Kalau yang ndugu bilang di atas, di otak saya lokalisasi itu bentuknya kea gitu. Tapi belum legal.
Legalalisasi muncul kalau gak mencakup tempat tertentu... Bisa dimana aja gak kudu di tempat itu. *lokalisasi
Cmiiw
Printable View
Kalau yang ndugu bilang di atas, di otak saya lokalisasi itu bentuknya kea gitu. Tapi belum legal.
Legalalisasi muncul kalau gak mencakup tempat tertentu... Bisa dimana aja gak kudu di tempat itu. *lokalisasi
Cmiiw
berantas pelacuran.
titik
urusan legal2an memang cakupannya sangat luas, dan sejauh apa baru disebut sebagai legalisasi? :cengir:
apakah sertifikat / ijin untuk melakukan praktek prostitusi itu (beserta peraturan2 dan hukum yang datang bersama ijin itu) termasuk dalam cakupan legalisasi ato lokalisasi? :cengir:
soalnya buatku itu juga udah termasuk legalisasi
sedangkan lokalisasi itu cuman, yah, mengumpulkan praktek2 ini pada satu tempat tertentu (terlokalisasi / localized)
cari sarang2 pelacuran tersembunyi, berantas. habisi.penjarakan germo setara dgn pengedar narkoba.
ketemu lagi, berantas lagi
begitu terus sampai jumlahnya mengecil
sampai cari pelacur jd susah bin banget
instead of ya mikir mikir gmn dan dimana nempatin kurungan ayam tapi ayamnya dibiarkan bertelur terus..sama aja kek beruang ngejer kotoran di sungai
---------- Post Merged at 12:21 AM ----------
tapi ya you knowlah masalah terbesar di bisnis ini
polisi ngambil untung dari upeti para germo
yeaahh..cerita lama.
---------- Post Merged at 12:24 AM ----------
pelacuran itu ga ada bagus2nya..ngapain ambil uang pajak dari hasil lendir
hii..ogah. gw minggat aja dari endonesia ini.
---------- Post Merged at 12:26 AM ----------
buat saran bu eve ttg taro lokalisasi di pulau terpencil?
oohh..pulau cantik dgn tanah subur dan air laut yg suci..ngapaiiin dijadiin tempat buang lendir.
jangaaan. ga setuju
atas nama ikan-ikan di lautan saya menolak.
Kalau polisi punya masyarakat, kalau pejabat punya rakyat, kalau masyarakat punya pelindung... Gak bakal perlu lokalisasi le...
Kea yang gw bilang, idealnya masyarakat jadi corong dan mata polisi, seandainya polisi itu rekan masyarakat.
Nyatanya?
lg ga mood berandai-andai bu
sementara kita berandai andai terus mengandai andai dan jadi agak lebay
itu bisnis jalan terus
That's way le... Makanya... Kita punya apa buat berantas itu semua? Polisi aja di pihak mereka.. Pejabat? Pelanggan mereka..
Insting saya bilang meskipun kelihatannya tidak ada korban, sebenarnya korbannya ada. Para perempuan itu apa benar mereka niat jadi pelacur? Jangan2 banyakan yang awalnya dipaksa terus nggak bisa keluar akhirnya pasrah. Kalo dilokalisasi dan dilegalisasi, yang kebayang malah makin banyak aja ntar pemaksaan terselubung agar para perempuan ini jadi pelacur.
Para pria bejat ini kenapa nggak diberantas aja sih? Malahan dikasi toleransi pake lokalisasi.
Doly kayaknya lagi diberesin sama Bu Risma. Mau liat dulu hasinya begimana.
di trit ini cuma si ale yang bikin saya ngakak2 ::elaugh::
Tepatnya berasa kayak mau ke dokter gigi ::oops::
Mau menghapus pelacuran ? Usaha itu sudah dilakukan dari tahun berapa ? Berhasil gak ?
Pelacuran itu antar penjual dan pembeli sama2 mau, gimana mau diberantas ?
Asal ada tempat 2x2 meter, mereka sudah bisa bersanggama, masa polisi harus ngejagain tiap meter diseluruh indonesia ?
Polisi musti ngurusin persanggamaan semua orang di indonesia, yg gak nikah sah dihukum2in semua, emang gak ada kerjaan lain ? Butuh berapa personil polisi buat ngawasin kelaminnya 250 jt orang indonesia ?
Yg realistis lah.
