nah orang2 seperti inilah yang cenderung dicap sebagai Agama KTP.. karena mereka hanya agama dimulut dan di KTP namun cenderung mengabaikan apa yang diperintahkan dan dilarang... yang paling parah kalo sampai mengingkari saja...
Printable View
@ bun...
kalo ampe ke pengadilan negeri ribet banget yah..belum lagi birokrasi di PN bisa abis puluhan tuch ampir sama aja kaya di luar negeri...kalo ikut ritual salah satu agama...kok gue sangsi yah emank bisa???...hhhmmm....kalo cerita seleb gitu sich gak yakin..sejak kapan gereja gak bikin persyaratan kalo harus ada akte baptis dll, kalo mo akad nikah sejak kapan KUA gak minta KTP dan keliatan kan agamanya apa di KTPnya...
di KUA lo bisa akalin nikah siri dulu trus daftarin ke KUA. ya sekarang yg jd p'tanyaan, apa yg lo cari dr pernikahan?
setau gw sih emang orang yg mau nikah beda agama dan mau prosesnya berlangsung dengan cepat baiknya ke luar negri, kalo dibikin di Indonesia terlalu lama dan ribet.
Mungkin masalah pertentangan boleh apa enggak itu tergantung pribadi masing-masing aja, kalo dalam pernikahan se-agama aja banyak jurangnya ya apalagi yang beda agama. Pasti makin banyak perdebatan dalam pernikahan yang kadang ga bisa diduga oleh org yang nikah seagama.
Contoh sederhananya aja: suaminya yang meninggal masih beragama kristen, sedangkan istrinya beragama islam. Pasti dalam proses penguburannya bakalan terjadi konflik antar keluarga si suami dan istri yg masih hidup. Biasanya sih anak-anaknya juga ikutan repot. Nah disini letak perbedaannya kalo orang yg menikah se-agama gak usah repot ribut tentang proses penguburan secara agama apa :D
kalo lo cari keselamatan dunia akhirat, pi, sebenernya dari hati kecil lo tau apa yg harus dilakukan. p'tanyaan: berani?
Kalo persoalannya boleh ato ndak boleh, menurutku, agama apapun pada dasarnya melarang (tidak membolehkan) nikah beda agama. Jadi kalo mau pake patokan agama ya sebaiknya nikah beda agama dihindari.
Tapi kalo ndak mau pake patokan agama atau menurut istilah yg muncul disini "agama bukanlah visi n misi hidup", kenapa ndak sebaiknya kedua belah pihak sama2 "murtad" pindah ke agama baru (dalam kasus ini misalnya sama2 pindah ke Hindu ato ke Buddha) lalu kemudian baru menikah scr aturan agama tsb?
Menurutku, secara "dunia" (baca: sosial) itu resikonya lebih kecil daripada kalo salah satu pihak harus "murtad" mengikuti agama yg dianut oleh pasangannya ataupun kedua belah pihak sama2 tetap mempertahankan agama masing2. Tapi bagaimana dgn resiko "akhirat"? Silahkan baca paragraf pertama!
Btw...Ada orang tipe safety player, ada juga tipe risk taker. ::hohoho::
:ngopi:
Sepertinya tidak juga. Tidak semua agama begitu. Setidaknya dalam agama Buddha tidak ada larangan seperti itu. Tentu saja ada banyak juga penafsiran lain dalam Agama Buddha, tapi setidaknya arus utama yang banyak dianut orang adalah yang tidak melarang.
Spoiler for Sumber:
nikah siri emank gak ada persyaratan soal agama yah???..baru tau gue kalo itu..hhhmmm....kalo ditanya apa yang dicari dipernikahan yah sama kaya pasangan yang nikah umumnya bukan???..kalo soal akhirat??...nah itu gue rasa gue gak bisa bisa ikut campur....bukan hak gue buat nentuin ntar gue di akhirat ada dimana...itu haknya Allah..
Ada yang bilang (silakan kata 'ada' digarisbawahi lagi kalau mau::hihi::) kalau Nailah binti Farafishah yang terkenal teladannya itu masih beragama Nasrani ketika dinikahi oleh sahabat Rasul, Usman bin Affan... lalu ada pula sahabat-sahabat lain yang menikah dengan wanita Yahudi dan Nasrani, misalnya Hudzaifah yang menikah dengan seorang wanita Yahudi dari Madain (sayang tidak disebut namanya) ...
Eh, ada yang tau nggak, istri Rasulullah, Siti Mariah, sudah masuk Islam belum ketika dinikahi oleh Rasulullah (kalau ikut interpretasi yang beliau dinikahi Rasul, bukan cuma selir)?
-> Prameswara Li
Kalo kata "larangan" tsb dilihat pake kacamata agama wahyu sbg sesuatu yg "jika dilanggar maka berdosa"... Yup, setahuku ajaran Buddha memang tidak "melarang" nikah beda agama (termasuk dlm pengertian "nikah secara non-Budhist"). CMIIW.
Tapi kalo itu dilihat pake kacamata umum sbg sesuatu yg "sebaiknya dihindari" rasa2nya tanpa perlu buka kitab/ajaran agama pun itu udah cukup jelas.
Dan kalo saya sengaja memilih kata "sebaiknya" dlm posting sebelumnya krn saya memang sdg bicara soal "resiko" (untuk kedua belah pihak).
*Ngambil kacamata sambil kabooorrr... :run:
:ngopi:
mau nanya yg masih berhubungan dengan nikah beda agama (tapi kalo ternyata kurang cocok dan perlu dibuat thread lain, nanti g pisah)
seandainya ada wanita muslim dan pria non muslim menikah, tapi tanpa restu dihadiri oleh ortu pihak wanita
apakah pencatatannya bisa disahkan di KUA?
atau mereka hanya bisa menikah siri dengan kehadiran pihak2 tertentu saja? misal wali hakim?
@podol:
tentu saja bisa, hanya jika si pria bersedia mengikuti persyaratan (tatacara islam)
klo nikah sirri mah gak perlu wali hakim, krn dlm nikah siri gak perlu ada hakim yng terlibat.
persoalan yng timbul kemudian adlh:
perlu legitimasi (pengakuan) dari lembaga tertentu gak?
klo tidak perlu, krn yng dibutuhkan hanya syarat sahnya saja scr agama
yowis, nikah model daun siripun dah cukup.
tetapi klo kemudian berfikir dari sisi legal aspek untuk kedepannya
tentu harus dilegalkan kelembaga yng mengakomodir pencatatan perkawinan
soal pencatatan ini penting, tdk bisa diremehkan sbg sekedar perlengkapan
administratif belaka misalnya, krn didalamnya terkandung aspek perlindungan
jika timbul perselisihan/sengketa hukum.
kalo yg udah nikah itu ngakunya mereka punya akta nikah gimana?
pernikahan mereka dilaksanakan secara islam atau ga jadinya?
bilangnya wali hakim yg mensahkan, karena salah satu pihak keluarga tidak hadir (tidak merestui)
lalu kalo tentang masalah warisan gimana ya?
apa pihak wanitanya masih bisa menuntut waris dari ortunya? (kayanya harus bikin thread baru masalah ini)
Siti Mariah atau Mariyah al-Qibtiyah?
bisa chek ini jugaQuote:
Rasulullah mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.
Rasulullah teläh menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah masjid.
saus
Quote:
Pada tahun ini, Hātib b. Abi Balta'ah kembali dari al-Muqawqis membawa Māriyah dan saudaranya Sīrīn, bagal betinyanya Duldul, dan keledainya Ya'fūr, dan pakaian-pakaian. Dengan dua wanita al-Muqawqis, telah dikirimkan kepadanya seorang kasim, dan surat tersebut ada padanya. Hātib telah mengajaknya masuk Islam sebelum akhirnya tiba bersama mereka, dan begitu pula Māriyah saudaranya. Rasulullah menempatkan mereka untuk sementara dengan Ummu Sulaym binti Milhān. Māriyah sangat cantik. Nabi mengirim saudaranya Sīrīn kepada Hassān bin Tsābit dan dia melahirkan 'Abdul Rahmān bin Hassān.
—Tabari, Tarikh at-Tabari.[2]
chek this
mengenai Na'ilah binti Al-Farafishah, ada beberapa riwayat, semoga tidak menjadikan fitnah
artinya ketika berumah tangga, Na'ilah dengan rela masuk agama Islam dan satu aqidah dengan suaminya...jadi merekatidak membangun rumah tangga dalam 2 agama yang berbeda.Quote:
Farafishah meminta anak lelakinya yang Muslim, Dhab, untuk menikahkan adiknya itu dengan Utsman. Na’ilah saat itu pun masih seorang Nasrani. Setelah diboyong ke Madinah dan menikah dengan Utsman, barulah ia memeluk Islam
bacal
Dalam masa Rasulullah memang diperbolehkan....tapi kalau saya ulas panjang2 di sini, gak guna sih....apakah penganut agama samawi non Islam disini masih bisa dikategorikan ahli kitab? pasti puanjanggggggggggggg debatinnya
Jadi simpelnya sih saya tetap pada prinsip, kalau kamu yakin perbuatanmu benar, silahkan, seperti kata kalian, dosa kalian dan urusan kalian itu kuasa Allah...simpel sih pertanyaannya kemudian, Allah sudah menurunkan syari'atnya, tinggal kalian mau membuka pikiran dan nurani kalian, mau tunduk gak sama Allah atau terus mencari dalil sekedar membenarkan tindakan kalian
LAH, klo dah nikah secara dicatatkan ke lembaga yng menangani urusan pernikahanQuote:
Originally Posted by Porcelain Doll
ya tentu saja punya akta/surat nikah dong?
jika dlm kasus yng podol contohkan, yakni
pria non-muslim bersedia mengikuti tatacara calon istrinya yng muslim
tentu saja pernikahan dilaksanakan dlm tatacara islam.
dlm kasus mengapa hingga ada wali hakim pada tatacara pernikahan islam
tentu ada konsiderannya, spt misal:
yng berhak menjadi wali mempelai peremp spt ayahnya, saudara laki2 ayahnya
kakeknya atau kakak laki2nya tidak ada/terputus pertaliannya (sudah pada meninggal atau
tdk diketahui rimbanya). Atau dng pertimbangan menjaga kemaslahatan umat dan mencegah
terjadinya hubungan illegal, maka hakim pengadilan agama mengambil alih perwalian mempelai
yng minta untuk segera dinikahkan, tetapi terkendala oleh persyaratan perwalian.
dlm tatacara pernikahan islam, keharusan ada wali adlh hanya mempelai peremp
untuk menikah yng pertama kali.
klo dari pihak peremp (muslim) tanpa harus menuntut warisan dari ortunyaQuote:
lalu kalo tentang masalah warisan gimana ya?
apa pihak wanitanya masih bisa menuntut waris dari ortunya? (kayanya harus bikin
thread baru masalah ini)
jika ada yng diwariskan, tentu akan mendapatkan haknya.
tetapi klo yng dimaksud adlh warisan dari pihak ortu pria (non-muslim), entahlah
apakah dlm agama/keyakinan pria dimaksud ada mengatur soal waris spt halnya islam? ::managuetahu::
makasih infonya, mbah
berarti g bisa ambil kesimpulan, kalau dia dinikahkan wali hakim itu untuk alasan kedua
mencegah hubungan illegal ya?
karena wali yg sah sebetulnya masih ada semua dan diketahui keberadaannya
hanya tidak bersedia menjadi wali karena tidak merestui pernikahan tersebut
kalau ada adik laki2, bisa jadi wali juga tidak ya? ::ungg::
LAH, piye to iki?
podol:
justru konsideran kedua itulah sbg solusi (emergency exit)
untuk kasus2 pernikahan yng perwaliannya diboikot oleh pihak keluarga
krn atas desakan mempelai sendiri yng minta untuk segera dinikahkan
maka, hakim memandang situasinya menjadi darurat, sehingga
perwalian diambil alih oleh hakim untuk melaksanakan pernikahan
orang sudah sama2 seneng n ngebet pengen kawin jgn dihalangi
atau dipersulit, daripada mereka nanti melakukan hal2 yng tdk terpuji
itulah dasar pertimbangannya.
wali adik laki2 tdk bisa diterima
krn kedewasaannya dianggap dibwh yng dinikahkan.
boleh kok adik laki2 jadi wali asal sudah baligh.
saya beberapa kali mengikuti pernikahan dengan wali adik laki2
^ setau saya juga begitu
Urutannya:
1. Ayah kandung
2. Kakek (ayah dari ayah kandung)
3. Saudara laki2 (kakak/adik) seayah dan seibu
4. Saudara laki2 (kakak/adik) seayah
5. Anak laki2 dari saudara laki2 yang seayah dan seibu
6. Anak laki2 dari saudara laki2 yang seayah
7. Paman (saudara laki2 dari ayah kandung)
8. Anak laki2 dari paman
Tentu semuanya dengan catatan sudah baligh
cmiiw
jangan lupa, anak kandung laki-laki juga...
jadi ingat waktu Mak Munaroh menikah dengan Eng
kong nya si Doel :)
---------- Post Merged at 06:46 AM ----------
yup, ponakan-ponakan gw, yang ayahnya sudah
meninggal, dinikahkan oleh adik bungsu mereka.
lucu dah, abis akad, si wali cium tangan pengantin
O iya anak kandung laki2 juga..
Cuman lupa dia urutan ke berapa, kalo nggak salah
ke-3 ato ke-5 gitu..
ini yng dikamsud anak kandung laki2 pihak sapa yak?
klo anak kandung laki2 pihak mempelai wanita, apa gak janggal?
katakanlah fere misalnya
masa jadi wali nikah emaknya?, itu pertama
kedua, janda klo nikah lg kan tdk mewajibkan adanya wali?
Iya betul mbah pasing..
Itu semua yg disebut di atas dari pihak mempelai wanita,
jadi yg dimaksud anak kandung laki2 itu, si anak jd wali buat emaknya..
tapi kan ujung2nya mereka itu masuk islam ::hihi::
artinya syarat yg di syaratkan oleh pendapat no 1 itu sudah dpt dijalankan.
BTT..
klo soal nikah beda agama, in the real life sih mnurut gw kuat2an aja.... siapa yg paling ngotot.
kayak bokap nyokap gw...akhirnya bokap gw yg ngalah pindah ikut nyokap gw (Alhamdulillah ya...soalnya nene gw ngancem ga mao dateng klo nyokap gw nekat kawin beda agama. akhirnya krn nyokap gw lebih berat ke ortunya ya dia ultimatum bokap gw)
ehh ksini2 bokap gw malah jadi yg paling aktif di Muhammadiyah. malah yg nyuruh gw pake jilbab aja adalah bokap. gw nyanyi jingle bells aja dirumah dilarang ::hihi:: no sara mohon maaf ya buat temen2 gw dsini yg nasrani (harap maklum). tp hub keluarga nyokap en bokap sih baik2 aja. klo ada acara keluarga, menunya di bikin 2 meja. yg pork dan no pork.
pernah ada kejadian lucu, pas lg dirumah nene gw yg dr bokap kan udah masuk magrib...
eh bokap gw ngeloyor sholat magrib dulu...DAN dia adzan dunk dirumah nene gw ::tepokjidat:: dengan suaranya yg cetar membahana itu...;D
trus kakak gw. dia tuh pacaran ud jungkir balik cinta mati ama ceweknya. tp beda agama.
emak gw rada ga rela klo kakak gw kawin sama si doi.
pdhal ama keluarga disuruh pengertian, kan dulu kasusnya sama.
kakak gw jg keliatannya udah can't live without her.
gw dah yakin aja, kakak gw nih yg bakal pindah (secara si ceweknya jg dpt tekanan dr keluarganya dia ga bole pindah agama).
eh ga tau gmn ceritanya, malah cewek kakak gw yg pindah agama. en sehari sesudah ijab kabul langsung pake jilbab ::hihi::
malah mnurut gw, si ipar gw ini lebih rajin puasa drpd kaka gw ::hihi::::hihi:: ya alhamdulillah deh ^^v
oh iya, cerita satu lagi.
klo dlm gereja ada yg nikah trus yg duduk di kursi gereja itu warna warni..ada yg pake jilbab dan ada yg enggak..itu pasti keluarga gw. ::hihi::
yoweslah, demikian sekelumit cerita perbedaan dalam harmoni. caelah
Nah begini yang asyik... jadi kalau ada diskusi, kita mengeluarkan apa yang kita tahu mengenai suatu topik, atau apa yang kita ketahui sebagian, sehingga orang lain bisa keluar dengan apa yang mereka ketahui atau kelengkapan dari apa yang kita ketahui sebagian itu. Dengan begitu kita jadi saling belajar. Lepas dari keyakinan apa yang nanti dipilih -karena itu memang dikembalikan ke individu masing-masing-, kita melakukannya dengan informasi yang lebih banyak/lengkap dari sebelumnya.
Mengenai Nailah,
Sumber yang saya miliki menyebutkan bahwa beliau masih menganut agama Nasrani ketika beliau menikah dengan Usman bin Affan... makanya saya tulis: "...masih beragama Nasrani ketika dinikahi oleh sahabat Rasul, Usman bin Affan". Sayangnya saya cuma punya hard copy, dan ketika dulu pernah cari rujukannya di internet, yang keluar seperti yang dikutip oleh Bundana di atas. Tidak ada rujukan definitif tentang agama yang dianutnya ketika menikah. Tapi memang banyak referensi tentang kehidupan berkeluarga Usman yang menyebutkan bahwa sesudah menikah Nailah sudah memeluk Islam.
Begitu pula kasus Hudzaifah yang menikahi wanita Yahudi, saya tidak punya berita soal kelanjutan pernikahan itu sesudahnya. Termasuk pula sahabat-sahabat yang menikahi perempuan-perempuan Nasrani dan Yahudi sesudah penaklukan Kufah. Tapi ketika dinikahi, wanita-wanita tersebut masih memeluk agama mereka sebelumnya.
Yang saya pahami sih, kaum Ahlusunnah membolehkan pernikahan laki-laki muslim dengan perempuan ahli kitab, yang tidak membolehkan adalah ulama dari golongan Syi'ah, baik yang Imamiyah maupun yang Zaidiyah. Diantara Ahlusunnah sendiri ceritanya terbagi-bagi;
- Umumnya Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hanbali : hukum perkawinan itu makruh.
- Ada di dalam Maliki : perkawinan itu dibolehkan tanpa persyaratan.
- Menurut Az-Zarkasyi (masih Syafi’i) : perkawinan hukumnya sunnah jika wanita ahli kitab itu diharapkan dapat masuk islam.
Nah, kalau tanya pendapat saya sendiri, sudah saya sebut di depan; kalau agama merupakan salah satu sentral dalam hidup, mending jangan (tanpa perlu pindah ke Syi'ah:-"). Masalahnya akan lebih banyak ketimbang mudahnya. Bahkan seandainya penganut agama inklusif sekalipun, karena timbang menimbang soal hubungan sosial, pandangan keluarga yang lebih besar, pendidikan anak, dan sebagainya.
Kalau masih ingin menikah juga, coba daftar dulu kesulitan apa saya yang mungkin muncul. Bisakah dihadapi? Atau seperti kata Kandalf, coba yang laki-laki muslim main-main ke gereja pacarnya, ngobrol sama Romo di sana, sesekali ikut misa, dan ikut menyanyikan mazmur. Yang perempuan nasrani coba main-main ke mesjid, ikutan melafalkan Al-fatihah, sholat berjama'ah, dan melantunkan Qur'an. Kalau dalam melakukan hal-hal tersebut masih terasa ganjalan, percaya deh bahwa pernikahan nanti akan banyak pula ganjalan yang ditemui. Perlu persiapan jauh lebih baik ketimbang teman-teman lain yang nikah seagama.
::bye::
cerita dari spears jadi inspiratif banget...tapi yah akhirnya harus memilih salah satu agama kan...
mungkin awalnya pindah agama karena ingin menikah tapi lama kelamaan malah dengan keyakinan sendiri bisa tumbuh...dah tu gak gampang banget buat mengubah keyakinan seseorang yang udah bawaan dari kecil ke keyakinana baru...
^ it can happen ketika keyakinan yang baru itu ternyata membuat dia merasa lebih dekat dengan Tuhan. Bapaknya Spears sepertinya merasakan itu lewat Islam, tetapi bisa saja orang Islam juga merasakan itu ketika mendalami Kristen. Agama dan kedekatan dengan Tuhan itu sangat personal, dan tergantung kecocokan masing2 individunya.
Beragama itu sifatnya subyektif, jadi tidak bisa dipukul rata bahwa setiap agama pada dasarnya melarang nikah beda agama. Ajaran agama ditentukan oleh para penganutnya. Ini fakta. Ane ambil contoh Nurcholis Majid yg justru memfasilitasi nikah beda agama. Kurang apa Nurcholis Majid dgn ilmu agama? Dia pernah berdebat dgn seorang Romo (lupa namanya) ttg teologi Islam dan Kristen. Perdebatan itu menunjukkan bahwa keyakinannya thd Islam adalah visi utama hidupnya. Jadi tidak bisa juga dipukul rata bahwa nikah beda agama hanya bagi mereka yg agama bukanlah visi hidupnya.
Ketika seorang penganut agama sadar bahwa keragaman agama hanyanya macam2 cara menuju tuhan (ini yg ane maksud dgn inklusif), maka nikah beda agama bukan masalah sama sekali. Kebanyakan masalah orang yg menikah justru datang dari keluarga besar dan masyarakat, bukan dari pasangan yg menikah. Keluarga besar dan masyarakat tidak siap menerima pernikahan beda agama. Ini menimbulkan sikap yg membuat canggung pasangan tadi, dst. Menurut ane, di situlah masalahnya, bagamana pasangan tadi mampu mengatur "konflik" tadi sehingga tidak menjadi bulan2an pernikahan mereka.
:))
Yang susah menerima sebenernya lebih kepada keluarga besar..bisa dianggap itu sebagai aib keluarga..dan beragam argumen keluar..
Tertarik soal keluarga spears tentang pandangan nikah beda agama tapi dipostingan spears sebelumnya sepertinya menentang soal ini..
sebenernya inti dari cerita spears kenapa keluarganya bisa rukun menurutku lebih karena ada yang mau pindah agama. Bukan karna pernikahan beda agamanya.
Thanks for sharing your story spears :)
Saya jadi ada satu ganjalan, yaitu tentang mengapa harus memindahkan agama pasangan kita? Seandainya kita menikah dengan seseorang, ceritanya khan kita bersedia menerima dia apa adanya, ya bagusnya, ya jeleknya, ya kayanya, ya miskinnya, ya ... agamanya...
Menikahi seseorang dengan niat untuk merubah dia agar lebih cocok dengan konsep/kemauan kita bukannya sure thing to disaster? Inklusivitas yang nggak sepenuh hati? Jadi sebenarnya nggak cinta yang bener-bener juga?
#cumalempartopikdiskusibaru#::bye::
@Eyang Purba,
Spot on. Seperti kita lihat, kondisi lingkungan makin lama makin tidak kondusif sehingga lembaga-lembaga inklusif yang dulu berusaha menjembatani nikah antar agama akhirnya menghentikan kegiatan mereka. Saya percaya bukannya lembaga-lembaga tersebut merubah pandangan mereka, tapi lebih kepada kondisi yang dirasa sangat tidak mendukung, sehingga daripada menjerumuskan orang ke dalam kesulitan, lebih baik tidak hadir dulu. Pada banyak kasus, pasangan beda agama akhirnya perlu mengakomodasi kekuatan eksternal dan terjadilah kasus pindah agama pasca pernikahan.
^ Kadang2 pasangannya bahkan nggak mau ngubah agama kita, tetapi kita yang akhirnya ngalah biar bisa diterima keluarga besarnya..
^ dan itu yang membuat kebanyakan orang sebenernya pindah agama, supaya bisa mengambil hati keluarga besar dan tidak diusir oleh papi mertua and mami mertua
Jadi inget pernikahan beda agamanya Lydia kandaow ama suaminya Jamal, awalnya Jamal dibenci banget sama keluarga Lydia karna beda agama. Tapi lama kelamaan Jamal yg berusaha datengin keluarga Lydia dan melakukan pendekatan membuat Maminya Lydia memaafkannya dan suasanapun lebih enak. Gw salut sama pernikahan ini udah artis, banyak perbedaan dan masih tetep saling mencintai %kis
^ tapi bisa jadi hidayah Tuhan memang datangnya dari pasangan. Lewat orang terkasih itulah justru dia akhirnya bisa lebih dekat dengan Tuhan.
keluarga saya pun beragam agamanya, tapi gak ada yang nikah dan meneruskan perbedaan agama masing2. Pakdhe saya mengikuti agama istrinya, sampai akhir hayatnya tetap rajin ke gereja , meski kalau diundang tahlilan tetap datang (ya gak ikut ngaji2nya sih, cuma dateng aja karena diundang tetangga). Ada beberapa keluarga bulik dan paklik saya juga kristen juga bahkan kakak sepupu saya mengikuti suaminya beragama Hindu ( di Hindu ketat lho, keluar dari agama hindu Bali berartio keluarga dari keluarga dan klan, ada uang dendanya segala....cupine mungkin bisa kasih info). Untuk saling toleransi kita jalan dan saling menghormati kepercayaan masing2, karena memang agama itu masalah pesonal. Saling bertemu di hari besar bersangkutan, kecuali kakak sepupu yang hindu, dia jauh di Bali, perlu modal kalau nengokin dia::hihi::
Intinya di keluarga besar bapak saya, silahkan jika memang agama A jadi pilihanmu, asal ditekuni dan benar2 jadi pegangan. Tapi entah kenapa, pernikahan beda agama gak pernah terjadi di keluarga besar baik bapak dan mama. Rata2 mengikuti keyakinan pasangan kalau pas pacaran beda agama, atau pada akhirnya putus dengan sendirinya karena masing2 tidak mau mengalah dan masing2 ogah menikah beda agama, daripada memperdalam masalah, mending bubar, itu sih yang saya lihat.
Kalau saya dari awal memang mencari imam di keluarga saya, ya nyarinya yang seagama dan ilmu agamanya lebih dalam dibanding saya...jadi begitu naksir seseorang jaman dulu, trus tau beda agama sama saya, ya entah kenapa langsung ilang feelnya buat melanjutkan PDKT. Otomatis aja, atau memang karena saya orangnya cenderung gak kepingin nekad nyari masalah ya?::hihi::
Tante saya ampir 2 taun pacaran sama yang beda agama, tadinya si pacar mau belajar agama Islam. Sayangnya tante saya gak terlalu bisa nuntun, dan ketika minta tolong ke om dan suami saya justru pacar si tante merasa gak enjoy (kebanyakan ritual menurut dia, berat sekali konsekuensi masuk Islam katanya). Tadinya mereka masih bertahan pacaran, bahkan keluarga besar kami menerima pacar si tante dengan baik, tanpa menyinggung perbedaan agama tersebut. Tau kenapa ujung2nya bubar, tante yang merasa berat kalau harus meneruskan. Dan sampai sekarang hubungan kami dengan mantan pacar tante baik2 saja, lebaran atau puasa dia tetap telpon2an sama saya, sometimes ngajak anak2 saya main kalau pas bisa ketemu, sama tante saya pun masih baik2 saja walaupun tahun ini beliau mau merit sama cewek yang seagama dengan dia.
Mengajak pasangan mengikuti agama kita juga ada konsekuensinya, harus SANGGUP jadi penuntun pasangan untuk benar2 cinta sama agama barunya. Seperti sahabat (Ummu Salamah? lupa gwe), dia dilamar oleh orang non Islam dan hanya meminta syahadat sebagai maharnya, setelah itu beliau menuntun si suami mencintai agamanya.
Ada kasus seorang sahabat mengajak suaminya ikut agamanya saat menikah. Tapi sahabata saya sendiri bukan penganut Islam taat, akibatnya ketika suaminya rindu untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan tidak tau caranya dalam agama barunya, dia kembali melakukan ritual agama lamanya. Saya tidak menyalahkan si suami karena sahabat saya yang tidak bisa menjaga si suami untuk lebih cinta pada agama barunya, karena pada akhirnya orang itu rindu untuk bisa beribadah kepada Tuhannya.
Nurcholis Madjid mungkin secara kasat mata kita tau kedalaman ilmu agamanya....tapi feel beragama sama keluasan ilmu itu beda...feel pake hati, kebanyakan teori itu pake otak....otak gak disirami dengan hati jadinya apa? itu aja sih kalau saya merasanya
Oh ya saya masih berpegang pada kisah, orang2 yang hijrah ke Abbasiyah, kemudian ada satu sahabat yang pindah ke agama nasrani, si istri pun minta petunjuk kepada Rasulullah, dan si istri kemudian minta cerai dari suami yang sudah pindah keyakinan. Itu sudah cukup jadi contoh buat saya, bahwa nikah beda agama bukan anjuran agama saya.
Yak betul.
Inti dr postingan gw adalah keluarga gw bisa rukun krn akhirnya pilih satu agama. Dan yg pindah itu- ga tau gmn caranya- bisa ikhlas buat bner2 menyelami agama baru mereka.
Dan itu,imho,sulit bgt.
Gw aja ngebayangin...misalkan pacar saya beda agama, trus spy boleh kawin, saya harus ikut dia.
Saya pikir (klo liat dr karakter gw), saya akan pindh agama simply krn saya ga mau pisah.
Dan saya ga akan repot2 pelajarin agama baru saya. Toh gw masuknya ga ikhlas, malah bisa dibilang agak terpaksa. Itu kalau gw ;D (alhmd ya gw ga harus mengalaminya hahahahaa..wajib bersyukur..klo kejadian di gw, kayaknya gw bakal berantem mulu, ungkit2 melulu "gara2 lo nih gw pindah agama!!!" ;D ya ujian hidup org beda2 dan brsyukur ajalah I don't have to going thru those situations)
Makanya gw salut ama org yang pindah agama karena married, terus bener2 belajar agama barunya dia itu sepenuh hati.motivasinya apa ya?? I don't think I can do that.
---------- Post Merged at 02:25 AM ----------
Oh dan gw stuju ama Bundana :
Tantangan buat "yang diikuti" adalah dia yg harus selalu proaktif untuk ngajakin lingkungannya buat bantu si "yang mengikuti" ini untuk lebih mengenal agama barunya.
Iya kalo si "lingkungan" ini bisa satu suara dlm memahami agama, ga beda2 aliran. Klo misalkan beda aliran mah..waduh bisa pusing 7 keliling tuh yg baru masuk.
Kluarga gw kbtulan alirannya passive progressive ;D hahahaa
Back to serius..
Imho klo yg br pindah ke islam,mending pelan2 d ngajarinnya. Jgn langsung yg ekstrim, Bun ;D
Yah, yg penting shalat 5 waktu dan puasa ramadhan aja.
Klo yg lain2nya,biarlah mereka cari sendiri.
