Kasus-kasus di atas itu adalah hasil menghubung-hubungkan, post mortem... bukan firasat...
Firasat datang dari kemampuan kita berkomunikasi dengan bawah sadar yang memang banyak menerima petunjuk dari luar dan memberitahu kita. Misalnya, ketika tekanan udara turun, yaitu gejala awal terjadinya badai, kulit kita bisa merasakan perubahan yang kecil sekali itu. Lalu bawah sadar langsung mengirim tanda bahaya memberitahu kalau akan ada badai dan menyuruh kita pergi dari situ. Cuma dalam kasus manusia biasanya tanda bahaya itu tidak disadari karena kita terlalu sibuk dengan pikiran atau urusan kita (cek utasan kupo soal orang terlalu sibuk sehingga tidak sempat mendengar musik yang indah).
Orang Jawa biasanya melatih kemampuan mendengar bawah sadar ini dengan berbagai laku, misalnya bermeditasi, mengurangi makan dan tidur, dan mengembangkan tenggang rasa. Dalam khasanah budaya jawa ini disebut tanggap ing sasmita.
Belom ngerti deh om, apa seperti ketika masup ke ruangan/tempat yang angker kita merasakan hawa panas/dingin dan bulu kuduk berdiri itu termasup firasat om? om pernah dapet firasat kah?
Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi