^^^
::ngakak2::::ngakak2::
Printable View
^^^
::ngakak2::::ngakak2::
Udeh sampeyan jelasin aje ape tuh probabilitas?
Makanya 'rasa adil' yg sampeyan inginkan (dendam utk membunuh), gak perlu negara yg melakukan, tapi sampeyan sendiri saja yg melakukan.Quote:
Lah masalah balas dendam kan dah gw bilang, kalo gw yakin aparat hukum bisa "membunuh" pembunuh keluarga gw, kemungkinan besar gw ga bakal membunuh pelakunya, tapi kalo hukuman mati dihilangkan maka gw 100% pasti mencari pelaku nya dan mungkin dalam membunuh pelakunya gw, terjadi colateral damage, masih belum ngerti juga ::ungg::
::ngakak2::
Probabilitas yah perbandingan peluang terjadinya sesuatu, kalo dalam kasus ini yah, peluang terjadinya salah vonis mati, masih kurang ngerti ::hihi::
Seingat gw probabilitas itu bahasa indo dah, kalo bahasa padanknya probability ::ungg::
Lu bilang balas dendam, gw bilang keadilan ::hihi::
---------- Post Merged at 11:53 AM ----------
Makanya kalo seluruh masyarakat ingin adil versi dia, yah bisa kaco dunia, seperti yg gw kasih contoh di tret ini, keluarga korban gak ikhlas kalo pembunuh di grasi jadi seumur hidup, walo alasannya dah tobat, kembali lagi menurut lu penting mana perasaan korban dan keluarganya, atau perasaan elu, yg takut salah vonis mati ::ungg::
Memangnya kalau ditangkap/dipenjarakan, ndak bisa bebas lagi? Itu buktinya si Cowan, sudah ditangkap, dipenjarakan, akhirnya dibebaskan. Coba kalau dari dulu dia dihukum mati, Murcombe kemungkinan masih hidup sampai sekarang.
Orangtua Daniel Murcombe salah satu taxpayer yang membiayai hidup si Cowan di penjara sebelum dia dibebaskan lalu membunuh anak mereka. Dan sekarang Cowan dipenjara seumur hidup, orangtua Daniel Murcombe lagi-lagi memberi si bgst itu makan tidur gratis di penjara.
A piece of sh!t like Cowan should have not been born in the first place anyway. Sentencing him to death is doing yourself and Mother Earth a favour.
REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa dan Zainal Abidin alias pak Cikk pernah diperiksa pihak berwajib karena masih juga mengedarkan narkoba dari dalam LP Nusakambangan. Mereka dalah dua dari 10 terpidana mati yang akan dieksekusi dalam tahap II bersalam duo Nali Nine.
Silverter diketahui pernah dua kali diciduk BNN (Badan Narkotika Nasional) saat sudah mendekam di LP Nusakambangan. Penangkapan pertama dilakukan pada November 2012, dan penangkapan kedua pada Januari 2015.
Zainal Abidin pernah ditangkap satuan reserse narkoba Polres Cilacap pada Agustus 2013. Dia ditangkap bersama enam napi lainnya. Dari mereka, polisi menyita barang bukti berupa sabu seberat 156,5 gram, timbangan digital, tujuh Hand Phone, 10 buah simcard, empat pipet kaca, satu alat bakar dari pipa alumunium, dan beberapa sedotan plastik.
Kapolres Cilacap, AKBP Wawan Muliawan menyatakan, para napi akan dijerat lagi dengan pasal 114 (1), sub pasal 112 (1), sub pasal 132 (1) UU No.35 Th. 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana penjara seumur hidup.
"Namun, khusus untuk terpidana yang sudah dijatuhi hukuman mati, penyidikannya dihentikan karena dalam kasus sebelumnya, yang bersangkutan sudah dijatuhi hukuman maksimal, yaitu hukuman mati,'' kata Wawan.
Zainal Abidin sendiri dijatuhi hukuman mati atas kasus kepemilikan ganja seberat 58,7 kilogram di Palembang.
