Weruh sadurunge winarah sama tanggap ing sasmita,
Sepertinya sama yak? *cmiiw*
Weruh sadurunge winarah sama tanggap ing sasmita,
Sepertinya sama yak? *cmiiw*
Sama gak ya?
Kalau dari persepsi saya selama berguru di Padepokan Jonggring Nggajah Mada dulu, Tanggap ing Sasmita adalah suatu keadaan dimana kita peka dan waspada terhadap pertanda. Syarat tercapainya kondisi ini adalah harus memiliki ilmu pengetahuan kausalistik (sebab akibat) baik yang jelas maupun yang samar. Misalnya, ketika harimau sudah turun dari lereng Merapi, maka sasmita-nya adalah gunung tersebut akan meletus. Segeralah mengungsi.
Tahap berikut dari Tanggap ing Sasmita ini adalah ketika kita sudah cukup peka untuk menangkap pertanda yang lebih halus, misalnya kita bisa menangkap perubahan listrik statis di udara akibat gerakan tektonik Gunung Merapi. Intinya sama, segeralah mengungsi.
Adapun Weruh Sadurunge Winarah adalah suatu jenjang rohani yang katanya kita sudah menyatu dengan alam semesta (manunggal ing jagad cilik lan jagad gede), sehingga perubahan tatanan apapun di alam semesta akan termanifestasi pula dalam diri kita. Akibatnya kita menjadi cermin dari dinamika alam dan bisa mengetahui (seringkali tanpa memahami sebab akibat di belakangnya) bahwa sesuatu akan terjadi.
Katanya sih...![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"