tenang aja Ca. gak perlu dilock, buku bulan ini juga belom ada--barista yg malas :ninja:
tadi juga ngiranya masih tanggal 31. ternyata dah tanggal 1 :P
Printable View
tenang aja Ca. gak perlu dilock, buku bulan ini juga belom ada--barista yg malas :ninja:
tadi juga ngiranya masih tanggal 31. ternyata dah tanggal 1 :P
Jatuh Cinta
:direview oleh etca - 01.April.2012 - dengan penulisan sistem kebut puluhan menit :ninja:
Setiap kali membaca buku, saya pasti membaca keseluruhan yang ada di badan buku itu. Dari mulai sampul depan, hingga sampul belakang.
Oke meski sekarang sudah melewati Bulan Maret, tapi saya akan kejar tayang untuk menuliskannya. Hahahahha.
Dari Sampul yang terkesan cantik. Membuat mudah ditebak didisain oleh seorang perempuan. Dan sampul yang bertekstur juga membuat buku ini terlihat berbeda. Mungkin karena gagas media yang si empunya gawe menginginkan buku terbitannya terlihat berbeda. Awalnya saya bingung, mengapa gambar rautan pensil? apakah karena setting ceritanya adalah anak sekolah? Dan ternyata Jevo Jett sang pengarang menuturkan bahwa rautan itu menyimbolkan persahabatan dari tiga tokoh itu. eh kenapa tiga Jev? Bukannya tokohnya ada lebih dari 3?
Jevo Jett, nama pengarang ini pun sudah terkesan tak biasa. Ini pasti bukan nama asli!! Hahahhaa, ya iyalah... Dan tak heran tokoh utama yang dia ciptakan juga menggunakan nama yang enak dilihat dan didengar. Ryd. Dengan 3 konsonan. Kenapa bukan Farid? padahal samasama didengar Rid = ryd. Di sanalah Jevo mulai mencoba memikat pembacanya dengan membangun imanjinasi yang berbeda dari biasanya. Tokoh yang 'mungkin' diidolakan bagi pembaca remaja. Cowok tengil, manly, menggenggam persahabatan, dengan berkarakter lebih segala apa adanya namun tak sesempurna angka 10. Eiiitt tapi ada satu nama yang membuat saya ilfil, mengapa ada tokoh bernama Jessie? err.. ugh.. sound like tessy dan langsung buyar semua imanjinasi saya.
Buku bergenre teen-lit khas remaja. Dengan latar pendidikan SMA, Jevo berhasil menggambarkan di buku itu suasana SMA yang nakal dan tengil. Segala polah anakanak SMA tergambar jelas di sana. Apalagi dibarengi dengan guyonan khas forum yang terkesan gaul. Membuat buku ini lentur mudah dibaca dan dipahami oleh anak remaja. Apalagi dengan imbuhan bahasa sms dan status FB yang sangat renyah itu. Kecuali di bagian guyonan dengan kekhasan ala daerah yah? macam sapi. Nah kadang saya bertanya-tanya, apakah anak SMA yang 'asli'nya akan berceloteh yang sama? Segaul itukah di jaman sekarang ini?
Permasalahan-permasalahan yang mencoba ditimbulkan, lalu diselesaikan dengan kapasitas mereka sebagai remaja. Kadang terkesan cerita itu klise. Terlalu sinetron dan kaku. Akibatnya ada beberapa cerita yang mudah ditebak akhirnya. Padahal saya suka dengan awal cerita yang disuguhkan oleh Pengarang, bagaimana perjumpaan Ryd dengan Sasa. Terlihat natural tanpa mengada-ada. Apalagi adegan kartu ATM yang terbelah menjadi dua. Oh ya, saat di awal cerita Ryd digambarkan Ryd memiliki adik perempuan sempat ada sekelibat di pemikiran saya. Apakah akan dibahas haid pertama Dinda? Dan aha! ternyata benar. Bahkan selipan kisah MBA itupun juga sangat mudah tertebak. *ouch!
So far enak dibaca, meski gambar ransel yang berulang kali ditampilkan sebagai penanda ganti adegan, membuat kecewa. Saya kecewa karena saya sebagai pembaca kurang dimanjakan di sisi petualang seorang Ryd. Kalau gambarnya diubah dengan rautan pensil, mungkin harapan saya tak akan sebesar ini. Hohohoho. Dan semoga di cerita berikutnya Jevo bisa lebih mendiskripsikan setting cerita. Sehingga pembaca bisa ikut merasa berada di setting yang sedang dibangun oleh pengarang dan mencium aromanya. Dan kurangi perulangan kata yang sama yah? seperti kata mesam-mesem begitu sering dijumpai.
Ada pertanyaan lagi, yang membuat kalimat di sampul belakang buku siapa?
Kok rasanya jauh dengan apa yang kita selami di Novel Jatuh Cinta yah?
Apakah Sasa betul-betul menggunakan parfum? apakah saya yang melewatkan bagian itu? hohoho.
Big thanks ya Jev, ada kata kopimaya di buku itu ;)
Lucky you, buat anak kopimaya / eks KG yang ketiban sampur, namanya disemat dalam Novel karya Jevo ;D
jev, big notice buat dikau adalah masalah setting n deskripsi ternyata ;D buat gaya b'tutur semua suka ;)
Jevo,
maaf,
benar2 telat me-reviewnya.
Sebenarnya udah baca dari awal bulan ini.
Intinya sih begini, Jev,
dari cara bertutur, lo udah menang. Sanggup membuat mata gue melek selama tiga jam membaca habis novel ini itu sudah prestasi.
Nah,
kelemahan, rata2 lain sudah membeberkan:
1. pemilihan nama tokoh utama.
Memang setelah sepuluh halaman lebih, pembaca sudah tidak terlalu mempermasalahkan namanya. Tapi kalau nama tokoh utama terlalu 'aneh', 'gak umum', 'susah dilafalkan', percayalah, kau sudah menyaring calon pembacamu. Karena pertama aku membuka dan membaca nama tokoh utamanya, aku mengernyitkan alis. Hmm.. apakah aku sudah terlalu tua untuk membaca novel ini?
2. penggambaran tempat.
Mau gak mau aku membandingkan dengan dua novel Adhitya Mulya. Aku bukan anak ITB, tetapi ketika aku membaca novel Jomblo, aku membayangkan seperti apakah ITB itu, se-'gersang' apakah ITB itu, seribet apakah jalur angkot di Bandung. Ketika aku membaca novel 'Gege Mencari Cinta', aku juga membayangkan, seperti apa ya rasanya bekerja di cubicle.
Tapi di novelmu, aku gak bisa membayangkan seperti apakah Malang dan seperti apakah Sagan, Yogya. Ironisnya, aku pernah tinggal di Sagan dua tahun dan kemarin2 berkali-kali mengunjungi Malang.
3. Interaksi antara tokoh utama dan cewek yang disukai.
Jujur aja, karakternya mengalami CLBK. Tapi novel ini terlalu fokus pada kehidupan teman-teman tokoh utamanya dibandingkan pada cinta tokoh utamanya sendiri. Aku tidak merasa tokoh utamanya jatuh cinta di sini. Interaksinya terlalu jarang. Interaksi di sini bukan sesempit interaksi komunikasi, tetapi juga interaksi batin, mungkin mengingat bahwa, hei.. dulu gue di sini melihat dia... hei... dulu gue mengerjai dia begini.
Yang ada, cuma sekali2 tokoh utamanya pasang status di FB.
Kalau menurutku, adegan terbaik novel ini adalaaah.... Haid pertama!!! ::ngakak2::
Untung saja dulu adik gue punya nyokap dan mBak yang bisa direpotkan ::ngakak2::
Makasih buat semuanya yang udah mengapresiasi dengan gayanya masing-masing.
Novel ini terbit kayak anak terlantar, gue emang nggak banyak terlibat dalam proses produksinya.
