Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 20 of 25

Thread: My imagery corner

  1. #1
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935

    My imagery corner

    Strawberry on the shortcake



    "Kau suka strawberry?"

    Aku menggeleng. "Gigiku ngilu makan yang asem-asem".

    "Ini lumayan manis kok", bujukmu sambil menyodorkan hasil karyamu.

    Gula dari kuenya memang sedikit membantu, tapi tidak meluruhkan rasa asem itu sama sekali. Aku mengernyit sedikit, lupa kalau kau masih memperhatikanku lekat-lekat.


    Sekarang setiap kali aku melihat strawberry, hatiku yang ngilu. Kau masih memanggang kue yang sama setiap hari, di bakery hasil kerja kerasmu selama bertahun-tahun. Di balik kaca kulihat sosoknya tertawa renyah sambil membantumu menata kue-kue strawberry di rak-rak kaca. Kenapa aku lupa tersenyum waktu akhirnya kau berhasil mendapatkan komposisi terbaik untuk resep andalanmu?

    Harusnya aku orangnya yang sibuk melayani para pelanggan sekarang, membiarkanmu memiliki waktu untuk berkreasi dan menemukan resep-resep baru. Aku masih mau makan kue strawberry buatanmu, yang dibuat hanya untukku.
    Last edited by tuscany; 13-05-2013 at 03:21 PM.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  2. #2
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,673
    apakah terinspirasi oleh cerita asli?

  3. #3
    sekarang kalau mau makan kue stroberi nya kamu harus bayar dulu dikasih gratis :p nice story eniwei
    "I think you're magnetic." - Aaron Tyler, Wonderfalls

  4. #4
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    apakah terinspirasi oleh cerita asli?
    I know, berasa baca diaryku kan
    Next time perlu ada penyegaran dengan penggunaan kata ganti orang ketiga kayaknya. Tapi entah kenapa kata ganti orang pertama selalu lebih enak untuk digunakan. Oh ya, yang asli dari cerita ini hanya di bagian ngilu saat makan stroberi, dan itu juga bukan aku tapi orang lain. Sisanya sih ngayal semua, termasuk role model yang manggang kue itu adalah Chef Juna *milih

    Quote Originally Posted by wanitapecandukopi View Post
    sekarang kalau mau makan kue stroberi nya kamu harus bayar dulu dikasih gratis :p nice story eniwei
    bener banget. that's the moral of the story
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  5. #5
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Rendezvous




    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  6. #6
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,673
    trus, lanjutannya gimana

  7. #7
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    lanjutannya belum ada gu

    malah kepikiran mau bikin flash back waktu mereka kuliah dulu
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  8. #8
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Perempuan di Persimpangan

    Penerbangan ini mungkin adalah penerbangan terpanjang dalam hidupku. Sejak merencanakan, membicarakan dengan Mas Pardi semua hal yang mungkin terjadi, membeli tiket, diantar Mas Pardi ke bandara, naik ke pesawat, transit, turun dari pesawat dan naik taksi, semua itu kulakukan dengan perasaan berdebar yang tak bisa kubagi dengan siapa-siapa. Dari dalam taksi, aku menyaksikan beberapa bangunan baru nan megah di sepanjang jalan dan merenungi waktu yang telah kulewati di tempat lain saat derap pertumbuhan di sini mengencang. Mas Pardi sudah kutelepon supaya dia tenang. Mulanya dia ngotot mau menemaniku, tapi ini adalah urusan pribadi yang harus kuselesaikan sendiri tanpanya.

    Aku minta pak supir mengantar ke kos lamaku. Ibu pemilik kos bersedia memberikan tumpangan jadi aku bisa menginap di sana sambil memperkuat tekad untuk rencana besok. Aku tiba hanya dengan tas jinjing kecil saat Ibu kos menyambutku di pintu depan. Kami berpelukan dan air mataku menetes tanpa dapat kuhindari. Mas Pardi dan aku dulu menikah di sini secara sederhana. Ibu kos yang repot menyiapkan segalanya, padahal kami tak punya hubungan darah apapun.

    "Kabarmu bagaimana, nak?" matanya memperhatikan tubuhku yang berisi.

    Aku mengangguk mengiyakan sambil menggigit bibir. Untuk inilah aku kembali.




    Wanita yang duduk di hadapanku masih sama persis seperti wanita yang ada dalam ingatanku. Kecuali mungkin sedikit tambahan kerutan di sudut mata serta salur-salur putih pada rambutnya yang kian sulit disembunyikan. Selama aku tidak ada, tidak ada pula yang membantunya mencabut uban-uban itu. Aku menelan ludah dan menyusun kembali kata-kata yang kupersiapkan sejak berbulan-bulan yang lalu.

    "Kabar Ibu bagaimana?"

    Hening. Tak ada jawaban. Aku mengangkat muka untuk melihat, dan yang kudapati adalah tatapan sedingin es. Tiba-tiba aku merasa semua ini akan sia-sia.

    "Maaf Mala baru bisa datang sekarang. Mala rindu Ibu." Aku mendengar dengusan.

    "Sudah berapa bulan hamilmu?"

    "Lima bulan, Bu"

    "Bagaimana rasanya?"

    Aku menceritakan morning sickness yang menderaku selama trimester pertama. Orang bilang morning sickness itu normal, tapi pada kasusku tidak normal karena aku muntah berkali-kali dalam sehari. Aku tidak mampu makan juga terkena dehidrasi. Selama itu aku hanya ingat Ibu, tapi sms ku tak pernah dibalasnya.

    "Jadi kau tahu kan rasanya saat aku mengandungmu dulu?"

    Dadaku nyeri mendengar kata-kata Ibu. "Mala ke sini mau minta maaf sudah menyusahkan Ibu."

    Ibu berdehem, lalu katanya dengan nada yang melunak "Masih ada waktu untuk memperbaiki segalanya, Mala". Nyatakah ini? Aku segera bangkit sambil sesenggukan untuk mendekat dan memegang tangan Ibu serta menciumnya. Syukurlah.

    "Ibu yakin ada keluarga yang bersedia menerimamu walaupun kau nanti telah punya anak." Mendengar kalimat itu tangis bahagiaku langsung membeku.

    "Maksud Ibu?" hatiku mendadak tak enak.

    "Kau bercerai dengan orang perantauan itu setelah melahirkan. Nanti sisanya Ibu yang urus. Anak sepupu jauh almarhum Bapakmu sudah menikah akhir tahun lalu tapi adiknya belum. Keluarga mereka pasti mau menerima, karena kita semua punya tujuan yang sama. Demi menjaga kemurnian darah keturunan Sang Sultan."

    Aku mengernyit dan duduk ke tempat semula. Kenapa Ibu begitu keras kepala?

    "Kau tak mau, eh?" hardik Ibu keras. Aku masih berusaha menyusun ulang kalimat-kalimat yang kuanggap cukup diplomatis, tapi entah ke mana semuanya.

    "Lihat itu sepupumu. Santi ikut nasihat orang tuanya. Bahagia dia sekarang, anaknya saja sudah tiga."

    Santi bahagia? Aku mau tertawa rasanya. Apakah punya tiga anak yang lahir dari hasil kawin paksa bisa disebut bahagia? Mungkin Santi berhasil berkompromi dengan keadaan. Tapi aku ingat betul waktu itu, saat menjelang pernikahannya. Aku sedang menyelesaikan skripsi dan seringnya menghabiskan waktu seharian di perpustakaan saat Bang Jaka mendatangiku. Dia dengan serius meminta pertolonganku untuk menemui Santi terakhir kalinya.

    "Jangan, Bang!" cegahku cepat-cepat. "Abang jangan menemui Santi lagi, nanti dia bisa bunuh diri." Aku memang sedikit melebihkan, tapi itulah yang perlu didengarnya.

    Mendadak hatiku trenyuh. Ke mana Bang Jaka yang humoris dan rapi, tipe yang dipuja Santi sejak pertama bertemu? Yang kulihat sekarang hanyalah sosok pria muda bermata sayu dengan bahu lunglai. Mereka dulu bagaikan sepasang merpati di kampus, membuat banyak orang berdecak iri. Kini mereka berdua adalah korban kekolotan juga manipulasi dari teman kuliah berdarah biru yang diidamkan orang tua Santi. Kalau dipikir-pikir, Bang Jaka jelas menang segalanya. Apalagi selepas kuliah dia langsung diterima bekerja menjadi dosen. Hanya saja menurut orang-orang tua, dia bukan bagian dari kami.

    "Aku akan berangkat ke Amerika minggu depan, La. Maka itu aku pikir perlu untuk ketemu Santi terakhir kalinya. Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal." Jelas ada yang salah dengan otak Bang Jaka. Hidup berdua sebagai pasangan muda di negeri orang itu adalah mimpi Santi juga, sebelum dibuyarkan oleh lamaran mendadak si teman kuliah.

    "Kalau Abang datang dan mengucapkan selamat tinggal, apa nanti Santi nggak tambah sedih, bang?" Bang Jaka terdiam dan memberiku tatapan kosong. Lalu katanya "Aku mungkin tidak akan kembali ke sini lagi, La". Tapi aku tetap tidak menyetujui rencana itu dan hanya bersedia dititipi surat. Surat itu masih ada padaku, tak tega kuberikan pada Santi saat melihat mata bengkaknya. Sambil menatap punggung Bang Jaka yang menjauh, aku tiba-tiba ingat Mas Pardi. Aku tidak bisa membiarkan pria dengan cinta sederhananya itu berjalan seperti mayat hidup, atau mungkin aku malah yang jadi mayat hidupnya. Aku mulai menyusun rencana.

    Tanda-tanda ketidak senangan Ibu sudah terlihat saat bertanya tentang Mas Pardi yang mengantarku pulang kuliah sekali. Aku mencoba menjelaskan dengan ringan bahwa Mas Pardi adalah pria baik-baik dan pekerja keras. Aku bahkan menceritakan pertemuan pertama kami. Waktu itu sepulang praktikum aku mampir ke toko buah langganan. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan siapa saja yang melayaniku. Tapi aku suka belanja di sini karena pelayanannya ramah dan cepat. Lalu besoknya saat keluar dari kelas, dia menghampiriku untuk mengembalikan diktat yang tertinggal di meja kasir. Baru aku sadar yang melayaniku dengan cepat dan ramah selama ini adalah kakak tingkatku. Toko buah itu milik pamannya yang merantau lebih dulu, dan dia ikut bekerja di sana untuk membiayai ongkos kuliah. Setelah lulus, Mas Pardi mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan nasional. Tak lama lagi dia akan segera dirotasi ke pulau lain dan mendapatkan promosi.

    "Ingat Mala, kau berbeda dengan gadis biasa. Derajatmu tidak memperbolehkan kau berpasangan dengan orang yang bukan keturunan Sultan. Apalagi perantauan. Jangan lagi kau berdekatan dengannya." kata Ibu waktu itu. Aku tidak begitu peduli ucapan Ibu. Namun pernikahan Santi kemudian membuatku sadar bahwa jalan itu juga adalah jalanku nanti. Mas Pardi kuberi tahu mengenai kekolotan orang-orang tua di keluarga besar kami.

    "Mala, kalau memang ibumu tidak setuju aku juga tidak hendak memaksa." katanya dengan lembut.

    Aku terhenyak. "Kenapa Mas Pardi malah sejalan dengan pendapat Ibu?"

    "Bukan Mas setuju dengan pendapat Ibumu. Tapi Mala sebagai anak perempuan satu-satunya jika tetap ngotot untuk bersama Mas, apa Mala siap dengan segala resikonya?"

    Aku tak mampu menjawab. Bagaimana pun juga aku dibesarkan dengan nilai yang mengagungkan sosok Ibu, dan mengecewakan beliau berarti menolak surga. Bibirku mengecap rasa asin dari butiran air mata dan bahuku berguncang keras. Mas Pardi menatapku lama tanpa suara.

    "Kalau niat kita baik, Tuhan pasti tahu kan Mas?" kataku akhirnya sambil terisak. Mas Pardi mengangguk perlahan. Kami sudah sepakat berjuang.

    Sehari setelah wisudaku, Mas Pardi dan pamannya datang melamar. Tentu saja ditolak oleh ibu yang didampingi beberapa kerabat. Meskipun sudah meramalkan ini akan terjadi, tak ayal hatiku kecewa juga. Apalagi mendengar kata-kata tak enak yang terlontar dari mulut Ibu, wanita yang dari rahimnya aku tumbuh dan dirawat. Malam itu sambil menerima cemoohan dari para paman, aku disidang dan keputusan ditetapkan. Aku akan dinikahkan secepatnya begitu ada lelaki dari keluarga yang sesuai ditemukan.

    Saat Ibu pergi selama beberapa hari keluar kota, aku mengangkut barang-barangku dan pindah ke sebuah kos sambil menyusun rencana selanjutnya. Hatiku seperti dibelah saat melangkah keluar dari rumah, tapi niatku sudah teguh. Aku tidak akan mengikuti jejak Santi. Aku memilih jalanku sendiri. Seminggu kemudian aku menggugat ke Pengadilan Agama agar dapat menikah dengan wali hakim.



    Aku menarik nafas panjang, mencoba menghirup udara segar. Di depanku Ibu telah berdiri dan berkacak pinggang. "Ibu tidak akan pernah bisa menerimanya di rumah ini, Mala. Kau tahu itu!"

    "Bu, bukankah dalam agama derajat semua orang di mata Tuhan sama, kecuali taqwanya? Darah biru hanya buatan manusia".

    "Jika perintah agama penting bagimu kenapa kau menjadi anak tak berbakti dan merendahkan diri hidup bersama lelaki perantauan yang tidak jelas asal usulnya?"

    Argumen ini tak pernah berhasil, seharusnya aku tahu karena sudah sering kulontarkan dulu. Tiba-tiba perutku melilit. Mungkin bayi yang di dalam sana juga stres dengan keadaan ini.

    Tanganku kuletakkan di perut dan mengelus calon anakku. Lalu aku berucap sepelan dan semelas mungkin. "Apa Ibu tidak bisa sama sekali menerima kami sebagai satu keluarga, setidaknya demi calon cucu Ibu?" Inilah senjata terakhirku. Semoga Ibu tersentuh.

    Mata Ibu menatapku nyalang. "Kau hanya boleh kembali jika sudah bercerai dari orang perantauan itu!"

    Aku menghela nafas panjang. Nenekmu masih sekeras karang, nak, ucapku dalam hati sambil mengundurkan diri. Kecewa, tapi perjuangan baru saja dimulai.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  9. #9
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Kubaca kau dengan hatiku. Tatapmu masih seperti waktu itu.
    Kala kita berdua tertawa di atas sepeda tua. Juga saat bergelimang dosa bersama.

    Kubaca kau dengan hatiku. Senyummu membeku saat menelusuri jemariku.
    Aku tak bisa menunggu. Tidak dengan dia yang kehadirannya tak kau tahu.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  10. #10
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Iklan hari ini

    dicari: penyewa kamar. tidak takut hantu. harga nego.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  11. #11
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Yang Pergi dan Yang Kembali



    Aku mengikuti langkah Dion masuk ke dalam apartemen studio miliknya. Sebagai langkah akhir dari proses wawancara yang menghabiskan cukup banyak waktu, aku ingin memotret tempat tinggalnya. Selain itu ada beberapa foto lama yang kuperlukan sebagai dokumentasi.

    Wawancara kami sambil makan siang tadi berjalan cukup lancar. Dion lebih terbuka padaku ketimbang wawancara pertama. Aku berhasil mendapatkan cerita tentang sisi lain saat kisah pribadinya dulu diekspos media besar-besaran. Kini aku bersandar di pintu masuk sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Studio ini, surprisingly, tak seperti dugaanku yang kukira akan sekalian menjadi perpustakaan pribadi. Ini tempat tinggal biasa. Dengan cat putih yang diselingi oleh furnitur warna cerah berdesain minimalis.

    "Silakan masuk", katanya sambil menunjuk ke arah sofa mungil di sudut ruangan. Aku mengangguk dan mengambil kamera dari dalam ransel. Sudut pandang dari sini harus diambil sebelum kelupaan. Dion langsung menuju lemari tinggi yang menempel di dinding dan membuka pintu kaca langsing di sebelah kanan untuk menemukan album foto.

    Aku tidak langsung duduk melainkan berjalan pelan, mencari sudut yang tepat untuk memotret semua sisi ruangan. Namun cuaca sore yang terlalu cerah kurang mendukung. Foto-fotoku menjadi terlalu terang dan aku segera saja sibuk sendiri mengoptimalkan fitur kamera.

    Dion membawa sebuah album foto ke hadapanku. Itu foto-fotonya saat kuliah di Amerika. Aku persilakan dia memilih beberapa, kemudian bertanya jika masih ada foto lain saat dia lebih muda. Bersama keluarga besar lebih baik. Dion kembali lagi ke lemari besar.

    Saat kamera memutari bagian kamar yang lebih polos, di balik lensa aku melihat beberapa lukisan yang digantung dengan jarak yang tidak sama. "Itu lukisanmu?"

    Dion menoleh dan memperhatikan lukisan-lukisan tersebut selama beberapa waktu. "Iya", dia akhirnya menjawab, "Itu semua lukisan lama. Dulu majorku Seni sebelum ganti ke Sastra".

    "Tidak ada yang baru?" mataku masih mengintip dari balik lensa. Kurang dekat. Aku memutar tombol zooming.

    "Tidak. Aku sudah lama berhenti melukis."

    "Kenapa berhenti?"

    Tidak ada jawaban. Hanya suara gemerisik tanda dia kembali ke pencariannya di lemari. Mataku kembali ke balik lensa. Semua lukisan memiliki tanggal sebelum tragedi itu terjadi. Jika bukan karena hal itu, bisa jadi yang kuwawancarai sekarang adalah pelukis terkenal, bukan penulis berbakat.

    Kini Dion berdiri dengan setumpuk album di tangan. Aku membeo langkahnya ke arah sebuah meja, yang kuduga meja kerja tempat kreativitasnya mengalir. Novel pertama Dion adalah keajaiban seorang penulis pemula. Namun novel keduanya benar-benar dahsyat. Kisah tentang kehidupan suku berekor panjang di hutan-hutan terdalam Sulawesi membuat orang bertanya-tanya apakah mereka masih ada atau sudah punah. Dion sendiri sama misteriusnya seperti suku yang ditulisnya. Dia tidak bersedia menjawab bagaimana caranya melakukan riset untuk bahan penulisan novel tersebut. "Rahasia Chef", katanya sambil tersenyum simpul tadi.

    "Ini meja kerja kamu?" tanyaku berusaha menetralkan suasana. Kamera sekalian kualihkan ke sana dan mengambil beberapa jepretan.

    "Iya. Di sini aku biasanya mengetik. Tapi untuk mencari inspirasi aku biasanya duduk di sana," tunjuknya pada kursi duduk dan meja kecil bergaya antik di sudut ruangan paling jauh. Meja itu menghadap langsung ke sebuah jendela yang memiliki sudut pandang terluas ke arah kota. Aku langsung terhipnotis pada bagian studio yang itu. Ada sesuatu di sana, tapi apa?

    Alma Mater Studiorium

    Aku tersentak. Apa hubungannya antara kampusku dengan studio ini?

    Dion menyodorkan sebuah foto. "Ini saat kami sekeluarga main ke Salabintana". Aku mengangguk setuju dan mendengar suara scanner dihidupkan. Tapi mataku masih tak bisa lepas lama-lama dari meja di sudut itu.

    Alma Mater Studiorium. Universita Di Bologna.

    Apa karena desain mejanya? Pengetahuan ekstensifku di bidang dokumentasi dan preservasi warisan arkeologi mengatakan itu bukan desain Italia, yang dulu atau yang sekarang. Tapi nama kampusku terus bergema di kepala. Pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan masa saat aku kuliah di Bologna. Benakku mulai membuka laci-laci ingatan, berusaha mencari kecocokan. Sambil menggali memori, kamera kuarahkan ke sana. Jika laci benakku masih belum berhasil mendapatkan sesuatu saat ini, foto-foto akan membantuku nanti.

    Tiba-tiba cuaca cerah di luar berubah menjadi mendung, membuatku harus mengatur ulang setting kamera. Saat hendak memotret kembali, aku melihat cahaya matahari seakan berganti-ganti terang dan gelap. Ini akibat filter dari awan di atas sana yang kadang tebal atau tipis, tergantung seberapa cepat angin membawa.

    Lalu aku melihatnya. Pelan tapi pasti dia muncul di sana.

    Tubuhku menegang dan mataku tak bisa lepas memperhatikan. "Kau gila!" desisku.

    "Kau bisa melihatnya?" suara Dion terdengar kaget. Aku membelalakkan mata dan berjalan mundur. Album foto berdebam jatuh ke lantai saat tangannya menggapai bahuku. Namun sumsum tulang belakangku bereaksi lebih cepat dan dalam sekejap kakiku sudah menapak di lorong-lorong apartemen dalam kecepatan tinggi, meninggalkan gema dan Dion di belakangku.




    Willa Cornelia pada usia 20 tahun memiliki segala yang diimpikan gadis seusianya. Dia adalah the next big thing. Bintang iklan termahal, aktris terfavorit, duta budaya, pacarnya seorang prodigy. Apa yang akan kau lakukan dalam hidupmu jika telah memiliki segalanya? Bagi Willa mungkin tak ada lagi yang perlu dikejar. Malam setelah menerima penghargaan sebagai aktris terfavorit, dia dibawa ke UGD akibat keracunan obat-obatan dan meninggal di sana. Saat itu kami para gadis yang mengidolakannya merasa kaget, sedih juga marah. Apa dia tahu seberapa ingin kami berada di posisinya?

    Setelah semua pemberitaan reda, akal sehatku kembali. Lulus dari jurusan sejarah dan arkeologi di kampus biru aku mendapatkan beasiswa ke Bologna. Pada motivation letter yang membawaku ke sana, aku menuliskan hasrat untuk mempelajari sejarah seni dengan ketertarikan riset di bidang Mediveal Graffiti, seni yang hilang dari abad pertengahan. Aku berkutat selama berbulan-bulan di perpustakaan kampus tidak hanya di Bologna, tapi juga ke Roma, Milan dan Florence untuk mengelaborasi, memodifikasi dan memperkaya faktor-faktor penyebab hilangnya Medieval Graffiti dari sudut pandang religi, civil society, asimilasi budaya dan sebagainya.

    Riset yang panjang itu mengantarku ke beberapa tulisan yang dibuat jauh sebelum abad pertengahan. Ketertarikanku di bidang seni yang hilang membuatku rela menyisihkan waktu untuk belajar alfabet Etruscan, bentuk tertua dari huruf Rune, supaya bisa membaca sendiri beberapa teks kuno tentang kaitan seni dengan ritual keagamaan di masa itu. Salah satunya adalah yang jika diterjemahkan disebut sebagai teknik Yang Pergi dan Yang Kembali.

    Tak perlu kukatakan bagaimana rumitnya teknik ini. Melukis wajah mereka yang telah pergi dalam bayang-bayang senja di atas kaca. Menurut teks yang kubaca, sangat sedikit pelukis dapat melakukannya dan itu pun harus dilakukan dalam keadaan trance. Hasilnya adalah lukisan transparan tiga dimensi yang dapat bergerak sesuai arah angin, namun hanya dapat dilihat pada intensitas cahaya tertentu. Saat itu aku tak dapat membayangkan seperti apa lukisan tersebut, hingga...

    Sore itu, aku melihat Willa Cornelia kembali. Terpaan cahaya matahari dan mendung yang bergantian menghidupkan wajahnya di kaca jendela secara perlahan. Mula-mula aku melihat untaian transparan berwarna cokelat muda. Rambutnya yang terkenal bergelombang indah alami itu membentuk sempurna dalam sekejap, membingkai wajah bulat telur dengan tatapan mata ke arah luar jendela.

    Lalu angin mulai menyibak rambutnya perlahan, menonjolkan leher langsingnya. Cantik. Seanggun saat dia terakhir kulihat menerima penghargaan di televisi dan mengacungkannya tinggi-tinggi. Dalam gerakan pelan, dia menoleh ke dalam ruangan. Seiring dengan itu, senyum lembut yang tadi terukir di wajahnya perlahan berganti dengan sudut runcing menekuk ke bawah. Matanya membara. Kelihatannya dia siap keluar dari bingkai jendela dan menerkamku.

    Ingin rasanya aku terbang kembali ke kampus saat itu juga, menambahkan satu paragraf pada tesisku tentang alasan mengapa ada seni yang hilang dan sebaiknya tidak ditemukan kembali.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  12. #12
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935


    Maya menutup telepon dengan mata berbinar.
    "Mas, aku diundang interview!"




    Tidak mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan sekarang ini. Apalagi isi CV nya pendek betul. Dua tahun pengalaman kerja dan jadi sukarelawan. Setelah itu mengikuti Andi, mulai dari kuliah paska sarjana di Amerika hingga keliling-keliling Timur Tengah dan Afrika untuk proyek eksplorasi migas. Terakhir mereka tinggak di Tanzania selama lima tahun sebelum pulang ke Jakarta.

    Maya benar-benar mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Ujung rambutnya yang bercabang sudah dipotong dan teknik french twist secara cepat sudah dipelajarinya dengan baik. Pingin beli setelan baru tapi ketika membuka lemari setelan lamanya masih bagus dan muat. Membaca kembali isi lowongan yang ditemukannya dua bulan lalu, juga profil organisasi internasional pengundang, untuk memastikan dia memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan sebagai manajer survei kesehatan reproduksi perempuan.

    It's my big day, diary. After many years I thought I would never have this chance.

    Andi bersedia memutar jauh dari kantornya untuk mengantar Maya dulu. Saat turun dari mobil Maya memperhatikan profil dirinya di dinding kaca. Dia puas terlihat profesional. Keluar dari lift, Maya menuju ke meja informasi dan diminta menunggu hingga dipanggil. Ya, dia memang datang sedikit lebih awal dari janji, tapi itu karena semangatnya sangat menggebu.

    Tak lama kemudian datang seorang pria yang kelihatannya juga diminta menunggu. Maya memperhatikan dalam diam. Pria ini terlihat tenang. Di jari manisnya ada cincin melingkar.

