Ya iya lah emang freeport usaha kok. Yg kasih rekaman kan orang freeport.
Printable View
Kalo menurut gw sih bukan gengsi, tapi emang musuhan. Rizal Ramli jelas mengincar menteri bumn, esdm dan wapres (termasuk bos2 bumn macam J lino). Dari segitu banyak proyek, bbrp yg disabot adalah proyek2 dari gerombolan itu.
Feeling gw sih, ini strategi jokowi. Gimana pun juga jokowi dikelilingi mafia2 yg dia ga bisa hadapi sendirian. Jokowi mempergunakan Rizal Ramli pendekar ngepret untuk urusan ini. Makanya, pertama gw liat RR diangkat jadi kemaritiman.. tau2 kok nongol ada embel2 "dan sumber daya"... hehehe.. jokowi.. jokowi.. Denger2 bakal ada kejutan lagi dari mata najwa?
Gw sih ngarep ahok ga kepilih lagi jadi gubernur, biar bisa nambah tukang ngepretnya. Inget.. yg diadepin mafia migas, duitnya kenceng. Rizal Ramli itu Hitman yg disewa pak jokowi.
Yakin cuma hitman, ga ada kepentingan laen? ::ngopi::
Haha...ndak lah kong Sur kalo saya sampai punya pemikiran sejauh itu, ntar kalo saya mesti pasang sikap "curiga jangan2" semua pihak adalah maling malah ndak akan ada solusi apapun, ujung2nya malah ndak ada satupun maling yang bisa ketangkep. Saya ndak sepesimistis itu lah.Quote:
Psst seperti kata rr sendiri jangan2, bagi2nya ga adil, if u know what i meant
Menurutku pe-er Jokowi yang harus diselesaikan secepatnya ya bagaimana bisa "mendamaikan" RR dengan JK untuk (minimal sejenak lah) melupakan "perseteruan lama" keduanya. Lha wong dulu (2007) Gus Dur aja udah legowo kok dan mau "salaman" dengan JK, lha kok "fans Gus Dur" sampai sekarang malah ndak bisa move on. :doh!:
Lakukan pertemuan enam mata (Jokowi/JK/RR) secara tertutup, ndak usah ajak2 lainnya termasuk para Menko. Tuntaskan segala "unek2" didalam ruangan tsb dan hasilnya ndak perlu diketahui oleh publik. Jadi ndak perlu lagi ada tantang-menantang debat di depan publik,...kayak seleb ajah senengnya diliput. Yang terpenting mereka sama2 keluar ruangan dengan membawa semangat baru untuk bahu-membahu membantu (pemerintahan) Jokowi menyelesaikan persoalan bangsa ini.
Percuma dinamakan "kabinet kerja" tapi kalo kerjanya sak karepe dhewe2.
:ngopi:
---------- Post Merged at 08:21 AM ----------
Menurutku yang dipegang si Fadli ya surat SS ke Moffett seperti yang saya kutip diatas, bahkan bisa jadi cuma yang versi bahasa Indo yang lebih rentan terjadi mis-interpretasi. :cengir:Quote:
Keknya sih gw dah liat (di tipi tapi).. dan yg ngasih liat adalah.... fadli zon.. kepada najwa di mata najwa.
Youtube Video
Apalagi tahu sendiri seperti apa itu si Zon, kalo itu dokumen yang lain tentu langsung dia sebar2kan ke media.
Belum lagi kalo melihat seperti apa si Najwa. Sebagai seorang jurnalis tentu akan langsung uber tuh dokumen untuk dijadikan berita eksklusif sebelum kecolongan beritanya oleh media lain.
Nyatanya sampai sekarang? Cuma kabar-kabur. CMIIW.
:ngopi:
Lha terus mana upaya RR untuk menandingi "kepretan" Freeport tsb?Quote:
Ya iya lah emang freeport usaha kok. Yg kasih rekaman kan orang freeport
Ndak ada! Menurutku justru RR ikut2an kemakan mengikuti "irama permainan" yang dibawakan oleh Freeport.
Bukan cuma RR, bukan cuma SS, bukan cuma Luhut, bukan cuma JK, bahkan Jokowi pun menurutku udah masuk "perangkap offside" nya Freeport.
Ribut2 soal smelter itulah bukti jelasnya, bahkan Jokowi sampe jelas kasih statement bahwa salah satu syarat perpanjangan kontrak Freeport ya pembanguan smelter.
Lha yang ngomong smelter itu ada kaitannya dengan perpanjangan kontrak sopo? Ya Freeport lah. :cengir:
Padahal pembangunan smelter itu mestinya terkait dengan isu renegosiasi KK yang sampe sekarang masih molor terus. Smelter itu harus dibangun Freeport untuk dapetin ijin ekspor mineral mentah (konsentrat) yang udah dilarang oleh UU Minerba. Itu ndak ada hubungannya dengan perbanjangan kontrak.
Dan Freeport pun bermain dengan sangat lihai memasukkan isu dagelan tersebut (baca: smelter) terkait dengan isu perpanjangan kontrak.
Dan semua orang pun termasuk pak bos (Jokowi) udah kemakan oleh isu dagelan tsb.
Prediksiku, isu smelter akan ndak selesai2 sampai 2019 saat pengajuan perpanjangan kontrak. Dan sampai tahun tsb (masih 4 tahun lagi lho) Freeport akan menikmati sisa royalti 2,5% dari produksi emas, belum lagi dari tembaga dan perak, plus produk2 mineral bawaan lainnya. Plus lagi bisa melenggang terus ekspor konsentratnya.
Mudah2an aja prediksi saya itu salah, dan ini bisa dicegah kalo amandemen KK yang sekarang bisa segera ditandatangani.
:ngopi:
---------- Post Merged at 08:52 AM ----------
Untuk dua posting berikutnya saya ndak perlu komen ya, soale isinya yang satu cuma spekulasi dan satunya lagi prejudice. ::maap::
:ngopi:
Yak.. salaman.. t'rus mafia hilang..?
Gimana mendamaikan? orang RR dipungut jokowi buat memerangi mafia kok.
T'rus anda pikir belum pernah ada begitu? Kalo anda tau berarti ga tertutup.Quote:
Lakukan pertemuan enam mata (Jokowi/JK/RR) secara tertutup, ndak usah ajak2 lainnya termasuk para Menko. Tuntaskan segala "unek2" didalam ruangan tsb dan hasilnya ndak perlu diketahui oleh publik. Jadi ndak perlu lagi ada tantang-menantang debat di depan publik,...kayak seleb ajah senengnya diliput. Yang terpenting mereka sama2 keluar ruangan dengan membawa semangat baru untuk bahu-membahu membantu (pemerintahan) Jokowi menyelesaikan persoalan bangsa ini.
Kerja itu artinya membangun tol membangun jalan kereta api membangun waduk, membangun bla bla. Ngepret2 itu masalah politik.Quote:
Percuma dinamakan "kabinet kerja" tapi kalo kerjanya sak karepe dhewe2.
Kabar kabur? Tungguin aja. Kebetulan topik najwa waktu itu ingin memojokkan SN, bukan SS.Quote:
Menurutku yang dipegang si Fadli ya surat SS ke Moffett seperti yang saya kutip diatas, bahkan bisa jadi cuma yang versi bahasa Indo yang lebih rentan terjadi mis-interpretasi. :cengir:
Apalagi tahu sendiri seperti apa itu si Zon, kalo itu dokumen yang lain tentu langsung dia sebar2kan ke media.
Belum lagi kalo melihat seperti apa si Najwa. Sebagai seorang jurnalis tentu akan langsung uber tuh dokumen untuk dijadikan berita eksklusif sebelum kecolongan beritanya oleh media lain.
Nyatanya sampai sekarang? Cuma kabar-kabur. CMIIW.
:ngopi:
Fadli jon itu anak buah prabowo yg dari dulu koar2 ada kebocoran. Sekarang jokowi menunjukkan ini loh bocor.
Yup, seperti dulu pada tahun 2007 saat Gus Dur salaman sama JK untuk melupakan "masa kelam tahun 2000".Quote:
Yak.. salaman..
Saya ndak bilang begitu kan?Quote:
t'rus mafia hilang..?
Siapa mafia? JK? Jadi Wapres itu ndak punya tugas atau diajak untuk ikut memerangi mafia tapi justru mesti diperangi sebagai mafia? Atau seorang presiden sudah "sedemikian lemahnya" sehingga perlu bantuan "tukang kepret" untuk melawan wakilnya sendiri? Kalo menurutku, justru sebaliknya, Jokowi ndak selemah itu kok.Quote:
Gimana mendamaikan? orang RR dipungut jokowi buat memerangi mafia kok.
Saya memang ndak perlu tahu itu sudah pernah dilakukan oleh Jokowi atau belum, namanya aja tertutup. Saya hanya perlu tahu mereka berdua bisa bahu-membahu membantu pemerintah Jokowi, dan menurutku salah satu caranya Jokowi harus bisa merangkul keduanya dan itu sebaiknya dilakukan tertutup enam mata aja.Quote:
T'rus anda pikir belum pernah ada begitu? Kalo anda tau berarti ga tertutup.
Betul. Tapi kalo kepretan politik itu justru berpotensi mempengaruhi (berefek buruk) lalu untuk apa? Dengan kepretan2 RR sekarang berapa "uang" yang diselamatkan oleh negara, atau sebaliknya "uang" yang justru di-sia2kan oleh negara? Dengan adanya kepretan RR terus kapan amandemen kontrak Freeport disahkan dus negara bisa langsung amankan "uang" dari diantaranya selisih 2,5% royalti emas, belum lagi yang lain2nya? Dengan kepretan RR tentang blok Masela terus kapan negara ini bisa menghasilkan gas bumi yang saat ini langka? Dengan kepretan2 pada masalah migas dan minerba oleh RR terus apakah bisa meningkatkan sumber devisa dari sektor tersebut, ataukah sebaliknya malah menurunkan pendapatan devisa akibat target produksi menurun karena di-kepret2 mulu? Akhirnya, kalo sumber devisa kedua sektor itu terus menurun lalu jalan kereta api, waduk dan blablabla mau dibangun pakai uang apa?Quote:
Kerja itu artinya membangun tol membangun jalan kereta api membangun waduk, membangun bla bla. Ngepret2 itu masalah politik.
BTW kalo membangun misalnya terminal LNG, jalur pipa distribusi migas, smelter dan blablabla termasuk kerja juga ndak?
Sip, asal ndak kelamaan aja nunggunya apalagi terus dilupakan eh maksud saya memang sebenarnya "dokumen" itu ndak pernah ada.Quote:
Kabar kabur? Tungguin aja. Kebetulan topik najwa waktu itu ingin memojokkan SN, bukan SS.
Fadli jon itu anak buah prabowo yg dari dulu koar2 ada kebocoran. Sekarang jokowi menunjukkan ini loh bocor.
RR Jokowi kena pengaruh kepret alias "jebakan offside" nya Freeport. Itu maksud saya, dan itu sudah saya jelaskan pada paragraf2 berikutnya.Quote:
Kenapa RR Jokowi ikut ke kepret?
Kenapa RR jawabnya cuma "nama itu ndak penting"? Trus di akhir tayangan pas Karni nanya "jadi Freeport ini sebaiknya diapakan, apakah diperpanjang atau tidak diperpanjang kontraknya" kenapa RR cuma cengar-cengir ndak mau jawab?Quote:
Bukannya yg ribut2 sekarang adalah freeport cs sama dpr cs? RR cuman kasih komentar, itu ribut antar mafia, dan Karni Ilyas tanya2 siapa sih mafia2 itu.
Bukan komentator, tapi nara sumber. Tema acaranya aja "Sinetron Perang Antar Geng", istilah yang pertama kali dilontarkan oleh RR. Mosok nara sumber ndak mau jawab pertanyaan2 penting secara tegas dan lugas.Quote:
Posisi RR cuman komentator di sini.
:ngopi:
Nama itu ndak penting kalo interpretasi saya RR nggak mau dibenturkan dengan vis a vis dgn SS. Bisa makin digoreng Karni Ilyas.
Soal perpanjangan tau tidak diperpanjang kontrak Freeport, saya juga kalo jadi RR nda mau jawab ::elaugh::
Terlepas dari pro kontra RR dan segala kepentingan dendam dan sebagainya, saya rasa lebih baik SS ada juga di situ biar sekalian klarifikasi. Apa ILC yang ga mau undang atau uda diundang SS ga mau datang sih wallahu alam.
Oops sori nyela sedikit, ada sedikit tambahan setelah saya baru sempat lihat tayangan video Youtube di halaman sebelumnya soal "dokumen" yang di-sebut2 ada pada Fadli Zon. (Maklum soale saya pas posting yang pagi ndak bisa buka Youtube soale masih di jalan jadi postingnya pake hape) :mrgreen:
Yup, ternyata benar dugaan saya bahwa itu cuma surat SS ke Moffett dalam versi bahasa Indo. Dan lagi2 benar ternyata yang disorot justru point ke-4 padahal menurutku kalo mau di-cari2 sebenarnya "blunder" SS itu justru ada pada poin ke-3 seperti sudah saya jelaskan pada posting yang kemarin.
:ngopi:
Oke. Tapi pertanyaan saya adalah, trus untuk apa RR mau datang ke acaranya Karni tsb kalo cuma untuk bicara seperti itu yang toh semua materinya sudah pernah diungkapkan oleh RR di media2 lain sebelumnya?
Saya juga kalo jadi Karni Ilyas jelas kecewa karena nara sumber acara saya ternyata seperti itu, dus acara saya menjadi ndak punya "nilai jual" lebih.Quote:
Soal perpanjangan tau tidak diperpanjang kontrak Freeport, saya juga kalo jadi RR nda mau jawab ::elaugh::
Kalo menurutku ILC bukan forum yang tepat untuk klarifikasi antara RR dengan SS, karena hal itu justru menunjukkan duet Jokowi-JK ndak becus mempimpin kedua anak buahnya tsb. Forum internal rapat kabinet lah yang paling tepat kalo menurutku.Quote:
Terlepas dari pro kontra RR dan segala kepentingan dendam dan sebagainya, saya rasa lebih baik SS ada juga di situ biar sekalian klarifikasi. Apa ILC yang ga mau undang atau uda diundang SS ga mau datang sih wallahu alam.
Lalu soal kenapa hanya RR yang hadir sedangkan SS ndak, ini bisa muncul berbagai spekulasi. Bisa saja SS memang ndak diundang oleh Karni, bisa saja diundang tapi ndak mau entah apa alasannya, bisa karena alasan ndak mau duduk bareng RR di satu acara atau bisa juga menganggap ILC bukan forum yang tepat untuk buka2an apalagi sebagai menteri tentu ada data2 penting yang memang ndak bisa dengan mudahnya dibuka ke publik. Tapi bisa juga dibalik, RR mau hadir di ILC justru karena tahu bahwa SS ndak hadir atau ndak diundang. Dan spekulasi2 lainnya.
:ngopi:
Artinya jabat tangan ga menyelesaikan masalah. Lagian jabat tangannya jg setelah jauh dari 2001, di mana ud ga mengubah apa2 kalo masih belon move on.
Sekarang RR lagi angot2nya.
Kalo bos punya bawahan yg bisa disuruh2 ngurusin mafia, apakah bos itu lemah? Ato banyak kerjaan?Quote:
Siapa mafia? JK? Jadi Wapres itu ndak punya tugas atau diajak untuk ikut memerangi mafia tapi justru mesti diperangi sebagai mafia? Atau seorang presiden sudah "sedemikian lemahnya" sehingga perlu bantuan "tukang kepret" untuk melawan wakilnya sendiri? Kalo menurutku, justru sebaliknya, Jokowi ndak selemah itu kok.
Belon ketauan kan? Maka mari kita saksikan episode selanjutnya.Quote:
Betul. Tapi kalo kepretan politik itu justru berpotensi mempengaruhi (berefek buruk) lalu untuk apa? Dengan kepretan2 RR sekarang berapa "uang" yang diselamatkan oleh negara, atau sebaliknya "uang" yang justru di-sia2kan oleh negara? Dengan adanya kepretan RR terus kapan amandemen kontrak Freeport disahkan dus negara bisa langsung amankan "uang" dari diantaranya selisih 2,5% royalti emas, belum lagi yang lain2nya? Dengan kepretan RR tentang blok Masela terus kapan negara ini bisa menghasilkan gas bumi yang saat ini langka? Dengan kepretan2 pada masalah migas dan minerba oleh RR terus apakah bisa meningkatkan sumber devisa dari sektor tersebut, ataukah sebaliknya malah menurunkan pendapatan devisa akibat target produksi menurun karena di-kepret2 mulu? Akhirnya, kalo sumber devisa kedua sektor itu terus menurun lalu jalan kereta api, waduk dan blablabla mau dibangun pakai uang apa?
Narasumber di ILC, ya. Mosok penjelasan RR masih ga jelas.. peserta2 lainnya aja ngerti kok..Quote:
Bukan komentator, tapi nara sumber. Tema acaranya aja "Sinetron Perang Antar Geng", istilah yang pertama kali dilontarkan oleh RR. Mosok nara sumber ndak mau jawab pertanyaan2 penting secara tegas dan lugas.
:ngopi:
Kesan dari saya, RR ngomong di media separo2, di ILC bisa dibuat komprehensif dgn bantuan kepiawaian Karni Ilyas.
Nilai jual acaranya gorengan? ::elaugh::Quote:
Saya juga kalo jadi Karni Ilyas jelas kecewa karena nara sumber acara saya ternyata seperti itu, dus acara saya menjadi ndak punya "nilai jual" lebih.
Memang bukan forum yang tepat. Tapi ILC ngetop sebagai ajang adu mulut. Jadi sapa tau aslinya ada rencana.Quote:
Kalo menurutku ILC bukan forum yang tepat untuk klarifikasi antara RR dengan SS, karena hal itu justru menunjukkan duet Jokowi-JK ndak becus mempimpin kedua anak buahnya tsb. Forum internal rapat kabinet lah yang paling tepat kalo menurutku.
Bisa juga faktor Fadli Zon :ngopi: ::oops::Quote:
Lalu soal kenapa hanya RR yang hadir sedangkan SS ndak, ini bisa muncul berbagai spekulasi. Bisa saja SS memang ndak diundang oleh Karni, bisa saja diundang tapi ndak mau entah apa alasannya, bisa karena alasan ndak mau duduk bareng RR di satu acara atau bisa juga menganggap ILC bukan forum yang tepat untuk buka2an apalagi sebagai menteri tentu ada data2 penting yang memang ndak bisa dengan mudahnya dibuka ke publik. Tapi bisa juga dibalik, RR mau hadir di ILC justru karena tahu bahwa SS ndak hadir atau ndak diundang. Dan spekulasi2 lainnya.
Emangnya engkong, dikit2 merembet soal bini kedua. Bini satu aja belom terklarifikasi, si mba artis itu.
Gw udah nonton yutube tautan ndableg, menurut gw yg disampaikan rr, menurut gw yg disampaikan rr itu utopia yg berbalut fakta,dalam kasus freeport tidak ada solusi, ibarat ada turis nanya ke gw gimana ke bandung dari jakarta, gw bilang lu sampe jakarta trus ke gambir aja trus naek kereta ke bandung, tidak gw jelasin gimana ke gambirnya dari jakarta, tidak dijelaskan di gambir naek apa, jadi yah utopia, seakan2 kalo kita minta saham segitu dan freeport seharusnya menurut dan ga melakukan resistensi, persis kayak guru mengajarkan sejarah, dan gw tetap pada kesimpulan pertams gw rr pengecut, ga berani menyebut nama, berbalut alasan orangnya terlalu kecil, jadi bisa dua kesimpulan either coward or bullshits,or both, ingat ada perbedaan yg cukup besar antara YAKIN dan TAHU, apakah ada yg TAHU orang yg dimaksd ss, menurut gw cuma YAKIN ::ngopi::
epada PT Freeport Indonesia.
Sabtu, 28 November 2015 | 15:10 WIB
Oleh: M Subhan SD
Lengkap sudah cerita muram politisi DPR. Lebih dari sepekan ini publik terperangah sekaligus geram menyaksikan rekaman pertemuan Ketua DPR Setya Novanto—bersama pengusaha minyak Riza Chalid—dan bos PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin, yang kemudian menjadi topik panas ”papa minta saham”.
Nama Presiden dan Wakil Presiden diduga dicatut dan juga beberapa nama pejabat, termasuk Menkopolhukam Luhut B Pandjaitan. Dan, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), penjaga martabat anggota DPR itu, sempat gamang. Memilukan dan memalukan!
Lebih setahun menduduki kursi empuk di Senayan, DPR cuma bikin gaduh dan mempertontonkan perangai tidak terpuji: mulai dari ribut-ribut rebutan jabatan, berkelahi di ruang sidang, minta gedung baru berfasilitas lengkap, menjadi pialang/makelar proyek, bertemu kandidat calon presiden Amerika Serikat, hingga rekaman ”papa minta saham” PT Freeport.
Sebaliknya, kinerjanya jeblok. Politisi yang seharusnya hidup bertiang etika dan akhlak cuma ”manis di bibir”, tetapi terasa pahit di sekujur tubuh kehidupan nyata.
Pengaduan Menteri ESDM Sudirman Said ke MKD adalah bagian dari upaya mencegah praktik gelap perdagangan pengaruh (trading in influence) pemilik kekuasaan.
MKD seharusnya proaktif sebagai penjaga marwah DPR. Bukan malah mempersoalkan legal standing. Ini persoalan etika, bukan soal hukum.
Polemik awal hampir saja persoalan teknis mengalahkan substansi pengaduan Sudirman yang pejabat negara.
Terbongkarnya rekaman itu mengonfirmasi masih banyak kegiatan aneh-aneh yang dilakukan politisi DPR. Reformasi yang menentang korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) telah dikhianati dalam dua windu ini.
Jika kutipan dialog ”Freeport jalan, Bapak itu happy, kita ikut happy, kumpul-kumpul, kita golf, kita beli private jet yang bagus dan representatif” dianggap cuma becanda, sungguh keterlaluan.
Jadi, ini persoalan praktik percaloan yang dilakukan politisi, bukan sekadar pencatutan nama Presiden dan Wapres.
Praktik percaloan tampaknya ibarat gunung es, sedikit saja yang diketahui publik. Sisanya tersembunyi di kedalaman lautan.
Pencatutan nama hanya mereduksi praktik kolusi yang hingga kini masih merajalela. Dengan kekuasaan yang besar, mereka tetap saja memainkan agenda tersembunyi demi kepentingan sendiri.
Dan, rakyat sudah muak menyaksikan perilaku para pejabat yang tak terpuji dan tak punya malu. Kasihan politisi lain di DPR yang berusaha benar-benar bekerja untuk rakyat.
Menurut Machiavelli (The Prince, 1513), penguasa itu dua tipe: singa (lion) yang keras, berbahaya, tetapi mudah terperangkap; dan rubah (fox) yang licik dan rakus, tetapi sulit menghadapi serigala.
Jadilah rubah untuk jeli melihat jeratan dan jadilah singa untuk menakut-nakuti serigala. Singa dan rubah sama-sama buas. Singa dan rubah hidupnya berkelompok. Ciri-ciri kehidupan berkelompok adalah kerja sama (tepatnya persekongkolan), saling menjaga, saling melindungi.
Tak heran jika ada anggota kelompoknya terancam, kawan-kawannya pasang badan membela mati-matian. Tak peduli lagi masuk akal atau tidak. Mereka sangat defensif. Tipe makhluk seperti ini sangat egois.
Andaikata mereka politisi, mereka suka berwacana, tidak fokus pada persoalan. Mereka menggiring ke persoalan lain, menjauh dari persoalan yang tengah diperbincangkan.
Padahal, adagium hukum terkenal menyatakan ”bukti atau fakta itu lebih kuat, tak ada gunanya lagi kata-kata (cum adsunt testimonia rerum, quid opus est verbist).
Inilah babak belurnya politisi yang mengelola negeri ini. Partai politik gagal menjadi ”rumah penyadaran” yang menyemai benih-benih watak altruistik.
Transparency International (Money, Politics, Power: Corruption Risk in Europe, 2012) mengevaluasi tiga serangkai pemain terlemah dalam pemberantasan korupsi di Eropa, yaitu parpol, lembaga administrasi publik, dan kor- porasi.
Integritas politisi, khususnya di parlemen, sangat rendah. Lobi-lobi menjadi permainan rahasia antara pengusaha, politisi, dan pejabat.
Di sekitar markas Uni Eropa di Brussels, Belgia, diperkirakan ada 3.000 entitas pelobi yang targetnya memengaruhi proses legislasi. Maka, di sejumlah negara, lobi pun diatur dan harus terdaftar: nama, nomor pajak, alamat, nama kantor, dan lain-lain.
Negara-negara yang politisi dan partainya menjaga marwah mereka, sebagian besar menjadi negara maju yang rakyatnya sejahtera, seperti di wilayah Skandinavia.
Namun, di negara-negara korup, tidak efisien, dan salah kelola, seperti di Eropa selatan, menjadi beban negara lain karena hidup dari utang.
Di negeri ini, jangankan pelobi, pejabat resmi saja lebih memilih mengendap-endap seperti siluman. Merekalah yang buas seperti singa, licik seperti rubah, dan juga licin seperti belut.
Mumpung sedang panas kasus ”papa minta saham”, saatnya membongkar semua gerak-gerik rahasia politisi kita. Siapa saja geng yang bermain-main di saham Freeport atau saham lainnya.
Sekalian juga membersihkan politisi yang ngaco-ngaco. MKD pun jangan sampai masuk angin.
Tetapi, ssst ini para politisi kuat lho.... Ah, dalam sejarah, politisi sekuat apa pun, apabila busuk dan tak amanah, telah ditumbangkan oleh rakyat.
Itu yang saya quote tebakan doang apa hasil baca dari tempat lain? Di kompasiana ada yang nulis sama persis isi geng itu siapa aja. Jadi mungkin memang ada dua geng dan Jokowi ditarik2 di tengah. Luhut ikut kecatut karena dia juga pengusaha. RR sementara itu nonton sineteron yang scriptnya sudah dia baca separo.
Yakin rr bukan kelompok yg ke 3?
Bukan geng ke-3 kong, tapi geng ke-10. ::hihi::
Di pemerintahan memang selalu ada banyak geng kok, bukan cuma 10 apalagi 3. Ada geng Jawa ada geng non-Jawa, ada geng alumni ITB ada geng alumni UI dan UGM, bahkan khusus di ESDM ada satu geng yang cukup kuat juga yaitu geng alumni UPN, lalu ada geng partai A ada geng partai B, ada geng partai C hasil munas Bantul vs munas Jonggol, ada gengnya si anu dan gengnya si nganu, dst...dsb.
Dan kalo RR bisa membuat istilah "gaduh hitam" dan "gaduh putih" maka saya pun boleh juga dong punya istilah "geng hitam" dan "geng putih".
Jadi menurutku, RR harus lebih jelas memisahkan atau memberikan batasan2 mana geng hitam mana geng putih. Dan ini mestinya didukung dengan paparan data2 dan info2 yang valid, terverifikasi, terkonfirmasi, dst...dsb, bukan asal kepret.
Sebaliknya kalo tidak, ini justru akan membingungkan dan orang menjadi bebas sesukanya main tuding bahkan yang tendensius sekalipun.
Jadi saya bisa memaklumi kalo kong Sur "curiga jangan2" RR juga bagian dari "geng hitam" yang lain, begitu juga kalo ada yang menuding SS juga bagian dari "geng hitam", orangnya JK, kepanjangan tangannya Rini, didikannya Ari, (pernah) bagian dari mafia Petral, dst...dsb.
Kalo saya sih ndak peduli siapanya, mau RR, mau SS, mau Rini, Luhut, JK, bahkan Jokowi sekalipun kalo terindikasi sebagai bagian dari geng hitam dan itu didukung fakta2 memadahi, ya bakalan saya "slepet" (supaya beda dengan istilahnya RR), di forum ini lho. :cengir:
Tapi mosok iya saya mau slepet Jokowi karena misalnya masalah "bus TransJakarta". Ya ndak lah... ::hihi::
So facts plisssss..., not rumors.
:ngopi:
menurut gw selama rr tidak (berani) menyebut nama, yah semua tebak2an, kenapa karna ga ada yg mau klarifikasi atau bahkan menuntut, karna sama aja "mengaku" kalo dia sebagai salah satu aktor shitnetron ini kan?
so????? is he a hero or just another ..... (fill d blanks with ur assumption) ?::arg!:::ngopi:
---------- Post Merged at 04:13 PM ----------
menurut gw selama rr tidak (berani) menyebut nama, yah semua tebak2an, kenapa karna ga ada yg mau klarifikasi atau bahkan menuntut, karna sama aja "mengaku" kalo dia sebagai salah satu aktor shitnetron ini kan?
so????? is he a hero or just another ..... (fill d blanks with ur assumption) ?::arg!:::ngopi:
Ya.. dikasih fact entar bilangnya palsu.. akan dilupakan.. Bahkan rekaman yang beredar ada yg bilang sudah diedit. ya ud kita liat aja perkembangannya.
Kalo najwa pun dianggap ga bener, ya emang ga ada yang bener di dunia kecuali gw sendiri.
Yang jelas salah satu tujuan pemerintahan jokowi memberantas mafia migas, dan sekarang sedang diusahakan. Mafia jelas ga 1-2, wong siapa aja yang bisa nyerempet2 dgn duit banyak bisa jadi mafia di indonesia.
Dalam konflik SN dgn SS ini sih, sampe sekarang gw ga melihat ada keterlibatan RR di dalamnya. Ga ada kepretannya. Beda dgn konflik dia sama RJ Lino, misalnya. Kalo ada yg tau, coba diberitahu.
Yg gw liat dalam kasus Freeport ini, RR hanya mengomentari bahwa ini konflik interest antara dua mafia. Jadi dia pun ga punya interest apa untuk mencampurinya dgn mengatakan siapa yg benar dan siapa yang salah. Sekali lagi, ketika diwawancara, RR menyatakan ini hanya konflik interes antara 2 mafia/aktor/ato apalah. ILC aja yg tertarik untuk mengorek2 lbh dalam, siapa aktor2 yg dimaksud RR. Maka RR membeberkannya di sana.
Lalu kalo kemudian ada komentar, RR juga mafia, ya mungkin aja. Hanya saja, jelas dia ga terlibat didalam kasus SN vs SS. RR ga bela SN juga ga bela SS, ataupun Freeport.
Jadi kalo mau gosipin RR, ya kemukakan dulu kasusnya. Dimana kepentingan RR? Bukan rumor kan?
Lah rr juga bisa dibilang cuma gossip kan, kenapa dia ga berani nyebut, supaya orang yg disebut namanya ga bisa "bela" diri kan, jadi yah selama dia ga nyebut nama, gw tetap menyebutnya gossip, dan kalo rr boleh gossip maka kitapun boleh gossip kan? Kan ada istilahnya berani karna benar, takut karna salah, kalo dia benar kenapa takut nyebut nama? ::ngopi::
Kalo soal gossip kepentingan rr, kenapa ga mikir kalo ss en sn ga bisa/boleh nego dengan freeport, pasti akan ada pihak laen kan yg nego, nah apa tahu bukan kelompoknya rr?
Tapi yah semuanya cuma gossip, dan selama rr ga berani nyebut nama, gw anggap gossip, kalo ada yg mau percaya "gossip" nya rr dan menganggap dia ga ada kepentingan silahkan, kalo gw ga percaya boleh dong ::hihi::
Saya ndak pernah bilang RR mafia atau geng hitam lho, cuma RR memang nge-geng kok.
Kita lihat aja apakah RR suatu saat nanti, entah dalam isu Freeport ini atau isu lain kalo ada, berani ngepret Luhut, iparnya Sjahrir yg dulu se-geng eh sepemikiran dgn RR. Belum lagi soal kedekatan Luhut dgn eks aktifis ITB '78.
Eh iya, kemarin bos Medco ngadep RR yak soal akuisisi Newmont? Tapi bisa jadi itu cuma kangen2an kawan lama sesama alumni ITB aja sih.
Sekali lagi saya bicara soal geng lho ya.
Kayaknya saya ndak pernah bilang Najwa ndak bener deh. ::mikir::Quote:
Kalo najwa pun dianggap ga bener, ya emang ga ada yang bener di dunia kecuali gw sendiri
BTW Najwa yang episode mana yak? Apakah yang episode bincang2 Najwa dgn SS menjawab kepretan "menteri keblinger" dari RR?
Saya sih malah nunggu episode ngobrol2 Najwa dgn RR, mudah2an RR berani eh mau kalo diundang di acara Najwa. Kebetulan kemarin SS juga sudah kepret RR dengan sebutan "pembangkang Jokowi". Saya sih ndak berharap RR cuma bereaksi dengan "ah SS itu sih cuma anak keciiil, ndak level, ocehannya ndak perlu saya tanggapi, mendingan 'bos'nya langsung kalo berani buka2an dgn saya, dst".
:ngopi:
Eh iya ada satu berita (ini fakta lho) ttg Rachmawati yang belum lama ini ngomong kurang lebih (maaf saya ndak sempet bongkar2 beritanya lagi untuk kutip detailnya): "RR harus meminta Jokowi agar memecat SS dari kabinet, dan kalo permintaannya ndak dikabulkan mendingan RR mengundurkan diri (sbg bentuk protes)".
Kita tunggu aja episode selanjutnya apakah RR mau mengikuti saran adiknya Mega tsb. Seingatkku RR adalah "seekor macan" (baca: seorang pemberani) bukan "embek" (baca: coward) dan itu dulu pernah dibuktikannya saat dengan gagah-berani mundur dari jabatan Menko (setelah idolanya, Gus Dur, di-empeach oleh MPR.)
Beneran lho, sejak berakhirnya gegap-gempita era reformasi dulu, saya sekarang kangen untuk bisa mendengar lagi suara "macan mengaum", bukan suara "macan mengembik" apalagi "embek mengaum".
:ngopi:
JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meminta Jaksa Agung HM Prasetyo tak bermain politik.
Hal tersebut disampaikan Fahri menanggapi langkah Kejaksaan Agung yang mulai mengusut dugaan permintaan saham oleh Ketua DPR Setya Novanto kepada PT Freeport Indonesia dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Unsur pidana yang didalami penyidik adalah dugaan permufakatan jahat yang mengarah ke tindak pidana korupsi sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
"Tolonglah, Jaksa Agung jangan bermain politik," kata Fahri, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/12/2015).
Fahri menilai sosok jaksa Agung selama ini memang tidak bisa dilepaskan dari latar belakangnya sebagai politisi Partai Nasdem.
Ia pun menyinggung keterkaitan Jaksa Agung dengan kasus korupsi dana bantuan sosial di Sumatera Utara.
"Jaksa Agung itu sudah disebut dalam kasus bansos dan dia seorang politisi. Saya kasihan dengan 7.000 jaksa profesional kalau Jaksa Agung-nya seperti ini," kata dia.
Fahri mengingatkan Presiden Joko Widodo untuk tak lama-lama mempertahankan HM Prasetyo dari jabatannya sebagai Jaksa Agung.
"Kalau main politik, mungkin Jokowi belum tentu ngerti akibatnya, tapi ini berbahaya," ucap dia.
Sebelumnya, komentar dengan nada menyerang terhadap Jaksa Agung juga disampaikan oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon.
Baik Fahri maupun Fadli memang aktif membela Novanto sejak kasus pencatutan nama Presiden dan Wapres ini dilaporkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan.
Adapun Setya Novanto sampai saat ini belum bisa dimintai komentar terkait langkah Kejagung ini.
Novanto kemarin hadir di Kompleks Parlemen dan menerima delegasi parlemen Georgia di ruangannya. Namun, saat meninggalkan ruang kerjanya, ia dikawal oleh petugas pengamanan dalam DPR dan tak mau diwawancara wartawan.
Penulis: Ihsanuddin
Editor: Inggried Dwi Wedhaswary
Asyikk kejaksaan masuk, moga2 ga takut digertak ::hohoho::
---------- Post Merged at 12:26 PM ----------
JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meminta Jaksa Agung HM Prasetyo tak bermain politik.
Hal tersebut disampaikan Fahri menanggapi langkah Kejaksaan Agung yang mulai mengusut dugaan permintaan saham oleh Ketua DPR Setya Novanto kepada PT Freeport Indonesia dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Unsur pidana yang didalami penyidik adalah dugaan permufakatan jahat yang mengarah ke tindak pidana korupsi sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
"Tolonglah, Jaksa Agung jangan bermain politik," kata Fahri, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/12/2015).
Fahri menilai sosok jaksa Agung selama ini memang tidak bisa dilepaskan dari latar belakangnya sebagai politisi Partai Nasdem.
Ia pun menyinggung keterkaitan Jaksa Agung dengan kasus korupsi dana bantuan sosial di Sumatera Utara.
"Jaksa Agung itu sudah disebut dalam kasus bansos dan dia seorang politisi. Saya kasihan dengan 7.000 jaksa profesional kalau Jaksa Agung-nya seperti ini," kata dia.
Fahri mengingatkan Presiden Joko Widodo untuk tak lama-lama mempertahankan HM Prasetyo dari jabatannya sebagai Jaksa Agung.
"Kalau main politik, mungkin Jokowi belum tentu ngerti akibatnya, tapi ini berbahaya," ucap dia.
Sebelumnya, komentar dengan nada menyerang terhadap Jaksa Agung juga disampaikan oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon.
Baik Fahri maupun Fadli memang aktif membela Novanto sejak kasus pencatutan nama Presiden dan Wapres ini dilaporkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan.
Adapun Setya Novanto sampai saat ini belum bisa dimintai komentar terkait langkah Kejagung ini.
Novanto kemarin hadir di Kompleks Parlemen dan menerima delegasi parlemen Georgia di ruangannya. Namun, saat meninggalkan ruang kerjanya, ia dikawal oleh petugas pengamanan dalam DPR dan tak mau diwawancara wartawan.
Penulis: Ihsanuddin
Editor: Inggried Dwi Wedhaswary
Asyikk kejaksaan masuk, moga2 ga takut digertak ::hohoho::
^
Kita nikmati aja cerita di episode2 selanjutnya, "rekaman lengkapnya" sudah beredar kok...
http://nasional.tempo.co/read/news/2...ppig-contohnya
http://nasional.tempo.co/read/news/2...ga-dan-prabowo
http://nasional.tempo.co/read/news/2...disebut-5-kali
:ngopi:
Supaya infonya berimbang, berikut link acara Mata Najwa dengan SS...
https://www.youtube.com/watch?v=QJPP-jcByJU
:ngopi:
---------- Post Merged at 03:00 PM ----------
Saya pribadi ndak punya "records" untuk sampai pada kesimpulan bahwa "RR adalah bagian dari mafia (hitam)", bahkan sebaliknya sampai saat ini saya masih percaya RR termasuk "orang bersih" (dalam konteks KKN), sampai saat ini lho. Yang saya sorot lebih ke soal "sinetron" (ketidak-terusterangan) yang sedang diperagakannya saat ini, setidaknya itu menurut penilaian saya.
Sekedar klarifikasi aja.
:ngopi:
Barusan penasaran saya cari2 "dokumen" yang dipegang oleh Zon seperti dilansir di acara Mata Najwa. Ternyata itu memang cuma "surat SS ke Moffett".
https://www.youtube.com/watch?v=m8Dj47wtD1Q
:ngopi:
Kalo yg g mengerti sih.. Bukan ketidakterusterangan, tapi bukti yg dimiliki tidak sampe membuat dia bisa mengatakannya terus terang.
Lagipula kalo sebuah strategi dibeberkan di publik, apa gak makin blo'on? Tentu saja yg ada sekarang ga bisa semua dibuka. Ntar malingnya keburu kabur.
Tempatnya membeberkan tuduhan yg tepat adalah di pengadilan. Kalo sekarang, tentunya cuman gertakan bertujuan membuat lawan kipas2 leher.
Kalo terus terang menuduh.. noh si fadli jon terus terang.. tapi ga ada yg percaya kan? Wong dia lg belain pesakitan.
