Ada. Gue di Dusburg, NRW, Germany.
Dan jadi lebih 'memperkeruh hati' lagi, karena di sini, yang namanya 'rumah mewah' menurut standar Jakarta adalah standar hidup umum di sini.
Apalagi dengan sekolah, kesehatan dan bahkan pengangguran bisa dapet tanggungan pemerintah dengan nilai yang alhamdulillah cukup(bisa 2 kali lipat pengeluaran standar gue sebulan). Pekerjaan, kalo kasar2 aja, relatif lebih mudah di dapat.
Dan ini gue temukan bapak tua yang bingung di tengah musim dingin karena nggak punya koin sama sekali buat beli kopi hangat dan sekedar sepotong roti sarapan. Atau ibu2 tua yang terpaksa ngebundle dirinya dengan jaket di pojokan toko, dan udah nggak ngomong lagi. Atau mbak2 yang berdiri di depan supermarket dengan muka bingung sambil meluk selebaran apa nggak tau(mungkin mau nawarin malu, nggak nawarin itu selebaran, berarti nggak dapet duit hari ini) ... And there's a lot more.
So, sekarang gue bikin policy, paling nggak tiap jum'at, selalu bawa koinan 1 atau 2 Euro di kantong celana.
BTW, Lily, kalo masih di Jakarta, coba sering2 naik kereta Jabodetabek deh. Dari ujung ke ujung. Kamu bakalan liat lebih banyak lagi.
Dan itu semua seharusnya jadi introspeksi buat diri kita sendiri, saat kita sedang sibuk merenungi 'kemalangan' kita hari ini.
And, oh, "Reality Show" ? Nggak ada yang REAL di REALITY SHOW. Semuanya udah di script.
---------- Post Merged at 06:39 PM ----------
Gue malah kadang mikir, kenapa nggak terlahir cewek. Tinggal dandan yang cakep, gaet laki2 kaya, terus semua beban tanggung jawab keluarga gue bisa di oper ke dia dan gue bisa ambil karir yang betul2 sesuai dengan hati gue, 'sekonyol' apapun karir itu, for the sake of that career it self.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)





Reply With Quote
