^^^
Benerr, makanya adalah hal lucu pemerintah ga pernah dikasih laporan yg udah di audit, tapi yg lalu udahlah, sekarang hal yg kita tunggu APA YG BAKAL MENPORA LAKUKAN, hayokk pak imam , saya berharap banyak pada anda dan tim transisi::hohoho::
Printable View
^^^
Benerr, makanya adalah hal lucu pemerintah ga pernah dikasih laporan yg udah di audit, tapi yg lalu udahlah, sekarang hal yg kita tunggu APA YG BAKAL MENPORA LAKUKAN, hayokk pak imam , saya berharap banyak pada anda dan tim transisi::hohoho::
Kulkasnya segede apa? ::ungg::
Kan sesuai permintaan bro, menjawab ala #56 :D
Benerrrt, celetukan kayak gitu yg mengilhami "founder father" ::KM:: buat subforum obesitas ini ::jempol::
KOMPAS.com — Di Indonesia, sepak bola adalah fiesta. Di sanalah, sepak bola bisa bertranformasi menjadi alat perjuangan, hiburan, kisah indah, hingga mata pencarian. Betapa murungnya Indonesia jika tidak ada sepak bola.
Melalui sepak bola, anak-anak, orangtua, teman, saudara, hingga kakek dan nenek bisa berkumpul sembari menyatukan dukungan. Janganlah lupa pula, sepak bola itu harus bisa membuat kegembiraan. Kegembiraan yang menjadikan sepak bola sebagai perayaan di atas segala-galanya.
Namun, kini Indonesia terasa sepi karena kegembiraan itu tak kunjung datang. Bertahun-tahun sepak bola menghilang, mengembara entah ke mana, lantaran timnas terus menuai kegagalan. Jangankan meraih prestasi, berbagai persoalan internal PSSI saja tak pernah serius diatasi.
Beberapa bulan lalu, masyarakat sempat menyaksikan sepak bola Indonesia kembali mendunia. Akan tetapi, bukan karena titel juara, melainkan ulah pemain adu jotos di lapangan, suporter yang bertikai hingga memakan korban jiwa, serta mafia yang mampu mengatur skor pertandingan dengan leluasa.
Ketika menyaksikan Evan Dimas dan kawan-kawan mengenakan seragam tim nasional U-19, masyarakat memang sempat merasakan kegembiraan luar biasa. Namun, kegembiraan itu hanya berlangsung singkat karena mereka pun gagal total di Piala Asia U-19 Myanmar pada tahun lalu.
Sekali lagi, sejatinya, tidak logis jika pemain dan pelatih disalahkan jika timnas menuai kegagalan. Para pengurus serta pemangku kepentinganlah yang harus diminta pertanggungjawaban karena mereka dihadapkan fakta telah gagal membina sepak bola Indonesia selama rentang puluhan tahun.
Sanksi FIFA
Atas berbagai karut-marut sepak bola yang tak kunjung usai, Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) resmi menjatuhkan sanksi terhadap PSSI, Sabtu (30/5/2015). Akibat putusan itu, Indonesia dilarang mengikuti turnamen internasional FIFA maupun AFC hingga waktu yang tidak ditentukan.
Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke, dalam suratnya kepada PSSI, mengatakan, pihaknya baru akan mencabut sanksi dan memulihkan keanggotaan apabila Indonesia memenuhi empat syarat. Inti dari syarat itu adalah PSSI kembali diberi wewenang mengelola urusannya secara independen.
Namun, rasanya syarat itu bakal kembali mengulang pertanyaan membosankan. Apakah independensi PSSI mengelola kompetisi sepak bola Tanah Air hingga saat ini sudah berjalan dengan baik? Apakah independensi mereka juga bisa membuat ratusan juta masyarakat Indonesia bersukacita menyaksikan timnas berpesta di podium kemenangan?
Maklum, semenjak puluhan tahun lalu, apa yang terdengar dari sepak bola Indonesia hanyalah kekacauan, kebingungan, ketidakpastian, intrik, dan rivalitas bersambung-sambungan. Anehnya, para pengurus yang terlibat pada periode itu hingga kini masih "sakti" duduk di kursi petinggi, berjalan bebas seakan merasa tak terjadi hal yang mengkhawatirkan.
Semenjak emas SEA Games Manila 1991, pemerintahan telah berganti lima kali. Posisi pelatih timnas pun dibongkar pasang puluhan kali, mulai yang berasal dari Jawa, Sumatera, hingga luar negeri. Pengurus PSSI? Boro-boro undur diri, timnas gagal puluhan kali mereka tetap asyik sibuk mengamankan jatah kursi.
Belum lagi melihat kinerja asosiasi provinsi PSSI yang selama ini dinilai kerap abai menjalankan tugasnya di daerah. Padahal, salah satu titik krusial pembinaan sepak bola adalah membentuk sistem kompetisi yang baik di level amatir. Oleh karena itulah, jangan dulu bicara prestasi jika para pengurus sepak bola di negeri ini tak tersentuh arus reformasi.
Reformasi
Pertanyaannya kini, siapa yang mampu menghentikan aksi para pengurus itu merajut serial panjang kegagalan? Sejarah mencatat, setiap kali ada momen perubahan di dalam sepak bola Indonesia, justru muncul konflik balas dendam yang tak jelas arahnya. Di sinilah masalah utama pembenahan sepak bola nasional.
Filsuf asal Amerika Serikat, George Santayana, mengatakan, "Mereka yang mengabaikan sejarah akan dikutuk untuk mengulanginya." Pernyataan itu pun rasanya pantas disematkan untuk para pengurus sepak bola di negeri ini. Pengurus yang sejak puluhan tahun lalu lebih menyerupai politisi ketimbang pamong olahraga sejati.
Presiden Joko Widodo di Jakarta, Sabtu (30/5/2015), menginginkan pembenahan total PSSI untuk memperbaiki prestasi sepak bola Indonesia. Presiden sadar bahwa tidak ada yang perlu dibanggakan jika timnas Indonesia selalu mengalami kegagalan di berbagai turnamen internasional.
Alhasil, pernyataan Presiden bakal menjadi tantangan sangat berat bagi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Maklum, ketika memutuskan membekukan PSSI, Menpora tidak hanya mendapatkan apresiasi, tetapi juga hujatan tiada henti dari para pencinta sepak bola Indonesia.
Hujatan itu bukan tanpa alasan. Selama ini publik sudah paham betul berbagai manuver pemerintah ataupun pengurus sepak bola. Jadi, wajar masyarakat mempertanyakan keseriusan Menpora membenahi sepak bola jika mengumumkan anggota Tim Transisi saja selalu molor dan tak jelas waktunya.
Sempat muncul pula kabar mengenai motif di balik alasan Menpora membekukan PSSI yang kini dipimpin oleh La Nyalla Matalitti. Namun, sejatinya, masyarakat takkan peduli karena yang mereka inginkan adalah menyaksikan kembali pertandingan berkelas di lapangan, bukan konflik pribadi untuk menunjukkan kekuasaan.
Pemerintah harus serius jika ingin membenahi sepak bola Indonesia. Mereka juga harus membuktikan kepada masyarakat, jika memang memiliki blueprint sebagai dasar untuk pembenahan sepak bola nasional secara jangka panjang, bukan hanya untuk kurun waktu singkat.
Meminjam teori ahli psikologi sosial asal AS, Kurt Lewin (1951), seseorang yang akan mengadakan perubahan harus memiliki konsep agar proses itu terarah dan mencapai tujuan yang diinginkan. Karena itulah, Menpora harus memiliki konsep jelas agar masyarakat siap dan bisa menerimanya untuk berjalan bersama-sama ke arah perubahan.
Perubahan agar tidak ada lagi tarik ulur kepentingan ketika membentuk kepengurusan baru PSSI. Perubahan agar tidak lagi ada upaya melibatkan oknum-oknum yang terbukti selama puluhan tahun gagal membina sepak bola di dalam negeri. Perubahan untuk membentuk kompetisi sehat agar gaji dan hak para pemain bisa terpenuhi seusai janji.
Peduli
Bung Hatta pernah berkata, "Jatuh bangunnya negara ini sangat tergantung dari bangsa ini sendiri." Menurut Bung Hatta, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta jika persatuan dan kepedulian makin pudar di setiap jiwa rakyat Indonesia. Pernyataan itulah yang harus diilhami para pengurus PSSI dan pemerintah jika ingin serius membenahi sepak bola.
Jika kedua pemangku kepentingan itu tak lagi saling peduli, sepak bola Indonesia akan terus mengalami krisis prestasi. Jika mereka tidak lagi memperhatikan persatuan, sepak bola akan terus merajut kisah kegagalan. Kalau sudah seperti itu, jutaan talenta muda sepak bola-lah yang akan menjadi korban.
Banyak bukti, dari Sabang sampai Merauke, tersimpan bibit emas sepak bola. Puluhan tahun mereka menyimpan asa, menunggu kapan sepak bola di Tanah Air bisa menjadi ajang memperebutkan prestasi, bukan konflik yang tiada henti. Bertahun-tahun mereka merasa dianggap tak penting karena nyatanya hanya pengakuan kepengurusan yang dianggap lebih genting.