Yang susahnya kalo salah satu pndah agama trus gak ada contoh yang baik atau ntah suami/istrinya gak bisa membimbing untuk belajar soal agama yang baru yah bisa aja malah balik ke agama dulunya lagi...kalo kaya gitu malah jaadinkaya main2...
ya dari awal emang udah ga pandang serius agama, tentu ujungnya bakal main2. kalau serius pasti bakal benar2 bimbing pasangannya di agama baru
sebenernya usulan kandalf di awal halaman bisa jadi solusi, saling mempelajai agama pasangan aja, nanti begitu ketauan ujungnya kemana, silahkan bikan keputusan, dan sekali lagi pikir jangka panjangnya. Untuk itu di agama Islam diajurkan buat Istikharoh, minta petunjuk, sekali lagi itu kalau visi misi mu jelas dalam hidup beragama
Ya berarti pihak yg ndak serius (dlm beragama) lah yg mesti mengikuti agama dari pihak yg serius spy pihak yg serius bisa membimbing pasangannya.
Tapi kalo dua2nya memang pada dasarnya ndak pandang serius agama ya mendingan dua2nya pindah ke agama baru yg lain misalnya aja Hindu, trus nikah scr Hindu. Beres. Urusan adminnya ndak ribet krn udah satu agama.
Kalo suatu saat nanti ada yg "sadar" n mulai tertarik untuk serius mendalami agama ya dibicarakan baik2 berdua sampe keduanya benar2 mantap memilih satu agama n serius menjalaninya, baik itu agama barunya (Hindu) atopun salah satu dari agama mereka sebelumnya (Islam ato Kristen). Ndak ada kata terlambat bagi orang yg ingin "bertobat" (serius beragama), dan kalo selamanya mereka ndak pernah bisa serius pun ndak bakalan bisulan juga kok. Kalo memang ndak bisa serius ya ngapain juga mesti mikirin resiko "akhirat", toh minimal kehidupan "dunia" (rumah tangga) mereka baik2 aja.
Itu sebenarnya poin yg ingin saya sampaikan di posting awal yg ini...:
Sedangkan opsi pertama yg berikut ini...:
Itu krn dari awal kedua belah pihak sama2 ndak mau melepaskan agamanya krn alasan tertenu. Kalo alasannya krn "jumud" ya mendingan bubarin aja secepatnya! Jgn cari penyakit di kemudian hari! ::nono::Quote:
Jadi kalo mau pake patokan agama ya sebaiknya nikah beda agama dihindari.
Tapi kalo alasannya bukan krn jumud, entah itu krn sikap inklusif, toleran, dll bahkan mungkin hanya krn gengsi, malu, takut ato ndak enak dgn lingkungan keluarga n sekitar, maka sebaiknya keduanya sama2 mencari "nilai2 (universal)" yg sama, entah itu nilai moral, kasih, dll bahkan nilai budaya, adat n nilai2 kearifan lokal tertentu. (Tapi kalo cuman sekedar kesamaan yg bersifat "hobi n kesenangan" menurutku itu ndak cukup.)
Saya ambil misal kasus "nikah beda agama" yg banyak banget saya temui di Jogja. (Maaf kalo saya ambil misal kota ini krn saya pernah menghabiskan waktu hidup saya dari lahir sampe dewasa shg rasa2nya saya sangat paham betul dgn akar budayanya. CMIIW. Dan saya sengaja pilih kata "misal" lho, bukan "contoh", jadi bukan berarti untuk dicontoh).
Kenapa disana banyak sekali dijumpai pasangan beda agama yg hidupnya rukun2 aja? Ya karena mereka memiliki "nilai2 tertentu" yg mereka tempatkan diatas "agama" (baca: agama scr FORMAL) yaitu nilai2 "Kejawen" (saya sengaja kasih tanda kutip krn saya ndak mau berdebat soal ini yg sering asal dicampur-adukkan shg muncul tudingan dan cap aneh2,...klenik kek, tahyul lah,...HIV!).
Secara kasat mata bisa saja mereka menikah di gereja dgn cara Katolik ato menikah scr Islam di KUA, tapi secara "tidak kasat mata" sejatinya mereka "menikah scr Kejawen di penghulu". Jadi tidak ada "nikah BEDA" (dua agama), tapi yg ada adalah "nikah SAMA" (satu nilai).
Jadi sangat wajar, selama "nilai2" tsb mereka pegang teguh, mereka bisa hidup rukun n keduanya bisa menjalankan agama masing2 scr khusuk penuh ketaatan. Lalu bagaimana dgn anak2 mereka (kelak)? Ya sami mawon! Buah ndak akan jauh2 dari pohonnya! Mau masuk Islam kek, mau Katolik lah,...podho wae! Sing penting guyub-rukun toto-titi-tentrem kerto-raharjo! :)
(Tapi kalo dijumpai ada yg ndak seperti itu ya berarti itu adalah "oknum".) ;D
:ngopi: