-
Prioritas Dan Rasa Bersalah
Suatu hari, saya berkesempatan sama wali kelasnya Naomi mesti ngurusin sesuatunya sampe nembus jam 4 sore. Saya gak ngajak Naomi, karena pasti akan menganggu jalannya urusan meski beberapa wali murid yang mendampingi si ibu wali kelas bawa anak-anak mereka. Kemudian si ibu guru pun bertanya ke saya kenapa Naomi nggak diajak, saya jelaskan dan kemudian si ibu guru melontarkan sebuah kalimat.
"Saya sebenarnya merasa bersalah kadang sama anak-anak, saya sibuk mendidik anak orang lain, tetapi anak-anak sendiri saya titipkan ke orang lain untuk diasuh."
Saat itu saya cuma tersenyum menanggapinya, cuma bisa jawab, "Ibu punya kelebihan memotivasi anak-anak untuk jadi lebih baik, ada ilmu yang harus ibu bagi sama generasi ini."
Meski saya terus terusik dengan omongan beliau...
Kemudian saya baca buku "Habibie dan Ainun" ada juga pada satu babnya, Ibu Ainun memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai dokter anak di sebuah rumah sakit di jerman, karena beliau merasa bersalah saat anaknya sakit dia malah "harus" mengurus anak orang lain yang sedang sakit di rumah sakit.
Saya kemudian berpikir, apakah memang kodrati seorang ibu agak merasa bersalah kepada anak-anaknya ketika memutuskan bekerja di sektor publik dengan jam kerja padat?
Saya pernah beberapa kali kerja dengan jadwal kerja tetap 9 to 5 saat Naomi TK A, rasanya memang bingung semua, apalagi menitipkan anak-anak ke kakek neneknya yang lumayan memanjakan anak-anak. Kemudian saya memutuskan kerja seperti sekarang saja, paling tidak waktu2 kerja saya masih bisa disesuaikan dengan kebersamaan saya dengan anak-anak...
Tidak, saya tidak sedang menghujat perempuan yang memilih tetap berkarir karena toh masing-masing orang punya pertimbangan. Tetapi melihat dua perempuan yang menurut saya, mereka mampu bekerja dan smart, melontarkan omongan seperti itu, membuat saya merenung...itu saja
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules