-
Imaginasiku mengembara. Ia mereka kisah. tentang sebidang bilik yang berhamburan oleh peluh.
Seolah sengaja mencari belati. untuk menikam hati. meratakannya hingga tak lagi berwujud. pun berunsur.
Lalu selayaknya pesakitan, yang tanpa daya terikat ditiang gantung.
menunggu eksekusi. menunggu otak berhamburan berebut liang.
Hatiku menjerit. menemukan dirinya tak ada lagi ditempatnya.
Aku tak ingin memiliki hati yang terluka.
Tiada tempat untuk air mata. Setelah lima tahun kiamat dimana aku hanya bisa melata.
Sungguh. Luka itu, tiada banding.
-
Otakku bertanya mengapa aku harus membunuh rasa.
Kujawab,
aku tidak ingin memiliki hati yang terluka.
- - - Updated - - -
Lalu, aku hanya bisa menutup telingaku
sambil berkata bahwa aku tidak ingin mendengarnya lagi.
Namun pikiran terus bersenandung,
seolah ia senang hatiku sakit.
Apakah kamu tahu teknik penyembuhan yang akan membuatmu membenci lalu melupakan?
Ketahuilah, aku sedang mengobatimu.
Engkau akan berterima kasih padaku, nanti.
-
Engkau menggenggam tanganku begitu erat,
tanpa ingin melepaskan. Mungkin sedikit memaksakan dekapan,
yang tidak pernah terlintas dalam benak,
bahwa hari ini akan datang.
Aku bercermin pada kisah berwindu lalu,
dimana tak kurang dari dua ribu hari aku melata,
setiap pagi yang terasa perih,
berselimutkan kesepian malam,
dicekam hangatnya rasa yang dipaksakan padam.
Aku memandang satu persatu cerita,
tentang air mata bisu. Dimana setiap detak waktu hanya ada hampa.
Kini,
semuanya berbalik.
-
Aku ingat bagaimana rasanya.
aku tidak ingin mengulang kepedihan itu.
Seperti api yang meliuk indah dan begitu besar,
seolah ia mampu menghanguskan segala wujud,
namun hanya membakar dirinya sendiri.
-
Aku ingat kiamatku dulu.
Rindu berserakan tanpa nilai. Seperti sampah busuk.
Yang harus kutelan setiap hari.
Kini semuanya berbalik.
Bagaimanakah rasamu?
Sudahkah kau rasa dicekam kesepian?
Tentu. Lebih pasti tidak.
Sebab engkau hanya menjadikannya pelampiasan.
Pada akhirnya engkau memuja ketiak milikmu seorang.
Dan aku tidak lebih hanya sekedar sosok. Lebih tepatnya,
Bayang-bayang pudar.
- - - Updated - - -
Mungkin tubuhku membutuhkanmu.
Namun hatiku sakit.
Dan otakku sangat waras.
Penuh logika. Juga dendam.
-
Ya ampun....
baru banget kemarin siang ku klik thread ini,
pingin tahu puisi terakhirmu dan kapan terakhir diposting
sambil merapalkan doa semoga baikbaik saja dirimu.
dan hari ini kamu posting. kaget.
terimakasih sudah mampir.