valedictorian di atas nyesel kali ya nggak sempat have fun karena blajar mulu.
rugi dia, masa remaja adalah masa yang paling indah, katanya ::elaugh::
Printable View
valedictorian di atas nyesel kali ya nggak sempat have fun karena blajar mulu.
rugi dia, masa remaja adalah masa yang paling indah, katanya ::elaugh::
good idea. tapi yang namanya gap year atau sejenisnya, itu cuma bisa jalan di negara2 makmur.
di negara2 'lapar' kayak kita, anak2 harus sesegera mungkin(bahkan kalo bisa, di rush) masuk angkatan kerja dengan tingkat pendidikan yang di tentukan untuk mendapat penghasilan yang layak.
Di negara2 yang penduduknya 'kenyang', mereka bakalan punya waktu untuk 'menghela napas sejenak dan merenung'.
Di negara2 'lapar', we don't have that kind of luxury.
---------- Post Merged at 10:27 PM ----------
Because nobody asking her what kind is her brand of 'fun'.
Buat beberapa di antara kita(OK: Me) yang merasa belajar IS their kind of fun, 'masa remaja adalah masa yang paling indah' still holds true. ::ngakak2::
ada neh bibitnya, temen main naomi, selalu juara 1 di sekolahnya, rajin diikutkan emaknya segala lomba dari sempoa mpe fashion show, lesnya tiap hari, anaknya sama sekali ga punya semangat hidup kecuali mengikuti jadwal dari emaknya. alkisah kemarin nilai uasnya masih dibawah naomi, lsg digoblok2in sama emaknya, padahal selama uas dia seharian belajar, sedang naomi masih sempet main. anaknya tatapannya kosong kyk robot
^
ibaratnya percuma kalau ember yang sudah penuh masih diisi air, pasti bakal tumpah
kalo salah keografi pas latian buat lomba modeling ama emaknya juga langsung dibego2in. kemarin gw mpe termangu, pas naik stage dia percaya diri n ceria, begitu turun stage tatapannya kosong lagi. tadi gw ajakin besok pagi main sepeda ke alun2 sama naomi, dia lsg geleng kepala, "ga boleh sama mama." padahal minta ijin juga blum. gw cuma b'doa anak ini tetap hidup sampe dia punya kekuatan untuk menentukan hidupnya
Ini bener banget. Saya juga sempat kepikiran seperti ini. Ide gap year kaya gini Akan lebih Susah jalannya di negara berkembang, karena masih Ada prioritas laen yang lebih penting. Dilematis juga :cengir:
But it also taught me, kalo saya masih bisa berpikir untuk ini, maka saya termasuk hidup makmur. For that, I am grateful.
Ini mengerikan banget nih orangtua macem begini. Anak bener-bener udah kayak robot ::takmungkin::
Btw ini yang lu pernah update status di FB lu ya bund? ;))
Sama, jadi siswa terpintar tuh malah bikin tekanan batin, iya kan? ;D
"Katanya loe lulusan terbaik, kok belom dapet-dapet kerja?"
"Katanya loe siswa terpintar, kok SNMPTN aja gak lulus?"
"Katanya loe nilai-nilai mata pelajaran loe bagus semua, kok gak bisa begini? gak bisa begitu?"
::doh::
Yup, bener banget, malah gw berani bilang zaman sekarang anak lulusan SMK dan Poltek lebih siap kerja :)
:nunjuk: Hahaha sezaman sama gw nih
Ah yeah, gw juga sama thin.king keingat sama nama dinosaurus, ternyata begitu :lololol:Quote:
Originally Posted by TheCursed
[MENTION=196]noodles maniac[/MENTION] : yg gw ceritain di sini juga thread lain, yg anaknya digebukin kalo makannya ga abis itu
Ah I see, ternyata kasus yang sama ::ungg::
Mbok juga ndak melihat pidatonya menampol dunia pendidikan karena bukankah wajar dalam suatu kelas misalnya ada anak yang pintar dan memang ingin selalu jadi juara kelas, ada anak yang pintar tapi egepe juara atau ndak, ada yang memang ndak minat belajar, entah karena mau jadi seniman atau kebelet mau kawin.
Don't tell me that she didn't like passing the exams with flying colours or didn't enjoy the previledge of giving the speech in front of her schoolmates.
Seharusnya dia bertanya pada diri sendiri, kenapa teman-temannya itu tahu mereka mau jadi seniman while she has no clue? Isn't she the intelligent one?
Even a valedictorian has a lot to learn.
kalo kata [MENTION=194]Ronggolawe[/MENTION] itu yg dia lakukan karena ambisi ortu. kalo kata [MENTION=101]purba[/MENTION] karena nilai masyarakat. kalo kata saya, dia udah gedhe, mestinya dari awal dia high school udah bisa memetakan diri dia mau apa? toh di US ada tradisi gap year? Dia hanya merasa udah ga punya motivasi lagi setelah graduation. Ya itu sih problem dia
Heh. pengalaman juga yang kayak gini... ;D
Respon gue kalo udah kayak gini: "F**k you, S**t happens, B**ch... "
... yeah, guru2 gue punya alasan kuat untuk nggak pernah meluluskan gue sebagai kandidat 'siswa teladan'... ;D
---------- Post Merged at 06:12 PM ----------
Heck. Gue dulu nggak butuh yang namanya 'gap year', karena udah tau pasti mau jadi apa dan strong point gue di mana.
Tapi, karena 'tuntutan hidup' di negara 'lapar', harus bikin kompromi dan naroh 'cinta' gue jadi nomor sekian...
yes, for that, indeed we do.Quote:
But it also taught me, kalo saya masih bisa berpikir untuk ini, maka saya termasuk hidup makmur. For that, I am grateful.
bundana + mbok:
i think pointnya bukan itu. kalo saya sih ngeliat dari videonya, si cewe ini memang bener mengkritisi sistem pendidikan di situ. kan menurutnya public school edu system meng-train worker, bukan thinker. murid didorong untuk menghapal dan mengejar nilai, bukan berpikiran kritis (sounds familiar? :cengir:) regardless dia valedictorian ato ngga, semua murid perlu melihat ke dalam diri sendiri. mungkin dia berpikir terlalu kritis makanya berada dalam keadaan limbo sekarang :cengir: dan kalo dia bisa berpikir begitu, kurasa dia pasti juga akan pernah melewati tahap mempertanyakan semua pertanyaan2 mbok di atas
tradisi gap year lebih populer di inggris, amrik ngga begitu. dan tidak setiap orang udah tau apa yang akan dia lakukan saat dia besar nanti loh. saya sampe lulus kuliah pun masih sering menyanyakan diri pertanyaan yang sama. even right now. serasa abg aja, sampe skarang masih mencari jati diri :cengir: saya kenel seorang temen kuliah dulu, one of the smartest person di kampus (i think she was a valedictorian too), dan pernah mengeluh hal yang mirip, ngga tau mau spesialisasi ke apa. dalam hal ini agak mirip saya, karena problemku juga, interestku terlalu luas dan ga tau mau ke mana. dia akhirnya kuliah ke cornell univ (sala satu ivy league).
dalam video ini, yang ditekankan oleh valedictorian ini adalah sistem pendidikan sekolah umum di amrik ini yang terlalu fokus pada standardized exams, dan memproduksi murid sebagai robot bukannya menginspirasi, potensi2 murid banyak yang tidak tergali. tapi tentu aja, dalam hal ini pasti ada 2 sisi yang berperan, sekolah dan individu murid. bisa jadi dua2nya sama2 bisa bermasalah.
ada yang summon gw, padahal gw belum pernah
nulis apa pun di thread ini :)
kekekeQuote:
Respon gue kalo udah kayak gini: "F**k you, S**t happens, B**ch... "
... yeah, guru2 gue punya alasan kuat untuk nggak pernah meluluskan gue sebagai kandidat 'siswa teladan'...
ini persis pengalaman gw dulu waktu SMP dan SMA,
selama SD gw menganggap menjadi juara kelas itu
segalanya, dan gw melakukan apapun untuk itu...
jadilah gw All Teacher's Favorite dan juga All Parent's
Example untuk anak dan siswa teladan :)
masuk SMP, mungkin seiring gejolak hormon, gw mu
lai mikir (ya, satu kelebihan utama sebagai siswa pin
tar adalah loe punya banyak pengetahuan sebagai
modal loe berfikir) kalau gw juga punya kebutuhan-
kebutuhan yang barangkali tidak sejurusan dengan
syarat dan ketentuan berlaku bagi siswa teladan.
Bersyukur, gw punya mamak tempat gw belajar men
jadi dewasa, jadinya darinya gw belajar untuk tidak
ragu meng-ekspresikan sikap dan keinginan gw...
Sejak itu gw berhenti menjadi siswa/anak teladan... :)
Bisa masalah pribadi yaitu tidak punya visi jangka panjang, bisa juga karena sistem tidak memberi kesempatan untuk punya visi jangka panjang. Apalagi kalo udah pake drill soal-soal, sangatlah tidak mendidik.
Wah bund, jangankan high school. Saya aja abis lulus kuliah bingung mau ngapain. Udah dapat kerja juga bingung mau ngapain lagi. *tak punya visi jangka panjang eh ::elaugh::
Usia lulus SMA masih wajar sebagai masa2 mencari jati diri. Kalo yang sudah tau dari awal mau ngapain, ya bagus. Nyatanya, nggak semua orang bisa seperti itu, atau rencananya berubah total karena hal2 lain di luar kuasa. So, aku merasa wajar dia bingung malah salut mau panjang lebar mengungkapkan pendapatnya di farewell party, bukan sekedar formalitas doang.
Yang mengajarkan mbok untuk berpikir secara kritis itu orang tua. Yang mengajak mbok untuk berpikir tentang jati diri dan masa depan juga orang tua. Orangtua mbok ndak pernah mengharap itu semua diajarkan di sekolah.
The problem these days people (parents & their kids) expect too much from school. Orangtua dan anak-anak itu berharap bersekolah ndak hanya untuk menjadi pintar tapi juga kritis, mature, sehat, terkenal, jadi idola, pokoknya serba bisa deh. Lha.. Apa peran para orangtua? Apa peran orangtua si valedictorian itu, ngasih sandang dan pangan tok?
Do they actually spend time with her talking about her life, her future, herself? Do they actually live as the role model for their daughter? Do they actually inspire her to be someone someday?
To me, she is a typical person who blames the world for their own failure like parents who blame the school for their own parenting failure.
Set dah! %omg lu akhirnya membuat keputusan seperti ini? sementara temen-temen lu yang lain mungkin berusaha sekuat tenaga untuk jadi siswa teladan ya ;))Quote:
Originally Posted by Ronggolawe
Baca statement nya [MENTION=194]Ronggolawe[/MENTION] kok gw tiba-tiba jadi keinget adegan pilem Star Wars yah? :cengir:
Master Yoda berkata kepada Luke...
"trust your feeling, luke"
saya kog dari smp udah tau mau jadi apa dan dari sana udah merintis jalan buat cita2 saya. ketika malah gatot, saya tdk melihat itu salahnya sistem ato orang tua saya. Itu salah saya yang tidak mempersiapkan plan B. Saya diajari ortu untuk bertanggung jawab atas apa yg saya pilih dalam hidup dan tidak menyalahkan siapa2 ketika gagal. Dan saya sekarang mengajarkan itu ke anak2, karena pendidikan paling utama ya dari dalam rumah. Ajarkan anakmu menggali potensinya dan mendorong dia menata apa yg dia cita2kan. Setelahnya biar dia mandiri utk bisa survive
Good for you.
Tapi gue sependapat sama yang sebelumnya di atas, bahwa nggak semua remaja tau mau mengarahkan hidupnya ke mana.
Makanya ada guru BP di sekolah.
Seharusnya, fungsi guru ini adalah membantu anak2 yang masih galau dan mudah kebawa angin nan, sorry, alay ini untuk punya bayangan mau ngapain dengan masa depannya.
Dan wajar banget buat remaja sampe 20-something buat galau begitu.
Kalo jaman gue, kita bilangnya bukan alay(anak layangan), tapi madesu(masa depan suram). Karena sebagian besar kita, waktu itu, masih nggak jelas pengen jadi apa.
there 'ya go. Jadinya orang tua-mu dulu terlibat dalam membantu mengarahkan pendidikanmu, kan ? :)Quote:
... Saya diajari ortu untuk bertanggung jawab atas apa yg saya pilih dalam hidup dan tidak menyalahkan siapa2 ketika gagal. ...
Nah, kalo seandainya orang tua lepas tangan, terserah sama sekolah aja.
Atau malah cuma memberikan perintah, tanpa membimbing.
Sementara sekolah cara kerjanya cuma 'ngejar setoran' nilai... ::takmungkin::