Potensial sich gede...stadion dijamim penuh trus?...satu tiket bisa nonton bola,tinju,karate dan taekwondo sekaligus...jadi dapat paket hemat kalo lagi beruntung...hehehehe..
Printable View
Potensial sich gede...stadion dijamim penuh trus?...satu tiket bisa nonton bola,tinju,karate dan taekwondo sekaligus...jadi dapat paket hemat kalo lagi beruntung...hehehehe..
Nyumbang berita lagi ahh....:pencuri:
Daftar Kegagalan Uji Coba Timnas
http://static.republika.co.id/upload...072325-821.JPG
Gimana mo maju nih timnas, Menpora gimana inih??? :nangis3:Quote:
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kegagalan uji coba timnas Indonesia melawan Yordania kali ini bukan kali pertama yang terjadi. Sebelumnya, beberapa laga uji coba juga urung terlaksana dengan berbagai alasan.
Sebelum Piala AFF 2012 misalnya, skuat Garuda telah dijadwalkan melakoni laga uji coba. Tim-tim besar seperti Espanyol B, timnas Korea Utara, Sudan, hingga Filipina sempat dijadwalkan menyambangi Tanah Air untuk menguji kemampuan para penggawa skuat Garuda.
Bahkan, laga uji coba melawan klub Liga Primer Inggris Everton dan klub raksasa Liga Turki Galatasaray juga tak terlaksana. Tadinya, kedua tim itu akan bertanding dengan timnas dalam sebuah turnamen mini bertajuk Java Cup.
Sedangkan pada persiapannya menuju Pra-Piala Asia 2015, timnas juga sempat menjadwalkan laga uji coba melawan Uni Emirates Arab pada 1 Februari di Singapura. Namun dengan alasan sempitnya waktu ditambah jauhnya jarak antara Singapura dengan Irak, timnas urung melaksanakannya.
Timnas pun hanya menjadwalkan uji coba dengan tim luar,yakni Yordania di Amman pada 31 Januari. Tapi, uji coba ini akhirnya batal juga.
Berikut beberapa daftar batalnya laga uji coba timnas
- Espanyol B (5 September)
- Korea Utara (8 September)
- Thailand (16 Oktober)
- Sudan (14 November)
- Filipina (15 September)
- Everton (26-29 Juli)
- Galatasaray (26-29 Juli)
- Uni Emirate Arab (1 Februari)
- Yordania (31 Januari)
Redaktur: Fernan Rahadi
Reporter: Satria Kartika Yudha
selama ada dualisme, ga akan maju2 sepakbola indonesia
sebelum dualisme aja udah ga pernah berprestasi
udah...ban aja pssi....ga pake lama :beliz:
---------- Post Merged at 09:18 PM ----------
btw, pt lpis koar2 udah 90 persen dapet kontrak news corp, ternyata pepesan kosong doang
pihak news corp masih ragu2 mau investasi ke kompetisi di indonesia gara2 adanya dualisme. gara2 ga ada investor, kelangsungan kompetisi ipl jadi gelap.
persibo yang juara PI dan akan berlaga di AFC cup bahkan belum ngontrak satu pemain pun gara2 ga ada duit. pemain yang ikut seleksi di persibo akhirnya milih mogok karena ga ada kepastian kontrak
Ditunggu nih gebrakan dari Menpora yang baru, jangan bisa ketawa aja ::wuek::
katanya jadi lawan Jordan...
gue bingung dech kalo soal batalnya gara2 gak dapat tiket pesawat...bukannya waktu mo bikin jadwal uji coba kan udah dari jauh2 hari kenapa bar cari tiketnya sudah mendekati hari H-nya..bukannya harusnya cari tiket pesawatnya jauh2 hari yah..
keliatan banget PSSI gak profesional...mo bikin pertandingan persahabatan aja gak bisa gimana mo kelola liga...
Berita nih... :pencuri:
Timnas Garuda Ceria dan Siap Tempur Lawan Jordania
http://assets.kompas.com/data/photo/...a--620X310.jpg
KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ
Pemain Timnas Sepakbola meninggalkan Hotel Saka untuk menumpang bus menuju Bandara Internasional Polonia Medan, Selasa (29/1/2013). Timnas akan bertolak ke Jordania untuk laga ujicoba.
Bring it on...:beliz3:Quote:
JAKARTA, KOMPAS.com- Skuad "Garuda" dalam kondisi sehat dan bersemangat menjalani ujicoba melawan Jordania, Kamis (31/1) pukul 17:00 waktu Amman, Jordania atau pukul 22:00 WIB nanti. Tim nasional Indonesia sempat mencoba lapangan pagi tadi, tetapi dihentikan setelah hujan salju. Pertandingan ujicoba ini rencananya disiarkan langsung oleh RCTI pukul 21:45 WIB.
Laga ini sangat krusial untuk menguji pola permainan bertahan serangan balik yang akan diterapkan saat Pra Piala Asia 2015 melawan Irak di Dubai, Uni Emirat Arab pada 6 Februari 2013. "Anak-anak semua dalam keadaan sehat dan siap tempur, hanya faktor cuaca dan non teknis yang perlu dipertimbangkan. Pagi tadi pada saat latihan sempat hujan salju," ujar dokter timnas dr Syarif Alwi melalui pesan singkat, Kamis (31/1/2013) siang.
"Anak-anak pada saat check up kesehatan pagi dan warming up semuanya dalam keadaan sehat. Kondisi mereka layak tanding dan ceria," ujar Syarif yang ramah dan akrab dengan pemain maupun jurnalis.
Kondisi fisik pemain sudah kembali bugar setelah melakukan perjalanan selama 15 jam termasuk transit dari Jakarta ke Amman pada Selasa malam. Timnas tiba di Amman pada Rabu sekitar pukul 10:30 waktu setempat dan menuju ke hotel pukul 11:15. Tim menginap di Hotel Regency Palace Amman.
Para pemain langsung istirahat untuk mengembalikan kebugaran. Mereka juga mendapatkan suplemen vitamin untuk menjaga kondisi fisik tidak anjlok. Para pemain pada Rabu sore sempat mencoba lapangan sekitar pukul jam 16.30 waktu Amman.
Editor : Marcus Suprihadi
wih kalah 5-0 , kok bisa
padahal kan timnas ada wahyu"pique" wiji , andik"messi" vermansyah
pique ama messi nya kw 10 soalnya ::hihi::
lawan jordan aja digebuk 5-0...apalagi kalo ketemu Irak ::grrr::
gimana mo bener..yang ngurusnya aja gak profesional
source:detik.comQuote:
Jakarta - PSSI dikritik Menteri Pemuda dan Olahraga terkait cara pemanggilan pemain untuk masuk tim nasional. Terungkap kini, timnas memang dikelola dengan sangat tidak profesional, mulai dari soal administratif hingga pendanaan.
Salah satu sorotan Roy Suryo terkait kinerja PSSI dalam mengelola tim nasional adalah soal pemanggilan pemain-pemain untuk bergabung dengan pemusatan latihan. Pangkal masalahnya adalah pernyataan PSSI kalau mereka sudah sudah mengirim surat pemanggilan resmi namun nyaris tak ada -- khususnya pemain yang berlaga di ISL -- bergabung dengan skuat besutan Nil Maizar.
Dari informasi yang kemudian didapatkan Roy Suryo, seperti diungkapkan saat berkunjung ke markas detikcom akhir pekan lalu, beberapa klub melakukan tindakan yang tak patut karena menahan surat pemanggilan tersebut tanpa memberi tahu si pemain. Namun yang kemudian juga disesalkan Menpora adalah panggilan pemain hanya melalui pesan singkat alias SMS.
Dan ternyata, bukan cuma soal pemanggilan pemain saja yang dilakukan PSSI dengan sembarangan. Terkait segala kebutuhan timnas selama melakukan training camp (TC) hingga menjalani laga-laga di dalam dan luar negeri, hampir semua digarap dengan tidak profesional. Hal tersebut diungkapkan oleh mantan media officer dan corporate secretary timnas, Desy Christina, melalui tulisan di blognya.
Desy sempat menjabat sebagai media officer tim nasional, dan beralih menjadi corporate secretary sejak Januari 2012. Selama periode tersebut perempuan yang sebelumnya adalah wartawati sebuah stasiun televisi swasta nasional tersebut merasakan sendiri buruknya pengelolaan tim nasional oleh PSSI. Tak tahan dengan kondisi tersebut, plus adanya pemotongan hak yang dilakukan secara sepihak oleh PSSI, dia akhirnya memutuskan mundur per Desember 2012 lalu.
Bobrok dan amburadulnya manajemen tim nasional dirasakan benar saat digelar TC di Yogyakarta pada pertengahan April hingga awal Mei 2012. Dengan ada tiga tim sekaligus di Yogyakarta (timnas senior, U-23 dan U-17), PSSI tidak mempersiapkan dengan baik TC tersebut. Masalah pertama yang ditemui adalah soal pencairan dana uang pembayaran muka penginapan. Desy menyebut kalau dirinya harus bernegosiasi dengan beberapa hotel untuk "menawar" harga sewa kamar demi menyusaikan dengan kondisi keuangan timnas. Hotel untuk pemain dan ofisial timnas berhasil didapat, namun itu karena kebaikan pihak hotel yang rela diinapi tanpa ada uang muka.
Soal pembayaran hotel untuk TC tersebut ternyata tak tuntas dalam waktu singkat karena berlarut-larut sampai sekitar bulan September. PSSI mengklaim kalau penunggakan terjadi karena biaya yang harus dikeluarkan kelewat mahal.
"Yang lebih buat saya kaget, ada yang komplain dengan biaya di Jogja yang sedemikian tinggi. Lah wong di sana 3 tim dan lebih dari sebulan. Katanya seharusnya timnas di wisma saja. Jujur, saya sudah cari wisma kala itu untuk junior tapi tidak ada yang kosong. Ada satu yang kosong tapi tanggalnya bolong-bolong. Jadi timnas harus masuk-keluar di tanggal-tanggal tertentu. Semua sudah dilakukan, tetap alasan tunggak pembayaran adalah mahal. Saya bengong, nanya, 'loh, mereka kemana saja pas nego awal? Kan sudah disampaikan kondisinya? Lalu itu dapat hotel bintang 4, setengah mati didiskon ampun-ampunan sampai harga paketnya di bawah 350 ribu fullboard kok masih keberatan belakangan?'."
Masalah berlanjut dengan persoalan administratif terkait pemain-pemain yang akan diberangkatkan ke Palestina untuk mengikuti Turnamen Al-Nakbah. Karena PSSI tidak bersikap tegas soal batas waktu pemanggilan pemain, pengurusan surat-surat keimigrasian menjadi sangat merepotkan. Apalagi izin masuk Palestina sudah sangat sulit karena harus berurusan dengan pihak Israel.
"Bayangkan, seringkali mepet pengurusan visa berlangsung dengan pengurusan booking tiket dan pengurusan akomodasi di hotel luar berjalan bersamaan. Saya dan Mbak Farina (PSSI) sudah berusaha setengah mati, ternyata sampai H-1 saja masih ada pergantian personil. Atasan tidak mau tahu kesulitannya seperti apa, tapi tetap minta dibawa. Toh akhirnya paham pas di Jordan susah masuk ke Palestina kan? Mereka sudah diingatkan kami tapi keras kepala. Belum lagi ketegasan uang saku kerap berubah. Informasi kepada pemain menjadi simpang-siur," tulis Desy dalam blognya yang dijuduli 'Sekilas Masa Di Timnas' itu.
Keputusan PSSI memberangkatkan timnas senior ke Palestina ketika itu memang dapat banyak kritikan. Turnamen Al-Nakbah tak masuk kalender FIFA dan digelar di tengah berjalannya roda kompetisi domestik, yang membuat upaya PSSI mengumpulkan pemain jadi lebih sulit. Apalagi beberapa negara peserta hanya mengirim tim junior. Fakta lainnya: PSSI ketika itu tengan mengalami kesulitan keuangan -- namun anehnya jumlah ofisial dan tamu yang terbang ke Palestina justru membengkak.
Selain soal penunggakan biaya hotel, hal lain yang dirasa sangat memalukan adalah saat Indonesia bertandang ke Filipina untuk menggelar laga ujicoba jelang Piala AFF. Indonesia ternyata selama ini kerap menambah orang-orang yang sebenarnya tidak kompeten untuk bisa berada di bench. Dan sebelum laga dengan Filipina, Desy diingatkan agar timnas tidak memasukkan orang selain ofisial tim ke bangku cadangan.
"Saya kebetulan kenal dengan match commissioner, David di laga wajib tersebut, dia adalah sahabat teman saya Jayric. Dia bilang kepada saya setelah technical meeting, 'Desy, Indonesia tidak akan nambah orang di bench kan? Soalnya Indonesia sering begitu, yah saya cuman mau mengingatkan saja...Kalau bisa tetap dengan maksimal 8'. Yang saya jawab, 'maafkan saya jika kondisinya sering seperti itu, tapi tidak akan terjadi lagi'."
"Tahunya seorang pejabat PSSI mendatangi saya besoknya minta ID card bench untuk kedubes. Saya bilang saya usahakan di royal box. Namun dia keukeuh minta ID bench. Sampai akhir saya nggak kasih, tapi ternyata dia masuk ke lapangan sebelum pertandingan dimulai dan bersama kedubes duduk di sana. Dengan segala hormat, KBRI kita Filipina sangat membantu, namun saya bingung dengan permintaan petinggin tersebut yang bagi saya lebay. Saya saja tidak pernah mau duduk di bench. Ngapain? Mending yang benar-benar penting membantu di lapangan. Jelas David tidak bisa komplain setelah mereka duduk, dia hanya mendatangi saya dan tertawa-tawa. Tapi saya malu luar biasa. Kejadian seperti ini sering terjadi, terburuk, malah ada yang sampai bilang, 'biar aja kitman gak usah di lapangan duduknya'," kisah Desy lagi.
Di Agustus masalah lain muncul saat semua manajemen PSSI diminta keluar dari hotel dengan dalih pengiritan. Belakangan isunya berkembang menjadi adanya penggelapan dana oleh manajemen timnas, hal mana ternyata tidak terbukti karena isu tersebut kemudian hilang begitu saja dan berganti menjadi soal gaji manajemen yang sejak awal tidak dapat persetujuan dari PSSI.
"Saya minta data, saya minta bukti, karena jika memang manajemen timnas ada yang melakukan itu, saya akan jadi ikut terseret rasa malu. Memang terkadang di lapangan kami meminta A, B atau C kepada EO, katakan, kami butuh makanan tambahan, tiket ke Garuda, atau Aqua tambahan, semuanya untuk proses TC pemain tapi tidak pernah soal uang. Ada perbedaan budget yang saya lihat di EO, tetapi itu mungkin kebijakan PSSI mengatur kelebihan dana untuk hal-hal yang tidak mau saya campuri tetapi masuk akal. Namun saya kaget luar biasa seputar rumor tersebut."
"Problem berganti ke soal gaji manajemen. Katanya tidak ada persetujuan dari awal. Lah? Gimana? Kok dicairkan setiap bulan? Siapa yang tanda tangan di PSSI? Lalu muncul alasan sekjen lama dll. Saya sih nggak mau ambil pusing, saya pikir itu adalah alasan yang teramat bodoh dan tidak masuk akal."
"Dan betapa kagetnya saya ketika mendapat memo pemotongan gaji hingga hampir 80% tanpa memanggil sama sekali. Saya utarakan keberatan kepada atasan dan juga sekjen baru (via e-mail) tidak mendapat jawaban. Saya kesal, tapi saya katakan bahwa jika ada pemotongan gaji saya tidak akan protes karena pelatih juga mengalaminya. Tapi kalau 80% dan tidak ada pemanggilan, saya keberatan. Itu adalah hal terendah yang bisa dilakukan sebuah perusahaan, organisasi atau apapun yang berkedok profesional."
Buruknya profesionalitas PSSI juga tercermin dari tidak adanya kontrak yang diterima Desy sejak dia mulai bekerja. Dengan dalih "sedang diurus" Desy bekerja hanya berdasarkan sebuah Surat Keputusan (SK).
"Sebagai seseorang yang sudah terbiasa kerja dalam sistem profesional, saya yang paling sering menyuarakan keberatan dengan sistem SK. Saya kerap meminta kontrak, namun jawaban yang saya dapat selalu, 'sedang diurus'. Saya bertanya kepada atasan langsung di timnas, jawaban juga selalu sama. Ada yang aneh disini, saat kami mengajukan nilai gaji, tidak pernah sekalipun kami dipanggil menghadap bagian legal dan sekjen PSSI untuk mematangkan ikatan kerja dan nilai gaji."
"Namun mendadak setelah menyerahkan nominal gaji yang diharapkan, saya begitu saja mendapat transfer gaji setiap bulan. Sempat saya bertanya, 'kenapa mereka tidak memanggil untuk negosiasi?', namun seluruh manajemen timnas juga tidak paham alasannya. Saya menerima gaji saya setiap bulan, namun tetap cerewet menanyakan kontrak saya, jamsostek, asuransi kesehatan dan PPH karena saya tidak puas dengan SK."
Wuah kalo gini caranya udah deh Revolusi Total aja tuh PSSI, rombak habis-habisan, sengsara banget :nangis2:. Ayo dong Menpora benahin PSSI :marah:
kalo menpora ikut2an soal PSSI...ntar ama FIFA di anggap ada intervensi dari pemerintah...jad di ban PSSI ama FIFA...
ga masalah PSSI diban ama FIFA. saya ikhlas ::ungg::
Emang susah sih sekarang , kritik PSSI langsung dibilang antek KPSI
jadinya yah paling kayak gini dianggap lalu doang
pokoknya PSSI strong , jualan nasionalisme
kalah lagi , tapi ini timnas bener-bener unik
pertama kali gw nonton timnas ada pemain masuk gak tau itu siapa dan posisinya apa
Yup kalah....:pencuri:
Irak vs Indonesia 1-0
http://images.detik.com/content/2013/02/06/76/iraki.jpg
Quote:
Dubai - Timnas Indonesia mengawali kiprahnya di Kualifikasi Piala Asia 2015 dengan kekalahan. Menghadapi tim kuat Irak, pasukan 'Merah Putih' kalah dengan skor tipis 0-1.
Pertandingan di Al Rashid Stadium, Dubai, Rabu (6/2/2013) malam WIB, mutlak dikuasai oleh Irak. Negara Timur Tengah itu terus menerus membombardir pertahanan Indonesia, sementara Indonesia cuma sesekali menyerang balik.
Meski dominan, Irak tak bisa menggetarkan gawang Indonesia di paruh pertama. Saat turun minum, skor masih tetap 0-0.
Irak baru bisa mencetak gol di babak kedua. Younis Mahmood memaksimalkan satu kesalahan pemain Indonesia untuk membawa timnya unggul.
Gol Younis itu ternyata jadi satu-satunya gol pada pertandingan ini. Hingga peluit panjang berbunyi, Irak tetap menang 1-0.
Dengan hasil ini, Irak menempati puncak klasemen Grup C dengan tiga poin. Indonesia di urutan terbawah dengan poin nol.
Pada pertandingan berikutnya, Indonesia akan menjamu Arab Saudi, 23 Maret mendatang.
Jalannya Pertandingan
Irak langsung tancap gas sejak menit-menit awal. Mengandalkan keunggulan postur dan kecepatan pemain-pemain mereka, tim asuhan Hakeem Shaker itu memaksa Indonesia cuma bermain di wilayahnya sendiri.
Pada menit ke-24, Irak sempat membobol gawang Indonesia yang dikawal oleh Endra Prasetya lewat tendangan bebas Younis. Tapi, gol ini dianulir wasit karena salah satu pemain Irak telah terjebak offside.
Irak kembali mengancam empat menit kemudian lewat sundulan Mohanad Abdulraheem. Tapi, sundulan Mohanad belum mengarah ke gawang.
Hingga berakhirnya babak pertama, Irak yang punya banyak peluang tetap tak mampu mencetak gol. Skor masih imbang 0-0.
Irak masih terus menggempur Indonesia di babak kedua. Mereka mendapatkan peluang emas di menit ke-50 lewat sundulan Mohanad. Namun, bola mengarah tepat ke pelukan Endra.
Dua menit kemudian, Endra membuat penyelamatan gemilang. Dia secara luar biasa mementahkan sundulan jarak dekat Dhurgham Ismael. Dhurgham yang mencoba mengejar bola liar juga tak bisa menceploskan bola ke dalam gawang karena tembakannya melambung.
Memasuki menit ke-62, peluang lainnya didapatkan Irak. Namun, sundulan Alaa Abdul-Zahra bisa diamankan oleh Endra.
Irak akhirnya bisa memecahkan kebuntuan pada menit ke-66. Berawal dari blunder Handi Ramdhan dalam melakukan back pass, bola justru bisa dikejar oleh Younis. Penyerang bernomor punggung 10 itu memenangi sprint melawan Wahyu Wijiastanto kemudian melewati Endra. Younis mengakhiri aksinya dengan tembakan yang menjebol gawang Indonesia.
Di menit ke-75, Irak berpeluang menggandakan keunggulannya. Tapi, tendangan keras Humam Tareq Faraj masih mengarah ke samping gawang.
Indonesia nyaris menyamakan kedudukan pada menit ke-82. Vendry Mofu yang melakukan akselerasi di sayap kiri melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Bola mengarah ke pojok bawah gawang, tapi bisa ditepis oleh kiper Irak, Noor Sabri.
Susunan Pemain
Irak: Noor Sabri; Ali Adnan Khadim, Saif Salman Hashim, Salam Shakir Alidad, Ali Hussein (Ahmad Abbas Hattab 61'); Humam Tareq Faraj, Mustafa Nadhim Jari, Dhurgham Ismael; Hammadi Ahmed Abdullah (17-Alaa Abdul 41'), Younis Mahmood, Mohanad Abdulraheem
Indonesia: Endra Prasetya; Handi Ramdhan, Novan Setya Sasongko, Nopendi, Wahyu Wijiastanto; Oktovianus Maniani (Syaiful Indra Cahya 86'), Taufiq, Vendry Mofu (Mario Aibekob 90'), Stevie Bonsapia (Rasyid Bakrie 65'); Irfan Bachdim, Andik Vermansah
cuma kalah 1-0 kemajuan lah yah dibanding kemaren kalah ama jordan 5-0...hehehehehe...
masalahnya Indonesia selalu lolos dari hukuman FIFA...
not bad lah bisa menahan gempuran2 irak
sayang si wahyu larinya kayak kura2. udah beberapa langkah unggul dari pemain irak kok bisa2 nya disusul ::doh::