jujur pada pangeran yang sedang menatapku terkesima. Berjalan dengan gagahnya mendekatiku perlahan, memenjara hatiku lewat tatapan matanya. Aduhai, matanya begitu memesona. Demi mata itu aku rela mengingkari jatidiriku sebagai laki laki.
Pangeran membungkuk, menyodorkan tangannya sebagai ajakan untuk berdamsa. Bisakah aku menjadi primadona di pesta ini? Bisakah aku menjadi cinderella sesungguhnya?
Dengan ragu ragu aku menerima ajakannya, kuletakkan tangan kiriku di atas tangan kanannya, degub jantungku memenuhi rongga telingaku. Gilakah aku jatuh cinta dengan sesama jenis? Hei, tapi aku kan cinderlla..aku perempuan sekarang..
Kuikuti irama nada yang mengalun, aku melebur bersama pangeran. Matanya mengunci mati hatiku..
Dan tiba tiba.. Jam berdentang 12kali, menandakan...