Ini coba dengerin ILC penutup prof mahfud md yg juga menyalahkan dua2nya dalam kasus freeport.
https://www.youtube.com/watch?v=RPRP7bZesKk
Well, masih bilang shitnetron? Setidaknya ss sudah melakukan perannya melapor ke mkd, bahkan kalo nonton tv indo kemaren, serasa ss yg disidang sama mkd, en apa yg udah dilakukan rr? Cuma cari perhatian aja,kayak fa aja kalo bener ada strategi atau ada apapun data yg dipegang rr, sekarang saatnya dibuka supaya kejaksaan bisa masuk ke jalur pidana, kecuali dia emang cuma bullsh*t, atau ada kepentingan laen, sehingga juga takut boroknya dibuka kelompok yg laen ::ngopi::
Disitu memang menjadi forum untuk "menyidang/menilai" dua pihak yaitu SS dan SN, jadi wajar saja kalo Mahfud menilai dua2nya bersalah. Dua poin kesalahan SS yang disampaikan oleh Mahfud pun sudah saya singgung di topik ini yaitu soal "surat SS ke Moffett" dan "ekspor konsentrat". Ya, menurut saya SS memang melakukan "kesalahan" dalam dua hal tsb, dan saya sudah singgung itu di posting2 sebelumnya.
Dan SS sudah mengklarifikasi kedua tuduhan kesalahan tsb, baik di berbagai kesempatan (soal "suratnya ke Moffett") maupun secara langsung pada waktu acara dengar pendapat di Komisi VII DPR (soal "ekspor konsentrat"). Persoalan apakah klarifikasinya tersebut diterima atau tidak diterima itu persoalan lain, yang terpenting ada reasons yang jelas, bukan asal pokoke menerima atau pokoke tidak menerima.
Saya pribadi, meskipun ini mungkin ndak penting soale saya juga bukan siapa2, bisa menerima klarifikasi yang diberikan oleh SS tentang dua hal tsb. Penjelasan SS bahwa "draft surat ke Moffett tsb dibuat ber-sama2 dengan Jokowi dan melibatkan staf bidang hukum kementerian" bisa saya terima, kecuali nanti ada bantahan dari Jokowi bahwa SS berbohong dan sama sekali tidak melibatkan dirinya saat pembuatan draft surat tsb. Ini kutipan posting saya tanggal 20/11/2015:
Lalu masalah "ekspor konsentrat" saya bisa "memaklumi" dalam pengertian ijin ekspor konsentrat tsb tidak hanya diberikan untuk Freeport kok, dan keputusan tsb diambil oleh KESDM dengan reasons tertentu, termasuk syarat2nya, terms & conditions nya juga ada, misalnya soal quota ekspor, pengenaan pajak ekspor, batasan waktu perijinan, dst.Quote:
Originally Posted by 234
Tapi bagaimanapun, salah tetaplah salah. Itu harus dibenahi. Misalnya soal ijin ekspor konsentrat untuk Freeport (ini udah ijin yang kesekian sejak pemerintahan SBY) yang akan berakhir pada 25 Januari 2016 nanti, MESDM harus lebih tegas lagi,...kejar terus komitmen Freeport untuk pembangunan smelternya, kalo masih ngeyel ya tinggal diperberat aja terms & conditions nya, misalnya menurunkan quota ekspor, menaikkan besaran pajak ekspor, bahkan pinalti yang paling berat ya jangan mau lagi memperpanjang ijin ekspor konsentrat Freeport. Sepanjang langkah2 tsb masih dalam koridor hukum saya akan mendukung langkah2 KESDM tsb.
Tapi bagaimanapun juga, di sisi lain, salah bukan berarti jahat. Kesalahan atau kekeliruan berbeda dengan kejahatan. Yang pantas diproses secara hukum bahkan dijebloskan ke penjara itu penjahat (orang yang berbuat jahat) bukan se-mata2 orang yang berbuat kekeliruan. Misalnya, Dahlan Iskan (waktu menjabat dirut PLN) memang telah melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan sehingga "merugikan keuangan negara" tetapi apa iya DI otomatis langsung bisa dijerat dengan pasal tipikor? Saya jelas ndak setuju.
Anyway, saya suka dengan penjelasan Mahfud di acara ILC tsb karena sangat terukur, ndak tendensius, dan didukung dengan reasons yang dijelaskan secara runut. Dan Mahfud ndak singgung2 soal "mafia" maupun "sinetron" lho. Salut. ::up::
:ngopi:
Ok.. kita liat aja lah perkembangannya..
Gw sekarang lagi tertarik sama sosok MR Chalid yang suaranya ikut terekam, malah bicara lebih banyak. Siapa Mr Chalid ini? Keknya lebih berbahaya dari SN.
Gw kenal sih arab2 model gini yang gayanya sok jagoan, kayak mafia. Sbgn besar omongnya bu115h1t buat menggertak lawan bicaranya. Tp yg ini emang kayaknya sih arab super kaya coy!
http://moneter.co/wp-content/uploads...wa-425x250.jpg
Periksa Setya Novanto, MKD Diminta Bentuk Tim Independen
Jumat, 04 Desember 2015 | 19:08
AAA
Jakarta - Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) diminta segera membentuk tim independen dalam memeriksa Ketua DPR Setya Novanto (SN). Pasalnya, dalam dua kali sidang MKD, arahan sidang ke mana-mana. Anggota MKD tidak fokus ke pelanggaran etika yang dilakukan SN.
"Supaya persoalan ini diusut tuntas secara adil, MKD harus membentuk empat tim independen. Mereka bekerja selama sepuluh hari," kata rohaniwan Katolik, Romo Benny Susatyo, di Jakarta, Jumat (4/12).
Ia menilai, MKD memiliki permasalahan dalam memahami moral publik menyangkut kepantasan. Mereka juga punya kepentingan politik masing-masing sehingga tidak netral dan tegas dalam menentukan apakah SN melanggar etika atau tidak.
"Kalau MKD bermain dengan retorika maka MKD akan digulung oleh sejarah peradaban. Padahal ini momentum bagi bangsa untuk bersih-bersih, sehingga proses ini bisa mengungkap semua fakta. Kita bisa berharap proses ini mengungkap sejarah masa lalu," tutur Beny yang juga seorang aktivis anti korupsi ini.
Sementara itu, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bakti menyebut Menteri ESDM Sudirman Said (SS) dan Presdir Freeport Maroef Syamsudin (MS) sebagai patriot bangsa. Pasalnya, mereka berani mengungkap praktik kotor elit politik yang terjadi selama ini, terutama dalam kasus PT Freeport.
"Di mata saya, SS dan MS adalah patriot bangsa. Meskipun apa yang direkam itu menimbulkan kegaduhan politik, tetapi dengan apa yang mereka lakukan, mereka telah menyelamatkan negara dari penjahat kerah putih," tuturnya.
Robertus Wardhy/FER
Penjahat bagi sekelompok orang, pahlawan bagi yg lainnya ::hohoho::
Saya nunggu sinetron eps selanjutnya. Semoga makin seru. Zon dan Fahri keknya ngebet bgt jadi pemeran utama
Foto: agung pambudhy
FOKUS BERITA:Sidang Mahkamah Dagelan Novanto
Jakarta - Dengan mimik serius dan suara bergetar Presien Joko Widodo menanggapi soal persidangn 'Kasus Papa Minta Saham' oleh MKD DPR. Jokowi marah soal pencatutan namanya itu.
Awalnya Jokowi menegaskan proses persidangan yang dilakukan oleh MKD itu harus dihormati. Namun, jika lembaga negara dipermainkan, itu yang tidak bisa dia terima.
"Proses yang berjalan di MKD harus kita hormati. Tetapi, tetapi, tidak boleh yang namanya lembaga negara itu dipermain-mainkan. Lembaga negara itu bisa kepresidenan, bisa lembaga negara yang lain," kata Jokowi saat ditanya di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (7/12/2015).
Jokowi melanjutkan, dengan mimik muka serius dia menegaskan tidak apa jika dirinya dikatakan sebagai Presiden gila ataupun koppig (keras kepala -red). Namun soal pencatutan namanya untuk meminta saham PT Freeport 11 persen, itu yang tidak bisa dia terima.
"Saya enggak apa-apa dikatakan Presiden gila, Presiden sarap, Presiden koppig, nggak apa-apa. Tapi kalau sudah menyangkut wibawa, mencatut, meminta saham 11 persen, itu yang saya tidak mau. Nggak bisa!" tegasnya.
"Ini masalah kepatutan, masalah kepantasan, masalah etika, masalah moralitas, dan itu masalah wibawa Negara," tambahnya lalu meninggalkan wartawan. (jor/tor)
Jokowi ngamuk, asyikkk ::hohoho::
Akbar: Presiden-Wapres Akan Laporkan Novanto ke Polisi
Selasa, 8 Desember 2015 | 09:15 WIB
7223
Shares
JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dari Fraksi Partai Nasdem, Akbar Faizal, mengaku menerima informasi bahwa Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla bakal melaporkan Ketua DPR Setya Novanto ke Polri.
Menurut Akbar, pelaporan itu didasari atas dugaan pencatutan nama keduanya oleh Setya Novanto.
"Saya dengar Presiden dan Wapres akan melaporkan SN ke polisi atas pencatutan namanya tersebut," kata Akbar melalui pesan singkat di Jakarta, Selasa (8/12/2015), seperti dikutip Antara.
Akbar tidak menyebut dari mana asal informasi tersebut. Namun, dia menyatakan mendukung penuh langkah pelaporan itu. (Baca: Sidang Tertutup yang Ditutup-Tutupi...)
"Saya dengar-dengar (informasi pelaporan itu). Saya mendukung penuh," ujar dia.
Presiden sebelumnya meluapkan kemarahannya setelah membaca transkrip pembicaraan secara utuh antara Novanto dan pengusaha Riza Chalid saat bertemu dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.
Jokowi baru sempat membaca transkrip pembicaraan pada Senin (7/12/2015). (Baca: Presiden Jokowi Sudah Menahan Amarah ke Setya Novanto sejak Pagi)
Pada Senin petang, Jokowi sempat memberi pernyataan kepada media mengenai persiapan pelaksanaan pilkada serentak. Saat itu, Jokowi masih terlihat tenang.
Namun, raut wajah dan suaranya mendadak berubah ketika ditanya mengenai proses persidangan yang berjalan di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).
Dia juga mengacungkan jari telunjuknya sebagai penegas dari perkataannya. (Baca: Jokowi: Tak Apa Saya Dibilang "Koppig", tetapi kalau Sudah Meminta Saham, Tak Bisa!)
"Saya tidak apa-apa dikatakan Presiden gila! Presiden sarap, Presiden koppig, tidak apa-apa. Tetapi, kalau sudah menyangkut wibawa, mencatut meminta saham 11 persen, itu yang saya tidak mau. Tidak bisa. Ini masalah kepatutan, kepantasan, moralitas. Itu masalah wibawa negara," kata Jokowi dengan nada tinggi.
Saat ini, kejaksaan tengah mengusut kasus itu dengan sangkaan pemufakatan jahat. Kejaksaan sudah memeriksa Menteri ESDM Sudirman Said dan Maroef. (Baca: Setya Novanto Tuding Sudirman Said Lakukan Rekayasa Politik Luar Biasa)
Ponsel yang dipakai Maroef untuk merekam percakapan dalam pertemuan di Hotel Ritz Carlton Jakarta pada 8 Juni 2015 juga sudah disita jaksa.
Adapun Komisi Pemberantasan Korupsi masih mencermati proses di MKD. KPK akan mengkaji apakah ada indikasi korupsi dalam kasus itu.
Adapun Novanto kepada MKD membantah semua tuduhan dirinya mencatut nama Presiden-Wapres untuk meminta saham kepada Freeport. (Baca: Setya Novanto Sebut Sudirman Said Beri Keterangan Palsu)
---------- Post Merged at 12:13 PM ----------
asyik2 akhirnya masuk lahan pidana ::hohoho::
Nasional
Setya Novanto Laporkan Sudirman Said ke Polisi dengan Tuduhan Fitnah
KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN
Menteri ESDM Sudirman Said di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (8/12/2015).
Rabu, 9 Desember 2015 | 15:48 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto melalui kuasa hukumnya, Firman Wijaya, melaporkan Menteri ESDM Sudirman Said ke Bareskrim Polri karena diduga telah melakukan beberapa pelanggaran hukum pascabergulirnya rekaman PT Freeport Indonesia.
"Ke sini (Bareskrim) untuk mengadukan Menteri SS (Sudirman Said)," kata Firman di Gedung Bareskrim, Jakarta, Rabu.
Dia menyebutkan, Setya akan melaporkan beberapa dugaan pelanggaran hukum yang diduga dilakukan oleh Sudirman. (Baca: Setya Novanto: Rekaman Maroef Melawan Hukum, Ilegal, dan Tak Bisa Jadi Alat Bukti)
"Dugaan tindak pidana fitnah, pencemaran nama baik, penghinaan, dan pelanggaran ITE," katanya.
Upaya pelaporan ini, kata Firman, untuk meluruskan tuduhan-tuduhan yang selama ini menyerang kliennya. (Baca: Sudirman Said: Saya Tidak Proaktif, Hanya Diundang untuk Beri Keterangan)
"Ini sudah menyerang nama baik Setnov (Setya Novanto). Ini harus ditindak serius. Untuk itu, kami ingin meluruskan tuduhan ini, makanya kami lapor ke Bareskrim," ujarnya.
Menteri ESDM telah mengadukan Setya Novanto ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) karena diduga telah mencatut nama Presiden dan Wapres dalam perpanjangan kontrak Freeport. (Baca: Tokoh Muda Golkar Akan Laporkan Setya Novanto ke KPK)
Bukti rekaman pembicaraan antara Setya Novanto, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, dan pengusaha minyak M Riza Chalid yang berisi dugaan pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden sudah diserahkan ke MKD.
Dalam persidangan MKD, Sudirman Said dan Maroef Sjamsoeddin telah dimintai keterangan.
Sementara itu, Ketua DPR Setya Novanto juga telah dimintai keterangan oleh MKD, meski pemeriksaan dilakukan secara tertutup.
Asyik2 "tikusnya" gigit balik ::hohoho::