Atas berbagai masalah itu, kini harapan besar publik Indonesia akan kembali tertanam di benak para pemangku kepentingan negeri ini. Masyarakat sudah rindu menyaksikan sepak bola menjadi hiburan yang menyenangkan. Sepak bola yang tidak lagi membuat kepala pesepak bola muda tertunduk lesu di podium kekalahan.
Oleh karena itu, jadikan sanksi FIFA sebagai momentum perbaikan. Pemerintah harus menepati janji jika berniat tulus membenahi sepak bola di dalam negeri. Mereka juga harus ingat, masyarakat sangat menginginkan perubahan meskipun dalam perjalanannya, berkaca kepada catatan sejarah, wajar jika nanti masih bakal muncul pertanyaan, "Mau buat manuver apa lagi, PSSI?"
Tulisan ini menampilkan opini pribadi dari wartawan Kompas.com, Ary Wibowo. Penulis bisa dihubungi lewat Twitter @iLhoo
Editor: Ary Wibowo
Sangat mewakili pikiran gw, apakah pembekuan ini langkah politik lagi? Atau pak Imam ada blueprint buat langkah selanjutnya ::ungg::
Agranet Multicitra SiberkomVIEWx
Olahraga
Selasa, 02/06/2015 23:59
BREAKING NEWS
Sepp Blatter Mundur Sebagai Presiden FIFA
Reporter: Vetriciawizach, CNN Indonesia
Sepp Blatter Mundur Sebagai Presiden FIFA
Sepp Blatter mengundurkan diri sebagai presiden FIFA setelah 17 tahun menjabat. (REUTERS/Ruben Sprich)
Zurich, CNN Indonesia -- Selang beberapa hari setelah ia terpilih kembali sebagai presiden FIFA untuk kelima kalinya, Joseph "Sepp" Blatter mengundurkan diri sebagai presiden otoritas sepak bola dunia tersebut.
Pengunduran diri ini ia sampaikan pada sesi jumpa wartawan yang berlangsung Selasa (2/6) siang waktu Zurich setempat.
"Sebuah Kongres Luar Biasa akan digelar untuk menunjuk pengganti saya secepatnya," kata Blatter.
"FIFA membutuhkan restrukturisasi secara mendalam. Karena itulah saya akan menyerahkan jabatan kepresidenan saya."
"Saya tidak akan mencalonkan diri. Saya kini akan terbebas dari batasan-batasan pada pemilihan umum. Saya akan berada pada posisi untuk mengadakan reformasi. Selama bertahun-tahun kami telah meminta adanya reformasi. Namun hal ini kini tak cukup lagi."
"Kami membutuhkan adanya pembatasan pada mandat dan juga masa jabatan. Saya pernah memperjuangkan perubahan ini, namun upaya saya telah dihalangi."
Blatter adalah presiden FIFA selama 17 tahun terakhir. (Baca Juga: Platini Katakan Pengunduran Blatter Sebagai Keputusan Berani dan Tepat)
Pengunduran diri Blatter terjadi setelah skandal baru menerpa FIFA, yaitu terungkapnya keterlibatan Sekertaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke, dalam skandal suap US$ 10 juta untuk mengamankan Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010.
Sebelumnya, dalam dokumen-dokumen tuntutan yang diajukan oleh Kejaksaan Agung Amerika Serikat, terungkap bahwa ada aliran uang sebesar US$ 10 juta yang dibayarkan untuk mantan Wakil Presiden FIFA, Jack Warner.
Uang dikirimkan oleh seorang petinggi FIFA dari rekening FIFA di bank Swiss kepada rekening bank Amerika Serikat yang dikendalikan Warner.
Menurut The New York Times, pihak otoritas Amerika Serikat percaya bahwa Valcke adalah orang yang memerintahkan adanya pembayaran tersebut.
Melalui surat elektronik kepada The New York Times, Valcke telah membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa mantan Komite Keuangan FIFA, Julio Grondona, adalah orang yang berwenang untuk menyetujui pembayaran tersebut.
Demikian pula dengan FIFA yang pada Selasa (2/6) telah mengularkan bantahan resmi tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa uang US$ 10 juta dialirkan sesuai dengan prosedur organisasi dan juga disetujui oleh Grondona dan bukan Valcke.
Namun, hanya berselang satu jam setelah bantahan FIFA, Press Association mengeluarkan surat bukti yang memperlihatkan bahwa Valcke mengetahui adanya aliran dana US$ 10 juta tersebut.
Tuduhan suap di proses pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2010 itu adalah salah satu dari 47 kasus korupsi, suap, dan juga kejahatan terorganisir yang dituduhkan oleh pihak otoritas Amerika Serikat kepada para petinggi FIFA, dengan kejahatan terentang selama lebih dari 20 tahun terakhir.
Sebelumnya, pada Rabu (27/5) kepolisian Swiss telah menahan sembilan orang petinggi FIFA dan mengumumkan bahwa total 14 orang akan ditangkap karena kasus tersebut.
Di tengah badai skandal terbesar dalam sejarah sepak bola tersebut, Blatter tetap terpilih kembali sebagai presiden FIFA setelah satu-satunya penantang dalam Kongres FIFA, yaitu Pangeran Ali bin Al-Hussein dari Yordania, mengundurkan diri.
---------- Post Merged at 07:46 AM ----------
Saushttp://m.cnnindonesia.com/olahraga/20150602235918-142-57188/sepp-blatter-mundur-sebagai-presiden-fifa/
---------- Post Merged at 07:47 AM ----------
Saushttp://m.cnnindonesia.com/olahraga/20150602235918-142-57188/sepp-blatter-mundur-sebagai-presiden-fifa/
sejak lama gw udah menduga kalo valcke bukan orang bersih
lha wong pas jaman nurdin aja dia bela2in nurdin. padahal status nurdin udah jadi tersangka (ato malah terpidana ya...lupa)
padahal status nurdin udah melnggar statuta fifa, kok malah dibela valcke
tinggal diliat aja nih kelanjutannya
bersih2nya ga cuman di pssi, tapi sampe ke fifa juga soalnya
Kayaknya valcke juga kena deh, makanya sepp blater mengundurkan diri, tapi denger cnn sebentar katanya ada bukti valcke tahu soal suap, jangan2 pssi juga ada "maen" ke valcke, tapi kalo mau jujur juga menpora harusnya begitu membekukan pssi, langsung utus orang ke zurich ::managuetahu::
menpora ini lucu banget ya
disuruh dialog ama pssi, yang dipanggil malah djohar arifin
alesannya ga mengakui kepengurusan pssi dibawah la nyala
lha ini niat nyelesaiin kisruh gak sih sebenernya ::grrr::
---------- Post Merged at 10:12 PM ----------
menpora ini lucu banget ya
disuruh dialog ama pssi, yang dipanggil malah djohar arifin
alesannya ga mengakui kepengurusan pssi dibawah la nyala
lha ini niat nyelesaiin kisruh gak sih sebenernya ::grrr::
Iya ada yg aneh jangan2 menpora malah pengen "menpolitikan sepakbola", maklum lagi musim pilkada bentar lagi ::kesal::
yup...gw sampe negative thinking ama menpora nih
emang bener pssi arogan dan banyak masalah. tapi kalo ga duduk bareng apa masalah bisa selesai gitu aja?
beda urusan kalo pssi udah diundang tapi ga mau dateng
lha ini yang diundang malah djohan arifin
jangan2 nanti djohar dijadiin ketua pssi lagi ama kemenpora. trus ada dualisme lagi
cape deh ::grrr::
---------- Post Merged at 09:18 PM ----------
yup...gw sampe negative thinking ama menpora nih
emang bener pssi arogan dan banyak masalah. tapi kalo ga duduk bareng apa masalah bisa selesai gitu aja?
beda urusan kalo pssi udah diundang tapi ga mau dateng
lha ini yang diundang malah djohan arifin
jangan2 nanti djohar dijadiin ketua pssi lagi ama kemenpora. trus ada dualisme lagi
cape deh ::grrr::
Hihihi jadi males lagi ikutin sepakbola nasional kalo gini ::doh:::kesal:
Special thanks buat sis [MENTION=565]silverjade[/MENTION]::hihi::
emang madesu nih
abis membekukan pssi apa langkah menpora? nyaris ga ada
mau benerin sepakbola indonesia, tapi ga ngajak pssi diskusi
malah mau ngadain turnamen buat mengisi kekosongan kompetisi (yang mana penyebabnya ya gara2 pssi dibekuin ama menpora!)
kalo kayak gini terus sih sampe 5 tahun kemudian juga ga bakal maju sepakbola indonesia
yang ada malah nambah jumlah pengangguran
Iya menporanya terasa ga punya kemauan buat berdiskusi sama la nyalla? Jangan2 ada urusan pribadi
curiganya sih malah pembekuan pssi itu pesenan
ato biar menpora keliatan kerja gitu...soalnya mentri lain macem bu Susi kan langsung keliatan kinerjanya
mentri2 lain jadi seolah tenggelam...
lha wong abis membekukan pssi terus kok (seolah2) ga melakukan apa2
tim transisi juga ga keliatan kerjanya apa...bukan membenahi pssi malah ngadain turnamen
pantes aja dulu kang emil menolak masuk tim transisi...kerjanya aja ga jelas ::doh::
---------- Post Merged at 09:53 PM ----------
curiganya sih malah pembekuan pssi itu pesenan
ato biar menpora keliatan kerja gitu...soalnya mentri lain macem bu Susi kan langsung keliatan kinerjanya
mentri2 lain jadi seolah tenggelam...
lha wong abis membekukan pssi terus kok (seolah2) ga melakukan apa2
tim transisi juga ga keliatan kerjanya apa...bukan membenahi pssi malah ngadain turnamen
pantes aja dulu kang emil menolak masuk tim transisi...kerjanya aja ga jelas ::doh::
Bola
FIFA Bersih Dulu, Menpora Baru Cabut Sanksi PSSI
Ferril Dennys
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, didampingi Mantan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin (kanan), dan Staf Ahli Menpora, Faisal Abdullah (kiri), memberikan keterangan pers di Kantor Kemenpora, Selasa (23/6/2015).
Selasa, 23 Juni 2015 | 19:10 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengungkapkan akan mencabut sanksi kepada PSSI seusai FIFA menggelar Kongres Luar Biasa, yang kemungkinan akan digelar antara Desember 2015 dan Maret 2016.
"(Sanksi PSSI) Sampai FIFA selesai kongres. Bagaimana mau dicabut kalau FIFA masih sibuk sendiri?" kata Imam dalam jumpa pers di kantor Kemenpora, Selasa (23/6/2015).
Menpora membekukan PSSI sejak 17 April 2015. Langkah Menpora membuat PSSI akhirnya dibekukan FIFA pada 30 Mei 2015.
Seiring waktu, FIFA diterpa isu skandal korupsi yang melibatkan sejumlah petinggi organisasi. Presiden Joseph Blatter akhirnya mundur pada 2 Juni setelah sempat kembali terpilih dalam kongres FIFA pada 29 Mei 2015.
Menurut Imam, FIFA harus terlebih dulu mereformasi dirinya agar menjadi kiblat bagi persepakbolaan dunia. "FIFA harus membersihkan diri dulu," ujar Imam.
Imam juga menanyakan rencana FIFA datang ke Indonesia terkait campur tangan pemerintah. "Katanya, FIFA mau ke sini, kami akan sambut dan jelaskan persoalannya," lanjut Menpora.
Perihal soal kompetisi, Imam menyatakan akan berupaya secepat mungkin menggelarnya. Tim Transisi sedang menggodok untuk menggelar Piala Kemerdekaan dan Piala Panglima.
"Kami akan pikirkan solusi tercepat agar kompetisi berjalan, turnamen berjalan, dan festival berjalan, seperti yang direncanakan tim Transisi," ujarnya.
Maksdnya apa coba, menpora ngomong tunggu fifa bersih dulu ::doh::
efek positifnya... sdh berbulan2 ga ada arak2an supporter bola yang ugal2an dijalan... mslh nonton bola? liga inggris, italia, spanyol lbh menghibur.. ::mrgreen::
^^^
Gak pengen ngeliat indo mengalahkan brazil 3-2 om, di hidup ini? ::ungg::
gw kok ga reti ama logikanya menpora
bukannya dulu dia membekukan pssi karena pengen membenahi pssi?
sekarang dia bilang bakal mencabut pembekuan pssi kalo fifa udah bersih?
jadi kalo fifa bersih, otomatis pssi bakal bersih dengan sendirinya gitu? ::arg!::::arg!::::arg!::
---------- Post Merged at 11:45 PM ----------
dan bener juga...menpora bikin tim transisi bukan buat membenahi pssi
tapi buat menyelenggarakan kompetisi ::arg!:: ::arg!:: ::arg!:: ::arg!:: ::arg!::
Kalo gw tebak, menpora sendiri bingung mau menentukan langkah, tapi gengsi mengakui, ataupun merangkul la nyalla makanya dia ngomong begitu ::managuetahu::
PTUN Menangkan Gugatan PSSI atas Menpora
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) memenangkan gugatan Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) terhadap Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Demikian putusan majelis hakim yang diketuai Ujang Abdullah, Selasa (14/7/2015).
Salah satu poin penting putusan majelis hakim adalah La Nyalla Mattalitti dinyatakan sah sebagai Ketua Umum PSSI. Secara keseluruhan, majelis hakim memutuskan untuk mengabulkan dan memenangkan gugatan PSSI atas Surat Keputusan Menpora Nomor 01307 per 17 April 2015 soal pembekuan PSSI.
Majelis hakim juga menolak eksepsi tergugat, dalam hal ini Menpora, tentang ketidakabsahan La Nyalla yang mengajukan gugatan terhadap SK pembekuan itu. Menpora juga wajib mencabut sanksi itu dan membayar denda Rp 277.000.
"Hakim memutuskan bahwa SK Kemenpora tersebut tidak profesional dan proporsional, tidak cermat, dan yang paling penting adalah mencampuradukkan kewenangan," kata Togar Manahan Nero selaku tim pembela PSSI, seperti dilansir dari situs resmi PSSI.
Togar juga menjelaskan bahwa tugas tim pembela PSSI sudah usai. Mereka akan menyerahkan sepenuhnya hasil sidang kepada Komite Eksekutif PSSI dan Kemenpora untuk dilanjutkan dengan tahap penyelesaian. "Mari kita duduk bersama mengatasi masalah sepak bola nasional," ucap Togar.
Direktur Legal PSSI Arsito Pangaribuan sependapat dengan Togar, "Sekali lagi saya tekankan, ini bukan soal menang atau kalah. Perdebatan hukum sudah terlalu lama menyita waktu dan menimbulkan banyak korban. Pembangunan sepak bola Indonesia sudah terlalu lama berhenti," tuturnya.
"Mari kita kembalikan drama sepak bola ke lapangan hijau, bukan ke ranah hukum atau lainnya. Melalui momentum ini, saya berharap Pak Menpora bisa duduk bersama-sama untuk membangun sepak bola Indonesia yang lebih baik," ujar Arsito.
Sebelum pembacaan putusan itu, majelis hakim terlebih dulu membacakan kronologi peradilan. Mulai dari pengajuan bukti hingga kehadiran para saksi dalam persidangan. Total sudah 12 kali PSSI dan Kemenpora bertemu dalam persidangan. Pertemuan terakhir dilakukan saat penyerahan kesimpulan oleh kedua belah pihak, Senin (6/7/2015).
Pihak Kemenpora masih bisa mengajukan banding atas putusan tersebut dalam 14 hari ke depan setelah keputusan dibacakan. Sebelumnya, pihak Kemenpora mengaku sudah siap untuk mengajukan banding andai dinyatakan kalah dalam sidang hari ini.
saus
Baru mau kasih thanks, ingat om [MENTION=35]Agitho_Ryuki[/MENTION] lebih suka ampas kopi ::hihi::
iya ampas kopi aja... biar makin panjang merah2nya....
Hihi ga tahu caranya kalo via hp om, apa pake report pos ::ungg::
semoga ga omdo
dari dulu bilang mau dialog ama fifa lah, ama pssi lah
tapi ga ada realisasinya...
eh, ada ding...dialog ama mantan ketum pssi ::grrr::::grrr::
--------------------------------------------------
Menpora Bersedia Dialog dengan PSSI
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengatakan, kemungkinan untuk dialog antara pihaknya dengan PSSI tidak mustahil dan dapat dilakukan. Menurut Imam, banyak hal yang bisa dibicarakan ketika duduk bersama.
"Tidak ada soal, ayo duduk sama-sama. Nanti pasti akan banyak hal yang bisa dibicarakan," kata Menpora di Istana Presiden Jakarta seusai mendampingi Presiden Joko Widodo melepas kontingen Special Olympics Indonesia (SOIna), Rabu (15/7/2015).
Ia mengatakan, pertemuan antara kedua belah pihak dianggap sebagai sebuah kemajuan bila menghasilkan kesepakatan yang sesuai undang-undang dan ditaati bersama.
"Yang penting ke depan kalau duduk bersama dan hasilkan kesepakatan untuk taat pada undang-undang maka saya kira itu kemajuan," ujarnya.
Sementara itu, terkait putusan PTUN, Imam mengatakan, pihaknya masih mempelajari dan baru akan diambil langkah selanjutnya pasca-Lebaran.
"Kami ingin lihat hal itu masih dalam ranah hukum. Karena itu, kami pelajari kemungkinan termasuk redaksi yang dibuat majelis seperti apa. Apakah kami tidak diperbolehkan evaluasi federasi, apakah pemerintah tidak punya kewenangan seperti diatur dalam UU SKN dan sebagainya," kata Imam seraya menambahkan bahwa pihaknya akan mempelajari lebih dalam lagi hal tersebut dalam 14 hari kerja.
