dalam rangka 30 sept, katanya film ini di'tayang'kan online gratis tapi dibatasi streamingnya buat negara indonesia aja. ada yang nonton? kalo ada linknya, minta juga ya :mrgreen:
‘The Act of Killing’ bercerita tentang Anwar Congo seorang preman bioskop dari Medan yg di promosi menjadi anggota ‘death squad’ di mana dia membunuh 1000 orang yg di duga simpatisan komunis/anggota PKI di tahun 1965-66. Anwar dan teman-temannya merasa bangga karena membantai orang-orang komunis. Sutradara Joshua Oppenheimer mengundang Anwar dan teman-temannya untuk merekayasa pembantaian itu dengan gaya film-film yg mereka suka seperti film gangster, koboi dan musical. Hasilnya seperti kita memasuki ke pikiran seseorang yg terdalam dan kita menjadi penonton sebuah pentasan drama yg penuh dengan imej-imej surreal, mimpi buruk dan kebiadaban manusia yg paling rendah. Joshua sendiri menyebutkan bahwa film ini “a documentary of the imagination”.
Pertama kali kita ketemu Anwar, dia seperti orang tua yg rendah hati yg hangat seperti anggota keluarga kita. Dia dengan tenang memberikan deskripsi di sebuah atap bangunan bahwa dia banyak sekali membunuh orang di sini dan metode favoritnya adalah menggunakan kawat untuk mencekik (yg dia lihat dari sebuah film gangster) karena lebih keluar darah lebih sedikit di banding memukul/menggorok.
Sehabis itu dia berdansa cha-cha.
Perlahan-lahan Anwar bercerita bahwa dia sering mengalami mimpi buruk di mana korban-korban yg dia bunuh sering mendatangi dia sementara teman-teman anwar yg lain tidak pernah merasakan beban itu karena mereka merasa tindakan mereka benar dan di dukung oleh pemerintah.
Walaupun fokus ‘The Act of Killing’ lebih kepada pemikiran internal para pembunuh tetapi garis besar aksi mereka selalu di dukung oleh instansi pemerintah dan media sehingga menciptakan kultur di mana pembantaian jutaan ‘komunis’ di anggap hal yg mulia. Gubernur Sumatera utara ketika di wawancara dengan santai mengganggap preman-preman seperti Anwar di butuhkan dan di perlukan karena preman adalah ‘free man’. Statemen ini juga di dukung oleh beberapa politisi dan pejabat elit lainnya dan di sini ‘The act of killing’ membuat revelasi yg menyedihkan, semua orang mengganggap Anwar sebagai pahlawan dan semua orang sudah move on dan tidak memikirkan masa lalu tetapi anwar masih stuck dengan darah di tangannya dan semakin intens pengalaman dia merekeyasa pembantaian di mana dia bermain sebagai pelaku dan korban, semakin rapuh kepercayaan Anwar kalau dia berbuat sesuatu yg benar.
Sudah tidak terhitung berapa film yg penuh dengan kekerasan yg saya sudah tonton tetapi ‘The Act of Killing’ bisa di bilang film yg paling disturbing tentang kekerasan (walaupun Anwar dkk berekayasa layaknya seperti pemain teater amatiran dan tidak ada adegan kekerasan grafis) karena ketika berekayasa kita melihat di mata mereka bahwa mereka adalah pembunuh beneran bukan karakter fiksi. Suara Anwar lebih pelan dan dia tidak banyak bicara tetapi saya merasakan pandangan dia pelan-pelan berubah menjadi pembantai benar-benar sangat mengerikan dan di satu scene di mana anak seorang korban (bapaknya di culik, di bunuh sewaktu umur dia 10 tahun dan dia menemukan kuburan bapaknya di pinggir jalan) memerankan peran di mana dia di interogasi oleh Anwar dkk. Saya tidak merasa mereka berakting. Saya sedang menyaksikan bagaimana aksi penyiksaan/pembantaian sedang terjadi di tahun 1965-66. Si anak sang korban benar-benar merasa ketakutan dan akhirnya dia benar-benar menangis dan memohon untuk tidak di bunuh bukan saja menjadi adegan yg sangat disturbing tetapi menjadi simbol bahwa suara korban-korban keluarga yg selama ini tidak pernah kita dengar akhirnya mengeluarkan jeritan yg sudah terpendam berpuluh-puluh tahun, bahwa bapak/anak/adik/kakak/abang/nenek/kakek/paman/tante/ibu mereka telah mati secara menggenaskan dan kebanyakan mayat mereka tidak di temukan.
Jika saya tidak akan pernah menonton film yg jujur atau film yg mencari kebenaran tentang siapa kita sebagai orang Indonesia lagi, itu tidak apa. Karena ‘The Act of Killing’ sudah pernah menjawab itu.
gimana sih, bikin film yang langsung ngebantai para PKI gitu ya?
Bukan, Bunda.
Jadi, sutradaranya ngajak si 'pahlawan' ini bikin film tentang 'keperkasaannya' menumpas PKI.
Mulai dari proses casting.
Aku gak sanggup nonton sampai akhir. Pas waktu casting-nya saja aku mual melihat si pelakunya berdarah dingin.
Justru filmnya bersetting di masa sekarang.
Tidak ada darah, tidak bertebaran darah.
08-10-2013, 06:34 PM
ndableg
Wah.. baru tau ada film begini. Bukannya mencoreng muka PP sendiri?
Pelaku itu hanya beberapa dari ribuan orang. Dia masih bagus mau bagi cerita. Yg ud jadi pejabat.
Yg lucu itu bunuh orang, tapi ga dihukum.. Sekarang mgk ud basi. Tapi terbukti, orang ud bunuh ratusan masih tetep santai idupnya.
Tapi seakan2 di filem tsb tentara (ABRI) tidak bersalah. Ga ada sedikit pun ada keterlibatan tentara di sana.
08-10-2013, 09:37 PM
kandalf
Kenapa gak ada tentara di sana? Karena sang 'pahlawan' mau menunjukkan jasa-jasanya. Jadi pasti gak rela kalau institusi lain menghalangi cahaya kemilaunya.
08-10-2013, 10:00 PM
BundaNa
ini pilem tentang PP ya? ada Jk juga kayaknya
08-10-2013, 10:10 PM
ndugu
PP itu apa? ::elaugh::
08-10-2013, 10:17 PM
kandalf
[MENTION=39]ndugu[/MENTION] : Pemuda Pancasila
Ormas di bawah pimpinn Yorrys Raweyai.
Bukan, Bunda.
Jadi, sutradaranya ngajak si 'pahlawan' ini bikin film tentang 'keperkasaannya' menumpas PKI.
Mulai dari proses casting.
Aku gak sanggup nonton sampai akhir. Pas waktu casting-nya saja aku mual melihat si pelakunya berdarah dingin.
Justru filmnya bersetting di masa sekarang.
Tidak ada darah, tidak bertebaran darah.
filmnya dokumenter gitu?
09-10-2013, 12:52 AM
ndableg
Quote:
Originally Posted by kandalf
Kenapa gak ada tentara di sana? Karena sang 'pahlawan' mau menunjukkan jasa-jasanya. Jadi pasti gak rela kalau institusi lain menghalangi cahaya kemilaunya.
Pahlawan nih yg mana? Apa PP? Yapto? Ato si pembunuh?
09-10-2013, 12:54 AM
ndugu
seperti quote pak sapa itu dari film itu, 'pemenang' lah yang menentukan definisi perang. dan kurasa ini bisa diaplikasi pada definisi sapa yang jadi pahlawan juga ya :cengir:
09-10-2013, 06:52 AM
BundaNa
emang definisi pahlawan dan penjahat perang ada pada pihak pemenang...
Liat aja kasus pelepasan Timor Leste dari NKRI...awal integrasi, Fretilin adalah penjahat perang, organisasi terlarang. Begitu referendum, Fretilin adalah pahlawan, dan Enrico Guteress yang mati2an membela NKRI adalah penjahat
09-10-2013, 08:44 PM
TheCursed
Huh... Pahlawan ?
Gue kirain keseluruhan film ini ceritanya tentang kemampuan orang untuk berempati terhadap orang lain ?
10-10-2013, 03:16 AM
ndableg
Yg bikin bercerita tentang latar belakang filem di "The Act of Killing": Film Shows US-Backed Indonesian Death Squad Leaders Re-enacting Massacres ke TV politik di amerika. http://www.youtube.com/watch?v=EwJMJqjqEdw
19-01-2014, 09:38 PM
AsLan
Anwar Congo, Sang Jagal PKI
Sori pake hp jadi blom bisa copas2...
Film Act of Killing adalah sebuah film documenter tentang pembantaian PKI di indonesia.
Tokoh utama film ini adalah seorang petinggi organisasi Pemuda Pancasila, yg saat mudanya pernah membunuh ratusan hingga ribuan orang tersangka PKI.
Dia bernama Anwar Congo.
Alat yg sering digunakan untuk mengeksekusi hanyalah sepotong kawat, dengan kawat ini, ia menjerat leher korbannya hingga tewas.
"Ternyata leher manusia itu cuma segini loh..." Anwar menunjukkan jari telunjuk dan jempolnya.
Anwar yg kini berusia 70 tahun mengaku bangga atas pembunuhan2 yg dilakukannya.
Kok ngasih link yang sama dengan thread ini :cengir:
Iya pilem "Act of Killing" masup nominasi oscar di thread ini... :)
Quote:
Documentary Feature
The Act of Killing
Cutie and the Boxer
Dirty Wars
The Square
20 Feet From Stardom
20-01-2014, 09:57 AM
itsreza
bukan mabok, aslan belum baca thread ini buat thread baru
lalu digabung del -_-
20-01-2014, 06:48 PM
E = mc²
Film ini memiliki dua versi, versi teatrikal dan versi director cut yang lebih panjang. Dan ajaibnya, akan terasa perbedaan yang mencolok jika kita menonton dan membandingkan kedua versi film ini. Versi panjang adalah film Jagal/The Act of Killing sebagaimana dibayangkan pembuatnya. Film versi pendek adalah versi yang dibuat atas permintaan distributor internasional karena menurutnya akan sukar sekali memasarkan film yang bukan dalam bahasa Inggris, dokumenter pula, bukan tentang selebritis, dan lebih panjang dari 2 jam.
Oleh karena itu, film Jagal/TAoK kembali masuk ruang editing untuk dipangkas menjadi 2 jam atau kurang. Film versi ini juga dibuat dengan pertimbangan yang sebaik-baiknya. Pesannya sama bahwa seperti korban (dan juga penonton film), para pelaku pembunuhan massal pun adalah manusia. Di versi panjang, pesannya jauh lebih kuat, karenanya jauh lebih mengganggu. Film ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu sebelum percaya.
Sebagai salah satu film Indonesia yang sangat penting (atau malah yang terpenting), film ini sejak awal diharapkan ditonton sebanyak-banyaknya orang Indonesia, bahkan, pembajakan pun diharapkan oleh sutradaranya karena peredaran resminya sudah pasti akan dijegal.
Sebagai salah satu film Indonesia yang sangat penting (atau malah yang terpenting), film ini sejak awal diharapkan ditonton sebanyak-banyaknya orang Indonesia, bahkan, pembajakan pun diharapkan oleh sutradaranya karena peredaran resminya sudah pasti akan dijegal.
Nah ini yang keren, sutradaranya kepengen filmnya dibajak. Bikin film kan nggak gampang. Kalo beneran salut saya ::itrocks::
20-01-2014, 11:54 PM
itsreza
beda dengan film komersial, pembajakan mempermudah penyebaran pesan film ini.
kalau menang dokumenter terbaik, pasti film ini lebih heboh gaungnya
22-01-2014, 09:23 AM
silverjade
Dapet 2 nominasi di BAFTA juga
22-01-2014, 10:03 AM
E = mc²
Quote:
Originally Posted by noodles maniac
@thamacaat yang masup nominasi oscar versi yang mana? yang versi panjang 2 jam yak? :-/
Oscar tidak membedakan antara versi panjang dan versi pendek untuk sebuah film yang akan dinominasikan, kecuali harus lebih panjang dari 40 menit. Itu mengapa film-film yang keluar versi extended (atau redux) tidak pernah dinominasikan kembali.
Quote:
Originally Posted by tuscany
Nah ini yang keren, sutradaranya kepengen filmnya dibajak. Bikin film kan nggak gampang. Kalo beneran salut saya ::itrocks::
Perlu waktu hampir 8 tahun bagi Joshua untuk membuat film ini, sebagian besar diantaranya dihabiskan untuk melakukan pendekatan dengan para preman dan tokoh-tokoh yang diwawancarainya. Bisa disaksikan di versi filmnya, proses pendekatan Joshua membuahkan hasil yang mencengangkan. Betapa para tokoh-tokohnya memberikan kepercayaan besar sehingga Joshua dengan bebas melakukan pengambilan gambar--bahkan dalam waktu-waktu personal, seperti saat mereka sedang tidur atau bahkan saat mereka sedang di kamar mandi.
Quote:
Originally Posted by itsreza
beda dengan film komersial, pembajakan mempermudah penyebaran pesan film ini.
kalau menang dokumenter terbaik, pasti film ini lebih heboh gaungnya
Sebenarnya film ini tidak murni film non-komersial. Namun ketika izin peredaran untuk film ini tidak didapatkan maka Joshua memutuskan untuk menggratiskan film ini (khusus untuk wilayah Indonesia atau berdomain Indonesia). Sebelum Joshua "menggratiskan" film ini, versi bajakannya sudah tersebar di antara komunitas-komunitas film untuk diputar (versi awal yang beredar awal-awal ini adalah versi yang lebih pendek). Keputusan Joshua untuk menggratiskan seluruhnya film ini datang kemudian setelah izin distribusi film ini sudah pasti tidak akan didapatkan, bahkan Joshua dicekal dan dilarang untuk membuat kembali film di Indonesia.
Kasus karya yang kemudia oleh si pembuatnya digratiskan sama persis dengan kasus buku "Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto's Coup d'Etat in Indonesia "-nya John Roosa. Ketika terjemahan buku (diterbitkan oleh Hasta Mitra denga judul "Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto") ini mulai beredar, Kejagung langsung melarang peredaran buku ini. Maka Roosa kemudian melegalkan peredaran buku ini dalam versi bajakannya--buku resminya yang sudah telanjur beredar semakin sulit ditemukan di pasaran. Untuk yang tinggal di Jakarta, bisa mencari di toko buku pojokan TIM, bulan lalu saat saya mampir ke sana, ada beberapa eksempelar buku tsb.
Dan sesungguhnya antara Karya Joshua dan Roosa, merupakan karya yang saling bertautan. Roosa menulis buku tentang pengaburan kronologis dan manipulasi G30S oleh Orba sehingga menimbulkan konsekuensi tragedi setelahnya dengan teror dan doktrin. Maka karya Joshua memotret salah satu episode teror manipulasi G30S dengan menampilkan sosok Anwar Congo.
Bagi mereka yang kebingungan dengan kronologi Anwar Congo, dapat membaca bukunya Roosa sebagai pengantar. Tulisan Roosa sangat gamblang dan jelas. Bagi mereka yang tidak pernah melihat sejarah G30S selain dari pelajaran sekolah, mungkin akan sangat terkejut dan sulit percaya. Dua bab awal bukunya, menjadi salah satu tulisan paling cemerlang di dunia perbukuan dalam membahas Sejarah (tergelap) Indonesia.
22-01-2014, 05:03 PM
noodles maniac
Hahaha cepat ato lambat kebenaran emang akan terungkap yah, tapi gw masih gak habis pikir, ada gitu ya Anwar Congo yang bangga bisa ngebantai orang ::doh:: :kesal:
22-01-2014, 05:05 PM
king lampas
itu yg "Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto" ada ebooknya gak [MENTION=141]thamacaat[/MENTION] ?
23-01-2014, 08:09 PM
AsLan
Film ini memicu kemarahan di China, banyak yg baru tahu bahwa warga etnis tionghoa sering mengalami pembantaian. Mereka membandingkan pembantaian pki dengan Nanking Massacre.