karya Charles Crozart
    Converse asal Amerika Serikat pada 1868.
    Melodinya 100 persen sama.
    Saya menduga, melodi khas nyanyian gerejawi
    internasional itu kemudian diadopsi oleh
    seorang komposer atau guru musik atau siapa
    saja yang punya hubungan dengan pendidikan
    musik di sekolah dasar atau sekolah menengah
    di Indonesia. Besar kemungkinan orang itu
    beragama Kristen, atau setidaknya akrab
    dengan melodi karya Charles Crozat Converse.
    Mungkin, karena terkesan dengan melodi nan
    indah, ia memasukkan kata-kata baru bertema
    kepedihan Ibu Pertiwi [alam Indonesia],
    dibukukan, diajarkan kepada anak-anak
    sekolah. Maka, orang Indonesia pun terbiasa
    dengan 'lagu nasional' Kulihat Ibu Pertiwi.
    Beberapa tahun lalu, Pak Markus Sajogo pernah
    mencoba mengusut siapa gerangan penulis lirik
    Kulihat Ibu Pertiwi, yang meminjam melodi
    karya Converse, 1868. Tapi hasilnya belum
    jelas.
    Sekali lagi, saya menduga-duga, orang yang
    kreatif itu niscaya komposer berlatar belakang
    Kristen Protestan karena buku-buku nyanyian
    Katolik [resmi] yang pernah beredar di
    Indonesia [ Jubilate, Kantar Serani, Syukur
    Kepada Bapa, Madah Bakti, Kidung Adi,
    Exultate, Kidung Syukur, Puji Syukur , dan
    beberapa lagi] tak pernah memuatnya.
    Sebaliknya, hampir semua buku nyanyian
    Protestan memuatnya.
    Sebagai catatan, lagu-lagu nasional atau lagu
    wajib atau apa pun namanya mengikuti pola
    strofik di kidung-kidung kristiani yang
    diwariskan misionaris Barat, entah itu Jerman,
    Belanda, Amerika Serikat, Swiss. Ini bisa
    dipahami karena pengarang lagu-lagu nasional
    kita banyak yang beragama nasrani, khususnya
    Protestan dari gereja-gereja arus utama.
    Sebut saja Liberti Manik, Binsar Sitompul,
    Cornel Simanjuntak, Subronto Kusumo Atmojo,
    F.X. Sutopo, Frans Haryadi, N. Simanungkalit,
    dan seabrek nama terkenal lainnya. Mereka ini
    berlatar belakang sekolah musik gerejawi,
    setidaknya berguru pada pemusik-pemusik
    klasik Barat. Dirasa Indonesia membutuhkan
    banyak lagu-lagu nasional, maka jalan
    termudah, ya, mengikuti pola nyanyian strofik
    gereja yang sudah ada.
    Bagi saya, 'pinjam-meminjam melodi' sudah
    lazim dalam dunia musik. Bukankah lagu-lagu
    gerejawi, khususnya pasca-Reformasi Martin
    Luther, menggunakan melodi lagu-lagu rakyat
    di Eropa? Setelah diberi syair baru, syair
    kristiani, jadilah lagu gerejawi, puji-pujian
    kepada Tuhan.
    Jangan lupa, Misa Dolo-Dolo yang sangat
    tekenal di Gereja Katolik Indonesia
    menggunakan melodi lagu rakyat Lamaholot di
    kampung saya, Flores Timur. Oleh Pak Mateus
    Wari Weruin, komponis musik liturgi, bahan
    dasar dari kampung ini diolah menjadi
    ordinarium misa bernuansa Flores Timur. Pola
    macam ini pun masih dilakukan Pusat Musik
    Liturgi, Jogjakarta, saat menggelar lokakarya
    musik liturgi di berbagai daerah di Indonesia.
    Kembali ke Kulihat Ibu Pertiwi. Lagu ini sudah
    telanjur terkenal di Indonesia, syairnya sangat
    menyentuh orang Indonesia, apa pun agama,
    etnis, suku, latar belakangnya. Bahwa dia
    meminjam melodi karya Charles Crozat
    Converse bukan masalah. Persoalannya, sejak
    dulu guru-guru musik serta penerbit buku
    nyanyian di Indonesia alpa mencantumkan
    nama penulis melodi dan penulis lirik/syair.hurek.blogspot.com/2007/08/tentang-lagu-kulihat-ibu-pertiwi.htm

  5. #5
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    melodinya dari lagu gereja, teks syairnya asli indonesia tapi siapa orangnya? misterius.

    ---------- Post Merged at 02:28 AM ----------

    kalo syair yg versi gerejanya ditulis oleh scriven, kalo gak salah.
    dia seorang pria yg sangat baik dan sangat miskin, calon istrinya tewas tenggelam sehari sebelum pernikahan mereka, scriven sendiri dimasa tuanya juga ditemukan tewas tenggelam, orang menemukan syair tulisannya lalu menggabungkannya dengan melodi menjadi lagu.

    ---------- Post Merged at 02:32 AM ----------

    kata "Pertiwi" sudah pernah dibahas di KM, nama dewi..

  6. #6
    ada..digubah oleh kamsidi.. lupa nama belakangnya.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •