Jadi...
jawabannya "sesat" atau "tidak"???Quote:
adi jawab yang tegas, Menurut saudara Asum "Filsafat"(dalam hal ini, secara etimologis adalah olah pikir, karena itulah sejatinya berfilsafat) itu dalam Islam sesat atau tidak??
Printable View
Jadi...
jawabannya "sesat" atau "tidak"???Quote:
adi jawab yang tegas, Menurut saudara Asum "Filsafat"(dalam hal ini, secara etimologis adalah olah pikir, karena itulah sejatinya berfilsafat) itu dalam Islam sesat atau tidak??
Jawab dulu pertanyaan sy, jgn sampai kita menghukumi sesuatu yg gak jelas maksud, tujuan, & penggunaannya. :p
di jawab yang tegas, Menurut saudara Asum "Filsafat"(dalam hal ini, secara etimologis adalah olah pikir, karena itulah sejatinya berfilsafat) itu dalam Islam sesat atau tidak??Quote:
Jawab dulu pertanyaan sy, jgn sampai kita menghukumi sesuatu yg gak jelas maksud, tujuan, & penggunaannya. :p
Kalau filsafat digunakan untuk merndalami dan memperkuat keimanan, apakah filsafat sesat?
Kalau filsafat digunakan untuk membantah ajaran dan mematahkan keimanan, apakah filsafat sesat?
sama seperti
Kalau pisau digunakan untuk memasak makanan yang enak, apakah pisau haram?
Kalau pisau digunakan untuk merampok dan membunuh, apakah pisau haram?
:D
masa shee
kenapa bukan pencarian, ilmu dan kebenaransetelah keliling ...Quote:
renungan nabi Ibrahim itu contoh jelas praktek filsafat seorang Nabi dalam Al-Qur'an..
ternyata .. yang sesat itu ngeyelnya, walau sudah jelas dan terang tetap saja berusaha mengaburkan dengan pertanyaan yang tidak berujung ... ...
seperti masuk rimba ... muterr saja didalam, walo tidak digigit nyamuk akhirnya mati juga karena nda bisa ngopi ....
....
Hafizhuddin bin Muhammad yang terkenal dengan sebutan al-Kardiry (w.872H) menceritakan sebuah hikayat yang bagus untuk menjelaskan nilai buku-buku ini (filsafat) disisi para shahabat Nabi.
Beliau berkata : “Diceritakan, ketika Amr bin Al-Ash menguasai kota Iskandariyah, disana ada seorang ahli filsafat bernama Yahya, yang digelari Thumathikus -yaitu ahli ilmu nahwu- , dan penduduk Iskandariyah melaknat dirinya. Ia menganut sekte Al-Yaqubiyah dalam masalah trinitas, kemudian ia meninggalkan trinitas. Maka penduduk Mesir yang beragama Nasrani mendebatnya dan menjatuhkan martabatnya di tengah-tengah masyarakat. Takkala Iskandariyah dikuasai Amr, maka ia selalu menyertai Amr dan suatu hari ia berkata kepada Amr: “Engkau telah mengetahui rahasia penduduk negeri ini, dan engkau menyegel seluruh gudang yang ada, dan engkau tidak mau mengambil menfaat darinya, padahal dalam hal ini tidak seorangpun yang menentangmu. Dan apa-apa yang tidak engkau manfaatkan maka lebih baik diserahkan kepada kami saja!.”
Maka Amr berkata :”Apa yang kau butuhkan?”
Yahya berkata :”Buku-buku filsafat yang ada di gudang.”
“Itu tidak mungkin kecuali dengan ijin dari Amirul mukminin,” jawab Amr.
Kemudian Umar menulis (jawaban) kepada Amr: “Adapun buku-buku yang telah kau ceritakan ,jika sesuai dengan Kitabullah, maka Kitabullah sudah mencukupinya, jika tidak sesuai dengan Kitabullah maka tidak diperlukan.(Oleh karena itu) “Lenyapkanlah” buku-buku itu.”
Maka Amr membagikan buku-buku tersebut pada perapian-perapian di Iskandariyah dan memerintahkan untuk membakar buku-buku tersebut, sehingga selesailah pemusnahan buku-buku filsafat dalam jangka 6 bulan.
lalu apa itu filsafat sehingga dia dikatakan *sesat*? Lantas apakah Ibnu Sina termasuk orang yang tersesat?
awal adanya agama kan dari filsafat
setelah manusia sampai di puncak filsafat, baru lahir agama
jadi kalo jaman sekarang udah banyak agama, lalu orang masih berfilsafat itu artinya downgrade
makanya dianggap sesat
karena apa ?
kalo orang banyak yang berfilsafat dikhawatirkan muncul agama baru
efeknya apa ? agama yang sudah ada bisa kehilangan umat
dan pasti akan banyak tukang jual kecap yang jualan dengan promo surga masing2 agamanya
::ngakak2:: ::ngakak2:: ::ngakak2::
Filsafat (yang katanya disebut "seni berfikir") bisa halal bisa haram, tergantung bagaiamana kita menggunakan pikiran kita tsb, JIKA bertentangan dengan perintah dan larangan dalam Syari'at, MAKA ia haram, DAN JIKA sejalan dengan perintah dan larangan dalam Syari'at MAKA dia halal.
Ini sama dengan anda bertanya : Apakah makan itu haram ?
Secara umum, makan makanan itu halal, tetapi jika ia memakan yang haram (yang dilarang oleh Syari'at), maka ia haram.
Kaidah fiqh, pada prinsipnya termasuk bagian dari filsafat yang sejalan dengan syar'at karena bertumpu pada dalil2 syar'at.
CMIIW
INTINYA YG JDI PNEKANAN MAS ASUM ADALAH BHWA BERPIKIR ITU ADA 2, ADA YG BNAR ADA YG SALAH/SESAT. NAH FILSAFAT ADLH TRMASUK CARA BRPKIR YG SALAH.KNAPA? Krena ia brtentangan islam, ptnjuk islam, syariat islam alquran hadits DAN BRTENTANGAN JG DG CARA BRPKIR YG D MAKSUD ALLAH DLM FIRMANNYA
INTINYA ALLAH MEMERNTAHKN U BRPKR TETAPI BRPKIR SEPRTI APA? NAH PERTANYAN DAN JAWABANNY INI PERLU DI PERINCI DN D PERJELAS YAITU KALO BRPKIR ITU SESUAI DG SYARIAT ISLAM MKA BRPKR SPT ITULAH YG D PERNTAHKAN DN Jka brtetntangan dg syariat islam nah spt itu yg dilarang, dan dlm kategori d larang ini ya trmasuk FILSAFAT, KNPA FILSLAFAT DI LARANG DAN SESAT YA KMBALI LG KRNA BRTNTANG DG ISLAM ALQURAN HADITS. Bkan bgtu Mas Asum?
Persualannya kemudian adlh:Quote:
Originally Posted by annaas
Syariat islam versi kalangan yngmn?
Ahlusunah, Syi'ah, Ahmadiyah, Wahabiyah atau yngmn?
Sementara klo sudah ada yng ngotot, pokoknya ahlusunah yng paling benar
yang laen salah atau sesat. Lalu bgmn kalangan diluar islam memandang islam?
Ya berpikirlah layaknya manusia yng konon dianugerahi kelebihan n akal dibanding mahluk lain :DQuote:
INTINYA ALLAH MEMERNTAHKN U BRPKR TETAPI BRPKIR SEPRTI APA? NAH PERTANYAN DAN JAWABANNY INI PERLU DI PERINCI DN D PERJELAS YAITU KALO BRPKIR ITU SESUAI DG SYARIAT ISLAM MKA BRPKR SPT ITULAH YG D PERNTAHKAN DN Jka brtetntangan dg syariat islam nah spt itu yg dilarang, dan dlm kategori d larang ini ya trmasuk FILSAFAT, KNPA FILSLAFAT DI LARANG DAN SESAT YA KMBALI LG KRNA BRTNTANG DG ISLAM ALQURAN HADITS. Bkan bgtu Mas Asum?
Dibagian mana dari ilmu filsafat yg bertentangan dgn islam? Ilmu filsafat itu induk dari semua ilmu. Tanpa ilmu filsafat, jalan kaki kita ke blok m.
Ya kalo beragamanya warisan, wajar aja gak kenal filsafat sebagai awal mulanya agama
Salam
wahai saudara saudaraku sekalian
tidak ada satu pun dalam ayat Al Qur'an yang mengatakan bahwa Filsafat itu HARAM
datanglah padaku ... mari duduk dan berbicara
Kebingungan dan Penyesalan Para tokoh Ahli Kalam
11 Oktober 2009
admin ilmu kalam mantiq filsafat al ghozali, al juwaini, fakhrurrozi, filsafat, IAIN, ilmu kalam, UIN Tinggalkan Komentar
Aqidah ahlussunnah dibangun di atas dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah dan prinsip yang dipegang oleh para shohabat yang mulia, semoga Allah meridhai mereka semua. Aqidah yang bersih dan sangat jelas, tidak susah dipahami dan rumit.
Beda dengan lainnya yang bersandar kepada logika akal dan menakwil dalil-dalil naql (wahyu). Dimana mereka membangun aqidah keyakinan mereka di atas ilmu kalam. Itupun akhirnya para ahli kalam menjelaskan bahaya yang ada dalam ilmu kalam. Mereka menyesal karena habis waktu mereka dengan ilmu kalam, namun tidak sampai kepada kebenaran. Ujung kesudahan mereka adalah kebingungan dan penyesalan. Di antara mereka ada yang diberi taufik untuk meninggalkan ilmu kalam dan mengikuti jalan salaf. Mereka juga mencela ilmu kalam.
Abu Hamid Al-Ghozali rahimahullah termasuk dari orang-orang yang mapan menguasai ilmu kalam. Namun bersamaan dengan itu dia mencela ilmu kalam, bahkan sangat keras celaannya. Dia menjelaskan bahaya ilmu kalam, dia mengatakan dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin hal 91-92:
“أمَّا مضرَّته، فإثارةُ الشبهات وتحريك العقائد، وإزالتها عن الجزم والتصميم، فذلك مِمَّا يحصل في الابتداء، ورجوعُها بالدليل مشكوك فيه، ويختلف فيه الأشخاص، فهذا ضررُه في الاعتقاد الحقِّ، وله ضررٌ آخر في تأكيد اعتقاد المبتدعة للبدعة، وتثبيته في صدورهم، بحيث تنبعث دواعيهم، ويشتدُّ حرصُهم على الإصرار عليه، ولكن هذا الضرر بواسطة التعصُّب الذي يثور من الجدل”.
“Adapun bahaya ilmu kalam manthiq, yaitu akan memberikan kerancuan dan menggoyangkan aqidah, dan menghilangkan penetapan aqidah. Itulah diantara bahaya pada permulaannya. Dan kembalinya dengan dalil diragukan. Dalam hal ini orang berbeda-beda. Ini bahayanya dalam keyakinan yang benar. Dan ilmu kalam mantiq punya bahaya yang lain dalam mengokohkan keyakinan ahli bid’ah pada bid’ah dan mengokohkan keyakinan itu dalam dada-dada mereka, dimana faktor-faktor pendorongnya akan bangkit dan bertambah kuat semangat mereka di atas ilmu kalam. Namun bahaya ini dengan perantaraan fanatik yang muncul dari jidal (debat).”
Sampai dia mengatakan:
“وأمَّا منفعتُه، فقد يُظنُّ أنَّ فائدَتَه كشفُ الحقائق ومعرفتُها على ما هي عليه، وهيهات؛ فليس في الكلام وفاء بهذا المطلب الشريف، ولعلَّ التخبيط والتضليل فيه أكثر من الكشف والتعريف، وهذا إذا سمعته من محدِّث أو حشوي ربَّما خطر ببالك أنَّ الناسَ أعداءُ ما جهلوا، فاسمع هذا مِمَّن خَبَر الكلامَ ثم قلاه بعد حقيقة الخبرة وبعد التغلغل فيه إلى منتهى درجة المتكلِّمين، وجاوز ذلك إلى التعمُّق في علوم أخر تناسبُ نوع الكلام، وتحقق أنَّ الطريقَ إلى حقائق المعرفة من هذا الوجه مسدود، ولعمري لا ينفكُّ الكلام عن كشف وتعريف وإيضاح لبعض الأمور، ولكن على الندور في أمور جليَّة تكاد تفهم قبل التعمُّق في صنعة الكلام”.
“Adapun manfaat ilmu kalam, disangka bahwa faedahnya adalah menyingkap dan mengetahui hakekat sebenar-benarnya. Jauh, jauh sekali persangkaan itu. Dalam ilmu kalam tidak ada yang memenuhi tujuan yang mulia ini. Bahkan pengacauan dan penyesatan dalam ilmu kalam itu lebih banyak daripada penyingkapan dan pengenalan hakekat. Ini jika engkau mendengarnya dari seorang muhaddits atau hasyawi. Kadang terbetik di benakmu bahwa manusia adalah musuh selama mereka tidak mengetahui. Dengarkan ini dari orang yang telah mendalami ilmu kalam, kemudian membencinya setelah mengetahui dengan sebenarnya dan sampai dengan susah payah kepada puncak derajat ahli kalam, lalu melewati hal itu menuju ilmu-ilmu yang lain yang sesuai dengan jenis ilmu kalam, kemudian yakin bahwa jalan menuju hakekat ma’rifat (pengenalan) dari sisi ini tertutup. Sungguh, ilmu kalam itu tidak memberi manfaat kepadamu untuk menyingkap, mengenalkan dan memperjelas sebagian perkara. Namun kadang-kadang dalam perkara yang jelas, hampir engkau paham sebelum engkau mendalami ilmu kalam.”
Ibnu Rusyd Al-Hafid -beliau juga termasuk orang yang paling tahu dengan madzhab dan pendapat ahli filsafat, di kitabnya Tahafut At-Tahafut berkata:
(ومَن الذي قال في الإلَهيات شيئاً يعتدُّ به؟)،
“Siapakah orangnya yang berkata sesuatu tentang ilahiyah, kemudian dianggap pendapatnya?”
Demikian juga Al-Amidi -orang termulia di masanya- dia diam berhenti bingung dalam permasalahan yang besar.
Demikian juga Abu ‘Abdillah Muhammad bin Umar Ar-Rozi berkata dalam kitabnya tentang macam-macam dzat:
نِهايةُ إقدام العقول عِقالُ … وغايةُ سعي العالمين ضلالُ
وأرواحنا في وحشة من جسومنا … وحاصلُ دنيانا أذَى ووبالُ
ولم نستفد من بحثنا طول عمرنا … سوى أن جمعنا فيه: قيل وقالوا
فكم قد رأينا من رجال ودولةٍ … فبادوا جميعاً مسرعين وزالوا
وكم من جبال قد عَلَت شُرُفاتِها … رجالٌ فزالوا والجبالُ جبالُ
لقد تأمَّلتُ تلك الطرق الكلامية والمناهج الفلسفية، فما رأيتُها تشفي عليلاً، ولا تُروي غليلاً، ورأيتُ أقربَ الطرق طريق القرآن، اقرأ في الإثبات {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}، {إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ}، واقرأ في النفي {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ}، {وَلا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْماً}، ثم قال: “ومَن جرَّب مثلَ تجربَتِي، عرف مثل معرفتِي”.
“Akhir dari mendahuluan akal adalah belenggu
Dan puncak usaha orang-orang yang tahu adalah kesesatan
Ruh-ruh kita liar dalam jasad-jasad kita
Dan hasil dunia kita adalah kesusahan dan bencana
Kita tak memperoleh dari pembahasan kita sepanjang umur kita
Selain kita mengumpulkan: katanya dan katanya
Betapa banyak kita melihat para tokoh dan negara
Kemudian mereka semua binasa dan musnah
Betapa banyak gunung (ilmu kalam) yang telah didaki puncaknya
Oleh orang-orang, kemudian mereka binasa, sedang gunung itu tetap gunung
Aku telah memperhatikan berbagai metode ilmu kalam dan manhaj-manhaj ahli filsafat, namun aku memandang ia tidak bisa menyebuhkan dan memuaskan. Aku memandang jalan yang paling dekat adalah metode Al-Qur’an. Dan bacalah dalam penetapan sifat mulia untuk Allah: “Allah Yang Maha Penyayang istiwa di atas ‘Arsy”, “Dan kepada-Nya lah naik ucapan-ucapan yang baik”. Dan bacalah dalam peniadaan: “Tiada sesuatupun yang semisal dengan-Nya”, “Dan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” … Barangsiapa yang mengalami seperti aku, dia akan tahu seperti aku.” (Lihat Tobaqot Asy-Syafiiyah 8/96 karya As-Subki)
Demikian Asy-Syaikh Abu Abdillah bin Abdil Karim Asy-Syihristani, dia tidak mendapati di sisi ahli filsafat dan ahli kalam selain kebingungan dan penyesalan. Dia berkata:
لعمري لقد طُفت المعاهد كلها … وسَيَّرتُ طرفي بين تلك المعالم
فلم أر إلاَّ واضعاً كفَّ حائر … على ذقن أو قارعاً سنَّ نادم
“Demi umurku, sungguh aku telah mendatangi ma’had-ma’had semua
dan aku jalankan kedua mataku antara petunjuk-petunjuk itu
Namun aku tak melihat kecuali dengan meletakkan tangan orang yang bingung
Di dagu, atau menggertakkan gigi orang yang menyesal.”
Demikian juga Abul Ma’ali Al-Juwaini rahimahullah dia berkata:
يَا أَصْحَابَنَا لَا تَشْتَغِلُوا بِالْكَلَامِ فَلَوْ عَرَفْت أَنَّ الْكَلَامَ يَبْلُغُ بِي إلَى مَا بَلَغَ مَا اشْتَغَلْت بِهِ.
“Wahai para shababat kami, janganlah kalian sibuk dengan ilmu kalam. Kalau aku dulu tahu bahwa ilmu kalam itu akan menyampaikan kepada batas yang telah aku sampai sekarang, tentu aku tidak akan menyibukkan dengannya.”
Beliau juga berkata ketika mau meninggalnya:
“لقد خضتُ البحرَ الخِضَمَّ، وخلَّيتُ أهل الإسلام وعلومَهم، ودخلتُ في الذي نَهونِي عنه، والآن فإن لم يتداركنِي ربِّي برحمته، فالويل لابن الجوينِي، وها أنا ذا أموت على عقيدة أمِّي، أو قال: على عقيدة عجائز نيسابور”،
“Aku telah menyelami lautan besar (ilmu kalam). Aku juga meninggalkan kaum muslimin dan ilmu-ilmu mereka. Aku masuk dalam perkara yang mereka larang. Dan sekarang … jika Rabbku tidak memberikan rohmat-Nya kepadaku, maka celakalah Ibnul Juwaini… Inilah aku yang meninggal di atas keyakinan (aqidah) ibuku, atau dia berkata: di atas aqidah orang tua-orang tua Naisabur.”
Demikian juga banyak lagi para tokoh ahli kalam yang bingung dan menyesal dengan ilmu kalam. Seperti Syamsuddin Al-Khosrusyahi –salah satu murid Fakhrur Rozi, Al-Khounji, dan lainnya.
Engkau dapati sebagian mereka ketika meninggalnya kembali kepada aqidah orang-orang tua biasa, dan menetapkan apa yang mereka tetapkan. Di antara ahli kalam tadi ada yang bingung dan goncang dalam masalah sifat Allah, kemudian kembali ke madzhab salaf.
Seperti Abu Hamid Al-Ghozali yang mempunyai i’tiqod menurut jalan para ahli kalam (mutakallimin). Sebagian ulama telah menukilkan perkataannya yang menunjukkan bahwa dia rujuk. Ini sebagaimana yang disebutkan Ibnu Abi Al-Izzi Al-Hanafi pensyarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah ketika membicarakan sekumpulan para ahli kalam dan kebingungan mereka:
“وكذلك الغزالي رحمه الله انتهى آخرُ أمرِه إلى الوقف والحيرة في المسائل الكلاميَّة، ثمَّ أعرَضَ عن تلك الطُّرُق، وأقبَل على أحاديث الرَّسول صلى الله عليه وسلم ، فمات و(البخاري) على صدره”.
“Demikian juga Al-Ghozali rahimahullah, akhir hidupnya berakhir pada sikap diam dan kebingungan dari permasalahan-permasalahan ilmu kalam. Kemudian dia berpaling dari jalan-jalan ilmu kalam itu dan menghadap kepada hadits-hasits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian meninggal dalam keadaan Shahih Al-Bukhari ada di dadanya.”
Dan di dalam kitabnya Iljam Al-‘Awam ‘An ‘Ilm Al-Kalam, Al-Ghozali memperingatkan agar tidak sibuk dengan ilmu kalam dan mendorong untuk sibuk dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan jalan yang ditempuh para salaf sholeh. (Ar-Rodd ‘Ala Ar-Rifai hal 99)
Di dalam Lisan Al-Mizan (4/427) dibawakan biografi Ar-Rozi –dia termasuk tokoh ahli kalam-:
“وكان مع تبحُّره في الأصول يقول: من التزم دينَ العجائز فهو الفائز
“Dia bersamaan dengan luasnya cakrawala /wawasan pengetahuan dia dalam ilmu ushul, dia mengatakan: ‘Barangsiapa yang memegang teguh agamanya orang-orang tua, maka dia beruntung.”
Ja’far bin Burqon, dia berkata: seseorang datang kepada Umar bin Abdil Aziz, kemudian menanyainya tentang sesuatu dari pemikiran bid’ah, maka dia menjawab:
الزَم دينَ الصبِيِّ في الكُتَّاب والأعرابيِّ، والْهُ عمَّا سوى ذلك
“Pegangilah agama anak-anak kecil dalam madrasah dan orang-orang pedusunan. Dan abaikan yang selain itu.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thobaqot 5/374 dengan sanad shohih menurut imam Muslim, sebagaimana dikatakan Imam An-Nawawi dalam Tahdzib Al-Asma wal Lughot 2/22)
Bagaimana sekarang dengan para mahasiswa IAIN – UIN – STAIN dan lainnya, yang mereka sibuk dengan ilmu kalam mengikuti pemahaman mu’tazilah (rasionalis) yang asal pemikiran mereka berasal dari filsafat Al-Yunan. Mereka nantinya juga akan bingung, atau na’udzu billah ada yang ragu tidak meyakini aqidah (keyakinan) kaum muslimin. Hendaknya mereka sadar bahwa ilmu kalam tidak akan memberi manfaat sedikitpun, bahkan akan membawa dirinya kepada kebinasaan. Wallahu a’lam.
(Sumber Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Ar-Rodd ‘Ala Ar-Rifai hal 99, dan Qothf Al-Jani hal 25-26, 30-31)
---------- Post Merged at 11:03 AM ----------
Imam Syafii dan Imam Lain tentang Ilmu Kalam
Imam Syafii dan Para Imam Lain Tentang Ilmu Kalam
Kita telah mengetahui sebagian pendapat Imam Syafii tentang hukuman bagi ahli kalam. Untuk lebih meyakinkan kita tentang bahayanya ilmu kalam, akan dibawakan perkataan para imam yang lainnya tentang ilmu kalam.
Telah banyak ungkapan para salaf, seperti Imam Syafii, Imam Ahmad dan lainnya yang memperingatkan dari ilmu kalam dan ahli kalam. Dan sebagaimana yang telah lalu bahwa ilmu kalam akan menghantarkan kepada syubhat (kesamaran) dan keraguan-keraguan.
I. Perkataan-perkataan Imam Asy-Syafii tentang ilmu kalam
1. Imam Ahmad berkata:
“Dulu Imam Asy-Syafii jika telah dipastikan di sisinya ada satu khobar (hadits), beliau mengikutinya. Dan sebaik-baik sifat Imam Syafii adalah tidak menginginkan ilmu kalam. Beliau hanya antusias dengan ilmu fiqih.”
2. Imam Ahmad meriwayatkan tentang Imam Asy-Syafii:
“Seseorang menulis surat kepada Imam Asy-Syafii menanyainya tentang berdebat dengan ahli kalam dan duduk-duduk bersama mereka. Imam Syafii berkata: “Yang kami dengar dan kami dapati dari salaf (pendahulu) kami dari para ulama, bahwa mereka membenci ilmu kalam dan berdebat dengan orang-orang menyimpang. Agama itu hanyalah dalam tunduk dan berhenti kepada apa yang ada di Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak melampuinya.”
3. Ar-Robi’ berkata: Aku mendengar Imam Asy-Syafii berkata:
“Kalau Allah menguji seorang hamba dengan semua dosa selain menyekutukan-Nya, itu lebih baik baginya daripada al-ahwa (bid’ah, ilmu kalam).”
4. Ibnu ‘Abdil Hakam berkata Imam Asy-Syafii:
“Kalau seorang mengetahui apa yang ada pada al-ahwa (bid’ah) dari ilmu kalam, sungguh mereka akan lari darinya sebagaimana lari dari singa.”
5. Imam Asy-Syafii juga berkata
“Tidak ada seorang pun jatuh dalam ilmu kalam, kemudian dia bisa beruntung.”
6. Al-Muzani bertanya kepada Imam Asy-Syafii tentang satu masalah dari ilmu kalam. Kemudian beliau balik bertanya: “Sedang dimana engkau?” Al-Muzani menjawab: “Di Masjid Jami di Fusthoth.” Kemudian Imam Ay-Syafii berkata: “Engkau sedang berada di Taron.” Taron adalah satu tempat di Laut Al-Qulzum, dimana hanpir tidak ada satu perahu yang selamat di sana. Kemudian Imam Asy-Syafii memberikan satu masalah fiqih kepadanya. Kemudian dia menjawabnya. Kemudian beliau memasukkan kepada Al-Muzani sesuatu yang merusak jawabannya. Kemudian Al-Muzani menjawab dengan selain itu. Kemudian beliau memasukkan sesuatu yang merusak jawabanku. Setiap kali Al-Muzani menjawab, beliau mendatangkan sesuatu yang merusak jawaban itu. Kemudian Imam Asy-Syafii berkata:
“Ini fiqih yang tentangnya ada penjelasan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pendapat-pendapat ahul ilmi, memasukinya seperti ini, maka bagaimana dengan ilmu kalam tentang Allah, yang berdebat tentangnya kafir?”
Kemudian Al-Muzani meninggalkan ilmu kalam dan menghadap kepada ilmu fiqih.
7. Imam Asy-Syafii berkata:
“Kalau seseorang berwasiat dengan kitab-kitabnya kepada orang lain, dan di dalamnya ada kitab-kitab ilmu kalam, maka kitab-kitab ilmu kalam itu tidak termasuk dalam wasiat, karena itu bukanlah ilmu (yang bermanfaat.”
II. Perkataan Imam Abu Hanifah rahimahullah
Nuh Al-Jami’ berkata: Aku bertanya kepada Abu Hanifah tentang ilmu kalam seperti al-a’radh dan al-ajsam yang diadakan oleh orang-orang, maka dia menjawab:
“Perkataan-perkataan filsafat, wajib engkau menempuh jalan salaf, dan hati-hati engkau dari setiap perkara yang baru.”
III. Perkataan Imam Ahmad rahimahullah (salah seorang murid Imam Asy-Syafii)
1. Imam Ahmad rahimahullah berkata:
“Ahli kalam tidak akan beruntung selama-lamanya.”
2. Imam Ahmad rahimahullah juga telah melarang melihat dan membaca kitab-kitab ahli kalam dan ahli bid’ah yang menyesatkan.
Beliau berkata dalam riwayat Al-Marrudzi:د
“Bukanlah aku termasuk ahli kalam. Aku tidak memandang ilmu kalam sedikitpun melainkan apa yang ada di dalam Al-Qur’an, atau hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shohabatnya rodhiyallahu ‘anhum atau dari tabiin. Adapun yang selain dari itu maka berbicara tentangnya tidak terpuji.” (Diriwayatkan oleh Al-Khollal)
Setahu saya filsafat diadopsi oleh generasi ulama muslim terdahulu, kemudian dibuang bagian2 yg bertentangan dg akidah dan logika. Kemudian setelah mengalami proses pepenyesuaian tersebut digunakan untuk mengembangkan sains, adapun untuk masalah akidah dan masalah2 agama lainnya mereka tidak pernah (dan memang tidak perlu) menggunakan filsafat.
Seorang ilmuwan muslim di eropa pernah mengatakan eropa mengalami masa pencerahan (di luar masalah akidah) karena telah mewarisi filsafat yg sudah diperbaiki di atas dari peradaban islam.
^ dan ironisnya dunia Islam masuk pada jaman kegelapan setelah itu.
bentul
krn lebih suka menyibukkan diri dlm memperdebatkan
sah-batal, halal-haram, najis-suci, makruh-mubah dll dst :D
perlu dipertanyakan juga konteks membunuhnya, jika demi mencegah kemudharatan lebih besar seperti yg dilakukan para sahabat Rasulullah, why not ? , so, bukan hanya pisau nya yg diperbolehkan, membunuh dgn pisaupun malah di anjurkan selama memiliki landasan dalil yg jelas :)
alah, persetan dengan al quran.... gw ga percaya tuhan yg maha sempurna menciptakan buku petunjuk untuk umat2nya. kalo tuhan yg aha sempurna itu menciptakan buku petunjuk yg sempurna, maka harusnya ga akan ada orang yg tersesat setelah membaca buku itu...
dan sebelum tuhan menciptakan buku sebagai sebuah kitab, tuhan yg maha tahu itu mestinya sudah sadar bahwa buku ciptaannya akan menghasilkan teroris.
gara2 quran, teroris melakukan aksi teror, pengrusakan rumah ibadah, dan penutupan rumah makan di bulan puasa.
gara2 quran, dilarang menggambar menyerupai mahluk hidup ciptaan allah, dilarang menyentuh cewe, dilarang memotong sebagian rambut di kepala, dilarang memakai kain dibawah mata kaki, dilarang memilih pemimpin non-muslim, dilarang mengucapkan hari raya non-islam.
siapa sih yg ngomong "dilarang memilih pemimpin non-muslim"?? MUI?? sini si MUI dan kitabnya gw bakar....
Halah.. ngomong doang lu mah..
Mas Aghaanantyab, kalau mau berdialog/diskusi diharapkan menggunakan bahasa yang wajar, berpendidikan dan tidak PROVOKote. Sebuah pohon dinilai dari buahnya dan seorang pribadi dinilai dari BAHASANYA. Jangan kaya kebanyakan forum di indonesia sekarang ini yang kebanyakan komentar/postnya tidak berbudaya dan tidak berwawasan (kayanya hanya lulus SD) serta terkesan kampungan (emosional). Elite sedikitlah dalam berdiskusi.....
ckckck ....Quote:
Originally Posted by Aghaanantyab
Ini orang abis minom2 dimana yak?
perkara ente gak percaya tuhan n qur'an, itu mah urusan ente tong
tp jgn mabok n ngamuk2 disini dong :gebuk:
Jadi, ente jg percaya thd perkataan orang yng memahami ajaran islam hanya sebatas itu?Quote:
gara2 quran, teroris melakukan aksi teror, pengrusakan rumah ibadah, dan penutupan rumah makan di bulan puasa.
gara2 quran, dilarang menggambar menyerupai mahluk hidup ciptaan allah, dilarang menyentuh cewe, dilarang memotong sebagian rambut di kepala, dilarang memakai kain dibawah mata kaki, dilarang memilih pemimpin non-muslim, dilarang mengucapkan hari raya non-islam.
lalu, apa bedanya ente dng orang2 yng gemar menebarkan kebencian n permusuhan?
Yakin ente sudah mempelajari sendiri isi quran?, coba tunjukkan contoh2 ajarannya
seperti yng ente tuduhkan itu?, jgn hanya berdasar katanya-katanya lho ya? :D
klo cumen nulis kalimat kyk gini mah, bukan elo aja yng punya nyali tongQuote:
siapa sih yg ngomong "dilarang memilih pemimpin non-muslim"?? MUI?? sini si MUI dan kitabnya gw bakar....
coba wujudkan dlm tindakan ..... berani??
klo nulis tuh difilter dulu yak, jgn seenaknya (asal mangap/asal jeplak)
neh gw copykan tata-tertib dialog lintas keyakinan diforum ini.
Next, klo maseh kumat spt itu gw timpuk ampas kopi lu #-oQuote:
Agar jalannya dialog tertib, terarah, aman dan nyaman, perlu ditentukan koridor atau rambu-rambunya sebagai berikut :
1. Format forum ini bersifat umum, dalam arti untuk segala penganut Agama & Keyakinan.
Tidak ada bilik khusus spt misal: khusus Islam, Kristen, Hindu, Buddha dll dst. Silakan membuat topik/permasalahan sesuai kategori Sub-Forum yng ada. Jika topik dirasa Kurang sesuai/pas dengan Sub-Forum yang sudah ada, cukup letakkan di Induk Forumnya . Nanti akan ditinjau/diatur oleh Barista (kru dapur)
2. Dialog, boleh antar pemeluk Agama&Keyakinan yng sama, atau lintas pemeluk Agama & Keyakinan.
3. Pelanggan bertindak dan bertanggung jawab atas namanya sendiri, meski ybs mempertahankan atau menjelaskan keyakinan tertentu, tidak berarti ybs mewakili komunitas keyakinan dimaksud.
4. Tidak diperbolehkan menuliskan kalimat yng dapat dikonotasikan sbg menghujat, menghina, mencemooh serta melecehkan pribadi lawan debat/dialognya.
5. Tidak diperbolehkan menghujat, menghina, mencemooh serta melecehkan keyakinan atau keimanan pelanggan lain.
6. Tidak diperbolehkan menghujat, menghina, mencemooh serta melecehkan figur-figur yang sangat dihormati dalam sebuah keyakinan, spt misal: nabi Muhammad, rasul Paulus, sang Buddha Gautama dsbnya.
7. Mengutip, mengcopas suatu materi sebagai dasar argumen, harus menyertakan refrensinya atau linknya agar dapat dipertanggung jawabkan sumbernya.
8. Debat, dialog, di warung ini dimaksudkan untuk memahami perbedaan dan persamaan dari masing-masing konsep Agama/Keyakinan untuk kemudian menumbuhkan rasa toleran, bukan untuk menghakimi atau mencari pembenaran dan benarnya sendiri.
terlepas bahasa sampah lo...komentar lo tentang Al Qur'an menandakan lo belum baca Al Qur'an...cuman komentari perilaku sebagian muslim YANG KEBETULAN lo temui, bukan SEMUA kayak begitu. Yang tersesat justru mereka YANG BUTA. Buta mata hatinya, buta sikapnya, buta sifatnya.
Teroris bukan milik satu agama aja. Dan bukan milik PENCIPTA. Yang tidak punya agama pun bisa jadi teroris, liat sono negeri2 komunis yang BENCI TUHAN pemerintahnya berhasil membuat bukit tengkorak dimana2. Kalau ngomong pake data oe...terpelajar bukan ente?
MUI masih anteng tuh sekretariatnya. Kalau mau, sana samperin, bakar sono. Paling lo doang yang pengecut
Maaf koreksi, sebetulya Al-Ghazali itu Filsud dan tidak menentang Filsafat, kitab filsafatnya yang terkenal adalah Tahafutul Falasifah, dia hanya mengkritik persepsi dari filsuf islam sebelumya, bukan berarti dia menolak filsafat. Yang menolak filsafat itu hanya kaum Wahaby
hm...
filsafat merupakan mencari kebenaran sebenar-benarnya tanpa terikat. kalau toh filsafat itu memang mengkaji akan kebenaran dalam misteri hidup, kenapa Islam menyangkalnya?
barangkali memang orang-orang yg sok Islam dan sudah yakin benar itu takut untuk 'kalah'. dan ini psikologis sih. mereka mengharam-haramkan filsafat agar tetap berpegang teguh pada kelompoknya, tidak ingin punah, tidak ingin disangkal.
padahal sebenernya apa sih jeleknya melajari filsafat?
itu bagus buat ngelatih open mind kita. :)
memang filsafat bisa membuat kita kafir, tapi bisa jadi itu karena masih bodoh. masih belum menemukan jawaban yg benar. :)
ajak adu argumen aja yg atheis sama theis di filsafat ketuhanan, gitu aja kok repot. :3
Hmmm ...
Orang2 yg mengunggulkan dan mendukung "filsafat" ditopik ini nampaknya tidak bisa mencerna kalimat sederhana yang saya sampaikan di atas (katanya "filsafat" itu seni berfikir, kenapa gak mikir utk merenungkan jawaban saya ?)
Islam, tidak mengharamkan makan ("filsafat"), yang diharamkan ialah jika makan makanan haram. Artinya, secara umum, filsafat itu boleh dalam Islam, menjadi haram (terlarang) ketika ia tidak sejalan dengan syari'at (aturan hukum Islam).
Jika kalimat saya di atas masih tdk bisa disimpulkan dan dicerna dengan baik, maka yang bermasalah adalah otak dan akidah anda-anda yang mencintai "filsafat" secara membabi buta. Dalam analogi, menganggap semua makanan adalah halal (padahal ada yg diharamkan), maka pada dasarnya, kecerdasan yg اَللّهَ berikan kepada manusia, digunakan untuk kufur kepadanya (menolak hukum2 اَللّهَ).
::hihi::
Cekidot : http://aljurem.wordpress.com/tag/filsafat-adalah/
---------- Post Merged at 04:32 AM ----------
Ah, nampaknya malah anda yang menunjukkan kemampuan filsafat dibanding orang2 yg mengaku "filsafat" :))
ne beberapa pendapata paraulaanesar Syfiiyah tentang ilmu kalam (filsafat)
Al-Imam Abul Qosim Sa’ad az-Zanjani berkata: “Senantiasa ahli agama dan ulama dari dahulu sampai akhir zaman mengingkari ilmu kalam, ia hanya kebodohan yang nyata dan keluar dari agama, mereka semuanya sepakat dalam mence*lanya dan berlepas diri dari ahlinya, dan menghajr (meninggalkan) orang yang mereka kenal meyakini bahwa itu sebagai agama Alloh dan mendekatkan diri (ketaatan) kepada-Nya.”[12]
Di antara imam Ahlus Sunnah yang sangat keras dalam mencela ilmu kalarr/dan memperingatkan umat dari bahayanya serta melarang duduk bersama ahlinya adalah al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah[13]. Bahkan merupakan sifat mulia yang dimiliki beliau adalah tidak pernah sama sekali suka kepada ilmu kalam, tetapi perhatiannya hanya tercurah kepada ilmu dan fiqih
Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Telah mutawatir dari al-Imam asy-Syafi’i bahwa beliau mencela ilmu kalam dan ahli kalam. Beliau adalah seorang yang semangat dalam mengikuti atsar (sunnah) baik dalam masalah aqidah atau hukum fiqih,”[15]
Perkataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam hal ini begitu banyak, di antaranya:
“Mempelajari ilmu kalam adalah kejahilan (kebo*dohan). “[16]
Beliau juga berkata:
“Hukumanku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan di atas unta, kemudian dia dikelilingkan (diarak) ke kampung seraya dikatakan kepada khalayak, ‘Inilah hukuman bagi orang yang berpaling dari al-Qur’an dan Sunnah lalu menuju ilmu kalam/ filsafat.’”[17]
Demikian selayang pandang tentang sikap al-Imam asy-Syafi’i terhadap ilmu kalam/filsafat dan ahlinya, dan ini pula yang merupakan sikap seluruh ulama Syafi’iyyah yang berjalan di atas Sunnah. Perkataan mereka dalam mengingkari ilmu kalam dan filsafat banyak sekali, bahkan kitab-kitab yang mereka tulis tentang sunnah/aqidah sarat (penuh, -adm) dengan pengingkaran, kecaman, dan celaan terhadap ilmu kalam dan ahlinya.
al-Imam Abul Path Nashr al-Maqdisi (wafat 490 H) pengarang kitab الحجة على تارك المحجة . Dalam kitab ini beliau memuat beberapa bab yang menghujat dan mencela ilmu kalam dan ahlinya, di antaranya: Bab: Para Imam yang Mencela Kalam dan Melarang Darinya dan Tidak Menjadikannya Sebagai Bagian Dari llmu‘.[18] Dan Bab: Hukuman Ahlul kalam‘ ,[19] Dan Bab: Pujian (bagi) Orang Yang Meninggalkan Kalam Dan Tidak Berbicara Dengannya‘[20]
Kemudian beliau rahimahullah menukil dalam bab-bab di atas riwayat yang banyak dari ulama salaf — terkhusus al-Imam asy-Syafi’i— dalam mencela ilmu kalam dan menjelaskan hukuman bagi orang yang mempelajarinya dan keutamaan orang yang me*ninggalkan kalam dan tidak menyibukkan diri dengannya.
al-Imam Abu Muzhoffar as-Sarn’ani (wafat 489 H) pengarang kitab الإنتصار لاصحاب الحديث , beliau memuat dalam kitab tersebut beberapa pasal tentang celaan terhadap ilmu kalam dan para pengkultus akal dan menjelaskan kebatilan metode ahlul kalam yang menjadikan akal sebagai sumber beragama[21], di antaranya: Pasal ‘Apa Yang Datang Dari Para Imam Dalam Mencela Kalam‘[22]
Kemudian beliau membawakan sebagian perkataan para imam Ahlus Sunnah dalam hal ini, seperti al-Imam asy-Syafi’i, Ahmad, dan yang lain, kemudian berkata, “Inilah ucapan al-Imam asy-Syafi’i tentang cela ilmu kalam dan anjuran untuk mengikuti Sunnah. Dialah imam yang tidak diperdebatkan dan tidak terkalahkan.”[23] Beliau juga berkata, “Maka jelaslah bagi kita bahwa jalan (yang diikuti dalam beragama) menurut para imam yang mendapat petunjuk adalah: mengikuti (mazhab) salaf dan meneladani mereka tanpa kembali kepada pemikiran/akal.”[24]
Al-Imam Abul Qosim Ismail at-Taimi rahimahullah (wafat 535 H) pengarang kitab الحجة في بيان المحجة وشرح عقيدة أهل السنه beliau memuat dalam kitabnya beberapa pasal yang mencela ilmu kalam dan ahlinya, diantaranya: ‘Pasal: Para Imam yang Mencela Dan Membenci Kalam‘.,[25] Dan ‘Pasal: Celaan Para Imam Terhadap Ilmu Kalam‘[26]. Beliau menyebutkan dalam kedua pasal tersebut dengan sanadnya riwayat yang banyak dari para imam Ahlus Sun*nah yang mencela ilmu kalam, seperti al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik, dan al-Imam asy-Syafi’i serta imam-imam yang lain.
---------- Post Merged at 07:04 PM ----------
ne beberapa pendapata paraulaanesar Syfiiyah tentang ilmu kalam (filsafat)
Al-Imam Abul Qosim Sa’ad az-Zanjani berkata: “Senantiasa ahli agama dan ulama dari dahulu sampai akhir zaman mengingkari ilmu kalam, ia hanya kebodohan yang nyata dan keluar dari agama, mereka semuanya sepakat dalam mence*lanya dan berlepas diri dari ahlinya, dan menghajr (meninggalkan) orang yang mereka kenal meyakini bahwa itu sebagai agama Alloh dan mendekatkan diri (ketaatan) kepada-Nya.”[12]
Di antara imam Ahlus Sunnah yang sangat keras dalam mencela ilmu kalarr/dan memperingatkan umat dari bahayanya serta melarang duduk bersama ahlinya adalah al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah[13]. Bahkan merupakan sifat mulia yang dimiliki beliau adalah tidak pernah sama sekali suka kepada ilmu kalam, tetapi perhatiannya hanya tercurah kepada ilmu dan fiqih
Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Telah mutawatir dari al-Imam asy-Syafi’i bahwa beliau mencela ilmu kalam dan ahli kalam. Beliau adalah seorang yang semangat dalam mengikuti atsar (sunnah) baik dalam masalah aqidah atau hukum fiqih,”[15]
Perkataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam hal ini begitu banyak, di antaranya:
“Mempelajari ilmu kalam adalah kejahilan (kebo*dohan). “[16]
Beliau juga berkata:
“Hukumanku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan di atas unta, kemudian dia dikelilingkan (diarak) ke kampung seraya dikatakan kepada khalayak, ‘Inilah hukuman bagi orang yang berpaling dari al-Qur’an dan Sunnah lalu menuju ilmu kalam/ filsafat.’”[17]
Demikian selayang pandang tentang sikap al-Imam asy-Syafi’i terhadap ilmu kalam/filsafat dan ahlinya, dan ini pula yang merupakan sikap seluruh ulama Syafi’iyyah yang berjalan di atas Sunnah. Perkataan mereka dalam mengingkari ilmu kalam dan filsafat banyak sekali, bahkan kitab-kitab yang mereka tulis tentang sunnah/aqidah sarat (penuh, -adm) dengan pengingkaran, kecaman, dan celaan terhadap ilmu kalam dan ahlinya.
al-Imam Abul Path Nashr al-Maqdisi (wafat 490 H) pengarang kitab الحجة على تارك المحجة . Dalam kitab ini beliau memuat beberapa bab yang menghujat dan mencela ilmu kalam dan ahlinya, di antaranya: Bab: Para Imam yang Mencela Kalam dan Melarang Darinya dan Tidak Menjadikannya Sebagai Bagian Dari llmu‘.[18] Dan Bab: Hukuman Ahlul kalam‘ ,[19] Dan Bab: Pujian (bagi) Orang Yang Meninggalkan Kalam Dan Tidak Berbicara Dengannya‘[20]
Kemudian beliau rahimahullah menukil dalam bab-bab di atas riwayat yang banyak dari ulama salaf — terkhusus al-Imam asy-Syafi’i— dalam mencela ilmu kalam dan menjelaskan hukuman bagi orang yang mempelajarinya dan keutamaan orang yang me*ninggalkan kalam dan tidak menyibukkan diri dengannya.
al-Imam Abu Muzhoffar as-Sarn’ani (wafat 489 H) pengarang kitab الإنتصار لاصحاب الحديث , beliau memuat dalam kitab tersebut beberapa pasal tentang celaan terhadap ilmu kalam dan para pengkultus akal dan menjelaskan kebatilan metode ahlul kalam yang menjadikan akal sebagai sumber beragama[21], di antaranya: Pasal ‘Apa Yang Datang Dari Para Imam Dalam Mencela Kalam‘[22]
Kemudian beliau membawakan sebagian perkataan para imam Ahlus Sunnah dalam hal ini, seperti al-Imam asy-Syafi’i, Ahmad, dan yang lain, kemudian berkata, “Inilah ucapan al-Imam asy-Syafi’i tentang cela ilmu kalam dan anjuran untuk mengikuti Sunnah. Dialah imam yang tidak diperdebatkan dan tidak terkalahkan.”[23] Beliau juga berkata, “Maka jelaslah bagi kita bahwa jalan (yang diikuti dalam beragama) menurut para imam yang mendapat petunjuk adalah: mengikuti (mazhab) salaf dan meneladani mereka tanpa kembali kepada pemikiran/akal.”[24]
Al-Imam Abul Qosim Ismail at-Taimi rahimahullah (wafat 535 H) pengarang kitab الحجة في بيان المحجة وشرح عقيدة أهل السنه beliau memuat dalam kitabnya beberapa pasal yang mencela ilmu kalam dan ahlinya, diantaranya: ‘Pasal: Para Imam yang Mencela Dan Membenci Kalam‘.,[25] Dan ‘Pasal: Celaan Para Imam Terhadap Ilmu Kalam‘[26]. Beliau menyebutkan dalam kedua pasal tersebut dengan sanadnya riwayat yang banyak dari para imam Ahlus Sun*nah yang mencela ilmu kalam, seperti al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik, dan al-Imam asy-Syafi’i serta imam-imam yang lain.
Setau saya sih filsafat itu induk dari segala ilmu. Mulai dari matematika sampe biologi itu asal muasalnya dari filsafat. Kalo itu disebut kejahilan konsekuensinya semua yang kita pelajari dari esde jahil semua.
Permisi numpang lewat... ::hihi:: (sambil ngurut dada, duh...eling...eling...sabar 234, ini bulan puasa)[meditasi]
*sebenarnyasayabisasajakutipkanpendapatparaulamaya ngmendukungfilsafat.tapisebagaimakhlukberakalsayal ebihsukapakaipendapatdirisendiridaripadaikutikutan apakataorang*
:ngopi:
Coba baca baik2 posting di atas :
Ini menunjukkan bahwa perkataan imam Asy-Syafi'i di atas (tentang filsafat -ilmu kalam-) bermakna khusus, TIDAK umum. Dalam arti, tidak semua filsafat haram dan dihukumi jahil (bodoh) dan berpaling dari Syari'at. Yang dihukumi adalah yang terkait dengan hukum-hukum agama, sedangkan di luar itu tidak apa2.Quote:
...
Perkataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam hal ini begitu banyak, di antaranya:
“Mempelajari ilmu kalam adalah kejahilan (kebo*dohan). “[16]
Beliau juga berkata:
“Hukumanku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan di atas unta, kemudian dia dikelilingkan (diarak) ke kampung seraya dikatakan kepada khalayak, ‘Inilah hukuman bagi orang yang berpaling dari al-Qur’an dan Sunnah lalu menuju ilmu kalam/ filsafat.’”[17]
...
Kaidah fiqh, semisal "al-ashlu fil ibadah at-tahrim" (Hukum asal ibadah adalah haram) atau "al-ashlu fil mu'amalah al-ibahah" (Hukum asal mu'amalah adalah boleh) merupakan produk berfikir manusia dalam mengkaji dalil2 dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits, BUKAN semata-mata olah fikir manusia semata TANPA dukungan syari'at.
Maka, kaidah-kaidah fiqh yang dihasilkan para ulama, termasuk dalam kegiatan filsafat (secara umum), maka ini dibolehkan dalam syari'at karena tidak bertentangan dengan syari'at itu sendiri. Yang HARAM adalah jika kaidah fiqh tsb lahir semata-mata dari olah pikir semata tanpa bersandar pada dalil-dalil syari'at semisal kaidah fiqh Islam Liberal seperti : "Jawaz Naskh al-Nushuh bi al-Mashlahah" (Boleh menghapus nash-nash dengan kemashlahatan) << kaidah JIL ini memberikan indikasi bahwa nash (teks Al-Qur'an atau Al-Hadits) boleh dihapus/diganti/diabaikan JIKA tidak sesuai dengan maslahat (sesuai pemikiran/filsafat) JIL.
Padahal, yang namanya nash Al-Qur'an dan Al-Hadits itu merupakan sumber hukum dalam agama Islam. Mengganti/membatalkan maksud nash karena dianggap bertentangan dengan maslahat (sesuai pemikiran/filsafat) JIL berarti keluar dari ketetapan agama. << Ini HARAM, dan kaidah fiqh tsb di atas BATHIL.
Ya memang sebaiknya diterangkan seperti itu. Karena kalau melihat justifikasi2 lainnya - di post yang sama -, filsafat kelihatannya disama ratakan semua sebagai kontra dari Al Quran dan Al Sunnah.
Sbnarnya FILSAFAT trsebut sngat2 tdak brguna...
Orang yg masuk kdalam FILSAFAT lbih kearah mengkhayal atau mengarahkn diri kdalam kbingungan yg tdak brbatas...
Ambil Cth; Dlu sya pnya teman yg brotak FILSAFAT
Hdupny stiap hari sllu mnggunakan kta "KENAPA?", hdup kok dipake bgtu? Ujung2ny bkanny hdup brguna hnya bengong & melamun
Lalu sya ajarkn, klo mau dpat JAWABAN, jgn prnah gunakan kta "KENAPA?" lgi dlam hdup tpi "BAGAIMANA CARA?" ktka brdo'a kpda Allah (jalan keluar), alhasil hdupny move on