    Hmm...pasti dia sangat cinta pada istrinya. Mas Andi saja yang ngaku segitu cintanya padaku emoh pake cincin.

    Lalu mata mereka bersiborok.

    "Diundang wawancara juga?" tanya pria itu. Maya mengangguk sambil tersenyum sedikit. Rasanya tidak enak tadi ketahuan memperhatikan. Padahal maksud sebenarnya adalah memetakan sejauh apa orang di depannya ini akan menjadi batu penghalang karir impiannya.

    "Saya juga", lanjut pria di depannya. Maya dan pria itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Deny mulai berbincang mengisi waktu. Cerita Deny, dia punya banyak pengalaman sebagai baik sebagai enumerator ataupun surveyor di lapangan. Nyaris seluruh pelosok Indonesia sudah dikelilinginya. Maya tersenyum lagi, kali ini dengan perasaan tidak nyaman.

    "Kalo Mbak Maya pengalamannya di bidang apa?"

    Maya mendehem membersihkan tenggorokan. Jawaban pertanyaan ini sebenarnya dipersiapkan untuk wawancara, tapi dia tidak bisa kalah gengsi.

    "Dulu saya aktif keluar masuk kampung dengan teman-teman dokter muda untuk kampanye safe s.e.x di kalangan prostitusi. Saya yang atur jadwal keliling dan organisir funding, teman-teman dokter melakukan tes kesehatan. Kami pernah dapat sumbangan kondom dari donatur. Kondomnya cukup untuk setahun".

    Maya mengulum senyum mengingat masa-masa itu. Mereka tidak dibayar. Cuma digerakkan oleh rasa empati terhadap para PSK yang berteduh di balik tembok-tembok kos kumuh, tanpa ada perhatian dari pihak mana pun. Sulit sekali awalnya masuk ke sana, tapi para mbak itu akhirnya bisa menerima niat baik mereka. Kunjungan rutin pun kemudian tidak hanya sekedar tes dan kampanye kesehatan, tapi juga jadi ajang curhat.

    Saat Maya akhirnya menyetujui keinginan orang tua untuk mengadakan pesta pernikahan yang meriah dengan banyak tamu, para mbak ini berada dalam daftar teratasnya.

    "Wah seru juga ya", komentar Deny. Kemudian dengan nada suara menurun dia berkata "Istri saya juga dulunya aktif seperti Mbak Maya saat masih muda."

    Maya menegakkan badan. "Oh...istri Pak Deny kenapa?"

    "Dia sedang sakit. Tubuhnya lemah sekali. Dua anak kami dititip ke Mbahnya di Lampung sejak tahun lalu karena tidak ada yang ngurus."

    Maya terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

    Biaya pengobatannya mahal sekali", tambahnya dengan wajah sayu.

    Maya mencoba menemukan kata yang tepat untuk memberi semangat namun sang sekretaris memberi tanda kalau jadwal wawancara sudah tiba. Maya menganggukkan kepala untuk permisi dan masuk ke ruangan wawancara. Di sana telah hadir ketua proyek yang menjadi penanggung jawab kegiatan secara keseluruhan dan beberapa petinggi organisasi termasuk yang berwajah bule.

    Mulanya agak grogi. Tapi ketika diminta menceritakan secara spesifik tentang pengalamannya saat blusukan di daerah prostitusi, kata-kata cerminan masa lalu keluar dengan mulus. Pengalaman kerjanya sebagai sukarelawan ternyata saat diceritakan kembali terdengar menakjubkan, bahkan oleh telinga Maya sendiri.

    "We need someone who completely understand how to approach the women, particularly those who are prostitutes. On the other hand, you don't have so much survey management experience, I suppose." ucap salah seorang bule.

    "Not in a big scale, of course. But during my voluntarily work, we also conducted surveys. I had been the person in charge to link the questionnaires, usually from university researches, to the respondents. If you really target prostitutes, you will find out how not open they are to outsiders."

    Thanks, Mas Andi. Sudah membawa diriku keliling dunia. Tanpamu aku tak akan bisa membalas omongan si bule.

    Soal anak dan keluarga juga dapat dijawabnya dengan lancar. Anak-anak sudah bisa ditinggal dan izin sudah lama diberikan Andi. Maya bisa melihat kepuasan di mata mereka. Di akhir wawancara, tangannya dijabat erat oleh ketua proyek. "Kami butuh yang seperti anda," ucapnya, membuat hati Maya berbunga-bunga. Dia bahkan diantar mereka hingga ke depan pintu ruangan.

    Saat membalikkan badan dan bertemu pandang kembali dengan Deny, perasaan hangat tadi tiba-tiba menghilang. Yang ada di kepala Maya hanya bayangan perempuan ringkih dengan selang terhubung di hidungnya. Tak berdaya.




    Maya bolak-balik di tempat tidur dengan gelisah. Surat penawaran sebagai manajer survei diterimanya tadi pagi dan dia diminta memberi jawaban dalam waktu dua hari. Anehnya, entah dari mana Deny mendapatkan nomor teleponnya dan mengucapkan selamat. "Pekerjaan besar tuh Mbak. Paymentnya aja dalam dolar", katanya.

    "Mas, aku kok rasanya jadi nggak enak ya?"

    Andi menurunkan buku yang sedang dibacanya. "Maksudnya?"

    "Ada orang yang lebih butuh kerjaan ini, tapi aku yang dapat."

    "Maksudmu yang tadi telepon itu? Berarti memang kamu lebih baik darinya."

    "Iya...tapi aku kasihan. Istrinya sakit keras dan dia butuh biaya banyak. Buatku pekerjaan ini untuk aktualisasi diri tapi buat dia penyambung hidup. Aku takutnya mematikan kepulan dapur orang kalau kerjaan ini diambil."

    "Dilema ya?"

    "Iya, rasanya dilema betul. Enaknya gimana ya?"

    Andi menatap Maya sejenak. Sambil kembali membuka buku dia menyahut "Do what you need to do".

    Hmm...tapi apa, diary? Apa yang perlu kulakukan?"




    "Apa kabar, non?"

    "Hai Siska, ini lagi makan siang bareng anak-anak enumerator. Habis ini ada focused group discussion. Kamu kabarnya gimana?"

    "Baik. Cuma pengen ngecek aja, apa kemaren usahaku jadi detektif partikelir sia-sia nggak ha ha ha"

    "Nggak sia-sia dong. Thanks ya. Kamu memang detektif jempolan sedari dulu."

    "Aku cuma mau ngasi laporan nih, siapa tahu membuatmu jadi lega."

    "Ya, apaan tuh?"

    "Deny sudah dapat kerjaan proyek survei di Indonesia Timur. Jadi nggak perlu merasa bersalah lagi."

    "Ah...enggak kok."

    "Tapi kamu nyaris nolak kan waktu itu?"

    "Iya sih, tapi setelah kupikir-pikir ini bukan cuma kerjaan. Hasil survei ini akan jadi bahan informasi yang berguna bagi perempuan di masa datang. Kalau kuberikan ke Deny padahal dia nggak tahu caranya, percuma saja."

    "Oh...oke."

    "Lagian katamu istrinya nggak separah itu sakitnya. So..., eh Sis ada yang mau diskusi nih. Udahan ya. Ntar kalo pulang ke Jakarta aku traktir nonton deh. Bye"
    Last edited by tuscany; 22-11-2013 at 08:15 PM.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  13. #13
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Serakan Fragmen

    Edisi: Hitam

    "Kau gila...," desis Bagas, tak tahu hendak berkata apa lagi. Siwi seolah tak mendengar ucapannya, hanya melambaikan tangan sekenanya. "Untuk apa kau lakukan itu? Kau bisa mati!" tambahnya masih dengan nada tak percaya.

    Siwi akhirnya menoleh dan menampakkan ekspresi heran. Bagas menatapnya dengan kening berkerut. Baru kali ini sejak mereka bertemu, Siwi memperlihatkan ekspresi tertentu. "Kematianku bukan urusanmu," akhirnya Siwi berucap datar, nyaris tanpa emosi.

    "Menjadi urusanku ketika berkaitan dengan hidup matiku sendiri".

    Tubuh Siwi yang tadinya menyamping dan bersiap melangkah ke sudut ruangan kini berbalik menghadap Bagas dalam posisi sempurna.

    "Dengar, apa yang kulakukan tadi bukan untuk meyelamatkan hidupmu. Aku melakukannya karena aku ingin melakukannya. Sudah jelas? Bagiku kematian urusan sepele."

    Hening di antara mereka berdua selama beberapa waktu. Lalu Bagas melihat sudut bibir Siwi perlahan mencair. Bersamaan dengan itu, bola matanya menghitam pekat dan bersatu dengan rongganya. Bagas tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Dalam gerakan lambat, dia melihat perubahan yang semakin nyata pada wajah Siwi. Kini bibirnya melebur bersama kulit wajah wajah yang menggelap. Mulut tanpa bibir itu lalu membentuk garis tipis melengkung.

    Bagas tanpa sadar menahan nafas, tak kuasa untuk bereaksi lebih jauh. Matanya terkunci pada garis melengkung yang kini membuka dengan perlahan. Lalu menganga lebih lebar bagai pintu gua. Bagas tak dapat melihat apapun selain kegelapan. Dia seperti hendak terseret ke dalam sana ketika didengarnya suara halus keluar. Apa yang hendak sosok di depannya ini katakan?

    Mendadak Bagas terbatuk. Dia menahan nafas terlalu lama hingga paru-parunya berontak, mengembalikannya ke alam kesadaran bersamaan dengan udara segar yang dihirupnya. Siwi tak lagi ada di hadapannya. Dia kini sedang duduk di ambang jendela. Kakinya sedikit ditekuk dalam posisi santai. Sebuah seruling kini berada di tangannya, dan ujungnya ada di bibirnya.

    Bagas mengamati dari posisinya berdiri. Bibir itu terlihat normal. Aku pasti berhalusinasi tadi, pikir Bagas sambil mendudukkan dirinya di ambang jendela satunya. Di luar langit terlihat pekat tanpa bulan. Bahkan cahaya bintang pun tak terlihat. Awan berpintal dan menggulung, bergerak kencang di angkasa. Jika hujan badai datang, Bagas berharap rumah tua ini cukup kuat untuk menghadapinya.

    Tiupan seruling Siwi mulanya tak terdengar. Bukan karena Bagas terlalu larut dalam kalkulasinya mengenai cuaca, melainkan yang keluar dari sana adalah nada yang tak dikiranya akan keluar dari sebuah seruling. Nada itu bagaikan desiran angin. Kadang pelan kadang kencang, mengikuti pergerakan awan. Kini Bagas paham. Rumah ini walaupun tua namun kedap suara. Jadi bunyi yang tadi didengarnya bukan berasal dari alam, namun Siwi sedang membawa dimensi cuaca ke dalam kamar mereka.

    Suara seruling itu begitu mendayu, membuatnya nyaris tertidur sampai ingatan acaknya kembali pada adengan lambat di mana wajah Siwi berubah total. Dalam keadaan setengah sadar, Bagas merekonstruksi kembali kejadian tadi. Kini mulut itu membuka. Gua itu mulai mengeluarkan bunyi. Bagas berusaha keras untuk tidak mengganggu ingatannya. Dia ingin tahu apa yang hendak mulut itu katakan.

    Suara itu berdesis pelan, berhembus mengeluarkan udara dingin yang perlahan mencekik pernafasannya. Inilah yang menyebabkan dia terbatuk tadi. Namun Bagas tak ingin berhenti. Dia harus tahu apa yang tadi Siwi katakan. Kini desisan itu mengeluarkan volume bernada. Menghantarkan sebentuk kalimat di telinganya.

    Aku
    xxxxxxxsudah
    xxxxxxxxxxxxxxxxlama
    xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxmati
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  14. #14
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    keren ceritanya
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  15. #15
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Yang Pergi dan Yang Kembali



    Aku mengikuti langkah Dion masuk ke dalam apartemen studio miliknya. Sebagai langkah akhir dari proses wawancara yang menghabiskan cukup banyak waktu, aku ingin memotret tempat tinggalnya. Selain itu ada beberapa foto lama yang kuperlukan sebagai dokumentasi.

    Wawancara kami sambil makan siang tadi berjalan cukup lancar. Dion lebih terbuka padaku ketimbang wawancara pertama. Aku berhasil mendapatkan cerita tentang sisi lain saat kisah pribadinya dulu diekspos media besar-besaran. Kini aku bersandar di pintu masuk sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Studio ini, surprisingly, tak seperti dugaanku yang kukira akan sekalian menjadi perpustakaan pribadi. Ini tempat tinggal biasa. Dengan cat putih yang diselingi oleh furnitur warna cerah berdesain minimalis.

    "Silakan masuk", katanya sambil menunjuk ke arah sofa mungil di sudut ruangan. Aku mengangguk dan mengambil kamera dari dalam ransel. Sudut pandang dari sini harus diambil sebelum kelupaan. Dion langsung menuju lemari tinggi yang menempel di dinding dan membuka pintu kaca langsing di sebelah kanan untuk menemukan album foto.

    Aku tidak langsung duduk melainkan berjalan pelan, mencari sudut yang tepat untuk memotret semua sisi ruangan. Namun cuaca sore yang terlalu cerah kurang mendukung. Foto-fotoku menjadi terlalu terang dan aku segera saja sibuk sendiri mengoptimalkan fitur kamera.

    Dion membawa sebuah album foto ke hadapanku. Itu foto-fotonya saat kuliah di Amerika. Aku persilakan dia memilih beberapa, kemudian bertanya jika masih ada foto lain saat dia lebih muda. Bersama keluarga besar lebih baik. Dion kembali lagi ke lemari besar.

    Saat kamera memutari bagian kamar yang lebih polos, di balik lensa aku melihat beberapa lukisan yang digantung dengan jarak yang tidak sama. "Itu lukisanmu?"

    Dion menoleh dan memperhatikan lukisan-lukisan tersebut selama beberapa waktu. "Iya", dia akhirnya menjawab, "Itu semua lukisan lama. Dulu majorku Seni sebelum ganti ke Sastra".

    "Tidak ada yang baru?" mataku masih mengintip dari balik lensa. Kurang dekat. Aku memutar tombol zooming.

    "Tidak. Aku sudah lama berhenti melukis."

    "Kenapa berhenti?"

    Tidak ada jawaban. Hanya suara gemerisik tanda dia kembali ke pencariannya di lemari. Mataku kembali ke balik lensa. Semua lukisan memiliki tanggal sebelum tragedi itu terjadi. Jika bukan karena hal itu, bisa jadi yang kuwawancarai sekarang adalah pelukis terkenal, bukan penulis berbakat.

    Kini Dion berdiri dengan setumpuk album di tangan. Aku membeo langkahnya ke arah sebuah meja, yang kuduga meja kerja tempat kreativitasnya mengalir. Novel pertama Dion adalah keajaiban seorang penulis pemula. Namun novel keduanya benar-benar dahsyat. Kisah tentang kehidupan suku berekor panjang di hutan-hutan terdalam Sulawesi membuat orang bertanya-tanya apakah mereka masih ada atau sudah punah. Dion sendiri sama misteriusnya seperti suku yang ditulisnya. Dia tidak bersedia menjawab bagaimana caranya melakukan riset untuk bahan penulisan novel tersebut. "Rahasia Chef", katanya sambil tersenyum simpul tadi.

    "Ini meja kerja kamu?" tanyaku berusaha menetralkan suasana. Kamera sekalian kualihkan ke sana dan mengambil beberapa jepretan.

    "Iya. Di sini aku biasanya mengetik. Tapi untuk mencari inspirasi aku biasanya duduk di sana," tunjuknya pada kursi duduk dan meja kecil bergaya antik di sudut ruangan paling jauh. Meja itu menghadap langsung ke sebuah jendela yang memiliki sudut pandang terluas ke arah kota. Aku langsung terhipnotis pada bagian studio yang itu. Ada sesuatu di sana, tapi apa?

    Alma Mater Studiorium

    Aku tersentak. Apa hubungannya antara kampusku dengan studio ini?

    Dion menyodorkan sebuah foto. "Ini saat kami sekeluarga main ke Salabintana". Aku mengangguk setuju dan mendengar suara scanner dihidupkan. Tapi mataku masih tak bisa lepas lama-lama dari meja di sudut itu.

    Alma Mater Studiorium. Universita Di Bologna.

    Apa karena desain mejanya? Pengetahuan ekstensifku di bidang dokumentasi dan preservasi warisan arkeologi mengatakan itu bukan desain Italia, yang dulu atau yang sekarang. Tapi nama kampusku terus bergema di kepala. Pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan masa saat aku kuliah di Bologna. Benakku mulai membuka laci-laci ingatan, berusaha mencari kecocokan. Sambil menggali memori, kamera kuarahkan ke sana. Jika laci benakku masih belum berhasil mendapatkan sesuatu saat ini, foto-foto akan membantuku nanti.

    Tiba-tiba cuaca cerah di luar berubah menjadi mendung, membuatku harus mengatur ulang setting kamera. Saat hendak memotret kembali, aku melihat cahaya matahari seakan berganti-ganti terang dan gelap. Ini akibat filter dari awan di atas sana yang kadang tebal atau tipis, tergantung seberapa cepat angin membawa.

    Lalu aku melihatnya. Pelan tapi pasti dia muncul di sana.

    Tubuhku menegang dan mataku tak bisa lepas memperhatikan. "Kau gila!" desisku.

    "Kau bisa melihatnya?" suara Dion terdengar kaget. Aku membelalakkan mata dan berjalan mundur. Album foto berdebam jatuh ke lantai saat tangannya menggapai bahuku. Namun sumsum tulang belakangku bereaksi lebih cepat dan dalam sekejap kakiku sudah menapak di lorong-lorong apartemen dalam kecepatan tinggi, meninggalkan gema dan Dion di belakangku.




    Willa Cornelia pada usia 20 tahun memiliki segala yang diimpikan gadis seusianya. Dia adalah the next big thing. Bintang iklan termahal, aktris terfavorit, duta budaya, pacarnya seorang prodigy. Apa yang akan kau lakukan dalam hidupmu jika telah memiliki segalanya? Bagi Willa mungkin tak ada lagi yang perlu dikejar. Malam setelah menerima penghargaan sebagai aktris terfavorit, dia dibawa ke UGD akibat keracunan obat-obatan dan meninggal di sana. Saat itu kami para gadis yang mengidolakannya merasa kaget, sedih juga marah. Apa dia tahu seberapa ingin kami berada di posisinya?

    Setelah semua pemberitaan reda, akal sehatku kembali. Lulus dari jurusan sejarah dan arkeologi di kampus biru aku mendapatkan beasiswa ke Bologna. Pada motivation letter yang membawaku ke sana, aku menuliskan hasrat untuk mempelajari sejarah seni dengan ketertarikan riset di bidang Mediveal Graffiti, seni yang hilang dari abad pertengahan. Aku berkutat selama berbulan-bulan di perpustakaan kampus tidak hanya di Bologna, tapi juga ke Roma, Milan dan Florence untuk mengelaborasi, memodifikasi dan memperkaya faktor-faktor penyebab hilangnya Medieval Graffiti dari sudut pandang religi, civil society, asimilasi budaya dan sebagainya.

    Riset yang panjang itu mengantarku ke beberapa tulisan yang dibuat jauh sebelum abad pertengahan. Ketertarikanku di bidang seni yang hilang membuatku rela menyisihkan waktu untuk belajar alfabet Etruscan, bentuk tertua dari huruf Rune, supaya bisa membaca sendiri beberapa teks kuno tentang kaitan seni dengan ritual keagamaan di masa itu. Salah satunya adalah yang jika diterjemahkan disebut sebagai teknik Yang Pergi dan Yang Kembali.

    Tak perlu kukatakan bagaimana rumitnya teknik ini. Melukis wajah mereka yang telah pergi dalam bayang-bayang senja di atas kaca. Menurut teks yang kubaca, sangat sedikit pelukis dapat melakukannya dan itu pun harus dilakukan dalam keadaan trance. Hasilnya adalah lukisan transparan tiga dimensi yang dapat bergerak sesuai arah angin, namun hanya dapat dilihat pada intensitas cahaya tertentu. Saat itu aku tak dapat membayangkan seperti apa lukisan tersebut, hingga...

    Sore itu, aku melihat Willa Cornelia kembali. Terpaan cahaya matahari dan mendung yang bergantian menghidupkan wajahnya di kaca jendela secara perlahan. Mula-mula aku melihat untaian transparan berwarna cokelat muda. Rambutnya yang terkenal bergelombang indah alami itu membentuk sempurna dalam sekejap, membingkai wajah bulat telur dengan tatapan mata ke arah luar jendela.

    Lalu angin mulai menyibak rambutnya perlahan, menonjolkan leher langsingnya. Cantik. Seanggun saat dia terakhir kulihat menerima penghargaan di televisi dan mengacungkannya tinggi-tinggi. Dalam gerakan pelan, dia menoleh ke dalam ruangan. Seiring dengan itu, senyum lembut yang tadi terukir di wajahnya perlahan berganti dengan sudut runcing menekuk ke bawah. Matanya membara. Kelihatannya dia siap keluar dari bingkai jendela dan menerkamku.

    Ingin rasanya aku terbang kembali ke kampus saat itu juga, menambahkan satu paragraf pada tesisku tentang alasan mengapa ada seni yang hilang dan sebaiknya tidak ditemukan kembali.
    ini bisa jadi prolog novel loh...
    memancing rasa penasaran....
    Popo Nest

  16. #16
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Serakan Fragmen

    Edisi: Pengintaian

    Bagas memperhatikan jalanan sempit di bawah sana dengan tekun. Titik-titik debu berterbangan di udara namun tak ada tanda-tanda keberadaan mahluk hidup di sekitar sana selain beberapa kijang muda yang menyeberang ke lembah sebelah sungai untuk mencari padang yang lebih segar. Di sebelahnya, Siwi duduk bersila tak bergeming sejak tadi. Matanya terpejam. Keduanya tangannya terlipat rapi masing-masing di atas paha. Pandangan Bagas kembali menghadap ke depan. Masih berharap tanda-tanda yang sedang ditunggunya segera tiba. Sejauh yang dia ingat, inilah petunjuk paling valid tentang keberadaan Prasanti.

    Bagas menghela nafas panjang. Sudah hampir enam bulan. Setiap detik yang berlalu, jejak akan semakin mendingin.

    "Pani..." terdengar bisikan halus Siwi.

    "Apa?" Bagas menoleh dan menemukan Siwi telah membuka matanya. Di sebelah kanannya berdiri sesosok tubuh kekar tanpa memakai atasan. Berkepala plontos, berkulit gelap dengan janggut yang mengitari wajah dan sedikit menebal di bagian dagu. Mendadak Siwi bergerak menyambar tas kanvasnya dan bangkit. Secara refleks Bagas menarik tali tas itu, membuat Siwi nyaris jatuh terjengkang.

    "Kau mau ke mana?" tanya Bagas dengan muka menyelidik. Siwi menarik tali tasnya, yang tidak dilepaskan Bagas.

    "Aku harus pergi."

    "Tidak. Kau tetap di sini. Kita sudah berjanji untuk saling membantu, ingat?"

    "Aku tidak ingat berjanji begitu padamu." Siwi menarik tali tasnya lebih kencang. Kini Bagas berdiri, tak peduli jika yang ditunggunya tiba dan menoleh ke atas, maka mereka mungkin akan bisa melihatnya dari balik cabang-cabang pepohonan.

    "Kau siapa?" tanya Bagas ke arah sosok yang sejak tadi diam saja.

    "Dia tidak bisa mendengarmu."

    "Kenapa tidak bisa? Dia tuli kah?"

    "Pani tidak di sini. Dia mengirim separuh jiwanya untuk menemuiku. Tadi dia berkata telah menemukan petunjuk dan dia akan mengantarku ke sana sekarang juga."

    "Aku tidak dengar ucapan seperti itu."

    Siwi memandang sosok yang dia panggil Pani, lalu menoleh lagi ke arah Bagas. "Pani membutuhkan banyak energi untuk bisa mengirim separuh jiwanya dan menemuiku di sini. Jika aku tidak pergi sekarang, Pani akan kehabisan tenaga."

    "Baik. Kalau begitu aku akan pergi bersamamu."

    "Tidak bisa. Pani hanya bisa membawa satu orang." Selesai berkata begitu, Siwi melakukan gerakan mendadak menebas pergelangan tangan Bagas yang memegang erat tali tasnya. Taktik itu tidak berhasil. Pergelangan tangan Bagas sekeras baja. Hasil menempa diri saat masih berusia belasan tahun di pekarangan rumah kakeknya.

    Siwi menatap matanya dengan tajam. Bagas mencoba menebak apa yang akan dilakukan Siwi selanjutnya. Terasa ada sedikit getaran halus dari tali tas yang berada erat dalam genggamannya. Dan saat Bagas sadar apa yang terjadi, semua sudah terlambat. Seruling itu sudah menyusup keluar dan berada di tangan Siwi. Tanpa membuang waktu, Siwi melangkah ke arah Pani dan mengulurkan tangannya. Saat ujung tangan mereka bersentuhan, keduanya menghilang dan digantikan oleh udara kosong.

    Bagas mendesah keras. Dia baru saja kehilangan pelacak jejak terbaiknya.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  17. #17
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Serakan Fragmen

    Edisi: Arisan


    Prasanti meletakkan tas tangannya di atas meja, lalu duduk di atas tempat tidur dan diam di sana. Bagas yang menyusul kemudian ke dalam kamar tidak berkomentar apa-apa. Selalu begini. Setiap pulang dari arisan, atau pertemuan dengan keluarga besar, atau kumpul-kumpul dengan teman-teman, selalu pertanyaan itu muncul. Kenapa mereka tak mau mengerti, bahwa manusia cuma bisa berusaha. Bagas tidak ingin pertanyaan itu memakan Prasanti pelan-pelan.

    "Menurut kak Bagas, apa yang belum kita lakukan?"

    Akhirnya Prasanti berbunyi. Ini jauh lebih baik, artinya dia sudah menguasai emosinya.

    "Kakak nggak tau. Bukankah selama bertahun-tahun kita sudah mendatangi semua klinik fertilitas, mengikuti macam-macam tes medis, bahkan sampai ke dukun segala."

    Prasanti tiba-tiba tersenyum lebar, ingat peristiwa dua tahun lalu saat Bagas dengan wajah sangat terpaksa merelakan dirinya menjadi obyek sang dukun yang iklannya banyak beredar di surat kabar. Bagas ikut tersenyum, namun hatinya masih kesal jika ingat peristiwa itu.

    "Wajah kakak kecut sekali waktu itu, seperti habis makan mangga muda hahaha."

    Bagas ikut tertawa. Itulah mereka berdua, selalu menemukan sesuatu untuk ditertawakan.

    "Kak, Santi jadi punya ide. Mungkin kita perlu honeymoon lagi".

    Ya, mungkin saja. Kenapa tidak dicoba. "Mau ke mana? Timbuktu?"

    "Ah kakak!" Bantal mungil berbentuk hati melayang ke wajah Bagas. Dengan sigap dia menangkap bantal yang berlukiskan kastil Putri Tidur di Bavaria. Salah satu oleh-oleh untuk Prasanti saat dia kembali dari kunjungan singkat di Munich tahun lalu.

    "Gini aja, Santi punya ide. Kita tulis di kertas lima pilihan tempat, lalu diundi mana yang keluar. Sisanya untuk bulan madu tahap selanjutnya, apa pun yang akan terjadi." Prasanti lalu bangkit dan mencari kertas di laci nakas. Sementara itu Bagas masih terkagum-kagum dengan pilihan kata-katanya yang diujung. Apa pun yang akan terjadi. Jadi Prasanti sudah lebih pasrah?

    Bagas menulis beberapa tempat yang sudah lama dia ingin kunjungi namun selalu ditunda dengan alasan pekerjaan. Di kertas kelima, ide itu habis. Lalu senyum terbit dari bibirnya.

    "Kak, jangan Timbuktu!"

    Tawa Bagas meledak. Prasanti baru saja mengeluarkan kemahirannya membaca pikiran. Akhirnya dia menulis satu tempat lagi yang tidak seeksotis Timbuktu. Lalu melipat dan memasukkan semua kertas ke dalam vas kecil yang disodorkan Prasanti. Vas itu diguncang-guncang sejenak, lalu disodorkan ke Bagas.

    "Kakak yang ambil kertasnya, aku yang baca namanya."

    Bagas menggoyang sedikit vas itu dalam posisi miring, hingga mengeluarkan satu potongan kertas. Prasanti mengambil dan membukanya. Lalu tersenyum simpul.

    "Jadi?"

    "St. Petersburg!"
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  18. #18
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Serakan Fragmen

    Edisi: Perburuan


    Mereka duduk dalam diam mula-mula. Ujung alas kaki masing-masing bersentuhan meski kedua pasang kaki pemiliknya telah menekuk sebisanya. Tempat ini terlalu sempit untuk berdua. Bagas tidak bermaksud mempercayai orang di depannya seratus persen. Namun jika dia berniat jahat, sejak dari tadi hal itu akan terlihat. Dan jika dia ingin bertindak curang sekarang, maka Bagas sangat siap menghadapinya. Bagas lalu menghembuskan nafas perlahan. Apakah ini akan menjadi malam yang panjang? Pandangan yang gelap gulita membuatnya otomatis mencari-cari cahaya. Lalu dia ingat, dinding di sampingnya terlihat tebal tadi, sebelum pintu ditutup sepenuhnya.

    "Bagaimana sirkulasi udara di sini? Pintu gesernya tertutup rapat sekali", ucap Bagas memecah keheningan denga suara pelan. Mahluk di depannya sejak tadi sunyi senyap nyaris tanpa suara, kecuali hembusan nafasnya yang sangat pelan memberi tanda bahwa dia masih duduk di sana dan hidup.

    "Ada beberapa titik di mana udara berhembus keluar masuk. Namun sepertinya dari arah dalam."

    "Jadi dinding batu ini memiliki ruangan lain di sebelahnya?"

    "Soal itu aku tidak tahu. Bisa saja bukan ruangan, namun tumbuhan menjalar menutupi cahaya dari luar."

    "Kalau begitu bagaimana kau tahu jika hari telah berganti?"

    "Aku akan tahu."

    Bagas merasa itu jawaban yang cukup aneh. Namun dia tidak ingin menanyakan lebih lanjut. Telepon satelitnya masih memiliki baterai yang cukup sampai dua hari lagi jika dia hanya ingin mengetahui posisi waktu.

    "Aku tidak mengingat namamu saat hari pertama kita semua saling diperkenalkan. Namaku Bagas."

    "Kau bisa memanggilku Siwi."

    "Apa yang membuatmu datang ke tempat ini?"

    "Kurasa kita semua punya tujuan yang sama."

    "Benarkah? Maksudmu kau dan yang lain juga sedang mencari seseorang?"

    "Aku tidak tahu pasti. Bisa seseorang, bisa sesuatu. Siapa yang kau cari?"

    Bagas diam sejenak, memberi waktu untuk memutuskan apakah Siwi layak dijadikan sekutu.

    "Kau tidak perlu mengatakannya jika tidak ingin."

    "Tidak begitu. Ini tempatmu dan mengizinkanku ikut bersembunyi di sini adalah tanda niat baik. Aku sedang mencari istriku, Prasanti. Dia hilang sejak tiga bulan yang lalu. Kami semua sudah putus asa mencarinya. Lalu datang sebuah surat ke kantorku, menyatakan bahwa kabar tentang Prasanti akan diberikan jika aku memenuhi undangan untuk datang ke pulau ini."

    "Kenapa kau begitu yakin kalau yang mengundang tahu keberadaan istrimu?"

    "Dia menyertakan suatu barang pribadi milik Prasanti."

    "Barang itu bisa dipalsukan, atau diambil dari jenazahnya."

    Hati Bagas tertusuk mendengar kalimat terakhir. Perlahan tangannya mendekap erat sesuatu didadanya, yang terlindung di balik baju.

    "Aku memang tidak punya bukti Prasanti masih hidup atau tidak, namun aku tidak percaya dia sudah meninggal sampai aku melihat mayatnya dengan mata kepalaku sendiri." ucap Bagas, kini lebih lirih. Lalu dia mengeluarkan sebuah cincin yang dikalungkannya di leher dari balik baju.

    "Oh, itu barangnya?"

    "Kau bisa melihatnya?"

    "Mataku sedikit terbiasa dengan kegelapan sekarang."

    Bagas lalu menyadari matanya pun sudah menyesuaikan dengan kegelapan. Walau tanpa cahaya, dia bisa melihat sedikit bayangan tangannya sendiri, juga bayangan Siwi.

    "Ini cincin kawin kami. Entahlah jika menurutmu bisa dipalsukan, namun cincin ini memiliki sertifikat dan sudah aku cek ke toko yang menjual."

    "Hmm...sepertinya cincin yang menarik. Boleh kulihat?"

    Bagas melepas kalung itu dari lehernya dan memberikannya ke tangan Siwi yang terjulur. Siwi membawa cincin itu ke wajahnya dan menghirup udara di sekitar cincin. Bau yang tadi tercium samar-samar terasa lebih nyata sekarang. Jadi sumbernya berasal dari cincin ini. Siwi lalu mengembalikannya lagi.

    "Kau sendiri, siapa atau apa yang kau cari?"

    "Aku mencari seseorang."

    "Bagaimana undangan itu meyakinkanmu untuk datang ke sini?"

    "Sebenarnya bukan aku yang diundang, namun teman lama Pani. Perempuan ini tidak berani datang dan Pani memintaku untuk mewakilinya."

    "Siapa itu Pani?"

    "Kepala suku kami."

    Bagas mencoba mencerna kalimat tadi dengan hati-hati. Zaman sekarang masih ada istilah kepala suku? Perempuan di depannya apakah sedang bercanda?

    "Jadi karena dia kepala sukumu, kau harus mematuhi segala perintahnya?"

    "Tidak. Namun untuk yang satu ini aku ditugaskan sehubungan dengan misi yang dibebankan padaku."

    "Oh...kau punya misi tersendiri. Apa itu?"

    "Mencari seseorang."

    "Kukira teman wanita Pani yang mencari seseorang. Apa kau mewakilinya mencari orang itu?"

    "Tidak. Teman Pani urusannya beda. Namun Pani bilang mungkin kalau orang ini tahu banyak tentang hal-hal yang tersembunyi, dia juga tahu sesuatu tentang orang yang kucari."

