Efek nonton film cinta tapi beda ama polling soal pacaran beda agama..
Jadi pengen tau pendapat kalian soal pernikahan beda agama..apa ada yang punya pengalaman soal ini?..
Printable View
Efek nonton film cinta tapi beda ama polling soal pacaran beda agama..
Jadi pengen tau pendapat kalian soal pernikahan beda agama..apa ada yang punya pengalaman soal ini?..
Gak kusarankan.
Seberapapun kau cinta padanya.
Bukan masalah aqidah, hukum agama, dsb-nya sebenarnya.
Tapi masalah apakah lu bakal punya persepsi moral yang sama dengan dia.
klo sudah supakat (bertekad bulat) untuk bersatu dng perbedaan dimaksud
dan masing2 kukuh dng pendiriannya, ya musti ada titik komprominya.
misal:
- ritual pernikahan dilaksanakan dng dua cara
- atau klo mo efisien (irit ongkos) ya ke catatan sipil
nb:
konon catatan sipil mengakomodir kawin campur (baca beda keyakinan)
@ronggo:
knp harus konfirmasi semacam itu?
siapapun obyeknya, opi kan sekedar curious
jadi gak penting menyoal apakah pelakunya TS sendiri atau bukan
just reminder bhw privacy TS untuk hal2 tertentu yng tdk ingin dipublish
harus dihargai n dijaga bersama :)
Kalo dari keluarga saya, it works very well.
Di keluarga saya, yang akhirnya pisah justru yang seagama. Yang beda agama langgeng2 aja sampe sekarang. Itu gimana orangnya masing2, sampe sejauh mana kebesaran hati, toleransi, dan komprominya.
2 kakak gw nikahnya beda agama ::ungg::
ini kan dialog lintas agama dan keyakinan, mbah...
jadinya gw pikir, gw akan turun rembuk kalau salah
satu pasangannya ada yang muslim... jadi gw bisa
ikutan ngasih pandangan as muslim, kalau soal aga
ma lain, gw kan ngga tahu dan ngga mau sotoy...
tapi kalau kita bicara dari sisi bagaimana menjalani
nya, lepas dari pijakan agama, ya barangkali bisa
ditanyakan di sub-forum yang umum saja :)
Oke, biar ngga melebar gw coba jawab saja dari si
si Islam... dengan asumsi salah satu pasangan ada
lah Islam.
kembali, karena ini terkait agama, jadi ini masalah
dosa atau tidak, kecuali pelaku ngga peduli soal itu,
ya silahkan saja di-skip tulisan gw :)
setahu gw, urusan nikah ini yang paling krusial ada
lah soal bagaimana ML secara sah, bebas dari dosa,
yaitu dengan menikah, dan dalam Islam salah satu
syaratnya adalah calon pengantin pria harus seorang
Muslim, sedangkan pengantin wanita harus Muslimah
atau Ahli Kitab (Yahudi atau Nasrani/Kristen/Katolik).
Jadi sepanjang syarat keyakinan di atas terpenuhi,
maka pernikahan dapat dilangsungkan secara Islam.
maksudnya ahli kitab tuh yg cewenya menganut kepercayaan itu ya, go?
terus pernikahannya dilangsungkan secra islam?
g ga ada pengalaman soal nikah beda agama, sih
tapi keluarga ada yg melakukannya, dan denger2 cerita dari pengalaman temen2 kantor dulu aja
kayanya kalo ibadah sih tetep lanjut dengan keyakinan masing2
cuma, mereka sering bingung di anaknya aja...bakalan milih kepercayaan apa nantinya
anak sering dibuat bingung kalo ortunya ga mau kompromi atau menyerahkan ke anaknya
udah susah itungannya kalo ortunya masing2 dominan mau agama mereka masing2 yg dipilih sama anaknya ::ungg::
iya cewku kristen sedangkan gue sendiri Islam...
iya dalam Al-Quran ada 2 ayat soal ini...menurut pengertian gue yang bodoh ini..yah cow muslim bole menikah ama cew non-muslim tapi cew muslim gak bole menikah ama cow non-muslim..
kalo dalam Injil gue gak tau...dah baca2 yah sebagian sich gak semua tapi gak ketemu soal ini...atau gue aja yang kelewatan..
---------- Post Merged at 09:49 PM ----------
@pesisingam...catatan sipil gak bisa lagi menikah beda agama disana
nah... kan jadi enak ngomongnya :)
Loe bisa menikah secara Islam, meskipun cewe loe
tetap dengan keyakinannya, yang penting dia ber
sedia menikah secara Islam, tinggal loe penuhi sya
rat lainnya, 2 orang saksi muslim, mahar, dan wali
hakim yang bersedia menikahkan, maka sah... sah
tinggal secara negara, berhubung KUA dan CS ng
ga berwenang mencatatkan pernikahan, maka ren
cana loe kemarin dilakukan saja :)
habis itu, jangan lupa ngundang-ngundang saat re
sepsi :)
rencana gue yang kemaren apaan yah?
mencatatkan pernikahan di luar negeri, atau gw sa
lah dengar?
ooooo yang itu...salah satu alternatif..masih coba untuk di Indonesia aja...
btw ini bukan curhatan gue yah..ini diskusi antar umat beragama...
Ikutan sharing ya. Dari guru agama waktu sekolah nih, katanya ahli kitab adanya zaman dulu pas kitabnya masih murni. Secara guru agamaku percaya kitab2 itu sudah nggak murni maka dia berkesimpulan cowok muslim sebaiknya nggak menikah dengan perempuan ahli kitab karena yg namanya ahli kitab itu udah nggak ada. Masih di grey area sih kubilang. Jadi balik lagi sesuai ajaran agama yaitu kalau ragu sebaiknya tinggalkan.
saya setuju dengan ini
opi, apa kalian berdua jenis yang sangat religius sampe ga bisa toleransi dalam kehidupan sehari2? kalo ngga, then menurutku ga papa ya. for me, agama itu sesuatu yang personal. agamamu ya agamamu, agama cewemu ya agama cewemu. selama hati kalian yakin dengan agama masing2 dan yakin tuhan kalian ngga se-narrow-minded itu dan tidak mempengaruhi hubungan dan kelangsungan hidup sehari2, saya rasa ga papa. :cengir:
that's coming from me dari kacamata freethinker :cengir:
karena yakin itu, maka konsekuensinya akan timbul
rasa berdosa karena berhubungan diluar pernikahan.
gw yakin semua agama menghukumi dosa perbuatan
zina.
karena yakin akan ajaran agama, maka seseorang ta
hu mana yang boleh, dan mana yang dilarang, karena
nya seseorang itu tahu kalau zina itu dilarang. Bagai
mana agar tidak berzina? Maka menikah.
setahu gw, agama Islam mengatur bagaimana satu
pernikahan dipandang sah secara Islam, kalau aturan
itu dilanggar, maka pernikahannya tidak sah.
kalau soal menjalani kehidupan pernikahan selanjutnya
maka gw rasa tidak ada satu agama pun yang berbeda
ajarannya.
pendapat saya...
kalo bisa seiman... yang seiman ga kurang...
tapi omong sih gampang , merealisasikannya susah , apalagi kalo udah cinta...
saya ga punya pengalaman sih...
nikah cuma sekali.
tapi mantan pacar saya dan istrinya beda agama. menikah secara Islam. katanya sih , istrinya mau jadi Islam sih waktu itu.
Menikah secara Islam dan dia tetap pada agamanya???::ungg::::ungg::...gimana yah caranya??..setau gue KUA tetep harus satu agama..catatan sipil juga satu agama...
kapan hari yang meme kasi tau kakak itu...
di univ Paramadina ???
ya itu kan, pi, daftar ke luar negeri yg terima beda agama
ronggo: hmm.. ok. coba saya amend kalimat itu --- selama mereka yakin dengan intepretasi agama masing2 :cengir:
kedengarannya opi sama cewenya sudah menjalankan hubungan ini untuk suatu periode, bukan hubungan baru, maka saya pun mengasumsikan pandangan mereka mengenai ketentuan agama atopun dosa pun cukup "longgar", in other words bisa saling toleransi. karena kalo ngga, maka hubungan ini tidak akan pernah dipertimbangkan/dimulai in the first place.
cuman kalo mau mikir jauh ke depan, seperti pernikahan, maka rasa toleransi ini sangat penting.
Memang dulu pernah ada masanya ketika Yayasan Paramadina memberikan konseling dan memfasilitasi nikah beda agama. Tapi hal itu sudah dihentikan lama. Karena terlalu kontroversial maka pengurus yayasan tidak mau ambil resiko untuk mengurusi hal-hal di luar kegiatan inti mereka, yaitu bidang pendidikan.
Setelah itu ada The Wahid Institute dan ICRP yang mengambil alih peran tersebut. Tapi itu juga tidak lama karena kedua lembaga tersebut sekarang juga menghentikan kegiatan seperti itu.
Opi,
gue gak akan ngebahas dari sisi hukum,
gue lebih ke apakah pernikahan tersebut bisa jalan.
apakah:
1. kau pernah ke tempat ibadah pasanganmu?
2. apakah kau pernah mengobrol ngalor-ngidul dengan jemaat tempat pasanganmu beribadah?
Menikah itu bukan cuma antara dua insan tetapi antara dua keluarga dan dua komunitas. Jadi kalau tidak toleransi dengan komunitas tempat pasanganmu dibesarkan, lebih baik jangan.
Selain itu, dari kalian sendiri, persepsi moral harus sama. Ini yang jadi penghalang utama orang yang menikah berbeda agama. Coba bicara kasus-kasus sederhana seperti...
ntar kalau anak kalian perilakunya seperti banci bagaimana?
pandangan kalian tentang minuman alkohol untuk sosialisasi seperti apa?
Pandangan kalian berdua tentang cipika cipiki dengan lawan jenis bagaimana?
Apakah pemakaman harus dengan sudut agama tersebut atau bebas?
dkk.
Kalau ada perbedaan pandang, kau gak akan bisa mengingatkan istrimu biarpun pakai dalil-dalil dari kitab sucinya. Malah, gue amat tidak menyarankan untuk 'sok tahu' mengenai agamanya.
Kebetulan dulu pas masa pencarian saya, saya pernah nulis tentang nikah beda agama dengan mengutip ayat kitab suci kristen.
Semoga dapat sedikit menjadi referensi ya.
Quote:
Nikah beda agama merupakan bahasan yang sangat menarik di Indonesia yang pluralis religius ini. Betapa mata kepala saya sendiri menjadi saksi bahwa sungguh sulit mewujudkan nikah beda agama dalam tatanan masyarakat sekarang seperti di Indonesia saat ini. Betapa memang korupsi lebih bisa diterima dibandingkan dengan pernikahan beda agama. Setidaknya ada tiga orang yang saya tahu terlibat kasus hendak melakukan nikah beda agama ini. Dan sungguh menyedihkan, bahwa ternyata ketiga-tiganya harus merelakan cinta mereka demi kebahagiaan keluarga. Terutama demi orang tua. Walau kadang terpikir juga kalo hal tersebut hanyalah soal memilih berhala cinta atau berhala ego orang sekitar. Tapi sudahlah, itu soal lain lagi.
Sekarang mari kita fokuskan mengenai nikah beda agama saja. Saya akan mencoba membahas mengenai nikah beda agama ini ditinjau dari kekristenan. Adapun biasanya ayat yang diajukan untuk menentang pernikahan beda agama oleh yang mengaku sebagai kristen adalah :
2Kor. 6:14
Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
Asumsi yang digunakan berdasarkan ayat ini adalah bahwa setiap orang yang tidak beragama Kristen maka dia berada dalam gelap. Jadi implikasinya adalah jelas dilarang untuk nikah dengan pasangan diluar agama Kristen.. Sebab orang yang diluar agama kristen berarti pastilah di sisi gelap itu. Yah, sepertinya memang hal ini sudah umum di berbagai agama. Bahwa hanya agamanya sajalah yang terang itu. Tapi sudah jelas dari tulisan-tulisan saya selama ini kalau saya sangat tidak menyetujui hal tersebut. Alasan saya adalah semua ternyata berasal dari cahaya yang sama, hanya saja bentuk wadahnya yang berbeda.
Ok, sebaiknya kita kembali ke tentang ayat mengenai nikah beda agama diatas. Saya seperti biasanya mempunyai asumsi sendiri mengenai ayat tersebut. Bahwa pertama adalah Kristen itu bukan berarti orang yang beragama Kristen, tapi lebih kepada pengikut Kristus (Yesus) . Dan kebetulan bagi saya pengikut kristus itu bukan soal aku-mengakui Yesus itu sebagai Tuhan atau tidak. Melainkan bahwa mengikuti yang diteladankan oleh Yesus itu sendiri maka sudah layak disebut pengikut Kristus alias seorang Kristen. Lagian di ayat tersebut juga disebutkan soal percaya. Nah kalo meneladani Yesus, kan berarti termasuk mempercaiNya. Itu sih menurut saya. Dan sayangnya saya memang bukan orang yang mewakili gereja. Tapi sepembacaan saya hal seperti asumsi saya diataslah yang melatar belakangi gereja katolik mengakui adanya keselamatan diluar gereja. Jadi asumsi saya nggak ngawur bangetlah.
Dan implikasi dari pendapat saya tersebut, maka label agama tidak dapat menentukan soal terang dan gelap itu. Melainkan hanya dapat ditentukan dari tingkah laku atau yang disebut sebagai tindakan. Jadi ayat tersebut bukan ditujukan terhadap beda agama. Melainkan lebih kepada soal kecocokan diantara kedua pasangan jika ingin membangun bahtera rumah tangga. Toh, nasehat ini sudah umum bukan? Sebab orang-orang tua juga pasti memberikan nasehat seperti hal tersebut.
Sebenarnya saya sangat setuju dengan ayat di atas dalam hal nasehatnya bahwa sebaiknya memang mencari orang yang seimbang sebagai pasangan. Seimbang disini berarti pasangan adalah seorang yang cocok dengan kita. Jadi memang secara awam agak sulit cocok jika pasangan mempunyai keyakinan yang berbeda. Tapi sekali lagi saya tekankan bahwa bagi saya keyakinan itu tidak bisa dilihat dari label agamanya.
Pernikahan beda agama sebenarnya sama saja dengan pernikahan lainnya, kebaikan atau keburukan yang timbul dari pernikahan itu sesungguhnya terletak pada individu-individu yang menikah. Bila agama yang dibahas, maka masalahnya terletak pada bagaimana masing-masing individu menerjemahkan ajaran agama mereka masing-masing.
Pernikahan seyogyanya dibangun atas suatu kesamaan idealisme tertentu yang dianggap penting oleh mereka yang terlibat, misalnya kesamaan karakter, kesamaan tujuan hidup dan sebagainya. Bila agama bukan hal yang penting dibandingkan dengan kesukaan kedua insan atas musik, misalnya, maka pernikahan beda agama bisa langgeng mesti harus menghadapi segala masalah dan sangsi sosial. Mereka mungkin akan jadi pasangan pemusik terkenal dengan agama hanya sebatas KTP. Tapi bila agama adalah sentral dari kehidupan masing-masing individu, maka perbedaan agama harus disikapi dengan luar biasa hati-hati. Kedua belah pihak harus mencermati bagaimana mereka menerjemahkan agama masing-masing, dan seberapa jauh mereka bisa menerima perbedaan yang ada, termasuk -seperti kata Kandalf- bagaimana mereka akan mengajarkan agama ke anak-anak mereka.
Dalam kasus Indonesia dan salah satu dari pasangan beragama Islam,
Interpretasi yang populer di Indonesia adalah pernikahan muslim dengan yang beda agama dilarang,atau kalaupun boleh, harus antara muslim laki-laki dengan perempuan ahli kitab. Inipun banyak ditolak dengan alasan bahwa ahli kitab yang ada sekarang sudah tidak murni lagi.
Lepas dari keberadaan interpretasi lain soal masalah ini, pernikahan beda agama di Indonesia tampaknya akan menghadapi masalah lebih besar dari sekedar masalah rumah tangga. Akan ada perbedaan antar keluarga kedua pasangan (apakah anggota keluarga lain punya pandangan yang sama dengan si suami istri?), pandangan dan anggapan masyarakat, dan masalah hukum yang cenderung tidak berpihak pada pernikahan beda agama. Buktinya sampai-sampai Paramadina dan Wahid Institute yang punya pandangan berbeda dengan pandangan populer memilih untuk tidak dulu melanjutkan konseling beda agama, karena mereka melihat lingkungan yang sangat tidak kondusif. Lebih baik tidak memberi harapan dulu bagi pasangan beda agama untuk menikah.
Jadi meskipun kedua insan ini memiliki interpretasi berbeda dari yang populer, yaitu pernikahan beda agama boleh, memiliki common ground yang bisa mengatasi perbedaan mereka, tapi nampaknya mereka harus menimbang lebih jauh sampai ke masalah sosial.
Nah itu dia,
persepsi moral, satu agama saja bisa berbeda-beda.
Sebaliknya beda agama bisa sama.
Makanya dilihat dulu persepsi moralnya, sama atau tidak.
Atau bahasanya Um Alip, common ground. Yang jelas, ketika ada perselisihan, pasangan beda agama tidak akan bisa mengambil rujukan agama yang mereka peluk untuk membuat kesepakatan.
soal paramadina emank udah lama gak bis lagi disitu...tapi masih ada beberapa lembaga yang mencoba untuk membantu soal pernikahan beda agama...yang udah nonton film cinta tapi beda disitu mereka membaca buku soal pernikahan beda agama..salah satu penulisnya soal buku itu bisa membantu soal ini...dan waktu itu pernah ketemu dengan penulis buku tersebut waktu salah satu acara dimana dia menikahkan pasangan yang beda agama...
@kandalf..yang pertama..pernah beberapa kali gue ke gereje tapi yang no 2 belum pernah ngobrol2 ama jemaat sisitu...
kalo coba di luar negeri...setau gue di singapura udah gak bisa lagi...yang terdekat yah hongkong atau aussie...
Kalau perempuannya Kristen, laki-lakinya Islam, lalu mereka menikah, apakah perempuan itu berzina menurut agama Kristen?
Kalau laki-lakinya Kristen, perempuannya Islam, lalu mereka menikah, apakah laki-laki itu berzina menurut agama Kristen?
menikah itu merupakan penyatuan visi dan misi dalam hidup berumah tangga. agama termasuk visi dan misi dalam berumah tangga?
itulah konsekwensinya nikah dng pasangan yng beda keyakinan
disamping ribet urusan legalitasnya, tentu masih banyak aspek2 laen
yng harus bisa dikompromiken, klo gak ... waah bakal susah sendiri :D
Kalau sudah keburu menikah maka tidak boleh diceraikan, meskipun beda agama dan hubungan mereka tetaplah suami istri, bukan zinah.
---------- Post Merged on 09-01-2013 at 12:00 AM ----------
Ada juga loh pasangan beda agama yg "seiman"...
misalnya, Islam KTP menikah dengan Kristen KTP, meskipun agama di KTP nya berbeda tapi sebenarnya mereka punya keyakinan yg sama, yaitu sama2 tidak yakin dengan agamanya.
Pasangan seperti ini biasanya tidak mengalami konflik keimanan.
I see. Apakah boleh pasangan beda agama tsb menikah secara Kristen?
---------- Post Merged on 09-01-2013 at 12:00 AM ----------
Atau sama-sama yakin dengan persamaan di antara kedua agama mereka. Soalnya mbok pernah kenal dengan sepasang suami istri, suami Islam istri Kristen, mereka hidup rukun sampai akhir hayatnya.
ya klo supakatnya sudah spt itu ..... clear kan?Quote:
Originally Posted by Aslan
artinya, memanipulasi persyaratan administratip
guna memperoleh legalitas, yng plenting sah n diakui titik
kalo beda agama dan belum menikah, ya gak bisa menikah secara kristen...
tapi kalau sudah menikah secara kristen, lalu salah satunya pindah agama, pernikahan mereka tetap sah dan tetap tidak boleh bercerai.
---------- Post Merged at 10:25 AM ----------
iya, mereka bebas mengutak atik persyaratan administrasi karena toh pada dasarnya mereka tidak beragama.
maka kalau ada pasangan beda agama yg bisa menikah dan hidup rukun, tidak usah heran, kemungkinan besar "agama" mereka berdua sebenarnya sama yaitu sama2 agama KTP.
aslan membahasakan apa yang aku pikirkan. iya menurutku juga begitu seperti yang aslan tulis.
betul2. stuju sama Aslan. pasangan beda agama yang menikah dan bisa hidup rukun sampe akhir hayat jika (dan hanya jika) kalo dua2nya cuman agama KTP doang ::hohoho::
Atau Islamnya sufistik dan kristennya mistikus. Pasti klop tuh. ::hihi::
Kalian koq suka banget ngejek-ngejek orang, Islam KTP, dsb?
Islam memperbolehkan laki-laki Muslim menikahi perempuan Kristen, artinya laki-laki itu tidak melanggar ajaran Islam, bukan? Jadi di mana letak Islam KTP nya?
Dan darimana kalian tahu keimanan seseorang sampai bisa mengecap mereka Islam KTP?