Kau seperti bait baik sajak yang tak puas puas aku rombak.
Printable View
Kau seperti bait baik sajak yang tak puas puas aku rombak.
aku memakai syal rajutan, menghisap tembaku di tepi danau, ketika angsa angsa itu mati dalam perahu dayung kecil. Gagak bertengger di atas awan buram. Kami sama sama terkekeh, entah untuk alasan apa! (malam minggu yang cerah!)
kau memasang jarak, seperti ranjau yang siap meledak
walau berkali aku tlah luluh terserak
aku tidak bersalah...bisikku
tidak!
Aku laknat?
Ya!
tapi aku tak pernah berkhianat!
bagaimana mungkin? aku bahkan tak pernah memilikmu!!!
Sesak sesal /Mengejar nafas tersegal/Ingatan hanguskan tirai/Aduh/terjatuh jauh.
Sisa kepal di dinding/Batu haru/Angin beku
Perahu itu tak punya lagi cukup alasan/ karam dalam kenang/Kau dan Aku
jemariku menari menyentuh dinda.....
dindapun.. kegelian sambil jeoged patah2..
dengan jemariku jga aku raba jidat dinda...
oh.... ternyata sedikit panas...
dengan jemariku lagi aku kompres dinda
ternyata dinda masup angin...
aku suruh angin itu keluar...
namun angin keukeuh bersemayam dalam body dinda
aku bingung... bingung dan bingung...
oh jemariku ........ X_X
bojong kenyot 17, july 1977 cuaca panas.. %heh
Berdiam dalam cangkang usai deras hujan.
Layang malam usai mimpi panjang, pamit minta diri, padaku yang selalu ingkar janji.
---------- Post added at 09:21 AM ---------- Previous post was at 09:19 AM ----------
Jembatan kayu, santun menghitung usia.
Hutan diam-diam menaruh hati sembunyikan rahasia.
Kerudung Merah, Gadis dengan langkah tergesa, melintas disana.
berdiam di terminal... menunggu bus yg belum saja tiba..
oh.. hari sudah mulai senja.. tidak mungkin kalau aku harus tidur disini...
lalu aku harus bagaimana...................
Kau akan selalu jadi batu itu, batu yang kulempar ke air, sekedar membuat lompatan kecil berkali kali. Kau akan selalu jadi telaga itu, tempat aku mengutuk, lalu celupkan setengah kaki dan memaki diri sendiri.
rincik rincang rincik rincang
aya roda na tanjakan
sidik pisan sidik pisan
nyai teh bogoh ka akang ::cabul::
baju teh apan disewakeun
disewakeun ku indung sia
basa sunda sok atuh gunakeun
saeuncan diaku ku malaysia
buah kadongdong, buah mangga...
buah belimbing, buah nangka... ngarujak yuu...
basi banged dah.. ::arg!::
Teriakanmu, getah terpercik di potongan buah. Sarapan pagiku
Harga mati yang tak mampu kubeli
Ah, usia renta bergelantungan di pinggang
merengek rengek minta dipinang
Hishh..aku risih..tapi mau apa lagi?
"Hidup tak sekedar soal kawin dan beranak pinak!" lirihku
"Ini bukan soal kawin saja, ini soal harga diri ibumu..Ibumu!!"Ibu balas dengan nada tak kalah tinggi
"Ada yang lebih penting dari itu!"
"APA? coba sebut..APA!" Ibu mulai terdengar panik
Diam
tertunduk
Tak terasa mata mulai basah
"Cinta, Mom..." (hampir tak terdengar)
"Klik.." aku ahiri pembicaraan
Sudah mulai maghrib,
hidup minta dihidupi
lampu di teras minta dinyalakan,
lantainya yang basah terguyur hujan, minta di lap-i
perut minta diisi nasi dan secangkir kopi
hari hari terus menyeretku seperti hantu
tak peduli ada duri tertinggal disitu
--
'selama kau memilikiku, hidup akan baik baik saja, teman', ujar sebatang rokok padaku. Lalu bersama kami menghisap kepedihan.
--
Wajahnya membias dalam cangkir kopi, lalu kuteguk kekasihku begitu rindu.
--
'Benarkah Pagi telah mencuri semua mimpi?'tanyaku pada bantal.
'Ya, tapi tak apa, aku bisa membuatmu bermimpi lagi!' rayunya.
'Ah, kau benar benar sial!'. Bantal kulempar dengan kesal.
Kita ubah arah hulu, demi sampai pada teduh tubuh. Letakkan batas tualang dalam peta perjalanan.
Aku menjahit peluh dari muara subuhmu dan kau tinggikan layar khayal, seperti tak peduli akan sesal.
Bukankah hasrat terlanjur kental?
Seperti serigala, lihai mengendus bangkai dusta dari jarak beribu hasta.
Jejak luka...bau amisnya mencari seteru, kekasihku.
Suatu hari, ingin kubuka lipatan rindu yang lama tersimpan di dalam kantung matamu / Jalur kereta menjalar tak sabar/ Igau, risau yang coba kita gambar dilangit senja, sebelum ia dikhianati cahaya.
Pesta Lajang
Lucuti!
telanjangi..telanjangi!!..suara sorakan setengah mabuk, wanita wanita setengah gila
Kemarikan, biar aku kangkangi! (wanita berkalung permata, dengan dandanan menor, sontak naik keatas panggung bar)
"ayo Tesaa..kamu bisaaa" ...teman temannya tertawa sambil menegak minuman yang disediakan tuan rumah,aroma wine dan peluh bercampur baur malam itu
Gegap gempita musik hip hop mengalahkan lenguh keras-lelah pria bercelana dalam totol totol, tangan, kaki, lidah ..dada menggerayangi tubuhnya.
"Gimana, masih kuat sayang?" bisik suara mami dari balik kain layar
"Mi, mana pengantin wanitanya,,suruh dia keluar, wanita wanita ini bertambah liaaaaar". "oke oke,, tahan dulu" mami cepat cepat menghilang kedalam kerumuman.
Tiba tiba musik berhenti, semua terdiam..*degh* seorang wanita bergaun putih (tanpa penutup dada) muncul ,dengan bibir basah setenagh terbuka maju menghampiri pria bercelana dalam totol totol "Dia milik ku! Ctar!! CTARRRRh!! suara cambuk seketika menghentak...
Malam itu, pesta lajang wanita wanita snob ibukota
Aku memandang dari sudut ruang, jika suatu saat aku menikah, seperti apa pestanya? yang jelas wanita wanita liar itu tidak akan kuundang
---
denpasar, 23 des 09
Barangkali lebah ratu tak tau setetes madunya jatuh ke bibirku, waktu aku donggakkan kepala ke atas sarang mereka, lalu sangkamu cintaku semanis itu.
Musim gugur mengalir mundur, menyeret pahatan tergeletak di sisi umur, duka...yang kuguratkan di wajahmu.
apakah doa adalah komunikasi dua arah? apakah manusia bisa memerintah Tuhan? apakah damai sejahtera adalah ukuran dalam menentukan pilihan? Jawabannya tertulis pada selembar kupon undian di dalam bungkus kripik kentang yang barusan aku buang : Anda belum beruntung, silakan coba lagi!
---------- Post added at 10:34 AM ---------- Previous post was at 10:28 AM ----------
Aku tidak suka mendengar cerita mengerikan itu! Aku tidak ingin memakan tubuhNya dan meminum darahNya!' Tangis seorang gadis kecil pada komuni pertamanya.
---------- Post added at 10:34 AM ---------- Previous post was at 10:34 AM ----------
Peluhku bertukar dengan basah gelombang, ketika matahari dan ujung lautan berjarak tinggal sejangkau, tenggelam dalam risau. Malam yang angkuh sepertinya ingin segara memenjarakanku.