Originally Posted by
E = mc²
seperti sudah saya tulis sebelumnya--dan juga kalau anda mau meluangkan waktu sedikit untuk membaca dengan baik sumber yang sudah saya cantumkan-- cerita ini TAK PERNAH ditemukan di berbagai buku, karya pribadi, artikel wawancara, apapun, tentang seorang Einstein. Cerita ini muncul di internet SEJAK tahun 2004 lewat milis-milis (jaman segitu milis adalah media internet paling efektif untuk menyebarkan info). Dan selalu, semuanya saling forward-memforward tanpa pernah disebutkan satu pun buku (atau naskah yang Einstein yang belum terpublikasikan) buat dijadikan rujukan.
Semua peninggalan Einstein sudah terdokumentasikan dengan baik, baik itu catatan pribadi, tulisan ilmiah, surat, diary, dll. Dan kisah seperti post pertama tak pernah ditemukan dalam dokumentasi yang sudah terpublikasikan. Cek saja semua buku apapun baik itu buku motivasi atau buku biografi lainnya, kisah ini tak pernah ada sebelum tahun 2003. Lantas, kita menyebut kisah seperti ini sebagai apa? Orang sudah membuat kosakata baru untuk fenomena ini, namanya "hoax". Bukan berarti karena kita gak bisa melakukan wawancara langsung dengan Einstein, tak semata-mata kisah tentang Einstein langsung tak bisa dinilai benar dan salahnya. Jika ada kisah yang menuliskan Einstein pernah datang ke Bandung, sudah dapat dipastikan bahwa kisah ini HOAX. Mengapa? kan kita belum tanya Einstein? Sederhana jawabannya, karena gak pernah ditemukan dokumen yang bisa dipertanggungjawabkan yang menyatakan bahwa Einstein pernah jalan-jalan ke Bandung.
Begini, jika sekarang ada orang yang nulis cerita, katakanlah, tentang kisah seorang sahabat Nabi, tapi kisah ini tak pernah ditemukan di literatur manapun sebelumnya, bahkan si penulis kisah tak bisa menunjukan BUKTI OTENTIK yang menjadikan rujukan buat kisahnya yang belum terpublikasikan dan bisa dipertanggungjawabkan, maka dengan yakin saya akan menyebut kisah ini sebagai hoax juga.
Sekali lagi, saya tak membahas (belum) sisi positif kisah ini, tapi saya baru membahas sisi validitas kisah ini. Saya pribadi, saya tak beriman dengan cara seperti ini--mengandalkan pada kisah-kisah manipulatif dan semu. Jika ada jauh banyak kisah yang lebih JUJUR dan juga memberi sisi positif, saya akan mengambil kisah yang lain, bukan kisah yang tak bisa dipertanggungjawabkan. :)
Contoh ekstrem ada dalam hadits--sorry bawa-bawa agama, biar contohnya mudah dan gampang. Dikenal istilah-istilah seperti shahih, hasan, dhaif, dsb. Jika saya tanya, apakah kita akan mengamalkan ajaran yang udah jelas-jelas dhaif meski itu sangat positif? sebagian besar hadits dhaif penuh dengan hal-hal positif, seperti hadist-hadist mengenai fadhilah amalan-amalan tertentu. Toh setiap muslim yang baik akan menolak hadist2 tsb apapun isi positif hadistnya kan?
Untung saja kisah ini masih pada level "aman". Pada banyak kasus, lebih banyak lagi kisah bohong yang diklaim sebagai "kebenaran ilmiah" untuk meyakinkan orang-orang tertentu akan kebenaran tertentu. Kisah ini diulang, over and over, nyaris menjadi propaganda. Ironisnya, propaganda yang "menunjukan bukti ilmiah ini", justru cacat sama sekali menurut standar ilmiah. Tragisnya, banyak orang yang percaya :(