udah jelas shitnetron Indon, pemeran Indon, bahasa yg dipakai bukan bahasa asing, apa motifnya? ::arg!::
kenapa stasiun TV lain gak ikut2an? apakah metode tsb udah dipatenkan ke HAKI
Printable View
udah jelas shitnetron Indon, pemeran Indon, bahasa yg dipakai bukan bahasa asing, apa motifnya? ::arg!::
kenapa stasiun TV lain gak ikut2an? apakah metode tsb udah dipatenkan ke HAKI
^ lw ngeliat yang didubing bahasa jawa kali mon..
kagaklah,
mangapnya sesuai dubbingannya kok.. kadang telat dikit
kalau dubbing intonasinya kedenger jelas. kl lsg take suara suka gak jelas
apa kamu yakin pertanyaan ini ga akan bisa dijawab ama rumus?
oke, akan saya jawab pertanyaan anda secara serius
alasan kenapa harus didubbing, itu karena untuk menghindari suara2 yang tak diinginkan masuk ke rekaman. hal tersebut dikarenakan kebanyakan pengambilan gambar dilakukan di luar ruangan. tentu sang sutradara ga ingin ada suara bajaj masuk ke rekaman, padahal setting ceritanya di jaman kerajaan (misalnya aja)
Tak peduli apapun alasannya apa, penyebab utamanya cuma satu: virus stripping alias kejar setoran. Tak perlu sungkan menyebutkan bahwa secara segi kecerdasan para pemain sinetron itu berada di bawah standar yang diperlukan untuk msuk SD--jika mereka sedikit saja memilikinya, mereka gak akan jadi pemain sinetron. Dengan tingkat kecerdasan yang jika diukur dengan termometer kepintaran akan sama dengan skala titik beku air, maka para pemain ini GAK AKAN BISA menghafal naskah.
Akan perlu waktu yang sangat lama sampai-sampai ditakutkan dajjal keburu datang ke bumi agar si pemain hafal dengan benar naskah setebal 50 halaman padahal sinetron2 semacam ini harus tayang 10x dalam SATU HARI. Apa akal? Voila, diciptakan dubbing! Dengan tingkat efisiensi yg mengalahkan produktifitas produksi krabby patty, para pemain tidak perlu menghapal naskah untuk film sinetron yg berdurasi 2 jam. Dengan cukup memasang tampang bod*h (sebenarnya gak perlu sih, udah alami), dan hanya mengerak-gerakan bibir maka naskah sebanyak apapun bisa dilakukan secara cepat.
Bayangkan settingan lokasi syuting: (settingan zaman kerajaaan era jaka tarub) yg dilakukan di kebun belakang rumah, suasana hiruk pikuk mobil dr jalan raya, ringtun hengpon para kru pilem, artissok penting yg BBM-an terus, para pemain figuran yg gak bisa baca naskah (plus pemain utamanya juga). Kacau balau. Mana seinetronnya harus tayang tiap hari denga durasi 6 jam. Satu-satu caranya adalah mematikan backsound suara di video. untuk keperluan isi suara cukup ditambahkan dialog dubbing.
Stripping-lah alasan utama kenapa film2 ini harus menggunakan dubbing untuk pengisi suara.
Alasan kedua adalah... yah, orang mungkin mengatakan bahwa hidup tidak sempurna. Wajah artis yg cantik2 belum tentu diiringi dg suara merdu. kebanyakan cempreng. Aktor-aktor yang kekar kebanyakan bersuara sengau bahkan melambai seperti perempuan (itu kenapa Ray Surya dipanggil Mona :ninja:). ketidaksinkronan wajah dan suara ini sekali lagi disiasati dg dubbing.
Sebenarnya gak hanya sinetron2 saja yg menggunakan dubbing, jika rutin menonton film2 Indonesia karya NAYATO A.K.A KOYA PAGAYO, semua filmnya menggunakan dubbing untuk dialog-dialognya. gak mengejutkan karena syuting film2 (yang DIJUAL untuk) bioskop hanya memakan waktu (paling lama) 3 hari. Untuk sistem syuting marathon seperti ini, dubbing jadi metode paling penting. jangan heran jika tiap minggu, film2 karya Nayato terbaru selalu nongkrong di bioskop.
untuk info sistem syuting Nayato, bisa baca2 disini: http://filmindonesia.or.id/post/naya...m#.Tu0h81bT6hM
@Mona: saya punya kenalan "orang dalam" lho ;D --setidaknya saya punya teman yg ngatur2 kamera (plus pernah merangkap jd pemain figuran) dan iseng pernah menonton acara syuting sinetronnya selama 20 detik karena pas mau jalan2 di daerah Bogor, ada tempat syuting sinetron abal2 ini -_-
hehehe panjang tuh lengkap. king juga bener tuh
I LOVE RUMUS!!!...
fans club dibuka.. siapa mau daftar...
rumus rumus rumus!!! :x ^:)^
ketawa ngakak baca tulisannya pak rumus,, khas pak rumus...::ngakak2::::hihi:: *nah loh om Ray,, bisa ke jawab se ilmiah githu...bawa2 titik air beku, termometer xexexe::ngakak2::
sayang sekali ray.....bahkan rumus bisa menjawab pertanyaanmu yang ini
trus kenapa sinetron striping di TV selain Indonsiar gak pakai didubbing, misal CINTA FITRI n yg dimainin nikita willy?
karena bayarannya udah mahal, masa mau gaji buta ? ::ngakak2::
@ray
tetap semangat ya ray, lebih kreatif lagi buat nanya2nya...
kita menantikan pertanyaan2mu yang lebih susah, ultimate question yang ga bakal bisa dijawab rumus...
