Ho oh ... kita dididik tidak dengan cara yg sama.
Bila kita hidup di lingkungan yg menuntut kesempurnaan kalo ga kita yg ngalemin mental breakdown, mungkin kita jd penyebabnya.
Good luck aja buat Milnalev ;)
Printable View
Ho oh ... kita dididik tidak dengan cara yg sama.
Bila kita hidup di lingkungan yg menuntut kesempurnaan kalo ga kita yg ngalemin mental breakdown, mungkin kita jd penyebabnya.
Good luck aja buat Milnalev ;)
Anak down syndrome dan slow learning sudah punya sekolah SLB dan sekarang sudah ada sekolah inklusi. Saya punya adik misan sekarang SMP kelas 3, dulu pernah gak naik kelas waktu kelas 5 SD karena tidak hafal perkalian dasar, sampai sekarang juga begitu. Sepertinya dia lebih suka pekerjaan praktis, sebaiknya disarankan masuk SMK saja. Soal autis sudah sering dibahas di koran dan media dan sudah banyak ditangani secara khusus, tapi kalo asperger memang agak jarang.
Soal masalah kebutuhan khusus, problema kehidupan, masalah kepribadian, tingkah laku, dan kejiwaan, patologis, kelainan fisik itu sudah ada pakarnya yang menangani yaitu terapis, psikolog, psikiater, dokter ahli juga dukungan rohaniwan.
Tapi orang yang sudah dicap sebagai orang yang rusak moral apalagi asusila seringkali sudah dianggap fatal dan gak punya harapan untuk berubah. Bahkan ada masyarakat yang menghakimi dengan melempari batu atau mengusir dari lingkungan. Meskipun mereka sudah menyatakan bertobat tapi orang seringkali sudah gak percaya lagi karena sudah dianggap cacat moral dan susila. Lebih parah lagi kalo keluarga sendiri saja juga menolak dengan alasan mempertahankan nama baik dan kehormatan. Mereka sepertinya sudah mendapatkan vonis dari masyarakat seumur hidup dan hidup tanpa dipercaya orang lain, akhirnya mati mengenaskan. Mereka juga dilanda rasa bersalah dan berdosa terus-menerus tapi sudah gak ada orang yang percaya mereka bisa bertobat sungguh2. Terlebih lagi bagi penderita AIDS dan penyakit kelamin, orang menganggap sebagai penyakit kutukan dan dijauhi masyarakat. Kecuali memang ada sarana pemulihan bagi orang2 yang sudah dianggap rusak moral dan susila. Tapi masalahnya Indonesia termasuk negara yang memegang nilai2 moral, adat, budaya, agama, dan susila yang ketat masih belum bisa menerima seutuhnya orang yang dianggap rusak moral dan susila.
Berkebutuhan khusus artinya, normally anak2 ini lain dengan paradigma umum. Mereka bukan harus dibuang, entah apa latar belakang "keunikan" mereka.
Karena saya seorang ibu, maka cenderung peka terhadap hal2 ini. Saya sering memposisikan seandainya anak2 saya berkebutuhan khusus, bisakah saya menanganinya? Saya salut denga ortu yang bisa menghadapi masalah2 seperti ini.
Masyarakat dan orang luar bahkan keluarga besar menilai anak2 berkebutuhan khusus berdasarkan ortu menghadapi anak2 ini sendiri.
Saya lihat sendiri, ortu yang berkebutuhan khusus menghadapinya dengan kuat dan penuh kasih sayang, maka orang sekitar anak2 itu bersikap sama ;)
Psikolog, sekolah inklusi, rohaniawan itu hanya membantu. Kunci utamanya ada pada ortu dan keluarga dekat ;)