^kalo lelaki kuat dan sukses itu masih single, dia terpaksa gelisah sendiri. -crew Finding Srimulat
Printable View
^kalo lelaki kuat dan sukses itu masih single, dia terpaksa gelisah sendiri. -crew Finding Srimulat
Bwahahahaha :nunjuk: LH curcol
Tenang bro, jodoh lu dah ada kok. Tuhan tau lu gelisah, cuma dia seneng maen petak umpet. Jadi jodoh lu itu baru dikasih ke elu pas momen yang tepat. Jangan galau dong ah *puk-puk LH :hug4:
^lhoo bukan gue del.. itu beneran quote dr salah satu crew pas syuting.. waktu syuting sih gue ndak single. Skarang single, tapi ndak gelisah juga.. ::hihi::
^ aku kira kamu gelisah beneran
#udah niat modusin LH
^ tenang, nanti kalo aku gelisah, pasti kamu tau.
#dilayanin
bener ya, janji loh... awas kalo bohong ::hihi::
I am a man of my word. :ngopi:
Dulu kan gw pernah nanya, bakal dibikin buku ga?
LH bilang belum tahu.
Trus tahu2 sekarang ada cetakan ke dua.
Lhaaa emang buku itu muncul karena ada film?
Atau film itu muncul karena buku itu?
Tapi covernya kan kekna menyesuaikan film itu.
Artina buku itu muncul karena film kan ya?
*cmiiw*
Ya, dulu emang blum tau pasti, ca.
Gue pas peluncuran novelnya aja gak tau kog.
Tau2 kmaren dibilangin udah cetakan ke2.
Film mulai duluan, terus buku jalan. Keduanya selesai bersamaan.
Covernya ya disamain aja, wong ceritanya versi novelisasi dari film..
meskipun didalemnya banyak penafsiran Hilman sendiri, karena materinya dia dari script draft awal.
Oh aku pengen nonton malah udah turun tayang :'(
^yaelaah.. telat banget sih Kull... -__-
Sempet baca review Finding Srimulat di situs inih...
Nostalgia yang Gagal Bercerita
Buat bro lighterheaven serta kru FS jangan patah semangat dan jangan berkecil hati ya...::ungg::Quote:
Finding Srimulat berada di persimpangan jalan. Di tingkat niatan, film ini mengemban misi untuk mengangkat kembali Srimulat setelah sekian lama hilang dari radar masyarakat. Didirikan Teguh Slamet Rahardjo di Solo tahun 1950, Srimulat merupakan grup lawak terbesar di Indonesia. Entah sudah berapa generasi yang mengalami guyonan mereka. Awalnya, mereka banyak keliling, dari satu pasar malam ke pasar malam lainnya, dari satu gedung ke gedung pertunjukan lainnya, dari satu teater ke teater rakyat lainnya. Memasuki millenium baru, eksistensi Srimulat sempat terjaga lewat sejumlah penampilan di layar televisi. Beberapa anggotanya menjadi selebriti, main di sinetron-sinetron dan tampil di acara-acara lawak lainnya, namun perlahan-lahan Srimulat sebagai sebuah kelompok mulai terlupakan.
Di tingkat perwujudan, Finding Srimulat susah payah menjaga keseimbangan. Film arahan Charles Gozali ini seperti ingin bernostalgia dan bercerita sekaligus. Hanya satu yang berhasil, itu pun dengan sejumlah pertanyaan. Penonton dari kalangan mana yang sebenarnya ingin disasar? Mereka yang pernah mengalami kejayaan Srimulat? Atau mereka yang terlalu muda untuk mengenal Srimulat?
Premis Finding Srimulat sederhana: Adika ingin menaikkan kembali grup lawak favoritnya itu ke atas panggung. Bukan untuk eksploitasi ekonomi, tapi murni untuk menghormati masa lalu. Adika adalah penonton dan penggemar Srimulat sejak kecil. Dia sering menyaksikan mereka pentas di Surabaya dulu bersama orangtuanya. Foto keluarga di depan papan Srimulat terselip manis di dompet protagonis kita. Begitu tersetirnya oleh nostalgia, Adika sampai tak mengabari istrinya kalau ia pergi ke Solo untuk mengumpulkan kembali anggota-anggota Srimulat yang masih tersisa. Ia juga tidak memberi tahu kalau di kantornya sedang bermasalah dan berada di ambang kebangkrutan, karena proyek mereka baru saja disabot Jolim (Fauzi Baadila), rekan kerja Adika. Istri Adika sendiri sedang hamil muda dan pasutri muda ini belum cukup stabil keuangannya.
Posisi Adika ini sesungguhnya potensial. Ia diperankan oleh Reza Rahadian, seorang aktor muda yang kita ketahui memiliki banyak penggemar yang tak kalah mudanya. Begitu juga istrinya, Astrid, yang diperankan oleh Rianti Cartwright. Pemilihan pasangan aktor-aktris ini menunjukkan pemahaman pihak pembuat film, kalau status kebintangan pemainnya bisa menjadi pengantar yang baik bagi penonton sekarang untuk mengenal Srimulat. Ingat, banyak dari penonton sekarang yang tidak mengerti kenapa Srimulat pernah begitu jaya dulu.
Naskah
Masalahnya ada di naskah. Pembuat film tak memberi cukup kesempatan bagi Adika untuk mengakrabkan diri dengan Srimulat. Sepanjang film, setidaknya dua-per-tiga film, Adika dan Srimulat terlihat canggung dan kurang intim; keduanya seperti berada di dua dunia yang berbeda. Logikanya begini: kalau Adika memang penggemar dan penonton Srimulat, pastilah ia hafal dengan tingkah laku Srimulat. Bukankah akan sangat asyik menyatukan keduanya dalam panggung yang sama, melawak dalam latar dan gaya khas Srimulat? Bagi penonton yang sudah kenal Srimulat, mereka tentu akan mendapat nostalgianya. Bagi penonton yang belum terlalu kenal Srimulat, dampaknya ganda. Mereka bisa paham kenapa Adika begitu tergila-gila dengan grup lawak tersebut, sampai ia rela membohongi istrinya yang sedang hamil. Ini jelas penting untuk kepentingan cerita. Untuk kepentingan pengenalan kembali Srimulat, para penonton baru ini bisa mengidentifikasi diri lewat sosok Adika untuk memahami apa yang membuat grup lawak itu tersohor.
Pembuat film bukannya luput dengan strategi penggabungan tua-muda dulu-sekarang ini. Sejumlah momen dalam film mencerminkan niatan tersebut. Paling kentara di awal film, ketika Adika papasan dengan Kadir, momen yang memantik nostalgia protagonis kita sampai ia bertekad menjalani misinya tersebut. Adika mencoba membujuk mantan anggota Srimulat itu lagi dengan melawak di hadapan pengunjung restoran soto Kadir. Kadir awalnya hanya melihat anak muda yang belum ia terlalu kenal ini menirukan dirinya. Ia pun tergelitik. Kadir beranjak dari kursinya dan dengan spontan membalas lawakan apapun yang Adika lontarkan dengan gaya khasnya. Sayangnya, baru juga adegan ini mulai, tiba-tiba film ganti gambar ke depan warung, suara keduanya terdengar samar-samar, kemudian dissolve ke adegan lain. Satu potensi besar tersia-siakan.
Strategi ini terwujud dengan baik di momen klimaks film. Para anggota Srimulat mendorong Adika untuk tampil bersama mereka di atas panggung. Kebingungan, Adika dengan spontan merespons apapun yang dilontarkan para idolanya itu, mulai dari Tessy, Gogon, Ibu Djudjuk, hingga Cak Tohir yang berjubahkan kostum drakula. Momen ini dengan baik mengkonkritkan hal-hal yang menjadikan Srimulat begitu dikenang. Mereka improvisasi, tapi dengan pola-pola yang sudah tercerap dalam diri masing-masing tokoh. Apapun lawakannya, Tessy selalu berpakaian seperti perempuan, Gogon selalu menunjukkan lipatan tangannya yang terkenal itu, Ibu Djudjuk selalu memegang peran majikan atau perlente.
