^
norma agama, mbah
Printable View
^
norma agama, mbah
Sebenarnya tanpa jauh2 bawa persoalan "norma agama" pun menurutku persoalan prostitusi itu bisa diatasi kok, minimal ditekan angka keberadaanya plus dampak "negatif" yg ditimbulkannya.
Bangsa ini sebenarnya kaya dgn norma2 lokal kok, seperti budi pekerti, kesopanan, budaya malu, dst...dsb sampe ke yg paling spesifik dan relevan dgn topik yaitu norma kesusilaan. Malu berbuat tidak sopan, malu berbuat tidak senonoh, malu ngangkangin paha, dll.
Tapi kalo norma2 itupun sudah luntur di masyarakat lokal ya jangan harap pelacuran dan perbuatan2 "negatif" (vice) lainnya bisa ditekan apalagi sampe hilang sama sekali. Copet, maling, korupsi, dll. Mimpi.
Dan kalo "agama" cuman berkutat ngeributin soal halal-haram, surga-neraka dan hal2 "absurd" lainnya dan cenderung mengabaikan aspek2 akhlak, adab, budi pekerti dll ya jangan pernah mimpi pelacuran bakalan bisa diatasi, alih2, justru yg terjadi bakalan semakin marak aja. Mana takut orang2 seperti mereka dgn "ancaman neraka"?!
Saya malah miris kalo ngebayangin dlm beberapa generasi mendatang kosakata "budi pekerti, kesusilaan, malu dll" udah ndak dikenal oleh mereka bahkan udah dihapus dari KBBI edisi masa depan. Nasibnya udah sama dgn kosakata2 kuno seperti misalnya kosakata Sanskerta yg udah ndak tercantum lagi dlm kamus modern saat ini.
:ngopi:
---------- Post Merged at 03:44 PM ----------
Btw... ;D
Kenapa pelacur sekarang disebut PSK (pekerja seks komersial)? Kenapa kata "Tuna Susila" mesti dibuang ndak lagi dipakai sekarang?
Saya prefer kata PSK diganti dgn PTS alias Pekerja Tuna Susila. Kecuali kosakata "(ke)susila(an)" memang sudah benar2 tidak ada lagi dlm KBBI yg masih berlaku saat ini ato minimal udah mengalami pergeseran makna.
:ngopi:
dulu pake istilah pramuria
mungkin terlalu keren, jadi diganti
setau saya istilah paling keren itu hostess.
Dulu pernah pake istilah WTS (wanita tuna susila) tapi saya ndak setuju kalo istilah itu dipakai lagi karena sangat bias gender, sedangkan "tuna susila" itu bisa terjadi pada pria maupun wanita.
So saya tetap prefer istilah PTS. Itu bisa singkatan dari "Pekerja Tuna Susila" yg mengacu pada pelacur maupun jajarannya (germo, mucikari, dan konco2nya). Itu juga bisa singkatan dari "Pelanggan Tuna Susila" yg mengacu pada pemakai jasa bisnis esek2 tsb. Jadi baik itu pekerjanya maupun pelanggannya sama2 tuna susila, pria maupun wanita.
Tentang arti kata "tuna susila" bisa dicek di KBBI maupun kamus2 bahasa Ind resmi yg lain, apa itu arti kata "tuna" dan apa arti "(ke)susila(an). Jadi kalo ada yg mau memprotes istilah tsb ya proteslah ke penerbit kamus resmi,...sebelum kosakata tsb nantinya benar2 hilang dari kamus resmi karena terlalu lama ndak kepakai lalu dilupakan orang. ;D
:ngopi:
Ngangkat? :-/
---------- Post Merged at 03:00 AM ----------
Ngangkat? :-/
***** alias pelacur wanita lebih sering dibahas daripada gigolo alias pelacur pria. Sepertinya pelacur wanita lebih banyak daripada pelacur pria. Tidak semua PSK berada di lokalisasi, ada yang di night club atau online, jadi istilahnya call girl gitu.