Naskahnya aja udah setahun nggak gue pikirin lagi. Udah nggak utak-atik lagi deh, 3 judul alternatif dari gue ditolak, dan redaksi cuma ngusulin 1 judul menjelang naik cetak. Sementara waktu itu fokus gue udah ke pengerjaan naskah yang lain. Jadi rasanya tuh kayak udah ‘jalan’ ama pacar baru, tapi pacar lama masih minta diperhatiin. Akhirnya ya udahlah, gue pasrahin aja semuanya ama tim di redaksi.
Kalo mau nurutin ego gue sih, judul dan covernya nggak bakalan jadi secentil itu…;D Tapi berhubung proses kelahiranya digarap oleh para wanita, ya seperti itulah hasilnya.
Kalo mau ngomongin seberapa ‘gaul’ anak-anak sekarang, cek aja status ‘teman-teman’ gue yang masih ABG di FB gue. Kadang gue geli sendiri kalo liat yang pacaran di FB,kesannya terlalu show off gitu. Tapi kalo dipikir-pikir, sama aja sih kayak di dunia nyata, kalo udah kasmaran, gak peduli tempat deh, nggak sadar atau lupa kalo FB itu adalah ruang publik juga.
Remaja dulu curhatnya ama teman yang bener-bener teman, kalo sekarang sih kebanyakan curhat ama FB dan twitter. Jamannya emang udah nggak sama kayak 10-15 tahun yang lalu. Anak sekarang tuh antara ekspresif ama lebay-nya cuma beda tipis sih.
Bahasa ‘gaul’ masing-masing daerah di Jawa emang nggak sama sih, Sapi itu emang sering diucapkan kok.“Ooo sapi arek iki!” kalo jengkel. ” Oi sapi!” kalo manggil dangan cara seenaknya. Lebih sering sih “******”. Tapi gue aja males tuh nulis banyak-banyak, nggak enak diliat dan dibaca.
Terus, anak sekarang yang sekolahnya SBI, skill bahasa Inggrisnya beberapa tingkat lebih maju dari jaman kita dulu. Jadi jangan heran lah kalo ada ABG sok-sokan ngobrol pake english, bisa jadi itu mereka lagi latihan buat tes besok di sekolah.
Anak dulu skill komputernya paling cuma Ms. Word, excel, PowerPoint, udah itu aja. Sekarang udah ada PR bikin animasi Flash, 3D, Corel, Photoshop… eskul nya aja udah main Pemrograman computer, sampe bikin robot. (Eit, tapi jangan bayangin robot2 ala Transformers lho). Jadi jangan pikir ABG sekarang cuma bisa bikin ‘rekaman 3gp’ doang ya, mereka nggak sehina itu.::hohoho::
Nah, kebanyakan yang nggak percaya ama ‘kecanggihan’ anak-anak setingkat SLTA jaman sekarang tuh emang para pembaca dewasa ;D. Gue bilang aja, “Kemana aja lo selama ini? Anak SMK jaman dulu cuma bikin palu doang pake kikir ama mesin bubut, sekarang udah ngerakit mobil tuh, bos!”
Itu gambaran anak sekolah di kota-kota di Jawa.
Kalo seumpama karakter yang gue bikin di novel ini hidup di luar Jawa, di pelosok Flores sana misalnya, tentu lain lagi ceritanya. Disana internet aja belum masuk, di sana masih ngandalin faksimili. Beneran lho ini.
Jadi kalo ada yang pengen nulis hal-hal yang sangat Indonesia, ambilah setting di luar Jawa. Khususnya daerah pelosok negeri ini. Meskipun berlatar tahun 2012, tapi nuansanya gak jauh beda ama kondisi di Laskar Pelangi, tipikal kayak gitu lah, itu masih relevan kok ama keadaan sekarang. Gue udah ngelayap sampe Halmahera, daerah yang nggak terjangkau listrik tuh masih banyak tuh. Parah nih Indonesia.
Soal haid pertama, awalnya gue heran kenapa banyak banget yang favoritin bab tersebut. Padahal itu cerita kan biasa aja. Tapi setelah gue pikir-pikir, oh iya…kebanyakan yang baca cewek…jadinya seakan-akan pernah ngerasain juga mulesnya…:D
Ngomongin nostalgia, masa SMA gue sih termasuk seru. Trendnya waktu itu Ska ama Melodic Punk. Tapi band gue spesialis ngecover Colective Soul.
Gue siswa aktif di OSIS, itu juga karena naksir ama kakak kelas sih sebenernya… nyari akses gitu buat pdkt..tsaaahelah! ;D
Dua tahun berturut-turut jadi ketua kelas di kelasnya para berandalan, inilah pengalaman paling menyebalkan sekaligus menyenangkan. Dari situ gue dapetin roh karakter anak-anak bandel itu kayak gimana.
SMP sih biasa aja, temen gue kebanyakan Cina ama Manado, di SMA baru lebih hetrogen, dari anak Jendral sampe anak tukang sate ada.
Di novel ini, tokoh yang bener-bener ‘ada orangnya’ cuma Jimi ama Teby.
‘Jimi asli’, sejak kelas 6 SD emang udah sabuk cokelat. Dia Cina yang gak doyan makan babi, sekarang udah jadi engineer di Congo. Dia dulu kalo pas lagi berantem , enak banget diliatnya, nyeni gitu. Kayak style-nya Steven Seagal. Tapi kalo udah urusan ama cewek sih malu-maluin, sampe sekarang juga gak berubah.
‘Teby asli’ sekarang udah jadi Polisi ( Brimob) di Jakarta, kalo lagi ‘tugas luar’, dia jadi pengawal artis yang nikah ama anaknya pengusaha terkenal. Jarang pake seragam dinas, lebih sering pake baju safari, tapi tetep bawa beceng. Kalo si artis lagi liburan kemana gitu, dia juga ikut buat ngawal.
Tentang Ciko ama Ray Surya, emang sengaja sih. Walopun niat awalnya sekedar buat ‘lucu-lucuan’ di forum doang, untuk kalangan sendiri gitu lah. Sayangnya belum sempat ‘terbit’ di KG, forumnya udah ilang duluan.
FYI, jaman gue nulis cerpen di KG, emang udah biasa kok iseng masukin nickname tertentu buat jadi cameo. Apalagi kalo dapet scene yang pas banget kayak 166 itu.
Oya, soal kalimat di sampul belakang, itu karangan editor.
Kalo gue nulis kalimat macam gitu, pasti sangat memperhatikan rima, dan keliatan ada sisi nakalnya. Gue selalu nggak tahan untuk nggak ‘ngerusak’ narasi-narasi yang serius. Kayak kemarin, waktu bales postinganya nagita di “Cinta Putih”-nya itu, nah kayak gitu tuh gaya seriusnya gue. ;D
Makasih ya semua buat apresiasinya, mohon maaf jika ada kekurangan dan belum puas bacanya. Memang karya ini jauh dari sempurna, karena sesungguhnya sempurna itu hanyalah milik Allah dan Andra and The Backbone.
Wassalam.
:ngopi:
eh Jev, denger2 ada sekuel dr novel Jatuh Cinta yaa? :D
focus menceritakan Jimi si pengendara defender itu...
Hehe..gue gak mau bilang itu sekuel...
Apa ya enaknya? Semacam "Patch" gitu lah kalo di pc game, "Plugin" kalo di software...:D
Cuma naskah untuk bersenang2 aja, hanya untuk postingan.
Dapet 'stempel' di jidat sebagai "Penulis" itu berat, kawan.::doh::
Gue asalnya cuma nulis untuk forum, pengen balik ke forum lagi aja ah...::ngakak2::
jadi gak akan dicetak ke dalam buku lagi? sayang dong... :D
Kalo ada karya yang terbit lagi, udah bukan teenlit...:D
Kalo gue bikin cerita dengan karakter dan sudut pandang tokoh remaja, itu sekedar 'tribute' untuk mengenang masa-masa naif aja....::hohoho::
wew... naik level. sastra atau chicklite? ;D atau nonfiksi? :D
atau teori kospirasi?
:D