iyaa pak Alip,
ke depan saya akan belajar untuk dapat menulis secara lebih runut.
::maap::
Printable View
iyaa pak Alip,
ke depan saya akan belajar untuk dapat menulis secara lebih runut.
::maap::
hmm, piawai benar TS sbg barista meracik ramuannya
aromanya semerbak ke segenap penjuru hingga
mampu memancing para gegedug untuk kongkow disini
btw, udeng ama cangklongku lupa narok dimana yak?
cari dulu ah ....... (nyimak = mode ON) :)
Gegedug apa sih, mbah?
betul
klo kacamata yng dipakai (baca paradigma) masih pemahaman tunggal
bisa pingsan dibuatnya.
celakanya lg klo suka surfing tp gak bisa berenangQuote:
Dan kalo anda udah bisa dan terbiasa melakukan hal itu saya yakin anda sudah siap menerima "wejangan2" dari Encang Purba. Tapi kalo sebaliknya, seperti sebuah pernyataan yg pernah sekilas saya baca di forum ini yg kurang lebih berbunyi "akal pikiran harus ditundukkan dibawah otoritas wahyu dan kitab suci", maka bersiaplah untuk menerima "goyangan ombak" dr Encang Purba. Persiapkan baik2 papan selancar anda. :cengir:
:ngopi:
kenyang dah ama kuah asin :))
gegedug = hantu penunggu hutan = jagoan = jawaraQuote:
Originally Posted by mbok jamu
good job ::up::Quote:
Originally Posted by Alip
saya jg lebih sreg mengelaborasi terminologi itu... halagh,mulai dah kejangkitan gaya [MENTION=912]234[/MENTION] ;D
disamping genuine of qur'anic term, jg memiliki cakupan makna lebih luas, bisa way of life … guide line
…. refrence … ethic values dlsj
Wusss...alap2 rowo pening muncul. :mrgreen:
Yup. Din, jalan, dalan, the road, the way, the path, the route, the line, the method, the journey,...the Tao.
It's personified best by water, which flows around obstacles rather than trying to batter them down. The best way to put it in English would just be "going with the flow". Nek boso Jowone, "anglaras ilining banyu, angeli nanging ora keli".
*duh kok malah jadi keingetan "Long and winding road" nya Paul McCartney yak. ndak nyambung blass* ;D
:ngopi:
good job pur ::up::Quote:
Originally Posted by purba
memang itu fenomena yng aneh
klo SQ-nya (Spiritual Quotient) makin baik, seharusnya ngepek ke perilaku
lha ini enggak, antrian orang mau pergi haji luar biasa, tiap tahun ributin masalah quota
eh disisi lain, korupsi makin marak ...... antri pulak untuk diciduk kpk ;D
Jika agama dimaknai sbg way of life, guide line, pedoman hidup, jalan menuju kebahagiaan ... dlsjQuote:
Originally Posted by danalingga
benarkah manusia tdk memerlukannya?
ya sami mawon, itu hanya masalah pilihan istilah saja :mrgreen:Quote:
Mendingan ngikut aja "kitab suci" sekular semacam sosialis, demokrasi, pancasila, dll.
[MENTION=203]sedgedjenar[/MENTION]
bisa jg saya balikin dng pertanyaan
1. jika manusia sudah bisa merasa hidup, punya tujuan hidup gak?
2. kebahagiaan itu diperoleh melalui proses pencarian atau bawaan lahir?
3. sudah tau arah/tempat itu tau dengan sendirinya atau mencari tau/diberi tau?
ya saya jawab dengan pertanyaan juga
1. apakah orang yg sudah hidup masih punya tujuan ? (tolong dibedakan orang yg hidup dengan yg erasa hidup)
2. emang kebahagiaan hilang dimana ? koq pake di cari ? bukankah kelahiran itu sendiri adalah sebuah kebahagiaan ?
3. kalau sudah tau tempat apakah masih perlu berpergian mencari arah ?
emank kalo dah mati masih butuh pedoman hiduP?
ditemukan kebahagian tu dengan cara apa? apabiula manusia bahagia dengan uang yang dia punya apakah dia masih membutuhkan tunttunan buat menghasilkan uang?
manusia yang tau arah saja masih selalu bertanya alamat atau paling gak butuh GPS untuk menentukan arah.....
Yg butuh pedoman hidup ya orang mati lha boss. Makanya ente-ente butuh agama karena masih mati. Kenapa butuh pedoman hidup? Karena belum hidup alias mati.
Ente menafsirkan bahagia aja masih pake contoh uang. Bahagia datang, bahagia didapat bukan dari hal diluar diri seperti uang, jabatan atau bahkan surga. Panjang nih ukaranya kalo mau dicocotin.
Tau dari mana orang yg tau arah masih nanya alamat? Carilah dan temukan orangnya yg riil, jadi gak cuma berandai-andai dan beranalisa semisal bin seumpama.
Eh, boss, bukannya 'pedoman hidup' itu maksudnya adalah manual untuk menjalankan hdup dengan baik dan benar ?
Jadi bukan manual untuk menghidupkan. IMHO, lho, boss, yah.
Jadi inget cerita Rabiah al-Adawiyah yang dalam do'anya lebih meminta ridha. Bahkan sorga-pun dia nggak minta.Quote:
Ente menafsirkan bahagia aja masih pake contoh uang. Bahagia datang, bahagia didapat bukan dari hal diluar diri seperti uang, jabatan atau bahkan surga. Panjang nih ukaranya kalo mau dicocotin
That's deep, man.... (sambil ngisep bong dalem2).
Ya emang isinya pedoman hidup itu ya manual utawi guidance. Nah, yg sudah bisa menjalankan hidup dengan benar, itu yang disebut manusia yg hidup. Diluar itu disebut manusia mati. Entah mati hatinya, mati imannya, mati pandangan batinnya, serba mati lha ::doh::. Dan jangan berpikir hidup itu seperti muter kontak mobil, mesin bunyi terus disebut hidup. Disebut hidup kalau mobil itu sudah jalan muter, tau rambu lalulintasnya, nggak nyalip sembarangan apalagi sampe nabrak2 orang.
Salam hormat dan penuh kemuliaan terhatur kepada Rbiah Al Adawiyah ::maap::
Siapa yng dimintain ridha-nya, Tuhan-nya Rabiah?Quote:
Originally Posted by TheCursed
so, Rabiah lebih butuh Tuhan dibanding agama gitu?
kpd Jalaludin Rumi, Al-Gazali, Abd Qadir Jailani, Al-Halaj, Socrates, Sidharta .....Quote:
Originally Posted by sedgejenar
mau gak ente kasih salam hormat? ;D
ya raopopo ;)
jadi kalo manusia yang sudah hidup menurut kang sedge itu kalo sudah hidup gak butuh lagi dengan pedoman atau petunjuk hidup (kitab suci dll)?
---------- Post Merged at 03:02 PM ----------
uang membawa kebahagian kan itu sekedar analogi kang.. kan masih banyak faktor kebahagiaan yang laen.. maksud saya diatas adalah apabila kita sudah menemukan kebahagiaan itu bukannkah kita akan mempertahankannya dengan tetep melakukan faktor/penyebab2 yang mebuat kita bahagia....
nah orang yang sudah tau arah disini yang bagaimana... karena setau saya walopun saya/kita (umat islam) yang sudah menganut islam aja masih minta ditujukin jalan yg lurus minimal 17 kali sehari.. bahkan nabi aja ada doanya biar Allah aza wa jalla menetapkan hati beliau dalam Agama Islam..??
jadi penjelasan atau ciri2 orang yang sudah tau jalan itu yg gimana kop sedge??
Iya boss, gak butuh lagi.
Nah, disini juga kita gak sepaham. Orang kalo sudah bahagia mempertahankan kebahagiaannya ? Kalo menurut saya, orang bahagia ya kebahagiaannya datang sendiri dengan otomatis. Kalo kebahagiaan dipertahankan mah itu kebahagiaan palsu, karena sesungguhnya dia belum bahagia karena masih dilingkupi ketakutan akan kehilangan kebahagiaan.
Ya orang yg sudah tau jalan, sudah hidup ya seperti mobil tadi. Sudah tau semua aturan tentang kehidupan.
Orang yg sudah tau hidup bahkan bisa tau kalo ngasih uang ke pengemis seberapa banyak rejeki sang pengemis yg harus di berikan.
Sementara yg belum tau hidup (masih mati), ngasih uang ke pengemis masih mengacu ke norma kemasyarakatan, hukum agama, rasa belas kasihan, aturan pemerintah. Belum kalo di samping ada istri/suami/anak yg nyuruh ngasih atau ngelarang ngasih ke pengemis. Ribet lha ::doh::
kalo dipake analogi mobil itu hidup.. bukankah mobil sendiri pada saatnya akan dimatikan atau diberhentikan pada saat tidak dibutuhkan.. dan mobil sendiri membutuhkan bensin buat membuat dia hidup...
---------- Post Merged at 09:23 PM ----------
darimana si orang hidup itu tau harus memberikan seberapa duit buat pengemis yang minta2??
Nah bensinnya manusia itu makan minum oksigen vitamin. Sopirnya manusia adalah jiwa. Selami lagi didalam jiwa ada apa dan siapa. Kalo sampe terus ke dalam nanti... Ya gitu deh.
Mobil itu sejatinya gak hidup kalo gak ada sopirnya. Sama juga dengan tubuh fisik manusia. Kalo ente merasa hidup secara fisik itu akan butuh shift of paradigm sebelum bisa lanjut ke pembahasan jiwa.
Darimana orang hidup itu bisa tau besarnya uang buat pengemis? Ya dari sang hidup yg ada didalam diri pengemis.
Ah. OK. Masalah beda penyebutan doang. Ide dasarnya sama aja. ::ungg::
---------- Post Merged at 11:19 PM ----------
Kalo yang aku baca dari riwayatnya, sih, nangkepnya gitu.
Dia beragama, Islam, karena kecintaannya kepada Alloh.
Karena, Yang Di Cintai-nya memerintahkan Rabi'ah untuk beragama Islam, so, beragama-lah Rabi'ah.
Shift paradigm, perubahan paradigma (cara pandang). Gak ada hubungan sama makom makoman.
Interaksi itu melibatkan dua entiti. Dalam hal cerita pengemis itu gak ada interaksi. Sang hidup itu sama.
Btw, kalo niat belajar kosongin gelasnya. Kalo cuma niat berdebat saya cukupkan sampai disini.
pembahasan mengenai "jiwa"nya tolong dilanjut...
gw ijin nyimak mengenai apa dan siapa yg ada di dlm jiwa dst.
krn menururt kata org2 sepuh walaupun raga kita mati balik lagi jadi tanah, tapi jiwa kita masih tetap hidup...
ya jiwa tetep hidup.. tapi idupnya dialam kubur....
Hai, i'm back folks!!
Saya myakini bgini:
Agama itu umumnya (ini yg umumnya ya) mengajarkan (ini saya tulis dg bahasa saya sendiri ya):
1. Tentang Tuhan
2. Tentang moralitas, yaitu apa saja perbuatan yg disebut 'baik' dan 'tidak baik'
3. Tentang kesalehan, yaitu gambaran apa saja yg manusia harus lakukan terkait moralitas
4. Tentang reward-punishment dalam mencapai kesalehan
Ktika bicara agama (stidaknya yg saya pahami sbg agama), maka semua 4 hal itu included.
Saya pernah tau ada seorang tokoh yg berkata: 'Kamu silakan myakini kitab suci manapun tetapi kamu perlu myakini juga bhw saya adalah Tuhan' ----> nah contoh smacam ini mnurut saya bukan 'agama' mlainkan 'spiritisme'.
Skrg kita mbahas topik Tuhan vs Agama dan saya mpertanyakan:
Sbrapa pentingkah pembuktian akan 'Tuhan' di dalam agama?
Saya myakini bhw beberapa pnganut agama sbetulnya tidak terlalu concern terhadap pembuktian akan 'Tuhan' ktika ia sudah disodorkan ke-3 aspek lainnya.
Mas Alip sudah mlontarkan ptanyaan-ptanyaan yg mngarah pd apa yg saya yakini.
Tuhan mungkin saja tidak perlu dbuktikan ktika seseorang sudah nyaman dg 3 aspek lainnya atau Tuhan sudah otomatis langsung terbuktikan konsepnya ktika seseorang sudah nyaman dg 3 aspek lainnya.
Maka itu seseorang bisa beragama tetapi agnostik.