---------- Post Merged at 08:47 PM ----------
btw, setelah menang gugatan di PTUN, pssi kembali belagu
mereka nyebut turnamen yang diadakan tim transisi sebagai tarkam
duh, emang ga ada yang bener nih...mending diban selamanya aja ama fifa
---------------------------------------------------
Piala Kemerdekaan Disebut Tarkam
Direktur Developmnet PSSI yang kini didaulat menjadi juru bicara, Tommy Welly, menyebut turnamen Piala Kemerdekaan yang diselenggarakan oleh Tim Transisi merupakan turnamen dengan level tarkam.
“Prinsipnya klub-klub itu tahu bahwa kompetisi yang benar adalah yang direcognize dan dikelola PSSI. Bukan turnamen kelas tarkam yang dikelola oleh tim transisi yang tak lain adalah salah satu biang keladi dari turunnya sanksi FIFA,” ujar pria yang akrab Towel itu seperti dilansir PSSI.org. (Baca juga: La Nyalla Akan Tuntut Menpora)
Selain itu, Towel mengatakan fokus pihaknya kini adalah menghalangi anggota resmi PSSI yang akan ikut ambil bagian di Piala Kemerdekaan. Langkah itu dilakukan menurutnya karena ingin melindungi anggota dari masalah. (Baca juga: Menpora Heran dengan Respons PSSI)
“Bahwa PSSI harus mengingatkan anggota-nya dengan memperingatkan klub-klub agar tidak salah langkah dan salah pilih itu merupakan bagian dari kewajiban PSSI untuk memproteksi anggotanya,” imbuh dia.
Turnamen yang dijadwalkan akan diselenggarakan pada 1 Agustus mendatang itu sedianya akan diikuti kurang lebih 20 klub yang berasal dari Divisi Utama.
Namun, hingga saat ini, belum ada kabar lanjutan dari Tim Transisi mengenai langkah selanjutnya, yakni proses verifikasi oleh Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).
Yup, mending dibubarkan sama pemerintah aja deh, buat "persatuan sepakbola" baru, mulai dari no 200 juga ga papa, toh ga banyak bedanya dengan no sekarang ::kesal::
lama2 capek sendiri kong ngikutin beginian
masyarakat pengen sepakbolanya maju, tapi mereka2 yang diatas cuman mikirin kepentingan sendiri ::grrr::
gw sih jujur udah sampe tahap ga mau tau ama kondisi sepakbola indonesia
suka2 mereka aja lah...mau match fixing kek, mau tarkam kek, mau diban fifa kek
toh ga ngefek ke gw juga
Lu sampe ke tahap gw dulu, waktu tahun 2008 ya waktu gol fenomenal mursyid effendy, tapi sekarang si kecil udah suka bola, bahkan udah jadi fans chelshit, lu pasti pengen nonton langsung bareng anak/bini lu tim indo minimal menahan imbang negara erops barat, atau argentina/brazil::hohoho::
ntar nontonnya di PES aja kong ::ungg:: ::ungg:: ::hihi:: ::hihi::
kalo kondisi kayak sekarang, kayaknya ga bisa berharap
ngalahin sesama tim asia tenggara aja ga bisa...apalagi ketemu tim2 macem argentina/brazil
eh, mungkin bisa ding...kalo argentina/brazilnya diisi pemain2 yang merumput di isl ::hihi:: ::hihi::
---------- Post Merged at 11:18 PM ----------
ntar nontonnya di PES aja kong ::ungg:: ::ungg:: ::hihi:: ::hihi::
kalo kondisi kayak sekarang, kayaknya ga bisa berharap
ngalahin sesama tim asia tenggara aja ga bisa...apalagi ketemu tim2 macem argentina/brazil
eh, mungkin bisa ding...kalo argentina/brazilnya diisi pemain2 yang merumput di isl ::hihi:: ::hihi::
Makanya di reboot, dari awal ::hohoho::
akhirnya perwakilan fifa datang k indonesia,
rombongan FIFA
terdiri atas James Johnson, Mariano V
Araneta, HRH Prince Abdullah Shah,
Windsor Jhon, Sanjeevan, Kozho Tashima, dan Kazumi Shimizu.
presuden akan mmbentuk tim kecil,Tim
kecil akan bertugas melakukan komunikasi
dengan FIFA dan AFC mencari jalan keluar
atas persepakbolaan nasional dan nasib
PSSI.
bgaimna nasib PSSI setelah ini?
JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Joko Widodo menyampaikan ketidakpuasan terhadap Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Ketidakpuasan itu disampaikan Jokowi saat bertemu dengan delegasi Federation Internationale de Football Association (FIFA) dan The Asian Football Confederation (AFC). Pertemuan itu digelar di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/11/2015).
"Tadi, Presiden Jokowi sampaikan bahwa kami tidak puas pada reputasi PSSI," kata Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, di Istana Merdeka.
Teten menuturkan, Presiden juga mengungkapkan keinginan pemerintah untuk mereformasi persepakbolaan Indonesia.
Tujuannya agar sepak bola Indonesia dapat bersaing dalam laga internasional.
"Namun, sayangnya, PSSI kurang merespons dengan baik. Oleh karena itu, Presiden memahami mengapa Menpora melakukan pembekuan (PSSI)," ujarnya.
Delegasi FIFA-AFC yang menemui Jokowi dipimpin oleh Kohzo Tashima didampingi Tengku Abdullah ibni Sultan Ahmad Shah, Mariano Araneta, James Johnson, Dato' Windsor John, dan Sanjeevan Balasingham.
Pertemuan itu juga menyinggung rencana pembentukan tim untuk menyelesaikan permasalahan sepak bola di Indonesia.
Penulis: Indra Akuntono
---------- Post Merged at 08:01 AM ----------
Selasa, 3 November 2015 | 07:25 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Federation Internationale de Football Association (FIFA) menyatakan bahwa sepak bola Indonesia butuh reformasi. Pandangan tersebut tertuang dalam pernyataan resmi FIFA setelah delegasi yang dipimpin oleh anggota Komite Eksekutif, Kohzo Tashima, menjalani pertemuan dengan Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo di Istana Negara, Senin (2/11/2015).
Kedatangan delegasi FIFA bertujuan untuk membahas sanksi untuk Indonesia yang berlangsung sejak 30 Mei 2015. Mereka ingin mendengar penjelasan dari pemangku kepentingan sepak bola Indonesia, dalam hal ini Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan pemerintah.
Dalam pertemuan dengan rombongan FIFA, Joko Widodo mengungkapkan keinginan pemerintah untuk mereformasi sepak bola Indonesia. Rencana ini disambut positif oleh FIFA. (Baca juga: Bertemu FIFA, Jokowi Sampaikan Ketidakpuasan terhadap PSSI)
"Secara umum, baik FIFA, AFC, PSSI, dan pemerintah melihat Indonesia sebagai negara dengan potensi besar dalam sepak bola. Untuk itu, reformasi dibutuhkan untuk memaksimalkan potensi mereka," bunyi pernyataan FIFA melalui situs resminya.
"Presiden Republik Indonesia memahami bahwa reformasi harus terjadi di bawah naungan Statuta FIFA. Namun, pemerintah disambut baik sebagai pemangku kepentingan dalam reformasi ini," lanjut pernyataan itu.
Selain Kozho Tashima, FIFA juga menyertakan anggota Komite Eksekutif lainnya, HRH Prince Abdullah, dalam rombongan. Turut serta perwakilan dari The Asian Football Confederation (AFC), yaitu Mariano Araneta, James Johnson, Sanjeevan, dan John Windsor.
Pada Selasa (3/11/2015), FIFA melanjutkan agendanya dengan menemui Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), Asosiasi Pemain Sepak Bola Nasional Indonesia (APSNI), dan PT Liga Indonesia.
Oh itu toh kenapa menpora ga pernah nyambangi FIFA in person. Rupanya maunya presiden mereka yang sowan.
Yg datang bukan presidennya loh tusc, cuma anggota komex, tapi sudah membuktikan "kekuatan pasar" indo ::hohoho::
Ndeso2, gengsi juga.. ::hihi::
Kemaren baca di majalah ekonomi luar, katanya "kekuatan pasar" sepakbola indo nomor 2 di dunia setelah brasil, diatas china, india dan amrik yg jumalh penduduknya lebih besar dari indo, dan menang dari juara dunia jerman, arg, italia dll, coba bayangkan prestasi timnas kita setara dengan korsel aja mungkin kita "suara" presiden kita lebih dihargai lagi, ::hohoho::
---------- Post Merged at 01:03 PM ----------
iya rupanya maen gertak menpora kita kayak poker dan menang ::hihi::
gw mah ngerti knp pak jokowi kecewa dgn pssi,hasil kerja pssi mana, cuman beraksi d kwasan asia tenggara,dgn indonesia
negara yg punya potensi dr segi sdm/jumlh pnduduk hrusnya dah berpretasi d tinggkat asia atau dunia