Salah satu anggota agama samawi, mengkover hal itu duluan dengan "tidak ada sesuatu pun yang menyamainya".
Just info. ::ungg::
Printable View
Mungkin yang dimaksud di sini bedanya ada di buktinya. Kalau kita menafsirkan sebuah pohon berwarna pink. Orang lain bisa ngecek, apa benar pohon tersebut berwarna pink?
Semua orang bisa meyimpulkan, karena barangnya ada. Makanya engga disebut pemaksaan.
Kalau Tuhan bagaimana menafsirkannya? Orang memiliki penafsiran berbeda-beda. Susah pulak mengeceknya. ::cabul::
Barangnya ada kan menyangkut empirik, ya tinggal disesuaikan saja... konfirmasinya melalui penalaran bukan observasi
makanya tak bilang itu konsekuensi dari pemikiran thd Tuhan, artinya kalau membuat konsep Tuhan begini, maka timbul penalaran A,B,C.. dan sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan , walau kekhawatiran wajar saja yah...
Saya baca-baca komen-komennya, semakin kemari, kok malah semakin mendekat kepada kesimpulan bahwa Tuhan itu hanyalah hasil rekaan (ciptaan) manusia saja ya?
Jika kita memandang Tuhan adalah sebagai "sesuatu yang lain", yang menciptakan manusia, alam semesta. waktu dan peristiwa.Konsep tentang Tuhan tidak akan pernah terjelaskan, karena akan mengundang premis-premis yang saling bertentangan. "Tuhan adalah kekacauan".
Cara tersebut diatas adalah memahami tuhan dengan Lgika. Ada cara lain memahami Tuhan yaitu dengan Rasa dan perasaan sebagai akar dari Logika yaitu melalui pengalaman kesadaran. Dalam pengalaman kesadaran Tuhan bukanlah sesuatu yang lain. Tuhan adalah Semua "yang ada" atau Tuhan adalah semua esensi. Apa yang anda pikirkan dan semua yang ada dari pikiran bukan lah Esensi dari yang ada.