pagi membunuhku dengan pesan gila mu
pagi membunuhku dengan pesan gila mu
merangkak pada jemari malam
angin laut datang lebih cepat
tapi memekarkankan senyum
akhirnya dapat bersajak lagi
malam akan berlalu dan,
sedang berlalu lalang.
Selamat datang waktu,
pena akan menari lagi,
meski malam menjadi tak suka.
Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa
"Sedekah Aja "
Sastra - > Dear Diary Inspirasi
Kucing - > Semua Tentang Kucing
PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara
aliran nadi berjalan cepat
memberitaukan,
sang penyesak napas
telah lari tunggang langgang.
Indahnya oksigen,
terasa nikmat,seperti mengunyah
es serut bersirup strawberry.
Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa
"Sedekah Aja "
Sastra - > Dear Diary Inspirasi
Kucing - > Semua Tentang Kucing
PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara
ini kisah kesabaran.
Wahai angin,derulah dengan cepat
pohon tak akan rubuh
badai lekaslah datang dengan kebut
daun ini akan tumbuh kembali.
Wahai mentari,teranglah dgn gemerlap
itulah tujuan pohon
bertahan hidup utk dapat melihatmu.
Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa
"Sedekah Aja "
Sastra - > Dear Diary Inspirasi
Kucing - > Semua Tentang Kucing
PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara
Hari kemarin, geratkan luka belum lagi kering. Tapi siapa kita, menghalang gerhana, agar tak nampak airmata?
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
Pigura Kosong
rumpun bambu bergelung rindu,
tarian hujan yang tak sempat mengembun di rambutmu
Setetes kenang basahi petang
Kukejar tanya ke pedalaman mata
“Kirimi aku gambarmu” katamu
Kukirim sebuah pigura kosong
“Apakah waktu telah mencuri semua ingatanmu?”
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
^
^
nice poem![]()
- just call me kokom -
Shinken & Fude… Jalan pedang dan jalan kuas, antara keharmonisan dan kekerasan kehidupan yang melebur untuk meraih kemurnian yang sempurna…
I get to actually experience what it would be like to be a psycho, which is not a fun one. For me, it suits me. It suits my personality.
thx kom...share me yours
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
entah apa yang menggerogoti jiwaku, tapi tak kutemukan kau disitu...
bangku kayu tempat biasa kita menghilang,
dari peradaban lalu tumbuh liar sebagai ilalang...
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
aku katakan lagi padamu,
jangan dekati alunan hidupku
biarkanku bernapas seluas-luasnya
Karena cerita kita berakhir
tak bermekar, menjadi kuncup
di pagi yang sunyi
jauhlah, sejauh awan putih
yang tak dapat ku gapai.
Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa
"Sedekah Aja "
Sastra - > Dear Diary Inspirasi
Kucing - > Semua Tentang Kucing
PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara
Dengan baju kuyup dan payung tertutup, aku berlari menuju rumah.
Ah..Tiba tiba aku kehilangan alasan untuk pulang. Mungkin untuk secangkir kopi, atau adakah puisi yang belum dibacakan sepi?
Hujan pekat...tanpa isyarat
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
Jikalau hati ku tertutup, ketuklah dengan perlahan.
Jikalau hati ku tekunci, carilah kunci untuk membukanya.
Jikalau hati ku terbuka, ku persilahkan kau untuk keluar dari hati ku.
numpang nempel
Bunga dan Tembok
oleh Wiji Thukul
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami tebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakina: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Dimanapun – tirani harus tumbang!
(1987-1988)
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
Thanks, mengingatkan lagi pada sebuah tokoh yang sangat sederhana dan sekarang hilang entah kemana.
tapi puisi2nya yang berani itu tetap dikenang sampai kapanpun.
*err tulisan saya tentang Wiji Thukul juga raib seiring portal forum yang saya sambangi lenyap beberapa tahun yang silam
Kukejar bayangmu
seakan tiada bertepi
kuingin menggapaimu
tetapi hanya ada sepi
kuingin memelukmu
hanya batu dingin yang ada
kuingin bersandar kepadamu
tetapi kau abaikan
bagaimana aku harusnya?
Pergi dengan lukaku ini?
Atau tetap bertahan dengan luka?
Tolong beri aku hal pasti
Kau dan aku
mengawali bersama dengan senyum
Dan apakah kini harusnya?
Ketika senyum tak bisa ada?
note. dedicate to u, be strong
numpang nempel lagi
puisi seorang teman..
Di malam Saat Riwayat Salju Sampai di Penghabisan
oleh Rahmat Hidayat
Di malam saat riwayat salju sampai di penghabisan
Denting pukul sembilan, seorang datang mengetuk pintu kamar
Di keset coklat hitam, air menggenang dari jaket hujan
Di luar hangat teruar samar, basah lahir dari salju yang cemar
“Kuberikan sebuah bingkisan untuk hari menjelang natal
Aku sepenuh berharap kisah yang tak selesai tak bakal kekal”
Cangkir penghangat jari, gurat daun teh terapal takdir
Ada setia menggantung, beberapa jenak sebelum waktu kasip
Berseru, diri terperi, tersendat sedih yang silir
Sebelum diam dari dengung, sebelum lenyap tanpa kelip
“Masihkan kau simpan foto kita itu
Yang dahulu engkau simpan dengan rapi dalam album
Berharap ia berubah sepia oleh waktu
Engkau lihat, betapa cinta setia merangkum”
Tapi kita tahu, jarak, mungkin pula cinta, seperti jaring lelaba
Halus, dan mungkin tak terlihat
tapi cermat meringkus dan kita hanya bisa meraba
perubahan, mungkin baik mungkin pula jahat
Harus, harus dan harus pula pergi
dalam belit kenang, sebagai kekasih yang lekang
sebaik-baiknya, saat dingin masih menggerigi
di kering sepasang lengan, memeluk sunyi mementang
Amsterdam-Leiden, Desember 2008
---------- Post added at 11:29 AM ---------- Previous post was at 10:47 AM ----------
---------- Post added at 11:33 AM ---------- Previous post was at 11:29 AM ----------
------
Aku bukanlah aku, tapi malu yang tumbuh membatu. Tubuh penuh desis 'ish..' tapi sekali-kali kau jilat dengan rakus.
Oh, anak-anak yang menggeliat di dadaku, padanganlah indah bulan, bintang, lautan. Kita lebih dari itu!
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
ENTAH
Entah sudah terbang ke mana,
Aku memilih diam di sini.
Tak berani dan tak mau menyentuhmu (lagi).
You are untouchable, unreachable.
Barangkali, rindu ini memang harus dipasung.
Tak boleh membiarkannya sejenak keluar dari ruang hampa.
Setidaknya aku tahu,
Tak pernah ada benci.
Kemarin siang masih kusemat namamu.
Seperti harihari yang lalu... yang pernah ada.
Agar senantiasa menjagamu,
Seperti DIA juga menjagaku dan keluargaku... .
Daun, tanah dan ranting terlindas,
diantara yang bergegas
yang tinggalkan pagi
yang melamunkan petang dan mati yang entah kapan.
Last edited by Alethia; 09-04-2012 at 05:25 PM.
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
" Kita semakin berjarak" lirihmu, tapi taukah kau, kita tak pernah benar-benar saling menjauh, kecuali lelah yang semakin tabah, dan isyarat kian kehilangan makna.
---------- Post added at 05:03 PM ---------- Previous post was at 04:05 PM ----------
Cemburu senantiasa lapar berburu, seperti tak puas mengejar di jalan berbatu-batu. Pesta gairah yang lupa waktu merasuk rusuk pemabuk, mengulang perih tualang dari dada ke dada, dari basah ke resah. Pergelutan yang tak menyediakan pemenang, kecuali setumpuk dendam mengambang.
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
angan yg ada, pupus sudah.
ego telah menang.
because, imagination is a part of reality-