---------- Post Merged at 01:27 AM ----------
Kebalik.
Justru kalo pelacuran sembunyi2, pake beking polisi dan tentara, pake tenaga preman dan mafia, akan banyak perempuan diculik dan dipaksa melacur.
Kalau di lokalisasi, pemerintah bisa mendata pelacur dengan mudah, yg diculik dan dipaksa akan ketahuan.
Para aktifis perlindungan perempuan juga bebas masuk ke lokalisasi untuk memberi bimbingan dan perlindungan.
Yg mau menginjili atau berdakwah disitu juga monggo.
Btw, apa kaabar tuh germo yang ditangkap di apartemen jakarta waktu itu? "Mami Papinya" ketangkep gak?
Liat KPK aja deh, jelas2 punya undang2.. Apa koruptornya bisa dia tangkap semua? Tetep masih ada tarik menarik unsur politiknya...
Saya tidak setuju dengan pembuatan lokalisasi baru maupun penghancuran lokalisasi yang sudah ada.
Kalau 'sudah dari dulu tidak pernah bisa diberantas' menjadi alasan menolak program pemberantasan pelacur,
sekalian saja kita tak perlu menghukum pencuri dan perampok. Selalu ada pencuri dan perampok di setiap zaman.
[MENTION=39]ndugu[/MENTION] ,
koreksi bila saya salah,
seingatku di Amerika Serikat dilarang kecuali di negara bagian Nevada, kan?
Ada alasan mengapa Amerika melarang pelacuran sementara longgar pada pembuatan film porno dan klub tari telanjang.
Pada proses pembuatan film porno, pihak wanita yang terlibat memiliki perlindungan dalam bentuk kontrak. Ada batas-batas boleh dan tidak yang ditentukan dalam kontrak. Selain itu, dalam pembuatannya, ada banyak pihak yang terlibat seperti sutradara, kamerawan, penata set, dan mereka semua profesional dan tugas-tugas mereka ada dalam kontrak. Sekali mereka melecehkan pihak wanita, maka bisa langsung digugat ke meja hukum.
Tentu saja walaupun ada produser film porno legal, selalu ada produser-produser film porno ilegal yang biasanya melibatkan penipuan, perdagangan wanita, dan semacamnya.
Pada klub striptis, selalu ada peraturan untuk tidak boleh melakukan seks. Peraturan ini, ketika ada permintaan layanan private dancing, selalu disosialisikan kepada konsumen, "anda boleh memegang bagian mana saja dari tubuh saya kecuali selangkangan, anda tidak boleh membuka celana kecuali saya yang melakukannya, anda tidak boleh mencium saya" dan semacamnya tergantung kebijakan masing-masing klub. Bila konsumen melanggar peraturan, penari berhak menghentikan layanan. Selain itu, tempat layanan berada di bilik, dengan pintu tidak terkunci di mana penjaga klub bisa masuk sewaktu-waktu demi keamanan klub.
Beda dengan pelacuran,
tidak ada peraturan kecuali kesepakatan yang terjadi saat itu juga. Konsumen pria bisa melakukan apapun yang ia suka dan hanya belas kasihan dari sang pria yang mau menghormati permintaan si pelacur. Pelayanan pun dilakukan di kamar tertutup dan tidak jarang terkunci. 'Teriakan' bisa disalahartikan sebagai bentuk layanan.
Berbeda dengan film porno di mana aktris harus bisa mendesah, harus bisa berakting untuk standar film porno,
atau klub striptis di mana penari harus bisa... menari
pelacur tidak butuh keahlian khusus.
Para mucikari bila kekurangan anak buah sementara permintaan cukup tinggi, sangat gampang mencari mencari cewek baru karena tak ada keahlian khusus yang dibutuhkan. Sekali dapat, cukup lemparkan ia ke dalam kamar, foto, tawarkan di meja depan bersama foto-foto cewek-cewek lain untuk dipilih pelanggan.
Para pelacur ini, tak jarang yang akhirnya jadi frigid, tidak bisa menikmati seks, setelah tubuhnya dihujam minimal tiga pelanggan dalam semalam, atau bahkan tujuh pelanggan bila laris, di mana mereka punya 8 jam kerja dan masing2 dilayani sejam walau kenyataannya selesai dari kurang 15 menit.
Jadi pelacuran itu sangat dekat dengan perbudakan.
