Originally Posted by
mbok jamu
Ada kasus uler-uleran gini di keluarga simbok, mirip dengan kasus Halimah-Bambang-Mayang. Istri pertama cantik, tinggi putih, tajir. Si suami ganteng, pinter, tajir. Pelakor-nya biasa-biasa aja, dari kalangan kurang mampu, pokoknya kelihatan ndeso deh. Fitnah pada si pelakor juga mirip, main guna-guna, black magic, hamil duluan, pokoknya perempuan jahat.
Hampir ndak ada orang yang berpikir bahwa si suami sudah melepaskan diri dari istrinya sebelum ketemu si perebut laki orang tsb. Sama dengan Halimah-Bambang, awalnya menikah karena status mereka yang sama-sama kaya, cakep; bibit bebet bobot yang terpenuhi. Bibit bebet bobot itu mungkin bagus sebagai persyaratan tapi ndak bisa membuat manusia jatuh cinta.
Ketika manusia jengah hidup hanya untuk memenuhi syarat-syarat (orang lain) tersebut, ketika itu juga ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan syarat-syaratnya sendiri. Ketika suami sudah ndak bahagia lagi dengan istrinya ya maka dia akan mencari seseorang yang bisa membuat dia bahagia, tanpa syarat-syarat apapun.
Sebagai perempuan ikut sedih kalau mendengar ada istri yang ditinggal suami, tapi kalau pernikahan itu sudah ndak bahagia ya untuk apa juga toh?
“When one door closes another door opens, but we so often look so long and so regretfully upon the closed door, that we do not see the ones which open for us.”