Originally Posted by GiKu
berikut asal muasal kejadian dari photo di atas
Opera dengan ragu-ragu masuk ke Wartel 24 jam pada waktu tengah malam. Opera itu kemudian berbicara dengan Urju sang penjaga wartel tersebut.
Opera: "Mas, aku mau pakai telpon tapi aku nggak punya uang.
Urju: Lha, mana bisa pakai telpon tapi tidak bayar."
Opera: "Tapi ini penting sekali dan saya harus telpon simbok saya di kampung."
Urju: "Ya, itu kan masalah anda pribadi tetapi kalau telpon disini yah... harus bayar."
Opera: "Tolonglah mas, ini benar-benar penting... Saya mau melakukan apa saja yang penting saya harus bisa telpon simbok saya dikampung."
Urju itu berpikir sebentar dan tiba-tiba dia tersenyum...
Urju: "Benar ya?, begini aja saya bisa bantu mBak untuk telpon ke kampung tapi mBak harus mau mengikuti kemauan saya."
Opera dengan ragu-ragu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Urju: "mBak, ikut saya ke belakang (sambil senyum-senyum)"
Kemudian dengan dituntun oleh Urju sang penjaga wartel, mereka berdua berjalan kebagian belakang wartel.
Urju: "Sekarang mBak harus jongkok" (katanya sambil berdiri dihadapan sang penjaga wartel)."
Urju kemudian membuka celananya dan mengeluarkan "anu"nya pas didepan wajah si Opera yang dalam posisi jongkok.
Urju: "Ayo..." (katanya dengan tidak sabar)
Opera itu kemudian dengan sangat ragu-ragu dan perlahan menggenggam "anu" si Urju. Urju benar-benar sudah BT (birahi tinggi) dan mulai habis batas kesabarannya.
Urju: Ayo cepat... tunggu apa lagi? ... kamu mau telpon tidak?
Opera itu dgn gemetar mendekati "anu" dalam genggamannya... dan berkata, "Halo... Halo..., ini simbok ya?"