Sementara, Silvester dijatuhi hukuman mati setelah ditangkap di Bali pada 2003 karena membawa 1,2 kilogram heroin. Pada tahun 2012, Silvester kembali ditangkap bersama enam napi lain sesama penghuni LP Nusakambangan. Mereka semua diduga terlibat dalam penyelundupkan sabu seberat 2,4 kilogram dari Papua Nugini ke Indonesia
Pada 29 Januari 2015, BNN kembali menciduk Silvester bersama seorang napi lain bernama Riyadi alias Yadi alias Andi di LP Pasir Putih. Saat itu, keduanya terlibat peredaran narkoba di Jakarta dengan barang bukti sabu sebanyak 7.622,9 gram. Dua Terpidana Mati Masih Edarkan Narkoba dari Nusakambangan
CILACAP -- Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa dan Zainal Abidin alias pak Cikk pernah diperiksa pihak berwajib karena masih juga mengedarkan narkoba dari dalam LP Nusakambangan. Mereka dalah dua dari 10 terpidana mati yang akan dieksekusi dalam tahap II bersalam duo Nali Nine.
Silverter diketahui pernah dua kali diciduk BNN (Badan Narkotika Nasional) saat sudah mendekam di LP Nusakambangan. Penangkapan pertama dilakukan pada November 2012, dan penangkapan kedua pada Januari 2015.
Zainal Abidin pernah ditangkap satuan reserse narkoba Polres Cilacap pada Agustus 2013. Dia ditangkap bersama enam napi lainnya. Dari mereka, polisi menyita barang bukti berupa sabu seberat 156,5 gram, timbangan digital, tujuh Hand Phone, 10 buah simcard, empat pipet kaca, satu alat bakar dari pipa alumunium, dan beberapa sedotan plastik.
Kapolres Cilacap, AKBP Wawan Muliawan menyatakan, para napi akan dijerat lagi dengan pasal 114 (1), sub pasal 112 (1), sub pasal 132 (1) UU No.35 Th. 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana penjara seumur hidup.
"Namun, khusus untuk terpidana yang sudah dijatuhi hukuman mati, penyidikannya dihentikan karena dalam kasus sebelumnya, yang bersangkutan sudah dijatuhi hukuman maksimal, yaitu hukuman mati,'' kata Wawan.
Zainal Abidin sendiri dijatuhi hukuman mati atas kasus kepemilikan ganja seberat 58,7 kilogram di Palembang.
Sementara, Silvester dijatuhi hukuman mati setelah ditangkap di Bali pada 2003 karena membawa 1,2 kilogram heroin. Pada tahun 2012, Silvester kembali ditangkap bersama enam napi lain sesama penghuni LP Nusakambangan. Mereka semua diduga terlibat dalam penyelundupkan sabu seberat 2,4 kilogram dari Papua Nugini ke Indonesia
Pada 29 Januari 2015, BNN kembali menciduk Silvester bersama seorang napi lain bernama Riyadi alias Yadi alias Andi di LP Pasir Putih. Saat itu, keduanya terlibat peredaran narkoba di Jakarta dengan barang bukti sabu sebanyak 7.622,9 gram.
http://m.republika.co.id/berita/nasi...-nusakambangan
Nah bagaimana kalo kasus gini? :kesal:
Selalukah seperti Cowan? Artinya, apakah terpidana pembunuhan akan selalu berperilaku seperti Cowan, setelah dibebaskan dari penjara, kemudian membunuh kembali?
Cowan bisa dipenjara seumur hidup. Di dalam penjara, Cowan bisa dipekerjakan, utk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak pakai uang pembayar pajak.
Menghubungkan uang hasil pajak dan biaya penjara berarti memperluas kasus. Apakah masyarakatnya tidak melakukan kesalahan, ketika muncul orang macam Cowan dlm masyarakat tsb? Mungkin secara psikologis, Cowan membenci masyarakat tsb, sehingga ingin terus membunuh. Mengapa Cowan membenci msyarakat tsb? Mungkinkah ketika Cowan masih kecil dan keluarganya bermasalah, masyarakat tsb tidak menghiraukannya, dst?Quote:
Orangtua Daniel Murcombe salah satu taxpayer yang membiayai hidup si Cowan di penjara sebelum dia dibebaskan lalu membunuh anak mereka. Dan sekarang Cowan dipenjara seumur hidup, orangtua Daniel Murcombe lagi-lagi memberi si bgst itu makan tidur gratis di penjara.
Orang seperti Cowan tidak hidup di ruang vacuum, tapi di tengah masyarakat. If Cowan is a piece of sh!t, you are also a bowl of sh!t.Quote:
A piece of sh!t like Cowan should have not been born in the first place anyway. Sentencing him to death is doing yourself and Mother Earth a favour.
---------- Post Merged at 01:45 PM ----------
Kok perasaan gw? ::ngakak2::
Sampeyan tiba nih di Cengkareng. Kemudian di tas sampeyan ditemukan 1 kg heroin. Singkat cerita, sampeyan diadili di Tanggerang dan kena hukuman mati. Padahal semua orang di ::KM:: tahu bahwa sampeyan orang baik-baik, dst. Sampeyan pun berusaha membela diri, tapi bukti menunjukkan sampeyan membawa 1 kg heroin masuk Indonesia. Sampeyan pun minta pengampunan sihunun Jokowi, tapi ora sukses alias gak dapet (lupa kacang pada kulitnya ::hihi:: ). Artinya apa? Anak bini sampeyan ngenes. Kalo sampeyan mati, bini mo dapet duit dari mana? Anak perlu biaya sekolah dari mana?
Sampeyan berdiri di pinggir lobang kubur. Algojo siap menembakkan peluru ke dada sampeyan. Pletoss!!! Matilah sampeyan langsung masuk lobang kubur dan diurug tanah Nusakambangan. Bini sampeyan berusaha menghidupi keluarga dgn menjadi penjaja surga dunia. Karena sibuk menjajakan diri sana sini, anak sampeyan tidak keurus. Jadilah anak sampeyan preman kampung, nongkrong-nongkrong di warung.
Suatu ketika terjadilah ribut-ribut di warung. Anak sampeyan dicokok komjen Buwas, trus dibui, dgn tuduhan membunuh tukang parkir. Anak sampeyan berusaha membela diri bahwa yg tusuk tukang parkir bukan dia, tapi temannya. Berhubung anak sampeyan yg pegang pisau dapur tsb, jadilah dia pesakitan di Nusakambangan (ngikutin nasib buapaknya yg apes). Berulanglah kisah konyol dinasti sampeyan.
::ngakak2::
Lho koq malah balik nanya. Pe-er banget lu. Mbok sudah kasih data akurat yang tak terbantahkan. Sampeyan riset sendiri dong.
Kenyataannya napi-napi itu dipekerjakan ndak? Coba inget-inget pengalaman sampeyan di Kerobokan. ::hihi::
Halah.. mulai deh, playing victim.
No body likes me. Everybody hates me. I think I'll go eat worms.::nangis::
What a lot of sh!t! Kalau dia benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakat, dia ndak akan menjadi seperti itu. Semua penjahat innocent karena yang salah bapaknya, emaknya, tetangganya, ketua RTnya.. ::ngakak2::
Pertanyaan itu bukan utk dijawab, tapi menunjukkan bahwa tidak semua kasus pembunuhan adalah seperti Cowan. Kasus Cowan (membunuh kembali setelah bebas dari penjara) bukan alasan yg kuat utk mendukung hukuman mati.
Memang ada yg dipekerjakan. Jika pun tidak, yg berwenang bisa membuat peraturan seperti itu jika memang tidak mau menggunakan uang dari pajak. Tapi jika pun tidak, itu menunjukkan tidak ada keberatan dgn penggunaan uang dari pajak utk biaya lapas.Quote:
Kenyataannya napi-napi itu dipekerjakan ndak? Coba inget-inget pengalaman sampeyan di Kerobokan. ::hihi::
Playing victim? ::ngakak2::Quote:
Halah.. mulai deh, playing victim.
No body likes me. Everybody hates me. I think I'll go eat worms.::nangis::
Lha sampeyan meluaskan kasus dgn melihat uang dari pajak, ya begitu alasannya. Memangnya sampeyan bayar pajak pada negara utk apa?
