-

i remember this
dulu pertama kali baca bbrp taon yang lalu dari washington post (news media yang melakukan eksperimen ini), dan saya inget banget karena artikel ini cukup bagus dan sangat menarik topiknya. dan respon2 orang yang melewati / menonton pengamen ini juga sangat menarik dan lucu. denger2 artikel ini kemudian sempat menang award.
kupikir studi ini mencoba melihat human behavior, dan mencoba menjawab (ato bertanya) secara filosofis apa yang menyebabkan ato mendefinisikan good music / musician. apakah yang berperan itu nama, ato simply good old music? i think it was a very good social experiment, and a very humbling one too for the musician. dia yang terbiasa ditepuk tangan-in di concert halls, menjadi nobody di stasiun kereta gini
dan kuinget ternyata ada kok yang akhirnya mengenal identitas asli pengamen ini.
having said that, saya belakangan juga menyadari semakin menjadi manusia yang jaded (jenuh, tidak memperhatikan sekeliling lagi). di saat rush hour, situasi rame2, semua buru2, sibuk sendiri, pokoknya setiap orang mempunyai misi sendiri tanpa melihat kiri kanan lagi. i'm starting to turn into that person, maybe i already am. padahal saya dulu sangat suka nonton pengamen. sebenarnya skarang juga masih, cuman biasa ya itu, buru2 dikejar waktu, jadi ga stop2 lagi
tapi kalo ada waktu, dan pengamennya bagus, saya suka kok brenti dan nonton. dan saya pernah melakukan itu, berdiri di spot yang sama dan nonton pengamen beraksi di stasiun kereta, for a straight 2 long hours
kalo pas di luar stasiun misalnya di taman2 yang ada tempat duduknya, malah bisa lebih lama lagi sampe bbrp jam
kadang malah sengaja ke taman sengaja ingin melihat street musicians nge-jam bersama secara impromptu. it was priceless
i kinda missed that actually
Last edited by ndugu; 03-05-2013 at 10:02 PM.
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules