Originally Posted by
Alip
Sorry jarang muncul...
Masalahnya begini, dalam kasus-kasus yang melibatkan emosi yang kuat, apalagi sampai menimbulkan trauma, ada kecenderungan untuk mencari penghiburan atau ketenangan melalui pemahaman atau penjelasan, dus, terjebak pada tahap "kenapa".
Kok bisa?
Ya kejadiannya memang begitu.
Pernah gak ketemu orang yang kerjanya curhat melulu tapi sama sekali menutup diri terhadap solusi atau tindakan-tindakan yang memecahkan masalah? Atau bolak-balik bertanya-tanya "kenapa" padahal jawabannya sudah jelas terang benderang?
Itu adalah dinamika kejiwaan yang kalau dibilang wajar pastinya nggak, tapi ternyata cukup banyak ditemui. Jadi orang yang bersangkutan sepertinya berusaha menghibur diri dengan terus menerus berusaha memahami apa yang terjadi padanya. Menggali lagi dan menggali lagi. Beberapa ahli menduga perilaku ini merupakan cara salah kaprah untuk menghargai diri sendiri, yaitu dengan merasa bahwa hal yang menimpanya adalah peristiwa berat luar biasa. Sayangnya, perilaku ini justru menyebabkan seseorang menolak memecahkan masalahnya, karena begitu masalah itu terpecahkan, dia bukan lagi siapa-siapa.
Karena itulah saya dan istri sepakat bahwa meskipun kami perlu berempati pada orang yang datang ke kami dengan masalah, kami harus menolak kalau dia sekedar ingin pembenaran dari kami bahwa dia adalah manusia paling menderita di dunia. Karenanya kami fokus pada "bagaimana" ketimbang "mengapa". Pada prakteknya, kadang kita tidak perlu tahu kenapa seorang laki-laki bersikap kasar pada istrinya, asal dia menyadari sikap itu dan mau berubah, banyak sekali terapi yang bisa dilakukan tanpa perlu tahu sebenarnya akar permasalahannya di mana.
Ya gitu deh... beberapa kekerasan kadang-kadang muncul tanpa sebab, tapi bisa berakibat... apalagi di usia belasan sampai akhir 20-an... ::hihi::