Kalo mau, setiap warga negara wajib bayar pajak. Titik. Setelah itu, adalah urusan negara mau digunakan buat apa uang dari pajak tsb. Sampeyan mau apa?
Itu kan klaim sampeyan.Quote:
What a lot of sh!t! Kalau dia benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakat, dia ndak akan menjadi seperti itu.
Penjahat innocent? ::ngakak2::Quote:
Semua penjahat innocent karena yang salah bapaknya, emaknya, tetangganya, ketua RTnya.. ::ngakak2::
Bukan gegabah kayak gitu. Penjahat tetap punya salah pada dirinya, tetapi karena sampeyan mengkaitkannya dgn uang dari pajak, ya begitu alasannya.
Sama saja dgn banyak gelandangan dan pengemis dlm suatu masyarakat. Atau banyak pelaku kriminal dlm suatu masyarakat. Itu tidak lepas dari sistem yg dipakai oleh masyarakat tsb. Masyarakat tetap punya tanggung jawab terhadap 'sampah-sampah' tsb.
Dan soal dendam. Ada yang kayak Kong Sur, pengen mati, ada yang kayak gue, yang pengennya suffering.
Keberadaan hukuman mati dari negara, membantu melimit kemuan oarang2 kayak gue.
Membantu melimit, nggak mengeliminasi.
Dan sejauh mana melimitnya, angka statistiknya aja semua orang masih berdebat. :ngopi:
Kalo gitu hukuman cambuk lebih melimit dong.
No it isn't.
Kacuali di cambuk sampe mati. Banyak yang pengen suffering to the death juga. Itu-pun, artinya hukuman mati malah jadi kedengaran lebih baik.
Terlepas, suffering-nya nggak spesifik seperti yang gue mau.
Cambuk cuma penderitaan beberapa saat, plus, kalo selamat, fisikal scars.
Dalam kasus yang di contohkan Kong Sur, korbannya, yang asumsinya adalah anggota keluarga dekat gue, selain dapat physical scars, dia juga bakal menderita, high possibility, torturing mental scars for the rest of her/his life. Itu kalo nggak jiwanya broken sekalian.
So, di mata gue, yang adil adalah, jiwa si pelaku juga harus di hancurkan, seperti jiwa korbannya hancur, plus dia juga harus merasakan sakit batin yang gue derita ngeliat hancurnya jiwa anggota keluarga gue.
So kalo abis di cambuk 100(atau 1000 ?) kali dia masih idup. Keluar rumah sakit, gue liat dia udah sehat, gue bakalan tetep cari itu orang.
Belom lagi di hitung mereka yang pengen pembalasan 'adil' itu adalah 'an eye for an eye'. Literal. Yang di artikan, lo celakain keluarga gue, keluarga lo nasibnya bakalan sama.
Belum lagi, kalo kita perhitungkan, just face it, ada orang2 yang, karena sesuatu dan lain hal, mentalitasnya kayak anjing rabies yang emang nggak bisa di biarin idup kalo pengen sebuah masyarakat merasa aman dan move on with life.
Belom lagi, kalo di perhatikan kalimat yang kamu gunakan "Kalo gitu hukuman cambuk lebih melimit dong".
Darimana kamu tau kalo hukuman ini bakalan 'lebih' melimit mimpi psikopat orang2 macam gue, dibanding hukuman mati, eh ?
Punya angka perbandingan statistiknya ? Atau cuma asumsi kamu aja ?
Dan kalaupun ada riset statistik dengan akhir kesimpulan demikian; Andaikan ada 10 riset yang kamu ajukan, gue yakin, bakalan ada 10 lainnya yang menentang.
Jadi negara harus 'melayani' mereka yg dendam atas nama keadilan? ::ngakak2::
Saya tidak mendukung hukuman mati oleh negara utk menghindari salah hukuman mati. Negara punya kekuasaan yg besar. Jika itu disalahgunakan, akibatnya buruk buat negara tsb. Kalau sekedar salah hukum, bukan salah hukuman mati, masih bisa ditolerir karena masih ada kesempatan utk membatalkan salah hukum tsb. Sementara salah hukuman mati, tidak ada lagi kesempatan utk membatalkannya, orangnya sudah mati, tidak mungkin hidup lagi.