Sayangnya, momen klimaks ini lebih banyak ditampilkan dengan rangkaian gambar tanpa kata. Kita tak banyak mendapat kesempatan melihat Adika beradu peran dengan Srimulat, tak banyak mendengar lontaran-lontaran spontannya. Padahal inilah kesempatan terbaik Finding Srimulat untuk mengintimkan Adika dengan grup lawak favoritnya. Montase ini baru bersuara (dan menjadi seru lagi) ketika istri Adika tiba-tiba naik ke panggung, mengagetkan para anggota Srimulat dan memaksa mereka untuk berimprovisasi lagi. Spontanitas yang menjadi jiwa Srimulat terwujudkan dan tersampaikan dengan baik.
Tambal Sulam
Sayangnya lagi, selain adegan Srimulat melawak dan menari-nari di stasiun Solo Balapan, momen-momen sejenis tak banyak muncul dalam Finding Srimulat. Pembuat film lebih banyak memanfaatkan sarana verbal, lebih banyak tell ketimbang show, untuk menggariskan reputasi Srimulat. Beberapa kali lewat selentingan para anggota Srimulat. Tessy, misalnya, menyinggung soal teguran yang sempat ia terima karena sering tampil sebagai perempuan. Atau Gogon yang dengan lantang menegaskan dirinya adalah pelawak, walau penghidupan yang ia dapat ternyata jauh di bawah pengemis di dekat rumahnya. Ada pula beberapa tokoh yang dengan gamblang menyebut Srimulat sebagai warisan budaya bangsa, salah satu yang paling menonjol adalah cameo Joko Widodo.
Belum lagi penyusunan cerita yang tambal sulam. Jolim, tokoh yang terbilang penting dalam cerita, baru dimunculkan menjelang klimaks film. Penonton awalnya hanya tahu kalau dia menyabot proyek Adika, tapi tak pernah melihat batang hidungnya. Apalagi saat kemunculannya, ia membeberkan kalau ia banyak ikut campur dalam usaha Adika untuk mengumpulkan kembali Srimulat. Kalau Jolim memang diniatkan sebagai antagonis yang berperan banyak dalam cerita, kenapa mukanya tidak ditunjukkan dari awal? Ini perkara kesinambungan cerita yang tak tergarap dengan seksama. Kalau kata Anton Chekov, “Kalau di awal cerita ada pistol, maka pistol itu haruslah meletus di akhir cerita.” Dalam Finding Srimulat, penonton tiba-tiba mendengar suara tembakan, tanpa tahu kalau ada pistol yang mengancam protagonis kita.
Finding Srimulat juga terlalu banyak mengandalkan kebetulan untuk menggerakkan cerita. Pertemuan Adika dengan Kadir di awal film barulah satu contoh. Kebetulan saja mobil Adika mogok depan restoran Kadir, bagaimana kalau tidak? Contoh lainnya adalah kematian mendadak calon penyumbang dana Srimulat. Adika jadinya harus memutar otak lagi untuk membiayai pentas reuni Srimulat. Bukannya ingin menafikan tabiat malaikat penjemput nyawa yang sering datang tanpa diundang, tapi masih banyak opsi lain untuk menghadirkan tantangan bagi protagonis kita. Cara ini terlalu klise.
Penggemar Srimulat mungkin takkan banyak komplain dengan cacat-cacat dalam bangunan film Finding Srimulat. Melihat idola mereka tampil di layar perak setelah lama absen di mana-mana mungkin sudah cukup. Namun, bagaimanapun juga Finding Srimulat diniatkan tidak sebagai nostalgia semata, tapi juga sebagai cerita. Artinya, ada aturan yang harus dipatuhi dan tantangan yang harus dipenuhi, hal-hal yang gagal direspons oleh pembuat film Finding Srimulat.
^ yup, gue udah baca review itu dari kemaren2, udah lama kog. Tapi ini cuman segelintir review negatif dari setumpuk review positif, jadi tentunya gak patah semangat apalagi berkecil hati. Coba del lo postingin review2 positifnya juga dong, yang dari kompas, kapanlagi, dll yang bukan menyuarakan suara personal, tetapi lebih terpercaya karena merupakan badan media yang udah kompeten. :)
Gue secara pribadi sih ga kesentuh sama review diatas, karena dari segi artistik dan setting gak dapet kritik negatif. Tapi sebagai crew secara keseluruhan, ya gue tampung kritiknya.
Cuman lagi lagi, kita gak bisa memuaskan selera semua orang. Ada kritik yang memang bisa ditampung dan bermanfaat, ada juga yang soal selera semata.
Thanks ya buat postingan reviewnya. ;)
Hehehe jawabannya mantep bro :-bd
Bener tuh, gak mungkin bisa memuaskan semua orang. Berpikir positifnya aja kalo emang masih ada orang yang mau mengkritisi dari hasil buah kerja keras yang udah dilakuin, kritik tanda sayang, caela...:P
Hehe iya nih gw kasih contoh review yang positif juga ya ::bye::
finding Srimulat Njejegno Kembali Pusaka Seni Komedi Indonesia
http://stat.ks.kidsklik.com/statics/...8936170213.jpg
Quote:
Apa jadinya jika Anda membangunkan seekor macan yang sedang tertidur pulas? Auman lantang dan terkaman maut bakal Anda terima sebagai konsekuensinya. Apa jadinya jika Anda membangkitkan Srimulat yang sedang tertidur pulas? Pasti gelak tawa bercampur tangis haru akan sejuta memorabilia kedigdayaan salah satu keperkasaan komedi Indonesia di masa silam. Bolehlah saya katakan, jika Srimulat saat ini tak ubahnya seekor macan yang tertidur. Mereka digdaya, perkasa dan sama-sama siap menerkam diri Anda. Macan suatu saat pasti ompong, namun kesan garang tetap ada. Sama halnya dengan Srimulat, meskipun sedikit “ompong” namun ia tetap “garang”. Tapi permasalahannya adalah, jika macan masih bisa ditemui di kebun binatang, tapi bagaimana dengan Srimulat? Rasa-rasanya susah menemuinya, karena hampir mendekati dua dekade, grup lawak satu ini lenyap bak ditelan bumi.
Yaa, Srimulat lebih dari sebuah grup lawak. Srimulat adalah seni komedi yang ngIndonesiani. Srimulat adalah sebuah fenomena budaya lintas jaman, mulai dari jaman ketika seni masih ditengarai sebagai alat propaganda politik hingga menjadi sebuah produk komersil populer, Srimulat mengalami hal itu semua. Rasanya takkan ada habisnya jika mengupas kelompok komedi yang lahir di Solo ini. Yang menarik, sore ini saja pada waktu Ayah saya melihat sebuah comedy show pada salah satu stasiun TV swasta nasional, sontak beliau pun melontarkan memorabilia Srimulat. Dari situ, bolehlah saya menilai rasanya sampai detik ini Srimulat masih dapat dikatakan sebagai the masterpiece of Indonesia comedy art.
Padahal jika dirunut dari riwayatnya, tak ada yang istimewa dari grup lawak tersebut. Awal kisah, Srimulat merupakan sebuah kelompok seni keliling yang didirikan oleh Raden Ayu Srimulat, dan Teguh Slamet Raharjo pada tahun 1950. Saat itu kedua sejoli ini menamakan kelompok mereka dengan sebutan “Gema Malam Srimulat”. Pada tanggal 30 Agustus 1951 rombongan seni dan tari ini melakukan keahlian mereka dalam menghibur penonton dari satu panggung ke panggung lainnya. Dimulai dari daerah Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Dengan menampilkan dagelan Mataram yang dibalut adegan komedi dan tingkah lucu para pemainnya, Gema Malam Srimulat berhasil menarik perhatian masyarakat. Sehingga secara terus-menerus kepamoran mereka di dunia panggung hiburan Indonesia kian meningkat dan mulai memiliki banyak fans. Agar lebih terdengar komersil di kuping para penggemarnya, Gema Malam Srimulat pun mempersingkat nama mereka menjadi “Srimulat”.
Salah satu ciri-ciri dari grup lawak asal kota Solo ini adalah keunikan jalan cerita yang dikemas secara matang dalam setiap penampilan mereka. Jalan cerita yang diangkat tidak terlihat membosankan dan selalu berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari cerita mengenai percintaan, hingga horror yang selalu diselipkan dengan suasana komedi. Dari seluruh cerita tersebut terdapat benang merah berupa lawakan khas yang berbentuk sebuah kalimat, serta tingkah laku dan bentuk unik para pemainnya. Hingga pada akhirnya menjadi sebuah trademarktersendiri dari para pemain Srimulat ketika mereka sudah beraksi di atas panggung. Bahkan Surabaya, pun tak luput dari perjalanan kelompok komedi satu ini. (Untuk nostalgia Srimulat Surabaya, dapat Anda baca di sini).
Dengan tingkah laku unik para anggotanya yang dapat membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Menjadikan Srimulat selalu dinantikan kehadirannya diatas panggung dan di layar televisi dalam waktu yang cukup lama. Sehingga dapat dikatakan Srimulat telah berhasil memberikan sebuah perubahan besar dan warna baru pada kehidupan lawak di Indonesia. Tidak hanya itu, bahkan dewasa ini, banyak dari stasiun televisi yang membuat acara serupa dengan Srimulat. Dimulai dari cara para aktor dan aktris memainkan perannya, hingga jalan cerita yang digunakan.
Beberapa waktu silam setelah masa-masa kejayaannya, akhirnya Grup Srimulat pun mulai terlihat redup, dan vakum dari dunia hiburan tanah air. Sedangkan para pemainnya seolah terlihat terpencar antara satu dengan yang lainnya. Demi mengembalikan Srimulat ke dalam panggung hiburan Indonesia, dan menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang terdapat di dalamnya. Seorang sutradara bernama Charles Gozali dari Magma Entertaiment memproduksi sebuah film layar lebar berjudul “Finding Srimulat”. Finding Srimulat menceritakan sebuah lika-liku perjalanan pasangan muda yang diperankan oleh Reza Rahadian sebagai Adika Fajar, dan Rianti Cartwright sebagai Astrid Lyanna untuk membawa kembali Srimulat ke dalam dunia hiburan lewat sebuah pementasan unik. Dengan ikut berperannya para anggota Srimulat dalam Finding Srimulat. Film yang mempunyai tagline “Selamatkan Indonesia dengan Tawa” ini mencoba membangkitkan kembali kenangan para pencinta Srimulat di masa lampau dengan cerita menarik yang dibungkus dalam komedi kental dan kekhasan lawak dari para anggota Srimulat.
Bukan berarti karena ini adalah film komedi, maka dibuatnya asal-asalan. Saya melihatnya ini film komedi yang bermakna. Bukan hanya sekadar membangkitkan nostalgia, namun mengajarkan pada kita bagaimana melestarikan catatan perjalanan panjang sejarah bangsa secara kreatif. Hal ini pun cukup beralasan, terlebih menilik judulnya yang sangat catchy, seperti yang diungkapkan oleh sang sutradara dalam web filmnya. ”Kenapa filmnya diberi judul “Finding Srimulat”? Kenapa bukan “Mencari Srimulat” atau lainnya?. Kalau ditanyakan seperti itu, saya bisa jawab… kenapa tidak? Sebenarnya saya sebelum akhirnya memlih judul “Finding Srimulat”, saya ingin menamai filmnya “Untung Ada Srimulat”. Ternyata sang sutradara mempertimbangkan umur penonton dominan di Indonesia yang berada pada kelompok usia 18-35, Charles merasa film ini harus berjiwa muda. “Nggak bisa dipungkiri, banyak penonton usia 20 tahun ke bawah mungkin bahkan nggak kenal sama Srimulat,” ujar sutradara yang merupakan putra dari Hendrick Gozali, produser film Indonesia ternama di masa silam. Maka ia pun memutuskan untuk memberi judul “Finding Srimulat”. “Karena film ini nggak cuma buat mereka yang kenal dengan Srimulat,” tanggap Charles.
THR Surabaya era 80an, salah satu saksi kejayaan Srimulat
Dan pada akhirnya, film ini sangat layak tonton dan diapresiasi, tak hanya sebagai sebuah karya seni tetapi juga merupakan sebagai sebuah produk kreatif anak bangsa yang bermisi mulia dengan mengangkat kembali kedigdayaan salah satu catatan perjalanan sejarah bangsa Indonesia, terutama di bidang seni dan kebudayaan. Last but not least, Finding Srimulat merupakan bentuk pencarian atas kerinduan seni Indonesia yang jujur, tulus dan merakyat melalui sebuah karyasinema komedi. Yuk, selamatkan Indonesia dengan tawa mulai tanggal 11 April 2013. Maju terus perfilman Indonesia, maju terus industri kreatif anak bangsa!
“Tegakkan kepala, tarik napas dalam-dalam.. Busungkan dadamu. Berdiri dengan tegak, anak muda.. Karena ada pentas Srimulat yang harus digelar malam hari ini”
^ terimakasih Nudels! :ngopi:
Ehem.....
yang dapat nominasi.
http://officialfilmindonesia.com/201...5/tataartistik
Weeittsss..
Goodluck.. :luck:
Thank you guys!
Pengumumannya kapan? sukses yah [MENTION=162]lighterheaven[/MENTION] mudah-mudahan menang ::bye::
makin sukses aja nih kayanya
kerja kerasnya terbayar banget yak :D
Wah si om makin berjaya :cengir:
*ambil mic
Menurut anda siapa pesaing terberat anda?
Terimakasih semuanya. :)
Alhamdulillah.
saingan terberat ya semuanya, karena rata rata memang nama penata artistik senior yang sudah veteran. Ong Hariwahyu itu penata artistik film Drupadi, saya melihat sendiri beliau bekerja dengan hebatnya.. Waktu itu saya baru saja lulus dan bekerja di film Drupadi sebagai concept artist dengan segala kecupuannya..
jadi ya.. Tough sekali. Ndak berharap apa2, dapet nominasi aja udah sueneng banget, ditaro di jajaran yang sama dengan om Ong. :)
---------- Post Merged at 06:09 PM ----------
Belum tau kapan pengumumannya, Del.. Thank you yak brow.
wuiiih selamat yah om LH::chearleader::
btw [MENTION=41]kandalf[/MENTION] piala maya ini berdasarkan poling internet yah?
Tampaknya iya...
gak tahu juga sih
*lagi stress ama kerjaan*
wah kalo iya, berarti anak2 ::KM:: wajib nge-vote nih!!!
ini tulisan mereka dari 2012
http://www.pialamaya.com/mekanisme-p...ala-maya-2012/
gak ada yang disebutkan voting.
adanya 100 juri.
*masih pegang mic sambil seret nudel buat ngesyut
menurut anda, apa yang membuat anda layak diperhitungkan dan punya kesempatan memenangkan ajang ini?
tolong jawab yang jujur dan dari lubuk hati terdalam.
wah, selamat laiter! :senang:
Hmm, apa ya? maybe the fact that this is my first time to be an art director for a movie, and that I only have 3 men other than myself in the art department to work in the movie, and I actually painted all the Srimulat paintings in it. But I don't think they know that, hahaha.
And I think I did a good job. At least that's what the producer said to me. :)
lighterheaven semoga bisa mendunia :ngopi:
pasti dah punya koneksi keluarkan.. biar nama indonesia gak melulu soal koruptor ::nangis::
kita semua selalu berdo'a untukMU :ngopi:
::maap::
Aamiin.. Terimakasih oom Ancuur.. :)
Teman teman, doakan saya yaa.. kebetulan masuk ke nominasi 5 besar "Penata Artistik Film Terbaik" di Piala Maya 2013.. alhamdulillah. Nggak berharap terlalu banyak, tapi ya doakan aja, who knows, hehehe.. :)
https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.n...94077882_n.jpg
wah, gluck nih! :mrgreen:
gudlak surga korek, aq nikmatin banget pelemnya, semoga emang menang!
good luck bro!!!
klo menang makan2 yah...::oops::
Btw itu nama lu gak disensor bro [MENTION=162]lighterheaven[/MENTION] ::oops::
Good luck :luck: