Quote:
Originally Posted by
234
Betul. Lha "informasi samping" sendiri itu menurut anda apa sih? Bukannya itu adalah "side information" yg berfungsi untuk memfilter setiap ada informasi baru yang masuk, sebagai tools untuk mengambil keputusan menerima (percaya) ato menolak (tidak percaya) thd informasi baru tsb?
Maka dari itu di awal ane memberikan definisi dulu apa yg dimaksud dgn percaya. Informasi samping bukan seperti yg ente maksudkan di atas. Mengapa? Karena ane mendefinisikan percaya sebagai menerima tanpa menuntut bukti (meski bisa dibuktikan). Kalo informasi samping yg ente maksudkan itu sudah masuk ke dalam pembuktian. Informasi samping yg ane maksud tidak terkait langsung dgn pernyataan tsb, tetapi dapat memberikan dasar utk menerima atau menolak suatu pernyataan.
Dlm contoh si Mamat tadi. Informasi sampingnya adalah pengetahuan ttg si Mamat orang jujur. Karena si Mamat jujur, maka ane menerima pernyataannya tanpa perlu ane melakukan pembuktian. Jadi kita mempercayai pernyataan seseorang karena, salah satu faktornya, kualitas orang tsb.
Contoh lain misalnya seorang mantri sunat mengatakan kolesterol dapat mengganggu jantung. Sedangkan seorang dokter spesialis jantung mengatakan kolesterol tidak mengganggu jantung. Mana yg ente percaya? Karena ente tahu bahwa dokter spesialis jantung lebih kompeten dlm hal penyakit jantung, maka ente percaya pernyataan dokter tsb dari pada pernyataan mantri sunat. Pengetahuan ttg orang itu sbg dokter spesialis jantung atau mantri sunat adalah informasi samping.
Quote:
Itu kesimpulan sampeyan sendiri. Memang aneh. Dan saya ndak bilang seperti gitu. Coba sampeyan cermati lagi tulisan saya yang anda kutip.
Kok jadi berbelit2. Coba lihat yg ente tulis...
Quote:
Semakin minim informasi samping semakin besar peluang untuk percaya, sampai batas paling ekstrem tanpa adanya informasi samping maka peluang untuk percaya menjadi 100%.
...Lha kalo semakin banyak informasi samping semakin gimana peluang utk percaya?
Selain itu, apa yg ente maksud dgn term percaya? (ini ane tanya berulang kali)
Quote:
Percaya atau tidak percaya itu, salah satu faktor penentunya, adalah tergantung kesesuaian antara informasi samping yang dimiliki dgn informasi baru yang diterima, semakin sesuai semakin besar peluang untuk percaya dan semakin tidak sesuai, apalagi bertentangan, akan semakin besar peluang untuk ditolak (tidak percaya).
Dlm pemahaman ane, yg ente uraikan di atas bukan percaya, tapi nilai dari sebuah pernyataan.
Quote:
Tapi itu bertabrakan dgn pernyataan sampeyan sebelumnya yng menyatakan bahwa percaya itu ndak perlu bukti, atau dengan kata lain bebas dari nilai, lha wong pembuktian itu kan untuk menguji nilai benar-salah dari sebuah pernyataan. Lain ceritanya kalo kita bicara ttg penge-tahu-an (knowledge).
Kok tabrakan? Makanya ane tanya berkali2, apa yg ente maksud dgn percaya. Di atas sudah ane jelaskan apa yg dimaksud dgn percaya dan informasi samping.
Ketika ente menyodorkan masalah mana lebih dahulu percaya atau tahu, seolah2 term percaya sesuatu yg jelas dan sama bagi setiap orang. Kalo ane gak begitu. Ane berikan dulu batasan2 term percaya supaya yg terlibat dlm diskusi mengacu pada hal yg sama.
Quote:
Lha kalo ndak ada sama sekali informasi samping alias "kosong", lalu peluangnya/dasarnya darimana seseorang menolak (tidak percaya) thd sebuah informasi yng masuk?
Kok orang yg menolak suatu pernyataan ente tuntut dasarnya apa, tetapi orang yg percaya ente tidak tuntut dasarnya apa. Jadi apa term percaya yg ente maksud?
:))