Utk balas dendam, silakan saja balas dendam sesukanya. Entah langsung bunuh, entah suffering dulu. Entah tepat sasaran, entah tidak. Toh, negara akan menghukum orang yg melakukan kejahatan (membunuh maupun suffering tsb).
Kalo mau diterjemahkan kasar kayak gitu: EMANG IYA.
Bahasa alusnya: "Mamuaskan rasa keadilan". For whatever stands for said 'justice'.
Walaupun nggak cuma itu.
Juga berguna buat 'Manusia Anjing Rabies' yang gue bilang tadi.
TRUE. SETUJU.Quote:
Saya tidak mendukung hukuman mati oleh negara utk menghindari salah hukuman mati. Negara punya kekuasaan yg besar. Jika itu disalahgunakan, akibatnya buruk buat negara tsb. Kalau sekedar salah hukum, bukan salah hukuman mati, masih bisa ditolerir karena masih ada kesempatan utk membatalkan salah hukum tsb. Sementara salah hukuman mati, tidak ada lagi kesempatan utk membatalkannya, orangnya sudah mati, tidak mungkin hidup lagi.
Tapi juga diingat, selain negara, punya kekuasaan besar, negara juga punya resource yang jauh lebih besar daripada individu untuk menyelidiki secara tuntas apakah orang hukuman ini layak mati.
Itu asumsi yang di gunakan hukum yang mendukung hukuman mati. Bahwa, seharusnya, walaupun aturan hukuman mati itu ada, namun sebisa mungkin di lakukan penyelidikan sehabis-habisnya dulu untuk menghindari hukuman tersebut.
So, ya, basically, ini bedanya cara pandang sistem yang anti hukuman mati dan yang pro-hukuman mati. Yang satu bilang Lebih baik menyelamatkan sepuluh penjahat daripada membunuh satu orang nggak bersalah, dan yang lain, jujur aja, kebalikannya, lebih baik nggak sengaja ngebunuh 10 orang yang nggak ada kaitannya daripada melepas satu orang jahat.
Dan mana yang lebih baik, IMHO, you gotta walk in their shoe first. Karena takaran 'penjahat' dan 'nggak tau apa2' itu buat tiap masyarakat beda2 juga.
Dan terkait dengan 'pengalaman' masyarakat yang beda2, itu juga sebabnya pengadilan Internasional masih punya hukuman mati.
Itu karena pengalaman dunia internasional, mereka banyak ketemu orang2 yang kayak gue bilang 'Manusia Anjing Rabies'.
Jelas asumsi lah.
Karena elu bilang "ada yang kayak gue, yang pengennya suffering".
Ya mudah2an elu selalu dapet apa yg lu harapkan. Salah2 malah elu yg suffering sendirian.
Menurut gw sih yg adil itu ga selalu 'an eye for an eye'. Karena selalu ada perbedaan kadar suffering.
Kalo cuman mau memenuhi napsu, c0L1 aja sana. ::hihi::
Tapi kayaknya bukan tugas pemerintah memuaskan napsu segelintir rakyat dah..
Astagafirullah hal 'azim.
Na'udzu billahi min Dzalik. Do'a yang buruk.
Kebayang nggak apa yang harus terjadi sama satu individu sampe dia bisa punya impian jelek kayak gitu ?
Omong kasar gini di perlukan ?Quote:
Kalo cuman mau memenuhi napsu, c0L1 aja sana. ::hihi::
Watch it, kid. ::grrr::
Lo cukup serdas kok untuk mengkomunikasikan ide yang sama dengan bahasa yang lebih sopan.
Jiahhh tritnya jadi makin panas membara begini. Tolong es cendolnya semangkok bang!
Bukan spekulasi ini tepatnya yang saya maksud. Kembali ke laptop aja ahhh
Pesona BRICS sudah pudar sih sekarang, jadi memang ada alasan untuk meremehkan ::hihi::
Kok ukurannya piala dunia ::elaugh::
Gimana kalo ukurannya All England.
Iye nih ndableg kok ndak sopan sih? Padahal momod loh...