Bahkan pelacur kelas tinggi, yang punya posisi tawar lebih tinggi daripada pelacur di jalan, di negeri di mana profesinya dilegalkan pun juga harus berhati-hati menghadapi klien mereka. Saya pernah membaca artikel yang ditulis oleh pelacur panggilan di Australia di mana ia harus memilih-milih lokasi demi keamanan. Ia tidak akan mau dipanggil ke rumah karena banyak hal yang bisa disembunyikan di dalam rumah, ia tidak akan terjaga. Ia cenderung memilih lokasi hotel karena jelas ruang lingkup kamar, walaupun sebenarnya tetap was-was saja. Itu sebabnya, ia punya sekretaris untuk mencatat semua janji dan nama calon pelanggan untuk mengurangi niat calon pelanggannya berbuat lebih dari seks.
Ada lokalisasi akan membuat yang ilegal hilang?
Gak juga.
Seperti yang kubilang,
lokalisasi akan punya keterbatasan.
Dan keterbatasan itu yang akan dimanfaatkan oleh mucikari ilegal.
Buatku,
lokalisasi itu cuma punya dua manfaat:
1. mempermudah pajak;
2. mempermudah pendataan dan pelayanan publik seperti pemeriksaan kesehatan
Kenapa ente gak ambil contoh Vatican atau Arab Saudi aja sekalian? Pelarangan pelacuran masih didasarkan oleh alasan religius, bukan alasan rasional. Amerika Serikat, meski Barat, adalah negara religius. Bandingkan dengan Eropa dimana ente bisa mendapatkan tempat buang "tai macan" di samping stasiun kereta ataupun bandara.
Sama saja. Dalam pelacuran pun bisa dibuatkan kontrak sehingga pelacurnya dilindungi dari perbuatan-perbuaan yg tidak menyenangkan. Ketika seorang pelanggan hendak menggunakan jasa pelacuran, otomatis dia terikat dengan suatu kontrak tertentu dimana di dalamnya tertera aturan-aturan apa yg tidak dan boleh dilakukannya. Misalnya pelanggan harus menggunakan kondom, hanya boleh bermain 30 menit, dst. Ini bisa dikontrol.Quote:
Pada proses pembuatan film porno, pihak wanita yang terlibat memiliki perlindungan dalam bentuk kontrak. Ada batas-batas boleh dan tidak yang ditentukan dalam kontrak. Selain itu, dalam pembuatannya, ada banyak pihak yang terlibat seperti sutradara, kamerawan, penata set, dan mereka semua profesional dan tugas-tugas mereka ada dalam kontrak. Sekali mereka melecehkan pihak wanita, maka bisa langsung digugat ke meja hukum.
Kalo sudah ada kontrak, tidaklah. Dalam kontrak bisa disebutkan bahwa sang pelacur hanya bersedia melayani dua orang pelanggan dalam sehari, dst. Pembuatan film porno pun, jika tanpa kontrak, adalah juga perbudakan.Quote:
Jadi pelacuran itu sangat dekat dengan perbudakan.
Nah lihat. Artinya pelacuran pun bisa dibikin aman.Quote:
Bahkan pelacur kelas tinggi, yang punya posisi tawar lebih tinggi daripada pelacur di jalan, di negeri di mana profesinya dilegalkan pun juga harus berhati-hati menghadapi klien mereka. Saya pernah membaca artikel yang ditulis oleh pelacur panggilan di Australia di mana ia harus memilih-milih lokasi demi keamanan. Ia tidak akan mau dipanggil ke rumah karena banyak hal yang bisa disembunyikan di dalam rumah, ia tidak akan terjaga. Ia cenderung memilih lokasi hotel karena jelas ruang lingkup kamar, walaupun sebenarnya tetap was-was saja. Itu sebabnya, ia punya sekretaris untuk mencatat semua janji dan nama calon pelanggan untuk mengurangi niat calon pelanggannya berbuat lebih dari seks.
Ente sedang membicarakan 0 dan 1. Tidak ada yg 0 dan 1, kecuali sinyal digital. ::hihi::Quote:
Ada lokalisasi akan membuat yang ilegal hilang?
Gak juga.
Seperti yang kubilang,
lokalisasi akan punya keterbatasan.
Dan keterbatasan itu yang akan dimanfaatkan oleh mucikari ilegal.
Lokalisasi punya maanfaat toh. Lha kondisi yang sekarang manfaatnya apa?
Pelacuran diberantas? Dream on. Yang berandai-andai sopo toh. Capede
Maksudnya legalisasi saja? Tanpa lokalisasi? Perlu diluruskan dulu neh.. Lokalisasi otomatis sudah legal. Lha siapa yg melokalisasi, kalo bukan pemerintah? Jadi lokalisasi otomatis sudah termasuk legalisasi juga karena pemerintah mengizinkan prostitusi di lokasi tertentu. Kalo ilegal, mana mungkin pemerintah memberikan lokasi utk tempat usaha?
::ngakak2::
Kalo pencurian tak bisa diberantas kenapa tak melegalkan pencurian ?
Ah [MENTION=41]kandalf[/MENTION] gak baca2 tulisan awal nih
Gw udah kasi alasan akan hal itu, pencurian itu si pelaku merugikan korbannya, kalau pelacuran itu penjual dan pembeli sama2 mau, yg ribut orang lain, yg ribut orang2 diluar kedua belah pihak, biasanya orang2 beragama yg merasa lebih "tinggi" daripada si pelaku.
Kenapa dibuat lokalisasi ? Karena dibuatkan tempat khusus bagi mereka yg memiliki pandangan berbeda, bagi mereka yg tak takut Tuhan, tak takut neraka, yg ingin bersanggama, yg ingin uang dsb...
Yg merasa hal itu kotor atau berdosa ya jangan masuk lokasi itu.
yang namanya lelaki hidung belang mau gituan ya pake jeduk2 di hotel kak, masa di pinggir jalan ::ungg::
Silahkan buat lokalisasi biar pajak yang masuk ke Pemda juga jelas, agar para pel-acur gak seenaknya menikmati uang tanpa ada potongan apapun. Orang kerja pasti ada potongan kan.
Silahkan juga di tempat lokalisasi ada orang pajak yg ngawasin supaya pajaknya gak ditipu-tipu. ::oops::
*internet masih harus pakai hape :-(
Kalau diberantas bagaimana caranya supaya bisa tuntas?
Kalau dibuat lokalisasi, legalisasi, regulasi, dan sertifikasi, bagaimana supaya bisa tercapai tujuannya tanpa ekses yang lain-lain?
*DPRD Jakarta dikirim untuk test drive dan studi banding ke red district di Belanda, Nevada dll?:mrgreen:
hahahaha :lololol:
Sumpaaaah koplak abis kalo hal itu dilakukan buat studi banding... gw gak mau deh biaya pemda Jakarta buat ngebiayain orang indehoy gajebo
Silahkan om Alip kasih usul gimana supaya efektif, atau mungkin bisa nanya ke ndableg sebagai penduduk sana ;D
germok di hotel itu susah banget ketangkepnya, paling yg ketangkep bisa lepas lagi karna udah di kasih duit.
Papi maminya ya udah dapet banyak duit, udah ngertilah gimana hiruk pikuk di kantor polisinya.
Masuk hotel juga atas persetujuan orang hotel, jadi udah tau sama tau. ;D
kandalf:
kebanyakan komentar 'teknis' saya udah ditulis oleh purba :cengir:
saya sendiri ngga tau mengenai hukum peraturan pelacuran di amrik, ato di nevada, in general. ga pernah cari tau :cengir: dan sejauh apa coverage peraturannya, itu pun saya ga tau. tapi berhubung kamu mempermasalahkan ketiadaan keahlian khusus oleh pekerja seks dibandingkan katakan artis film porno, itu perbahasannya bisa panjang.
saya pribadi melihat prostitusi adalah transactional, seperti kata aslan di atas. buatku pel-acur itu sama aja profesinya sebagai katakan dokter, maupun kuli bangunan. dokter, menawarkan ilmunya, surgeon keahliannya, kuli bangunan tenaga fisiknya, model tampangnya. pembantu rumah tangga tenaganya, masing2 ada yang bisa ditawarkan servisnya. sama seperti pel-acur, they have something to offer too.
dengan thought process yang sama, makanya juga saya menganggap kasino juga sah2 aja dilegalisasi, saya melihatnya sebagai a form of entertainment. sama seperti nonton bioskop, kita tidak mendapatkan apa2 yang tangible, sekedar disuguhkan tontonan yang menghibur. bayar tiket ke amusement park, untuk mendapatkan entertainment, bukan membeli produk yang tangible.
kembali ke prostitusi, justru dengan kejelasan profesi ini (dengan regulasi), justru hal2 yang dikuatirkan tidak aman karena perlu dilakukan secara gelap dan sembunyi2, bisa diregulasi supaya lebih aman, baik kepada pekerja seks itu sendiri maupun konsumernya, memberikan awareness dan pengetahuan akan resiko pekerjaan ini kepada pekerja seks sendiri, juga termasuk menjadikan peran germo irrelevant
Karena bahkan walaupun sesungguhnya Amerika Serikat itu negara religius, dalam pengambilan keputusannya, tidak boleh melibatkan agama. :P
Lagipula, gue gak mau munafik lah sebagai cowok. :P
Itu sebabnya tadi aku sampai memberi contoh.
Dalam kamar, itu sulit dikendalikan.
Kecuali mau bikin peraturan rumah bordil di lokalisasi tidak menyediakan kamar melainkan bilik2 dan pintu tidak boleh tertutup kayak panti pijat. :P
*uhuk*
mulai serius nih bahasannya.. :D
Saya nunggu tanggapan yang lain aja dulu.
Itu strategi si pelacur untuk berjaga-jaga. Bukan peraturan pemerintah.
Sama saja kayak strategi pelacur nir-mucikari di sebuah kawasan di Jakarta Selatan. Mereka memiliki kawan tukang ojek di mana setiap ada pelanggan maka pelanggan menyetorkan uang lebih dahulu ke si pelacur yang kemudian menitipkannya pada tukang ojek. Barang2 berharga seperti ponsel juga diserahkan dahulu kepada tukang ojek.
Pelanggan akan membawa si wanita ke hotel terdekat menggunakan taksi atau mobil pribadinya. Biasanya si wanita akan berinisiatif menawarkan penginapan terdekat dengan posisinya tadi yang pengurusnya dikenal oleh si wanita. Si Tukang Ojek sendiri akan mengikuti mereka hingga ke depan penginapan. Bila ada razia, si tukang ojek akan pura-pura gak tahu dan bila ternyata si wanita terkena razia, si tukang ojek akan mengikuti hingga panti sosial. Kemudian dia akan menyelinap atau menyuap orang2 panti sosial untuk mencari informasi dan menyusun strategi untuk membebaskan si wanita.
Tentu saja, ada imbalan untuk tukang ojek, misalnya seperempat dari yang didapat si wanita. Alias bila tarif per pelanggan 300 ribu, maka si tukang ojek akan mendapat Rp 75 ribu.
Tapi ini kasus pelacur tanpa mucikari. Kalau untuk mucikari, tempat eksekusi adalah di tempatnya.
Perlindungan pada wanita pun hanya masalah melindungi aset si mucikari, bukan pada perlindungan si wanita.
Kecuali untuk pelacur kelas atas,
pelacuran itu sukar disebut sebagai penjual dan pembeli sama-sama mau.
Pada hakikatnya, pelacuran itu adalah memperbolehkan si pembeli memperkosa dia dengan imbalan uang.
Ini sama saja kayak kasus wanita di bar, dia memberikan hak buat pelanggan untuk mencekokinya dengan miras dengan penghalusan 'menemani pelanggan', suka atau tidak suka, dengan imbalan uang tips.
Apa yang dirugikan?
Pertama: Tubuh wanita tersebut.
Bahkan tanpa penyakit menular, ada dampak mati rasa di beberapa kasus.
Kedua: Psikologi wanita tersebut.
Timbul rasa skeptis, sinis pada lelaki yang bisa mengganggu hubungannya di masyarakat.
Selain itu, dalam beberapa kasus, si wanita menjadi paranoid, merasa digosipkan oleh tetangga dan jadi rendah diri.
Itu baru kerugian pada pelaku pelacuran.
Istri dari lelaki yang pergi ke pelacuran juga jelas dirugikan, minimal secara mental, kadang-kadang merembet fisik bila sang suami membawa penyakit. Tentu saja ada kerugian finansial buat keluarga, duit yang seharusnya bisa untuk keluarga malah dialokasikan ke pihak lain padahal sang istri bisa memberikan layanan yang sama.
Kalau kau mau mendukung langkah lokalisasi,
jangan bersikap naif seperti mengatakan 'penjual dan pembeli' mau-sama-mau atau 'tidak ada yang dirugikan dalam pelacuran'.
Aku sih melihatnya lokalisasi ini, teorinya, lebih pada pengendalian dan perlindungan.
Aduh... udah ditegur bini.. mau jalan2 keluar biar gak di rumah melulu.