gue ngeliat ini kaya olahrga zaman purba yg masih tertinggal di zaman modern yg uda maju kaya gini ?. Orang diadu kayak ayam aduan,kaya di colleseum zaman romawi'.... cuman ngandalin power+ speed ...doang..
Printable View
gue ngeliat ini kaya olahrga zaman purba yg masih tertinggal di zaman modern yg uda maju kaya gini ?. Orang diadu kayak ayam aduan,kaya di colleseum zaman romawi'.... cuman ngandalin power+ speed ...doang..
Ini salah forum neh..
Tapi menurutku, olahraga tinjunya sih gak masalah. Yang masalah itu pertandingannya:
1. dari sisi keamanan (parkinson?)
2. bahwa judi juga cukup mewarnai olahraga tinju.
Tapi jangan salah,
tinju gak cuma power + speed tetapi juga stamina. Bahkan mungkin di antara praktisi beladiri, yang latihan tinju mungkin yang paling kuat staminanya. Latihannya aja lari sambil mukul-mukul. Pegal lho.
Ada kawan, yang doyan icip-icip. Sumpah, kukira tadinya kawanku itu cuma iseng2 mengerjai orang di fesbuk, tetapi ternyata memang dia beneran doyan menjajal kemampuan orang-orang dari berbagai perguruan. Tetapi kalau kutanya, pernahkah dia icip-icip petinju, dia jujur bilang belum berani karena pukulannya cepat.
Lagipula, kalau dibandingkan dengan masa gladiator, jelas berbeda lah. Di masa gladiator, yang bertanding itu budak dan uangnya mereka tabung untuk membebaskan diri sendiri. Resiko kematiannya cukup besar dan pertandingan tidak akan berhenti walau sudah luka parah kecuali lawannya berbaik hati.
*ngelirik Aslan dan Alip.
nanya asal apa serius? kalau serius ke forum agama...kalau ngasal, dijawab asal ajah...dia ini yang nanya *gakpentingdotcom*
Setuju deh kalau tinju diharamkan, kalau perlu Anggar juga, olahraga yang porno! Bajunya terlalu ketat!
Plus, olahraga taekwondo dan sejenisnya...
Harusnya cabang olahraga peninggalan jaman dinosaurus macam beegitu harus diharamkan.
Dan lebih memasyarakatkan olahraga modren jjaman sekarang macem : video game, kartu, dan tetris
Summon sea games;
Hehehehehehehehe
Masa tinju cuma power sama speed ::doh::
Strategi diatas segalanya !
kalo memang diskusinya jadi serius baru jawab serius deh ;D
gw setuju, mending olahraga strategi macam Insomnia, atau war simulation kaya Call of Duty aja yg diangkat jadi olahraga resmi
udah ngga jaman nya olahraga satu lawan satu kaya gini...
@ts : karna ga mengandung babi??::hihi::::hihi::
Kok jadi dikait kaitkan ke MUI.
Tinju, taekwondo, silat, karate, dll kan bela diri.
Kalo ga ada teman sparingnya gimana mau bisa.
Daripada cari teman sparing di jalanan kan mending di adu di atas ring.
harusnya lempar lembing juga diharamkan. olahraga primitive, manusia purba sering melakukannya buat berburu hewan. lari maraton apa lagi, dimulai dr kebudayaan pagan yg menyembah banyak dewa. haram! ::doh::
Karena kalau diharamkan film ini ngga mungkin masuk Indonesia
http://www.youtube.com/watch?v=ei5l3r1dV4I
:D
CIKO..elu ketinggalan 5 bulan!!!
http://nasional.inilah.com/read/deta...ga-tinju-haram
soalnya yg pakai kostum tinju adalah cowo.
klo cewe pakai celana boxer + sarung tinju doang = ::cabul::
situh juga telat Spirs ;))
http://www.jurnas.com/news/27770
Masih telatan Ciko.(Lu jg telat mindy, klo gw ga ngasih link itu blm tentu lo googling :p )
Gw sih udah tau dr dulu.
tp malas bikin threadnya.
Soalnya KM asik sih ;;)
saya udah tau dr dulu juga, dan sama males bikin tretnya ;D *ngeles ::hihi::
Secara lembaga, MUI belum mengharamkan.
Itu baru secara pribadi.
Lagipula seperti yang kubilang tadi. Tinjunya sih gak berbahaya. Pertandingannya itu...
Lagipula, rasanya redaksi hadits yang dipakai Pak Cholil Ridwan, tidak persis seperti itu deh.
Mau haram atau enggak, yg namanya tanding tinju2an mah lebih banyak mudharatnya drpd manfaatnya.
Bela diri itu harusnya digunakan utk membela yg lemah :p (kata kungfu shaolin)
With great powers comes great responsibility (kata om nya spiderman)
yg gw bilang "tanding"
TS-nya sakses
sekarang ada yg mulei bertanding
ah dikau sensi amat Giku. perasaan gw biasa aja. Kandalf juga biasa aja. tarik napas atuh
MUI memfatwa sesuatu jika ada pertanyaan dari umat/masyarakat mengenai hal yang bersangkutan.
jadi, mungkin belum ada masyarakat yg mempertanyakan halal-haramnya tinju ke MUI?
TS mau jadi pelopor? ;D
hari hari gini...takut nya ngelapor malah dilaporin balik ::grrr::
bagus kalau tinju diharamkan... jadinya kita bertanding diem-diem di gudang-gudang di pelabuhan... lebih sensasional kayak di film-film ... ::hihi::
asik....TS sukses ngeramein forum...yuk silahkan "tinju"::hihi::
Masi bingung juga sih, selama tanding nya di ring dan tanpa unsur paksaan, kenapa harus diharamkan?
Zaman gladiator, mereka tahanan. Ga tanding = dipenjara, menang baru bebas
Nah ini satu poin penting !
Tinju itu berlangsung tanpa paksaan.
Selain itu Tinju bukan olahraga yg paling berbahaya.
Selama ini olah raga yg paling banyak mengakibatkan cidera adalah Rugby
Olah raga yg cideranya sangat fatal adalah terjun payung, terbang layang, panjat tebing, menyelam atau balap otomotif.
Bahkan Cheerleader jauh lebih berbahaya daripada tinju.
(mereka tidak boleh pakai pengaman loh...).
Spoiler for cheer:
Ck ck ck ck ck...
KESALAHAN ANDA PERTAMA:
Anda tidak tahu arti 'murtad'.
KESALAHAN ANDA KEDUA:
Anda lagi-lagi tidak membaca semua jawaban rekan-rekan termasuk sanggahan dari orang MUI lain bahwa MUI secara lembaga tidak mengeluarkan fatwa tersebut. Itu fatwa pribadi Cholil.
KESALAHAN ANDA KETIGA:
Anda telah melakukan dosa syirik dengan menyembah Cholil. Sebagai bukti, anda langsung memfatwa saya murtad karena menolak salah satu dalil Cholil. Tentu saja itu dengan asumsi anda seorang Muslim. Mungkin saja anda seorang yang tidak beragama Islam yang sedang melakukan sarkasme.
KESALAHAN ANDA KEEMPAT:
Anda tidak membaca baik-baik kalimat saya. Saya katakan, redaksi hadits yang disebut Cholil tidak tepat seperti itu.
Pak Cholil Ridwan mengatakan (setidaknya yang dikutip inilah.com), bunyi haditsnya adalah:
Bunyi hadits sesungguhnya jauh dari yang dikutip di berita di atas, kurang lebih begini:Quote:
Kedua, hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa orang berduel untuk saling mengalahkan, baik yang menang ataupun yang kalah, sama-sama masuk neraka (HR. Al Bukhari). Ini karena mereka sama-sama berusaha untuk mengalahkan lawannya.
إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِى النَّارِ
”Jika ada dua orang muslim berhadapan dengan membawa pedang masing-masing (mau saling membunuh), maka yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama masuk Neraka. ”Aku bertanya: ”Ya Rasulullah ,kalau yang membunuh itu memang sudah sepantasnya (masuk neraka) tetapi bagaimana dengan yang dibunuh? ’Beliau mennjawab: ”Sesungguhnya dia juga berkeinginan keras untuk membunuh lawannya itu.”
Jelas hadits tersebut gak bisa dipakai untuk mengharamkan tinju.
KESALAHAN ANDA KELIMA:
Sekali lagi, anda tidak tahu siapa lawan bicara anda dan langsung asal mangap. ::hihi::
emang siapa lawan bicara sayaa ??? ;p
Pasti orangnya ganteng yah? Ramah, baik hati, dan tidak sombong.
Gw lbh pcy MUI yg pastinya gak pake pendapat Cholil aja, sudah hasil urun rembug para ulama2, dah diselidikin perawi2nya dan brbagai macam sistem dan metode nya sblm akhirnya jadi fatwa.
Bukan some people from some forum yg kita sendiri blm tau benar kualitasnya.
@Ciko : sudah berulang kali gw blg sama lo, kalo mau tanya2 agama, jgn lewat internet lah. Apalagi forum. Gak sahih! Minimal, gak terjamin!
Sdh ronde brp neh?::hihi:: round girlnya belum muncul2
tau ajah nih ::ngakak2::::ngakak2::
http://diztopia.typepad.com/diztopia/images/orang2.jpg
Barusan ada chief cook bodoh... ::doh::
Saat Cholil mengeluarkan pernyataan itu, dia tidak mengecek hadits-nya lagi. Pernyataan itu adalah pernyataan pribadi.
Secara kelembagaan, MUI belum mengeluarkan fatwa. Dijamin, nanti kalaupun akhirnya MUI mengeluarkan fatwa haram (terserah setuju atau tidak setuju) tentang tinju, hadits yang disebutkan oleh Cholil tadi pasti gak dimasukkan karena memang gak ada hadits itu, redaksi kata-katanya salah.
Kalau aku mengritik dalil Cholil yang satu itu, bukan berarti aku menolak seluruh dalil yang dikeluarkan oleh Cholil. Toh, nyatanya, aku tidak berkomentar tentang dalil dia yang lain kan?
Harus dibedakan antara pendapat pribadi seorang anggota atau bahkan kepala institusi tertentu dengan pendapat lembaga.
Btw,
di zaman Nabi atau bahkan di zaman khulafur rasyidin, gak ada tuh yang namanya jabatan atau pangkat atau profesi ulama. ;D
Umar ibn Khattab aja, bahkan bersedia dikritik kalau dia memang salah tuh.
Gak usah terlalu memuja-muja ulama lah. Kalau MUI benar, dalilnya benar, ya patuhi, sami'na wa atho'na. Kalau MUI salah, ya kalau ada kesempatan, koreksi lah. Jangan taqlid begitu aja.