LANSKAP (Hal.9)
sepasang burung, jalur-jalur kawat, langit semakin tua
waktu hari hampir lengkap, menunggu senja
putih, kita putih memandangnya setia
sampai habis semua senja
1967
Printable View
LANSKAP (Hal.9)
sepasang burung, jalur-jalur kawat, langit semakin tua
waktu hari hampir lengkap, menunggu senja
putih, kita putih memandangnya setia
sampai habis semua senja
1967
HUJAN TURUN SEPANJANG JALAN (Hal. 10)
hujan turun sepanjang jalan
hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan
kembali bernama sunyi
kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali
tak ada yang menolaknya. kita pun mengerti, tiba-tiba
atas pesan yang rahasia
tatkala angin basah tak ada bermuat debu
tatkala tak ada yang merasa diburu-buru
1967
maaf agak OOT dikit,
tadi sudah saya upload filenya eceran yang dari album musikalisasi Hujan Bulan Juni
kalau yang dulu diposting di library musik kan versi se-albumnya.
buat yang mau donlot dari hape dipersilahkan.
jangan lupa ilangin tanda bintangnya.
Spoiler for musikalisasi puisi:
horeee makasi ya :D
KITA SAKSIKAN (Hal.11)
kita saksikan burung-burung lintas di udara
kita saksikan awan-awan kecil di langit utara
waktu cuaca pun senyap seketika
sudah sejak lama, sejak lamankita tak mengenalnya
di antara hari buruk dan dunia maya
kita pun kembali mengenalnya
kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata
saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia.
1967
DALAM SAKIT (Hal.12)
waktu lonceng berbunyi
percakapan merendah, kita kembali menanti-nanti
kau berbisik: siapa lagi akan tiba
siapa lagi menjemputmu berangkat berduka
di ruangan ini kita gaib dalam gema. Di luar malam hari
mengendap, kekal dalam rahasia
kita pun setia memulai percakapan kembali
seakan abadi, menanti-nanti lonceng berbunyi
1967
tahun 60-70 puisinya bernuansa gloomy banget ya ::elaugh::
sering galau kali ini si bapak :D
karena besok mau jalan-jalan seharian, takut gak bisa onlen--gak punya mobile, cuma motor #apaan sih--maka jatah buat besok sekalian ma hari ini:
SONET: HEI! JANGAN KAUPATAHKAN (Hal.13)
Hei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga itu
ia sedang mengembang; bergoyang-goyang dahan-dahannya
yang tua
yang telah mengenal baik, kau tahu,
segala perubahan cuaca.
Bayangkan: akar-akar yang sabar menyusup dan menjalar
hujan pun turun setiap bumi hampir hangus terbakar
dan mekarlah bunga itu perlahan-lahan
dengan gaib, dari rahim Alam.
Jangan; saksikan saja dengan teliti
bagaimana Matahari memulasnya warna-warni, sambil
diam-diam
membunuhnya dengan hati-hati sekali
dalam Kasih-sayang, dalam rindu-dendam Alam;
lihat: ia pun terkulai pelahan-lahan
dengan indah sekali, tanpa satu keluhan.
1967
tahun 60-an kan Indonesia kelam banget Etty--ingat gerakan G30S?
dan puisi ini mengingatkan saya pada puisi Karangan Bunga-nya Taufik Ismail
ZIARAH (Hal.14-15)
Kita berjingkat lewat
jalan kecil ini
dengan kaki telanjang; kita berziarah
ke kubur orang-orang yang telah melahirkan kita
Jangan sampai terjaga mereka!
Kita tak membawa apa-apa. Kita
tak membawa kemenyan ataupun bunga
kecuali seberkas rencana-rencana kecil
(yang senantiasa tertunda-tunda) untuk
kita sombongkan kepada mereka.
Apakah akan kita jumpai wajah-wajah bengis,
atau tulang-belulang, atau sisa-sisa jasad mereka
di sana? Tidak, mereka hanya kenangan.
Hanya batang-batang cemara yang menusuk langit
yang akar-akarnya pada bumi keras.
Sebenarnya kita belum pernah mengenal mereka;
ibu-bapa kita yang mendongeng
tentang tokoh-tokoh itu, nenek-moyang kita itu
tanpa menyebut-nyebut nama.
Mereka hanyalah mimpi-mimpi kita,
kenangan yang membuat kita merasa
pernah ada.
Kita berziarah; berjingkatlah sesampai
di ujung jalan kecil ini:
sebuah lapangan terbuka
batang-batang cemara
angin.
Tak ada bau kemenyan tak ada bunga-bunga;
mereka telah tidur sejak abad pertama,
semenjak Hari Pertama itu.
Tak ada tulang-belulang tak ada sisa-sisa
jasad mereka
Ibu-bapa kita sungguh bijaksana, terjebak
kita dalam dongengan nina-bobok.
Di tangan kita berkas-berkas rencana,
di atas kepala
sang Surya.
1967
::nangis::
Ini kamu ketik satu2 apa copas sih?
@et dah,
tapi galaunya SDD, GM, ama SHG itu nulisnya kok ga lebai ya
kadang menebak galaunya aja malah bikin jadi galau mikirinnya ;D
Cerita Gerakan G30S konon GM juga membuat puisi tentang itu,
Saya juga pernah bikin puisi dengan basic cerita ayah untuk ikut sebuah antologi puisi,
Ayah lahir sepantaran usianya dengan GM dan SDD
jadi boleh dibilang waktu peristiwa G30S/PKI mereka berada di masa yang sama. usia yang hanya beda tipis.
Seorang kawan yang pernah baca puisi GM berkata cerita dalam puisiku mirip puisi GM,
hanya saja itu puisiku versi singkatnya. puisi GM lebih panjang lagi.
Sampai sekarang saya belum pernah baca puisi GM yang bertopik mengenai PKI,
kecuali puisi yang dimuat dalam SajakSajak Lengkap Goenawan Mohammad 1961-2001 (karena kebetulan ada bukunya).
Sampai sekarang pun penasaran dengan versinya GM. :)
@Eca: saya gak serajin itu :-"
Beliau gak galau.. kata2 yang sering keluar di puisi beliau indahh... meski kadang terasa menyakitkan,, tapi dibungkus dengan halus, dan indah... hem.. gimana ya menggambarkannya... ::ungg::,, membaca setiap bait puisi beliau,, serasa "ingin mengikuti" setiap langkah baitnya menuju ke tempat tujuan... Perfecto^^
Jadi ingat kisah masa kecil beliau,, krena menghabiskan waktu ujian dengan menulis2 puisi2, akhirnya beliau gak naik kelas... namun beliau gak pernah menyerah untu menulis puisi... sekarng berbuah manis khan..^_* hehe...
Biasanya seseorang disaat mengalami kesulitan,, bisa lebih kreatif dari manusia yang tak merasa sedih,, Jika tak ada rasa sedih,, seorang Supardi djoko damono tak akan menuliskan puisi indah,, hujan bulan juni, dan seorang Glen tak akan menciptakan lagu "january" yang populer tahun 90-an,, begitu juga dengan Nicholas spark,, jika ia tidak mengalami kecelakaan, dan terkurung berbulan-bulan di rumahnya, maka buku a walk to remember yang fenomenal tak akan tercipta,, bahkan seorang JK rowling,, jika tidak mengalami kemiskinan,, dan didera kesulitan hidup,, dia mungkin tak akan bisa membuat dunia,, mencintai Harry Potter..^_*
So.. Puisi2 yang sedih,, bukan berarti Tak baik untuk di nikmati,, Bukankah rasa sedih.. mengajarkan kita,, untuk menghargai kebahagiaan^_^
DALAM DOA: II (Hal. 16)
kupandang ke sana: Isyarat-isyarat dalam cahaya
kupandang semesta
ketika Engkau seketika memijar dalam Kata
terbantun menjelma gema. Malam sibuk di luar suara
kemudian daun bertahan pada tangkainya
ketika hujan tiba. Kudengar bumi sediakala
tiada apa pun di antara Kita: dingin
semakin membara sewaktu berhembus angin
(1968)
DALAM DOA: II (Hal.17)
saat tiada pun tiada
aku berjalan (tiada-
gerakan, serasa
isyarat) Kita pun bertemu
sepasang Tiada
tersuling (tiada-
gerakan, serasa
nikmat): Sepi meninggi
(1968)
DALAM DOA: III (Hal. 18)
jejak-jejak Bunga selalu: betapa tergoda
kita untuk berburu, terjun
di antara raung warna
sebelum musim meninggalkan daun-daun
akan tersesat di mana kita
(terbujuk jejak-jejak Bunga) nantinya; atau
terjebak juga bayang-bayang Cahaya
dalam nafsu yang kita risau
1968
ngomong2, puisi tentang Doa yang paling makjleb itu yg Doa'-nya Chairil Anwar... bener2 menyentuh pisan :D
Quote:
Doa
Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
itu yang jadi lirik lagu bimbo bukan mus?
lagu Bimbo yg mana Etty? lum denger... ::ungg::
eh salah ding itu mah taufiq ismail ::elaugh::
maaf, kemarin lupa ;D
KETIKA JARI-JARI BUNGA TERBUKA (Hal. 19)
ketika jari-jari bunga terbuka mendadak terasa: betapa sengit
cinta Kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya; di langit
menyisih awan hari ini; di bumi
meriap sepi yang purba;
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagi
di sayap kupu-kupu, di sayap warna
swara burung di ranting-ranting cuaca,
bulu-bulu cahaya; betapa parah
cinta Kita
mabuk berjalan, diantara jerit bunga-bunga rekah
1968
SAJAK PERKAWINAN (Hal.20)
cahaya yang ini, Siapakah?
