jalan panjang cerminan masa lalu
indah, dendam lalu memaafkan
tolong lepaskan aku dari rasa semu
biarkan detak jantungku kembali perlahan
Printable View
jalan panjang cerminan masa lalu
indah, dendam lalu memaafkan
tolong lepaskan aku dari rasa semu
biarkan detak jantungku kembali perlahan
Kau adalah bayangan yang mengejar pagiku..dan bintang yang menitahkan malam bagaimana seharusnya memimpikan kita.
kisah negara kita
yg bermusuhan dgn negeri seberang
saling hasut, kesal amarah tertahan
tertuang dlm tulisan2 yg menyengat
anak kecil menangis tertahan
sejarah yg salah
kita yg salah
mereka yg salah
anak kecil menangis tertahan
melihat bapaknya pergi berperang
berperang dgn negeri sebelah
perang
perang
perang
bom memancar
peluru bercucuran
darah pun berterbangan
anak2 pun menangis tertahan
menangisi bapaknya yg mati dlm perang
menangisi ibunya yg diberondong peluru dlm satu kokangan
kini siapa yg jadi korban?
---------- Post added at 11:14 AM ---------- Previous post was at 11:12 AM ----------
apakah kau peduli, wahai teman?
Indonesia Mengajar,
aku suka logonya.
simpel. sederhana. tulus. semangat. peka.
semoga manusiamanusia tamak itu
lesap ke dalam tanah!!
perang....
nasi kusendok...
lauk pauk ku comot
nyam.. nyam...
suasana semakin panas....
dikala aroma goreng ayam...
menyengat hidungku...
ku kejar dari mana aroma itu...
oh.. ternyata dari dapur
SERBUUUUUUUUUUUUUUUUUU...
perangpun terjadi.. kulahap daging ayam itu
senyuman kemenangan terbesit di mukaku..
muantab tenan.. :P
ku biarkan dia lepas
tak mampu lagi kutahan
kuikuti dia berlari bebas
agar dia tak lagi menjadi beban
ku biarkan dia lepas
membakar seluruh kenangan
hari ini untuk hari ini
tak ada lagi masa depan
sendiri
gerimis
pejalan kaki
langkah
lambatlambat
malam
tadi
klakson
mikrolet
hey!
aku tidak sedang ingin menaikimu!
malam
malam
malam
dan
malam
sebentar lagi
dini hari
galau... dunia dipenuhi kegalauan
salah siapa?
Suara lonceng memantul di dinding gua
tempatku bersembunyi
menandakan waktu telah habis
tidak adakah perpanjangan waktu untukku?
sementara dekat
lalu jauh, tak tersentuh
basi,busuk terbelengkalai..
kau tak perlu tahu, sungguh..
Aku bergidik membayangan diriku, diantara lekuk pikuk sembrawut wajah Ibumu. Kota yang kutakuti itu.
'Aku rindu bau dupa dan bunga!' bisikku. 'Kita tidak sedang berziarah!' balasmu.
Sepasang burung tersangkut di kawat listrik.
Bunga plastik dan bau selokan bertabrakan dengan aroma pengharum mobil rasa buah. "Selamat datang di Jakarta!"
mimpi yang terasa nyata
tawa, marah bahagia
sempurna
dan aku menamai diriku editor
Di kedai kopi sebelah gang sepi, koran, berbagai tabloid sesak jajakan diri. Reporter cantik dengan dada melon berkicau tentang bocah yang menabrak pejalan kaki, suaranya mengalahkan nyanyian burung-burung pipit di dahan waru. Aku memesan pisang goreng dan cepat-cepat berlalu. Entah kenapa aku tak terharu. Aku ingin tidur lagi...menyelesaikan mimpi!
---------- Post added at 02:58 PM ---------- Previous post was at 02:22 PM ----------
Kukira matahari itu perkasa, sampai kutemukan ia bersembunyi di balik mendung matamu hampir basah.
Kaca terbelah, ketika aku berusaha menyeka tetesan embun dari Mata yang menangisi hari.
Lalu kami bertukar sesak, dan kuyup oleh tangis masing masing.
Cakar gedung halang pandang, tapak kenang jatuh di bayang bayang.
Siapa terkayuh mimpi sebuntal, di pelatar surau beralas risau?
I saw an ugly face, down the pillow lace.
Wanting.
Ssh..she must be sick.
Slowly leave!
Morning ease
setiap yg bernyawa
akan menemui kematian
disaat ia ada,
kemudian menjadi tak ada.
Disanalah,kenangan sgt berarti.
Dan tak tergantikan dgn apapun.
Ini wiken bukan?
Ya ini wiken.
Lalu mengapa aku merasa ini workdays?
Otak tak pernah berhenti berpikir what's next?
sejenak,mempause pikiran
dan terjun berenang memasuki
pikiran dgn berbagai sudut pandang.
Mulai menenangkan jiwa
dikala orang lain lebh bnyk menuntut
menghalangi langkah,yg sedari dulu
slalu dianggap salah.
Tersudut,pada dinding yg tak bepintu.
Ingin teriak,meraung marah
tapi tak bisa,tak ada yg mampu
mencoba memahami.
Tak perlu ini, bukan pula itu.
Restui,ridhai,doakan,
itu yg diinginkan sedari dulu.
Zero,wish 2 hero.
pagi membunuhku dengan pesan gila mu
merangkak pada jemari malam
angin laut datang lebih cepat
tapi memekarkankan senyum
akhirnya dapat bersajak lagi
malam akan berlalu dan,
sedang berlalu lalang.
Selamat datang waktu,
pena akan menari lagi,
meski malam menjadi tak suka.
aliran nadi berjalan cepat
memberitaukan,
sang penyesak napas
telah lari tunggang langgang.
Indahnya oksigen,
terasa nikmat,seperti mengunyah
es serut bersirup strawberry.
ini kisah kesabaran.
Wahai angin,derulah dengan cepat
pohon tak akan rubuh
badai lekaslah datang dengan kebut
daun ini akan tumbuh kembali.
Wahai mentari,teranglah dgn gemerlap
itulah tujuan pohon
bertahan hidup utk dapat melihatmu.
Hari kemarin, geratkan luka belum lagi kering. Tapi siapa kita, menghalang gerhana, agar tak nampak airmata?
Pigura Kosong
rumpun bambu bergelung rindu,
tarian hujan yang tak sempat mengembun di rambutmu
Setetes kenang basahi petang
Kukejar tanya ke pedalaman mata
“Kirimi aku gambarmu” katamu
Kukirim sebuah pigura kosong
“Apakah waktu telah mencuri semua ingatanmu?”
^
^
nice poem :)
:D thx kom...share me yours
entah apa yang menggerogoti jiwaku, tapi tak kutemukan kau disitu...
bangku kayu tempat biasa kita menghilang,
dari peradaban lalu tumbuh liar sebagai ilalang...
aku katakan lagi padamu,
jangan dekati alunan hidupku
biarkanku bernapas seluas-luasnya
Karena cerita kita berakhir
tak bermekar, menjadi kuncup
di pagi yang sunyi
jauhlah, sejauh awan putih
yang tak dapat ku gapai.
Dengan baju kuyup dan payung tertutup, aku berlari menuju rumah.
Ah..Tiba tiba aku kehilangan alasan untuk pulang. Mungkin untuk secangkir kopi, atau adakah puisi yang belum dibacakan sepi?
Hujan pekat...tanpa isyarat
Jikalau hati ku tertutup, ketuklah dengan perlahan.
Jikalau hati ku tekunci, carilah kunci untuk membukanya.
Jikalau hati ku terbuka, ku persilahkan kau untuk keluar dari hati ku.
numpang nempel :)
Bunga dan Tembok
oleh Wiji Thukul
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami tebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakina: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Dimanapun – tirani harus tumbang!
(1987-1988)
Thanks, mengingatkan lagi pada sebuah tokoh yang sangat sederhana dan sekarang hilang entah kemana.
tapi puisi2nya yang berani itu tetap dikenang sampai kapanpun.
*err tulisan saya tentang Wiji Thukul juga raib seiring portal forum yang saya sambangi lenyap beberapa tahun yang silam
Kukejar bayangmu
seakan tiada bertepi
kuingin menggapaimu
tetapi hanya ada sepi
kuingin memelukmu
hanya batu dingin yang ada
kuingin bersandar kepadamu
tetapi kau abaikan
bagaimana aku harusnya?
Pergi dengan lukaku ini?
Atau tetap bertahan dengan luka?
Tolong beri aku hal pasti
Kau dan aku
mengawali bersama dengan senyum
Dan apakah kini harusnya?
Ketika senyum tak bisa ada?
note. dedicate to u, be strong
numpang nempel lagi
puisi seorang teman..
Di malam Saat Riwayat Salju Sampai di Penghabisan
oleh Rahmat Hidayat
Di malam saat riwayat salju sampai di penghabisan
Denting pukul sembilan, seorang datang mengetuk pintu kamar
Di keset coklat hitam, air menggenang dari jaket hujan
Di luar hangat teruar samar, basah lahir dari salju yang cemar
“Kuberikan sebuah bingkisan untuk hari menjelang natal
Aku sepenuh berharap kisah yang tak selesai tak bakal kekal”
Cangkir penghangat jari, gurat daun teh terapal takdir
Ada setia menggantung, beberapa jenak sebelum waktu kasip
Berseru, diri terperi, tersendat sedih yang silir
Sebelum diam dari dengung, sebelum lenyap tanpa kelip
“Masihkan kau simpan foto kita itu
Yang dahulu engkau simpan dengan rapi dalam album
Berharap ia berubah sepia oleh waktu
Engkau lihat, betapa cinta setia merangkum”
Tapi kita tahu, jarak, mungkin pula cinta, seperti jaring lelaba
Halus, dan mungkin tak terlihat
tapi cermat meringkus dan kita hanya bisa meraba
perubahan, mungkin baik mungkin pula jahat
Harus, harus dan harus pula pergi
dalam belit kenang, sebagai kekasih yang lekang
sebaik-baiknya, saat dingin masih menggerigi
di kering sepasang lengan, memeluk sunyi mementang
Amsterdam-Leiden, Desember 2008
---------- Post added at 11:29 AM ---------- Previous post was at 10:47 AM ----------
---------- Post added at 11:33 AM ---------- Previous post was at 11:29 AM ----------
------
Aku bukanlah aku, tapi malu yang tumbuh membatu. Tubuh penuh desis 'ish..' tapi sekali-kali kau jilat dengan rakus.
Oh, anak-anak yang menggeliat di dadaku, padanganlah indah bulan, bintang, lautan. Kita lebih dari itu!
ENTAH
Entah sudah terbang ke mana,
Aku memilih diam di sini.
Tak berani dan tak mau menyentuhmu (lagi).
You are untouchable, unreachable.
Barangkali, rindu ini memang harus dipasung.
Tak boleh membiarkannya sejenak keluar dari ruang hampa.
Setidaknya aku tahu,
Tak pernah ada benci.
Kemarin siang masih kusemat namamu.
Seperti harihari yang lalu... yang pernah ada.
Agar senantiasa menjagamu,
Seperti DIA juga menjagaku dan keluargaku... .
Daun, tanah dan ranting terlindas,
diantara yang bergegas
yang tinggalkan pagi
yang melamunkan petang dan mati yang entah kapan.
" Kita semakin berjarak" lirihmu, tapi taukah kau, kita tak pernah benar-benar saling menjauh, kecuali lelah yang semakin tabah, dan isyarat kian kehilangan makna.
---------- Post added at 05:03 PM ---------- Previous post was at 04:05 PM ----------
Cemburu senantiasa lapar berburu, seperti tak puas mengejar di jalan berbatu-batu. Pesta gairah yang lupa waktu merasuk rusuk pemabuk, mengulang perih tualang dari dada ke dada, dari basah ke resah. Pergelutan yang tak menyediakan pemenang, kecuali setumpuk dendam mengambang.
angan yg ada, pupus sudah.
ego telah menang.