RAY vs RUMUS... siapa pemenangnya?
::maap::
*ngamatin sambil ngemil....
doh....Mona bakalan ngambek lagi nih..::hihi::
mr. google ;D
Klo dubbing biaya produksinya (mixing/mastering)lebih murah..
Bener kan?
ya ampun, gak nonton sinetron sih boleh aja, tapi CINTA FITRI yang main Nikita Willy? :lololol:
okey, Indosiar kan kebanyakan syutingnya outdoor, kalau gak salah di studio PERSARI. Di balik tembok ntu kebanyakan suara2 yang tidak diinginkan bisa masuk kalau gak didubbing. Plus kebanyakan sinetron Indosiar kan cerita antah berantah alias silat. Masak lagi ciat2 ada yang teriak2 bakso2::ngakak2::
Jadi wajarlah mempercepat prosesnya mending didubbing. Biayanya juga lebih murah karena gak perlu retake kalau ada suara2 yang tidak diingkan masuk
masih suka nonton TV ::doh::Quote:
Originally Posted by Ray Surya
penyiar or presenternya TV itu bahasa indonesianya amburadul..
coba aja sesekali perhatikan.. kadang bahasa prokem jga mereka pake..
gimana penonton yg di daerah... pasti gak mudheng ::doh::
aturan bikin sinetron (selain yg di indosiar) itu gampang banget: bikin cerita naskah murahan (naskah pemenang lomba menulis cerpen anak SD tingkat RT pun boleh). Dari naskah itu, bikin seintron untuk 1-3 EPISODE SAJA. Jika respon pasar baik (ditunjukan dg tingginya rating), maka sinetron dilanjutkan dengan sistem stripping. Jika respon jelek, sinetron LANGSUNG DIHENTIKAN begitu saja. Untuk epsidoe pilot (awal-awal), si pemain emang menghafalkan naskah. jadi gak perlu didubbing. Episode-episode awal ini emang harus dibuat semeyakinkan mungkin (meyakinkan para embok-embok agar setia menonton), karenanya episode2 awal dibikin jauh2 hari.
Jika laku dan proses syuting dilanjutkan, langsung kena sistem stripping. Dan pada sistem stripping ini, GAK ADA lg naskah yg digunakan. Hasilnya ketebak, cerita acakadut, pemain sering melakukan improvisasi secara suka-suka, teriak dan nangis semena-mena. Jadi, karena tanpa naskah, sinetron pun bisa dilanjutkan tanpa dubbing juga....
itu kenapa sinetron2 ercetei dan escetepeh ceritanya muter2 gak karuan, logika yg digunakan adalah logika seekor zebra, suka dipanjang2ain dan dipotong sesuka hati, dll, dll, dll, dll, dll, dll, dll.
jawaban yang luar biasa dari rumus.....bener2 mencerahkan......syuperrr......::up::
tapi, emang ada ya shitnetron yang berhenti gitu aja setelah jalan 3 episode?
iyaaa supperrrr sekalii... makin jatuh hati xixixixixi...
sampe zebra dibawa2 duh sakit perut saya....
@King: saya kan menggunakan majas (ekstra)hiperbola :D
yah enggak 3-4 episode banget sih, setidaknya banyak bgt sinetron yg berumur kurang dr 1 bulan karena rendahnya rating. pas sinetron Cinta Fitri pindah ke Indosiar, ratingnya jeblok abis. Gak lama langsung gulung tiker. Ampe Shireen Sungkarnya juga bawa buntelan baju buat ngungsi. penonton kecewa karena pemotongan ceritanya dilakukan secara paksa. Epos dahsyat CiFit yg rekor menyentuh season 7 ini berakhir dengan tragis. hancur berkeping-keping dalam bentuknya yang paling kecil. Seperti pepatah, dia yang terbang paling tinggi, akan mengalami jatuh paling sakit ::nangis::
Oh Well, saya jadi pengamat sinetron ::hihi::
edunnn rumus... dari urusan psikologi, kalkulus, ekonomi, sosial, politik, ampe shinetron bisa dijawab semua ::maap::
emang kenapa cinta fitri di indosiar bisa jeblog abis? ceritanya kurang lebay dibanding sebelumnya?
Satu hal yang sangat mencengangkan bagi saia di sini....RUMUS NONTON SINETRON :kaget2:
^bukan nonton cuma pengamat..
Fans beratnya Nayato;D
fansnya Cinta fitri, makanya sampe sinetron ini pindah TV juga rumus mengamati::ngakak2::
udah terjawab belom.. :cilukba:
omm ancurr udah ketularan gogon nih maen garuk aja ..
::kabur::
Apanya yg dipatenkan ? Itu kan justru cara kuno, dari dulu juga udah ada. Kalo jaman dulu, tentu setelah film ada teknologi suaranya, pengambilan gambar dan perekaman suara itu tidak dilakukan bersamaan. Coba liat aja, semua film Indonesia yang dibuat sebelum pertengahan 80-an pasti begitu caranya. Pengisian suara itu setelah shooting selesai. Setelah itu baru diedit. Tentu saja cara ini lebih lama, tapi kualitas suaranya lebih jernih dan selektif. Sinetron biasanya sih males pake cara ini soalnya lebih mahal. Tapi sinetron Indosiar yang kolosal selalu pake cara ini.