Wowo sedang mempermalukan dirinya sendiri. Kasian. He desperately needs help.
Wowo sedang mempermalukan dirinya sendiri. Kasian. He desperately needs help.
itu di berita ya....liat pendukungnya ada yg nyamain dia sama titisan nabi apa Tuhan gitu ;D
Barusan baca2 berita Kompas seputar sidang MK, lucu2 pas bagian keterangan saksi2. :mrgreen:
Saksi Prabowo, Bendot, Kewalahan Ditanya Hakim MK
http://nasional.kompas.com/read/2014...tanya.Hakim.MK
Hakim Tegur Saksi Prabowo yang Pakai Bahasa Daerah dalam Sidang MK
http://indonesiasatu.kompas.com/read...alam.Sidang.MK
Saksi Prabowo Ini Adukan Kelebihan 1 Suara di TPS-nya
http://nasional.kompas.com/read/2014...ara.di.TPS-nya
[b]Saksi Prabowo-Hatta Sebut KPU Kota Semarang Tak Sosialisasi Aturan "Nyoblos" di RS
http://indonesiasatu.kompas.com/read....Nyoblos.di.RS
Hakim MK Peringatkan Saksi Prabowo yang Tak Lihat Langsung Kejadian
http://indonesiasatu.kompas.com/read...gsung.Kejadian
Salah Data, Saksi Prabowo-Hatta Ralat Keterangannya di MK
http://indonesiasatu.kompas.com/read...angannya.di.MK
Hakim MK Minta Saksi Prabowo-Hatta Jangan Cerita yang Tak Jelas
http://indonesiasatu.kompas.com/read...yang.Tak.Jelas
Saksi Prabowo-Hatta Menangis dalam Sidang MK
http://indonesiasatu.kompas.com/read...alam.Sidang.MK
Hakim MK Sebut Saksi Prabowo-Hatta Main-main soal Penambahan DPKTb
http://indonesiasatu.kompas.com/read...nambahan.DPKTb.
:ngopi:
Bahhh gara2 dagelan kayak gini gagal memanfaatkan momentum ekonomi capcai dah
Kalau mau lihat catatan yang lengkap, di situs MK ada.
Spoiler for Risalah sidang 6 Agustus:
Spoiler for Risalah sidang 8 Agustus:
Sayang, berkas perbaikan permohonan yang diserahkan tanggal 7 Agustus kemarin belum diunggah ke situs MK.
para saksi itu kok kayaknya cuma pion yang disuruh doang ya?
Bukan orang2 yang bisa mempertanggung jawabkan apa yang dia bela, atau dibawa bersaksi.
Melainkan hanya pemanfaatan orang2 yang lugu nan bisa disuruh apa aja ::doh::
Wah.. ini malah ada yg mengancam rusuh..
https://www.youtube.com/watch?v=x3t8xEmBXjM
Kawan saya yang terlibat dalam salah satu IT-nya KPU beberapa minggu lalu sebelum lebaran atau sesudah Tim Prabowo memasukkan berkas (lebih tepatnya setelah heboh blog "audit KPU"), mengajak tim IT-nya Prabowo untuk membuka data gugatan untuk mempermudah melakukan pemetaan wilayah yang hasilnya dijadikan sengketa. Selain mengajak tim IT KPU juga mengajak tim independen seperti KawalPemilu.
Tim IT Prabowo sebenarnya tertarik tetapi ketika minta izin hasilnya..
http://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.ne...90925362_n.jpg
Tim hukumnya Prabowo melarang.
komentar kawan saya, "setelah sabar menunggu sekian lama, berikut jawabannya. jadi kita gak bisa juga bantuin memetakan tps2nya jika mereka memang tidak bersedia. padahal sistem sudah disiapkan. tapi itu sepenuhnya hak mereka, kita hanya ingin bantu agar masalah ini cepat selesai."
tuh kan, kenapa sih dibagi2 jadi artikel2 kecil gitu
kenapa ga bisa dikonsolidasi jadi satu aja ::arg!::::arg!::::arg!::
padahal jeda waktu juga ga seberapa menit gitu loh ::arg!::
dan ini adalah kompas, editornya ngapain aja ini
dammit!
eh kalo saya perhatikan, ternyata si ketua baru mk hamdan zoelva ini cakep juga ya :cengir:
yang pdf mah kepanjangan :cengir:
maksudku secara jurnalistik, kupikir ngga perlu dibagi2 sampe jadi artikel kecil2 gitu. they all have common theme, yaitu lemahnya pernyataan kesaksian2 dan funny moments, semuanya dalam event yang sama di hari yang sama. bahkan artikel2nya pun dipublish dalam waktu berdekatan. pembaca berita seperti kita2 ga perlu disuruh ngeklik satu2 artikelnya. harusnya bisa ditaro dalam satu article lebih panjang dengan highlight point masing2 artikel tadi.
^
Seperti yg pernah kubilang di tret sebelah, ya memang begitulah model berita (Kompas) online, bukan model (Kompas) cetak yg terbit harian. Targetnya adalah kejar tayang/muat.
Sejarahnya kurang lebih begini...:
Dulu, saat awal2 media cetak memasuki dunia online, model beritanya masih disatukan seperti gaya cetak. Jika ada update tidak dibuat berita baru tetapi berita lama judulnya hanya ditambahkan kata "Updated!: Jam-Hari-Tanggal".
Lalu apa hasilnya? Nihil, dlm arti hits (readership) nya kecil krn orang cenderung enggan nge-klik tautan yg sama untuk baca berita meskipun ada update tapi mereka sering kecele krn setelah mereka klik ternyata update nya "ndak signifikan" (ndak sesuai dgn apa yg pembaca bayangkan/harapkan sebelumnya).
Lalu muncullah, waktu itu, apa yg disebut sbg "Breaking News" yg ditampilkan didepan dan diakhir tulisan diberi tautan "baca selanjutnya" atau "full story" untuk masuk ke satu cerita yg utuh. Cara ini juga ndak berhasil krn kesannya jadi "ber-belit2" dus ndak berhasil meningkatkann hits pembaca.
Akhirnya jadilah model berita online seperti yg kita lihat sekarang, "all news is a breaking news", dgn konsekuensi diantaranya seperti yg dikeluhkan Ndugu tsb. Tapi memang model berita online seperti inilah yg dianggap paling efektif dan berhasil meningkatkan hits pembaca dus meningkatkan nilai komersial (baca: iklan) dari media online ybs.
Dan itu tidak hanya terjadi di Indo aja lho, tapi bahkan terjadi juga di Amrik, khususnya media cetak besar yg masuk ke online. Bahkan apa yg dilakukan media cetak di Indo banyak berkiblat khususnya ke New York Times dan Washington Post di masa2 transisi "cetak ke online".
Begitulah "evolusi" media cetak ke media online sampe pada bentuknya yg kita lihat sekarang. Prosesnya bukan "ujug2" melainkan melalui "trials & errors" yg panjang". :)
(Note: Saya dulu banyak terlibat waktu awal2 The Jakarta Post masuk ke online di thn 2000an, barengan dgn media2 cetak lain khususnya Kompas, namanya KCM waktu itu. Kami dulu sering ngobrol untuk sharing masalah content ini barengan sama mas Budi dan kang Yayan founders nya Detik).
Sori kalo jadi OOT... ::maap::
:ngopi:
[MENTION=912]234[/MENTION]: ::up::::up::
jelas aja hits naik kalo beritanya dipisah sampe secuil2 gitu. lha, pembaca disuruh ngelik satu persatu gimana ga naik counternya :cengir:
but it's a ridiculous practice, man. kalo seandainya tema beritanya sama tapi di dua hari yang berbeda (karena otomatis insiden akan berbeda), itu saya bisa mengerti. tapi dalam kasus di atas, it really shouldnt be separated. although at least untuk kasus artikel kompas di atas mereka mempunyai decency menyisihkan 1-2 paragraf terakhir untuk memberikan sedikit konteks ke pembaca.
i dont read much nytimes (kadang aja, soalnya mereka membatasi jumlah artikel/day yang bisa dibaca *pelit.com*), dan mungkin karena kalo pun ada artikel nytimes/wash post yang saya baca, they are usually berita feature. untuk yang lebih breaking rasanya saya biasa lebih ke associated press (mostly through yahoo). dan prakteknya mereka biasa meng-append update berita di artikel yang sama. yang baru di paragraf2 di atas, yang lama / konteks kedorong ke bawah, tapi strukturnya masih sangat rapi dan mengalir, ngga asal copy paste blindly. jadi artikelnya menjadi cukup dinamik, terutama saat suatu event yang dicovernya bener2 lagi breaking, kita bisa ngeliat artikelnya berevolusi. sampe at one point (when dust settles), artikelnya dirapiin dan menjadi one full blown article. the great thing about this is, untuk pembaca yang jump in ke artikel ini, at any time of the news is written, mempunyai konteks mengenai berita itu.
itu masalah utama saya dengan jenis berita yang dipisah2 gitu. sering saya baca satu artikel stengah-mateng gitu (ya mostly berita indo itu lah), and i have no freakin idea what it is about. *jeduk2 kepala*. jadi saya harus gali2 artikel2 laen untuk mengerti latar belakang eventnya. i mean, seriously. they are not making it easy for the readers. ::arg!::::arg!::
Ketua KPU DKI Ditangkap!!!
http://news.liputan6.com/read/103173...-resmi-ditahan
::ngakak2::::ngakak2::::ngakak2::
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sembilan tahun lalu.
coba liat, dia sekarang di mana..
http://news.detik.com/pemilu2014/rea...aaf-mengganggu
[MENTION=39]ndugu[/MENTION]
Yaaa...memang begitulah yg namanya...industri. ::hihi::
Unsur pragmatismenya sangat kental, bukan se-mata2 idealisme tok. Asal ndak sampe terjebak ke bentuk opportunisme, dan selama content beritanya bisa independen, bagi saya masih oke2 aja. Soal style, format dan kemasan berita saya masih bisa memaklumi asal ndak parah2 amat. Btw saya salut sama Karni Ilyas yg memilih untuk "cuti panjang" dari TVOne selama masa pilpres meskipun naga2nya kayaknya ndak bakal mau, bahkan mungkin memang ndak boleh oleh si pemilik modal (Ical), balik lagi ke TVOne mengingat reputasi TVOne yg selama pilpres ini menurutku udah benar2 terpuruk integritasnya dr sisi jurnalistik.
Kalo sebagai "konsumen", kita ya tinggal terima nasib aja dgn kondisi industri media seperti itu. ::arg!:: Tinggal pinter2nya kita aja sbg pembaca dlm me-milah2. Di sebuah tret lain saya pernah sampaikan bahwa untuk hard news (update, news break, dll) preferensi saya adalah Detik dan Kompas, sedangkan untuk artikel opinion, news analysis, features, dll saya prefer baca Tempo atau The Jakarta Post (TJP).
Tapi coba aja googling sebuah topik tertentu dan lihat hasilnya, maka kedua media yg saya sebut terakhir itu adanya tercecer jauh di belakang, alias hits nya kecil, alias "ndak laku". Untuk TJP ndak terlalu pengaruh krn dari dulu pembacanya memang relatif sedikit, pasarnya sangat segmented, niche, tapi "pembacanya fanatik" shg relatif bisa terus bertahan. Sedangkan Tempo, kalo ndak segera melakukan reshaping, bahkan reinventing, prediksiku ndak akan bisa kuat bertahan lama lagi. Nasibnya akan bisa sama dgn, misalnya seingatku, The Boston Globe dan beberapa media cetak besar di Amrik yg gulung tikar krn gagal menghadapi arus perubahan gelombang informasi online.
Ya iyalah, bandingannya jgn sama AP. Itu lain cerita. :mrgreen:Quote:
i dont read much nytimes (kadang aja, soalnya mereka membatasi jumlah artikel/day yang bisa dibaca *pelit.com*), dan mungkin karena kalo pun ada artikel nytimes/wash post yang saya baca, they are usually berita feature. untuk yang lebih breaking rasanya saya biasa lebih ke associated press (mostly through yahoo). dan prakteknya mereka biasa meng-append update berita di artikel yang sama. yang baru di paragraf2 di atas, yang lama / konteks kedorong ke bawah, tapi strukturnya masih sangat rapi dan mengalir, ngga asal copy paste blindly. jadi artikelnya menjadi cukup dinamik, terutama saat suatu event yang dicovernya bener2 lagi breaking, kita bisa ngeliat artikelnya berevolusi. sampe at one point (when dust settles), artikelnya dirapiin dan menjadi one full blown article. the great thing about this is, untuk pembaca yang jump in ke artikel ini, at any time of the news is written, mempunyai konteks mengenai berita itu.
Menurutku AP ndak bisa disebut "murni industri". AP adalah kantor berita (news agency) seperti halnya Reuters, AFP, FT, Bloomberg, dll yang kalo di Indo adalah LKBN Antara. Mereka memang murni "jualan berita", bukan hidup dari komersial (iklan). Dan setahuku, CMIIW, kantor berita dibackup dan disubsidi pemerintah ybs.
Kedua, format breaking news memang udah jadi santapan se-hari2 mereka pada dasarnya. Dari awal dibentuk tujuannya memang untuk itu, menyebarkan berita2 update untuk sumber bahan kutipan media (khususnya cetak). Format tulisan mereka ndak berubah dari jadul (jaman broadcast, atau bahkan peer-to-peer, via satelit) sampe era online via Internet seperti sekarang.
Poin saya, mereka (kantor berita) memang ndak mengejar hits. Coba cek via googling, pasti berita2nya ngumpet ndak muncul (paling2 kalo muncul pun scr ndak langsung, tapi via portal berita lain kayak misalnya yahoonews), soale hits mereka memang kecil banget. Jangan2 dibandingkan dgn KM pun masih kalah peluang kemunculannya di Google. :mrgreen:
***
Sedikit BTT...
Menurutku sampai kapanpun yg namanya Prabowo ndak bakalan legowo. Dus potensi konflik kedepannya masih terbuka.
Sekarang menurutku kuncinya ada ditangan SBY (Demokrat). Saya berharap pasca putusan MK nanti Demokrat secepat mungkin harus langsung mengambil sikap dan posisi yg tegas. Harapanku sih mereka merapat ke Jokowi-JK supaya transisi pemerintahan bisa berjalan mulus. Kalo tidak pun, Demokrat minimal harus scr tegas keluar dr "koalisi permanen" entah seterusnya mau menjadi "poros netral" ato nyari partner koalisi baru membentuk "poros oposisi" tersendiri. Selain itu, kayaknya negara bakal terjadi...goro-goro.
Tapi saya masih optimistis kok, Prabowo bentar lagi bakalah "habis atau dihabisi". Mungkin setelah melewati rusuh sebentar, tapi menurutku skalanya relatif kecil ndak sampe meluas dan ber-larut2.
:ngopi:
Coba deh kadar kegantengan juga dipertimbangkan untuk jadi pejabat di Indonesia biar mbaca/nonton berita rada semangat.
Yang jelek-jelek seperti si Eggi Sudjana ngomong di radio saja. Hanya yang ngganteng boleh masuk tipi. Even when they're full of shite, they're easy on the eyes. 8->
Andaikan prabowo bisa sadar, skrg ini lg ada upaya terstruktur, sistematis dan masif utk character assassination atas prabowo, probably dirancang oleh orang-orang lihat skitarnya di luar partainya.
Makin dia ngotot maka makin tlihat banyak salah dan lemahnya dia.
Makin dia ga legowo makin besar juga biaya yg ia keluarkan.
Makin lama makin exposed bualannya dan kdangkalan informasinya.