(kelopak-kelopak malam
berguguran) kaki langit yang kabur
dalam kamar, dalam Persetubuhan
butir demi butir
(Kau dan aku, aku
dan serbuk malam) tergelincir
menyatu
Perkawinan tak di mana pun, tak
kapan pun
kelopak demi kelopak terbuka
malam pun sempurna
1968
GERIMIS KECIL DI JALAN JAKARTA, MALANG (Hal. 21)
seperti engkau berbicara di ujung jalan
(waktu dingin, sepi grimis tiba-tiba
seperti engkau memanggil-manggil di kelokan itu
untuk kembali berduka)
untuk kembali kepada rindu
panjang dan cemas
seperti engkau yang memberi tanda tanpa lampu-lampu
supaya menyahut, Mu
1968
KUPANDANG KELAM YANG MERAPAT KE SISI KITA (Hal. 22)
kupandang kelam yang merapat ke sisi kita;
siapa itu disebelah sana, tanyamu tiba-tiba
(malam berkabut seketika); barangkali menjemputku
barangkali berkabar penghujan itu
kita terdiam saja di pintu; menunggu
atau ditunggu, tanpa janji terlebih dahulu;
kenalkah ia padamu, desakmu (kemudian sepi
terbata-bata menghardik berulang kali)
bayang-bayangnya pun hadir sampai di sini; jangan
ucapkan selamat malam; undurlah perlahan
(pastilah sudah gugur hujan
di hulu sungai itu); itulah Saat itu, bisikku
kukecup ujung jarimu; kaupun menatapku:
bunuhlah ia, suamiku (kutatap kelam itu
bayang-bayang yang hampir lengkap mencapaiku
lalu kukatakan: mengapa Kau tegak di situ)
1968
^^ ini ttg ajal lg ya ... hampir semua halaman melo2 nih puisinya
wah udah hal 22 lg.. :D
karena saya suka kelupaan buat ngecek tret ini, maka ebook buku Hujan Bulan Juni saya aplotkan di tret ebook release Kopi Maya yah di tret sebelah ;D--maaf atas ketidaknyamanannya ::maap::
suka kelupaan Ca. skrg onlennya gak bisa standby terus kek dulu2 (kalo onlen lebih prioritas buat yg laen ::hihi::)
karena mau nge-twit seorang kawan,
jadi baca di twitnya Helvy Tiana Rosa
ada info ttg SDD :
RT @yanuarizka: Seminar G-Sastrasia 2011 Senin, 24 okt pkl 9-16, aula Perpus UNJ with Sapardi Djoko Damono @helvy @limbahilmu,
AKULAH SI TELAGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
---------- Post added at 04:43 PM ---------- Previous post was at 04:40 PM ----------
ANGIN, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
---------- Post added at 04:45 PM ---------- Previous post was at 04:43 PM ----------
CERMIN, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
cermin tak pernah berteriak;
ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Sukaaaaaaa sekali dengan hasil karya beliau... Kagum!
kuhentikan hujan ,kini matahari
merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan
ada yang berdenyut
dalam diriku
menembus tanah basah
dendam yang dihamilkan hujan
dan cahaya matahari
tak bisa kutolak matahari
memaksaku menciptakan bunga-bunga
copas dari status FBna pagi ini.. love it!
PERISTIWA PAGI TADI
kepada GM
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.
Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.
Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit.
Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
--
sad
Salah satu pujangga terbaik yang dimiliki Indonesia
Tentang Tuhan
Pada pagi hari Tuhan tidak pernah seperti terkejut dan bersabda, "Hari baru lagi !"; Ia senantiasa berkeliling merawat segenap ciptaan-Nya dengan sangat cermat dan hati-hati tanpa memperhitungkan hari
Ia, seperti yang pernah kaukatakan, tidak seperti kita sama sekali
Tuhan merawat segala yang kita kenal dan juga yang tidak kita kenal dan juga yang tidak akan pernah bisa kita kenal
sumber : akun FB beliau 07.12.2013
Pagi dikaruniai begitu banyak pintu dan kita
dipersilakan masuk melewatinya kapan saja.
Malam diberkahi begitu banyak gerbang dan kita
digoda untuk membukanya dan keluar agar bisa ke Sana.
Tidak diperlukan ketukan.
Tidak diperlukan kunci.
:
Sungguh, tidak diperlukan selamat datang atau selamat tinggal.
Pintu
Sapardi Djoko Damono
Dikutip dari sampul belakang buku "kolam"
karya Sapardi Djoko Damono
Beliau wafat beberapa waktu lalu ya.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
Turut berduka cita atas perginya salah satu legenda sastra nusantara