    Suasana sunyi kembali. Baru saja Bagas akan membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara daun pintu dibuka, engsel yang berderak karena karatan, lalu debam pintu ditutup terdengar keras. Tanpa dikomandoi, mereka berdua memelankan jalan pernafasan. Dalam keheningan, suara langkah satu persatu yang semakin mendekat berpacu dengan nada dari detak jantung mereka sendiri. Apakah ini orangnya?

    Suara langkah itu kadang berhenti lama, lalu terdengar kembali. Ada bunyi barang-barang yang diangkat dan diletakkan kembali. Suara deheman. Dengusan. Batuk kecil. Pintu-pintu lemari yang disibak. Langkah-langkah berat semakin nyata di telinga.

    Dalam kegelapan yang tak lagi pekat, Bagas dan Siwi beradu pandang. Ternyata mereka diburu lebih cepat dari yang diduga.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  19. #19
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Serakan Fragmen

    Edisi: Padang

    Siwi mengerjapkan matanya. Dataran tinggi dan pepohonan dalam sekejap telah berubah menjadi padang rumput. Pani membawanya ke sini untuk satu alasan yang sangat jelas. Namun tak ada siapa pun di sini.

    Kosong, Pani.

    Carilah jejaknya. Mungkin masih tertinggal. Dan cepat beri tahu aku jika kau menemukannya. Tim eksekusi tidak jauh lagi dari tempatmu.


    Siwi menghirup nafas dalam-dalam. Namun angin begitu kencang menerpa. Jejak apa pun sudah terbawa pergi sepertinya. Dia lalu memandang berkeliling. Padang ini luas, dan batas horizon yang gelap di sana terlalu jauh untuk dikenali. Lalu terdengar olehnya bunyi aneh yang halus. Seperti suara angin yang membawa sesuatu.

    Siwi membalikkan punggung, dan mendapati tak jauh dari tempatnya berdiri menancap sebuah batang kayu setinggi pinggang dengan kain segitiga berwarna merah lusuh berkibar-kibar di atasnya. Bunyi dari kain ini yang tadi sayup-sayup menyapa telinganya. Mendadak Siwi merasa tak asing dengan tempat ini.

    Perlahan dia mendekat dan berdiri tepat di samping sang penunjuk arah angin. Dulu, dulu sekali, dia dan Hana biasa berdiri berdua di sini sepanjang sore. Mereka akan dijemput saat matahari nyaris tenggelam. Malamnya, wan Kabih akan mendatangi mereka dan menanyakan satu hal.

    "Apa yang angin katakan padamu hari ini, nak?". Mereka berdua menggeleng, tak mengerti maksud wan Kabih. Rutinitas itu terus terjadi berhari-hari, berminggu hingga berbulan. Mereka selalu menjawab sama, lalu wan Kabih akan keluar dan mereka boleh pulang ke rumah masing-masing. Hingga suatu hari, ada aroma manis datang ketika angin berhembus dari arah matahari terbenam.

    "Kau mencium baunya Hana?"

    Hana mengernyit, mencoba menghirup lebih dalam. "Tidak. Aku tidak mencium bau apa-apa. Namun aku merasa angin kali ini lebih tajam dari biasanya. Kulitku sampai perih."

    Malam itu, wan Kabih tersenyum untuk pertama kalinya. "Itu aroma bunga kopi yang sedang mekar di desa sebelah. Teruslah berlatih mencium dan membedakan berbagai aroma, nak." Lalu dia memandang Hana. "Angin yang mengiris kulit biasanya membawa energi tidak baik. Pertajam rasamu nak, supaya kau mengerti energi apa yang dibawa angin itu."

    Sejak itu, mereka berdua mulai belajar mengenali berbagai jenis hal yang dibawa angin. Temuan mereka tak pernah sama. Hana lebih sensitif dengan kulitnya. Namun kadang kesimpulan indera mereka sama. Hujan akan datang dua hari lagi. Beruang di tengah hutan baru saja melahirkan. Pesta pernikahan besar dengan arak-arakan akan melewati tepi desa. Mereka juga belajar mengenali pesan angin ada berbagai rupa dalam satu kesempatan. Semakin lama, semakin banyak yang angin ceritakan. Tahun-tahun latihan membuat meraka bersahabat akrab dengan angin, bahkan selalu merindukan untuk pergi ke padang setiap sore.

    Lalu suatu hari angin membawa bau yang menyengat padanya. Sedangkan Hana merasakan hawa panas menyambar-nyambar. Malam itu mereka mengatakan hasil latihannya pada wan Kabih. Wan Kabih tak berkata apa-apa, namun langsung keluar mengarah ke rumah kepala suku. Dia dan Hana mengekor pulang, tak sengaja mendengar suara wan Kabih dari balik dinding kayu yang bersebelahan dengan jalur cepat mereka tiba di pekarangan rumah masing-masing.

    "Mereka mencium bau darah dan pembantaian, wan. Penciuman itu masih di padang dan belum sampai padaku, berarti itu desa kota. Mungkinkah mereka akan sampai ke sini?"

    Dia dan Hana hanya saling memandang, lalu meneruskan perjalanan pulang.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  20. #20
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,935
    Serakan Fragmen

    Edisi: Jatuh


    Siwi tidak sempat menghentikan laju tubuhnya. Lantai terlalu licin dan alas kakinya meluncur mulus ke tepian tembok. Tubuhnya condong ke depan dengan tangan terpentang, mencoba menggapai sesuatu. Namun tak ada apa-apa di sana selain udara kosong.

    Bagas mencoba menangkap ujung kaki Siwi yang sudah melayang keluar dari tepian, namun jangkauannya tak sampai. Dengan wajah pias, Bagas menyaksikan tubuh Siwi menjauh dan mengecil, didekap daya gravitasi. Hatinya mencelos saat sadar tak ada lagi yang bisa dilakukan. Tak kuasa membayangkan tubuh itu remuk redam menghantam tanah, Bagas memejamkan mata.

    Tepat ketika menyadari bahwa kakinya tanpa pijakan dan bayangan gelap jauh di bawah sana menantinya dalam hitungan detik, Siwi pun memejamkan mata. Dia bisa merasakan tubuhnya seperti disedot ke bawah, semakin lama semakin kencang.

    Apakah aku akan berakhir seperti ini? Siwi bertanya-tanya dalam hati. Tak ada rasa takut dalam dirinya. Namun semua ini tak sesuai dengan rencana-rencana yang belum selesai.

    Tuhan, aku hanya mengenalmu dalam pelajaran di madrasah dulu. Namun aku bersahabat baik dengan semua ciptaanmu. Cukupkah itu untuk menyambung sedikit nyawa yang masih kau sisakan?

    Di dalam kekhusukannya, Siwi perlahan merasakan kecepatan tubuhnya melambat. Dia lalu menyadari, ini satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Kedua lututnya kemudian menekuk ke arah perut membentuk posisi fetus, dan tangannya yang tadi melebar tak beraturan disatukan di belakang kepala dengan kedua siku bertemu di depan wajah. Teringat olehnya saat dia dan Hana melatih anak-anak kucing untuk belajar jatuh. Mulai dari mendorongnya di tangga kayu terbawah, lalu meletakkannya satu anak tangga setiap kali anak kucing itu berhasil jatuh dengan posisi kaki di bawah. Kini posisinya justru terbalik dari posisi si kucing. Siwi tahu, punggungnya lah yang akan menghantam tanah lebih dulu. Tak ada kesempatan untuk memberi tahu Pani bahwa posisinya sangat genting.

    Saat dia selesai mengunci tubuhnya, Siwi kembali menghunjam bumi dalam kecepatan tinggi. Lalu detik itu tiba. Punggungnya menghantam dasar dan melesak hingga semeter ke bawah. Siwi terdiam beberapa lama, mencoba mencari tahu apakah dia memang masih hidup. Tercium olehnya samar-samar aroma yang khas. Lalu dia memberanikan diri membuka mata.

    Pandangannya tertutup sebagian oleh helaian daun. Begitu juga dengan tumpukan daun yang mengalasi tubuhnya. Air yang membusukkan daun-daun mengalir di sela-sela telinga dan rambutnya. Tubuhnya kini terasa dingin dan lengket. Siwi menepis dedauan di wajahnya dengan tangan lalu mencoba bangkit pelan-pelan. Dia mendongak saat terdengar suara langkah kaki mendekat.

    Bagas telah berdiri di tepi tumpukan daun untuk mengulurkan tangan, menyambut seseorang yang sedetik lalu dikiranya sudah hancur lebur.

    "Aku tak mengerti bagaimana kau bisa selamat. Siapa yang meletakkan tumpukan daun setinggi ini persis di tempat jatuhmu," tanyanya tanpa mengharapkan jawaban.

    Siwi memandang berkeliling sambil menepis sisa daun dan air di sekujur tubuhnya. Mencoba merasai kehadiran sang penguasa udara yang kini melintas lembut seperti biasa. Lalu dia menundukkan kepala sedikit.

    Terima kasih.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

Page 1 of 2 12 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •