Anak Sekolahan Vs Anak Pembantu
ada temen nyeletuk : mendingan anakku jadi anak sekolahan daripada jadi anak pembantu. sejak umur 2tahun udah aku sekolahin ke PAUD.
aku terbengong sesaat, ada yang menohok dikit...secara anakku baru berumur 2tahun 5bulan.. dan dia masih asyik di rumah.
aku termenung, merenungi kata2nya... aku pikir2 lagi kenapa aku belum konsen banget untuk menyekolahkan anakku di PAUD. kemudian ada dua kerangka situasi dan kondisional yang terbentuk. Yaitu :
1. Sikon lingkungan rumah.
di komplek(sekitar) rumahku, ada 1 temen sebaya anakku, dan ada 2temen diatas 1-2tahun umur anakku, yang ketiga2nya belum sekolah.
salah satu pertimbangan, aku takut menimbulkan kesenjangan sosial di antara mereka atau menjadi beban orangtua si anak yang sebaya anakku tersebut.
apalagi aku gak konsern betul dengan PAUD..
2. Tentang Pembantu...
iya sih, aku gak punya pembantu, punyanya pengasuh anak. sejak awal memang aku prinsipnya mencari pengasuh anakku, meski sedikit banyak dia juga membantu pekerjaan rumah, tapi secara prinsip aku tak pernah menargetnya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah atau menYURUHNYA untuk melakukan pekerjaan rumah, yang terpenting adalah dia mengasuh anakku.
dan sejauh ini, pengasuhku cukup bagus kunilai untuk mendidik anakku. dia mengajari anakku berhitung, membacca, mengaji, menghafal hafalan al qur an..
dan untuk usia anakku, aku nilai cukup sebagai landasan moralnya..
hemmh... mau jadi anak sekolahan atau anak pembantu, saya pikir tergantung pengasuh seperti apa yang kita dapatkan bukan??